MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Pengantin Baru


__ADS_3

Bagian 36


Oleh Sept


Dua pasang kaki menyembul dari balik selimut, Tika dan Dewa masih terlelap. Padahal ini sudah jam sepuluh pagi. Hari mulai beranjak siang, matahari pun sudah naik tinggi.


Rupanya, dua orang itu masih kelelahan, Dua ronde membuat Tika dan Dewa kini terkapar dan hanyut dalam alam mimpi masing-masing. Mimpi manis setelah berbasah-basah ria. Mandi keringat di tengah malam sampai pagi menjelang, tentunya disertai jeda sesaat.


Semalam mereka sudah berhasil menggoyang hotel melati dua kali. Entah mau bangun kapan, yang jelas mereka sekarang masih tidur sambil berpelukan. Dasar, pengantin baru, masih anget. Tidak mau diganggu, tidak mau diusik. Lengket seperti lem tikus.


Mereka bisa tidur dengan tenang, itu juga karena Dewa semalam sudah mematikan ponselnya. Ia tidak mau terusik. Dewa tahu betul, sebentar lagi mamanya akan melakukan sesuatu. Sang mama tidak akan tinggal diam, bila ia melawan. Tidak mau memikirkan hal yang buruk, Dewa hanya mau menikmati masa pengantin barunya.


***


Kediaman keluarga pemilik perusahaan Diamondland, rumah yang luas dan sangat lebar, pagi-pagi sudah gaduh. Di ruang tamu, terlihat mama yang nampak geram. Ia murka, memarahi Kris dan anak buahnya yang lain.


"Kalian bodoh! Mencari mereka saja tidak becus! Saya tidak mau tahu. Hari ini juga, bawa Tika ke hadapan saya!!!!"


Kris menundukkan kepala, kemudian mengiyakan perintah Nyonya besarnya tersebut.


"Baik, Nyonya."


"Kali ini lakukan dengan benar! Atau kalian semua saya pecat!" ancam mama dewa dengan gusar.


Semua anak buah mama langsung mengheningkan cipta.


***


Di kamar hotel melati nomor 88. Dewa mengusap telinganya yang gatal, ia merasa ada yang sedang membicarakan dirinya. Tak lama berselang, matanya mengerjap. Dilihatnya langit-langit kamar hotel yang catnya mulai mengelupas. Tiba-tiba bibirnya mengulas senyum, malam pertama di tempat seperti ini? Tapi tidak apa-apa, yang penting kegiatan inti atau PR mereka sudah dikerjakan dengan sempurna.


Cup


Dewa mendaratkan bibirnya ke kening Tika yang masih menutup matanya itu. Ia mencium Tika dengan mesra, lembut dan hangat.

__ADS_1


"Bangun, sayang." Pria itu berbisik lembut, andai Tika sudah bangun. Ia pasti akan bergidik ngeri karena merinding.


Sayangnya, Tika masih tidur, dengkuran halusnya terdengar berirama. Dadanya naik turun saat ia tertidur. Gemas, Dewa merapatkan pelukannya.


"Bangun ... sudah siang," bisik Dewa sekali lagi.


Belum bangun juga, Dewa lantas menarik selimut. Sudah seperti cicak, tangannya merayap ke mana-mana. Geli, Tika pun terbangun. Ia mengerjap, dan sedikit terkejut. Bangun tidur langsung melihat wajah suaminya yang sangat dekat. Oh, mungkin Tika lupa, bahwa kemarin dia sudah menikah.


"Sudah siang, bangun ya ..."


Tika tersenyum, kemudian menundukkan wajah karena malu. Ia sadar tidak mengenakan apa-apa.


"Jangan tersipu seperti itu, hanya membuatku semakin ingin."


Salah tingkah, Tika memukul pelan dada bidang bak barisan roti sobek tersebut.


Bukannya bangun, Dewa malah menghajar Tika untuk yang kesekian kali. Paku payung pun mulai ditancapkan kembali.


***


"Kenapa ingin cepat-cepat pulang?"


"Nggak ... nggak apa-apa, hanya saja aneh saja. Seharian di sini," ucap Tika sambil membelai lengan Dewa yang memainkan anak rambutnya.


"Sabar ya, aku masih butuh waktu. Aku tidak mau ada yang menganggu."


Tika tersenyum tipis, selain diajak kawin lari. Bulan madu mereka pun harus sembunyi-sembunyi. Nasib cinta tak direstu ya seperti ini.


***


Malam harinya, mereka bersiap untuk makan malam di luar.


"Mau makan apa?" tanya Dewa sambil mengenakan jaket.

__ADS_1


"Coba makan dekat sini aja ya, kemarin aku sempat lihat ada pecel lele pingir jalan."


"Warung tenda?" Dewa mengeryitkan dahi. Hotel mereka memang merakyat, tapi Dewa tidak menyangka. Dari pada makan di restaurant atau cafe, Tika malah mengajaknya ke warung tenda.


"Sama-sama enak kok."


"Higenis nggak? Di kafe depan aja ya?" tawar Dewa yang ragu-ragu diajak makan di pinggir jalan. Seumur-umur belum pernah ia makan di tepi jalan. Terlahir kaya, membuat Dewa biasa hidup mewah.


"Sekali-kali coba deh, nggak kalah enak kok. Pasti nagih!" tutur Tika dengan mata berbinar-binar.


Dewa langsung tersenyum mendengar kata terakhir Tika. Pengantin baru itu pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. Hanya karena mendengar kata nagih.


"Hem ... ya sudah. Ayo, kalau begitu."


Mereka pun memutuskan untuk keluar kamar hotel.


Di dalam mobil, baru beberapa saat melaju, Dewa mendengus kesal. Ia menghela napas panjang saat merasa ban mobilnya kempes.


"Tunggu di sini, bannya sepertinya kempes." Dewa keluar untuk memeriksa. Ia juga menghubungi seseorang. Dewa nampak serius saat bicara di telpon.


Klek


Terdengar pintu mobil bagian depan dibuka dengan hati-hati. Tika mau teriak, tapi terlambat. Ia keburu pingsan saat sebuah sapu tangan ditempelkan ke hidungnya. Bersambung.


Baca juga ya


Dea I Love You


Istri Gelap Presdir


Rahim Bayaran


Kesetiaan Cinta

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2