
~POV MIRA~
*****
Aku Mira Lesmana, Gadis tangguh yang terbentuk dari kepahitan hidup.
Saat aku kecil, aku sering melihat orang tuaku bertengkar. Lebih tepatnya papaku yang memarahi mamaku.
Marahnya sering disertai dengan pukulan. Selama bertahun-tahun mamaku menahan penderitaan ini. Aku yang saat itu sudah berumur sepuluh tahun, sedikit banyaknya aku sudah mengerti dan aku menyimpan dendam itu di hatiku.
Sore itu, saat papaku marah dan ibuku sudah lebam-lebam karena pukulan dari papa. Aku memberanikan diri, aku beringsut keluar rumah dan berlari sepanjang jalan sepi. Kebetulan rumah kami adalah sebuah mansion besar yang berdiri agak jauh dari keramaian.
Aku berlari dan berlari hingga keberuntungan menghampiriku. Kebetulan saja ada mobil polisi yang lewat dan aku langsung stop kan dan melaporkan kejadian di rumahku.
Aku melihat tatapan kebencian dari papaku saat dia di giring oleh petugas kepolisian itu.
Ibuku menangis tersedu-sedu berterimakasih padaku, pada keberanianku.
Beberapa minggu setelah ibuku pulih, ibu mengajukan cerai dan kami meninggalkan mansion papa. Pindah ke kota ini. Disinilah ibu bertemu dengan pria baik, yaitu Daddy.
Aku punya dua orang adik sekarang dan kami hidup akur. Daddy juga sayang padaku seperti sayang pada darah dagingnya sendiri.
Setelah aku berumur dua puluh, papaku menghubungi kami dan menyerahkan beberapa asetnya pada kami.
Itulah yang aku kelola sekarang. Perusahaan yang ku kelola adalah aset papaku.
Kepahitan yang ku alami dulu, menjadikanku kuat dan tidak terkalahkan. Karena menyaksikan setiap peristiwa yang terjadi pada Mami, aku trauma dan bertekad tidak akan ada yang namanya suami di masa depan. Walaupun daddy bersikap baik pada mami, tapi aku berpikir itu hanya satu dari seratus laki-laki.
Walau berbagai penjelasan oleh mami, daddy dan teman-temanku. Pandanganku pada yang namanya suami masih sama. Jahat.
Tetapi, semua itu terpatahkan saat aku bertemu dengan seorang pria yang ku perkirakan seusiaku. Terimakasih untuk Daddy karena mengajak aku ke acara para pengusaha ini. Walau lelaki itu bukanlah seorang suami, tapi aku seperti melihat ada cahaya kebaikan pada dirinya. Mataku langsung tertuju padanya dan keinginan untuk menjadikannya suami muncul begitu saja.
Pucuk di cinta ulam pun tiba,
Ternyata orang tua kami saling kenal, bahkan dulu mami pernah satu sekolah dengan mamanya. Akhirnya kami di jodohkan.
Tidak ada penolakan dan penerimaan dari pria itu. Dia tersenyum dan meminta waktu untuk bisa mengenalku lebih dalam.
Namanya Jansen dan aku sudah mengukir namanya di hatiku.
Melihat keramahannya, aku berusaha sebaik mungkin untuk bisa menggenggamnya. Mencoba mengerti dan memberinya waktu. Aku juga menjadi orang yang disukai oleh anggota keluarganya. Secara tidak langsung, aku sudah mendapatkan restu dan sudah diterima dengan baik.
__ADS_1
Bukan hanya karena parasku, tapi juga hartaku dan siapa aku.
Jansen adalah orang pertama yang membuatku menghapus tekad yang selama ini terpahat di hatiku. Jansen adalah sosok suami yang aku inginkan. Jansen adalah orang pertama yang membuat aku jatuh cinta dan hampir gila karena begitu menginginkannya.
Aku bekerja lebih keras dan lebih memperhatikan keadaan diriku sendiri. Apakah aku cantik? Apakah ini cocok untukku? Aku merasa lebih bersemangat dari sebelumnya.
Saat keyakinanku sudah seratus persen dan sudah mendekati hari yang di tentukan, aku mengetahui bahwa dia memiliki wanita lain di hatinya. Aku marah tetapi tidak bisa ku lampiaskan padanya atau pada siapapun.
Aku ingin sekali mengetahui siapa wanita itu, berasal dari keluarga mana dan apa usaha yang di miliki oleh keluarganya.
Aku ingin sekali mendengar suaranya. Selembut dan seanggun apakah? Bukankah dari tutur bahasa kita bisa tau ciri ciri seseorang? Dan menebak kira-kira keluarganya berada di tingkat apa.
Itu tidak seperti yang ada di pikiran ku. Suaranya sedikit kasar dan terburu-buru. Lalu bagaimana wajahnya?
Jansen diliputi kecemasan saat aku memberitahunya tentang apa yang kulakukan. Dengan segera dia mengajak gadis itu bertemu di hari itu. Aku mengikuti Jansen dan memilih duduk di tempat yang lain.
Lumayan cantik, itulah penilaianku pada gadis itu. Anggun? Seratus persen tidak. Dan sepertinya bukan gadis konglomerat, karena dia datang hanya dengan kaos oblong dan celana jins yang tidak bermerek. Lihat tasnya, astaga apa itu tas seharga dua ratus ribu?
Apa selera Jansen gadis seperti ini? Apa gadis ini pantas bersanding dengan Jansen?
Astaga,,, aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Jansen membawa gadis ini menjadi sainganku. Sekarang saja aku sudah yakin bahwa aku menang, orang tua Jansen sudah pasti ada di pihakku.
Aku mengangkat cangkirku dan melihat sepasang kekasih dengan raut yang penuh dengan kesedihan dan kekecewaan. Gadis itu berdiri dan langsung pergi tanpa menoleh. Tidak ada air mata di pipinya, tetapi aku bisa melihat ada kesedihan, kemarahan dn kekecewaan disana. Aku langsung berdiri ketika Jansen hendak mengejar gadis itu.
"Jika kamu ingin menyingkirkan ku, kau harus punya dua alasan. Cantik dan Kaya."
Aku menekankan kata cantik dan kaya lalu meninggalkan Jansen yang murung disana.
Dari wajahnya, aku tahu bahwa dia punya cinta yang besar untuk gadis itu. Tatapannya tidak seperti dia menatapku. Itu sangat kosong ketika denganku.
Aku bukan gadis lemah yang langsung mengadu pada orang tua. Aku bertindak sendiri, mencari tahu siapa gadis itu dan bagaimana dia bisa mencuri hati Jansen yang sudah di titipkan untukku.
"Cari tahu semua tentangnya dan laporkan padaku segera," titahku pada detektif swasta yang aku sewa.
"Semua, sampai orang tua dan pekerjaannya," lanjutku dan segera di angguki.
Aku baru menyadari, selama beberapa bulan terakhir, Jansen seperti berubah, dia selalu sibuk ketika aku bertanya dan mengajaknya keluar. Ternya aku kecolongan.
****************
"Apa kamu sibuk hari ini, Sayang? Orang tua Jansen mengundang kita untuk makan malam." Aku tersenyum, inikah saatnya?
__ADS_1
"Tidak, Mam. Jam berapa?"
Aku melihat jam rolex mahal di pergelangan tanganku. Hmmm masih lima jam lagi, tapi aku merasa sudah tidak sabar.
Aku tersenyum sinis, 'Ayu Apriani, kau punya nyali terlalu besar untuk bersanding dengan Jansen. Seharusnya kau tau diri,' kataku dalam hati.
"Hah, lima jam seperti lima tahun saja," gumamku.
Formasi lengkap.
Itulah yang kulihat saat memasuki ruangan yang sudah di reservasi untuk acara makan malam ini.
Aku semakin yakin, bahwa akan ada pembicaraan serius.
"Malam, Om, Tante, Mba Jo, Mas," sapaku pada keluarga Jansen.
Aku beralih pada pria ganteng satu lagi, "Hai Josh." Lambaian tanganku di balas dengan senyuman seperti biasa.
Aku juga menyapa si imut Vania, "Hallo anak manis." Aku mencubit pipinya dengan gemas.
Tidak ada Jansen, aku maklumi, mungkin masih di jalan.
Benar saja, tak berselang lama. Jansen tiba dan duduk di kursi di hadapanku.
Astaga, gantengnya. Siapa yang rela melepas pria ganteng seperti dia? Sungguh bodoh.
"Hai!" sapaku sangat konyol dan seperti salah tingkah. Dia tersenyum seperti biasa.
"Ada pembahasan apa, Jeng. Sampai kita berkumpul di week day seperti ini?" Mamiku memulai.
"Kita makan dulu saja yah, Jeng," kata Mamanya Jansen dengan senyum ramahnya.
Para orang tua hanya ngobrol ringan dan sesekali bertanya pada kami. Acara ini semakin hidup karena celotehan si imut Vania.
Suasana yang ceria tiba-tiba mencekam karena Jansen berdiri dan memutar tubuh menghadap orang tua ku.
"Om, Tante, Mira, ada yang ingin saya sampaikan."
Kami semua menatap Jansen penuh tanya tak terkecuali orang tuanya.
"Terimakasih untuk waktu yang di berikan kepada saya selama ini, mohon maaf jika ada hal yang menyakiti perasaan Om dan Tante."
__ADS_1
Pembukaan Jansen di luar ekspektasi ku. Aku punya firasat buruk.
"Om, Tante, maaf saya menolak perjodohan dan pertunanganku dengan Mira"