MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
138. SIDE STORY// ANDRIAN


__ADS_3

"Yang, udah?" Kepala Jansen melongok dari pintu. Sementara tubuhnya tetap di luar ruangan.


"Tunggu di depan aja! Lima menit!" teriak Ayu yang sedang meria diri.


"Ya, jangan lewat dari lima menit!"


Dan Jansen hanya mendapat jawaban berupa anggukan kepala dan kuga deheman.


Hari ini, hari pernikahan Andrian dan Nuri. Setelah rekonsiliasi hati mereka beberapa bulan lalu, akhirnya di adakan pesta pernikahan yang lumayan besar. Dan Jansen akan pergi bersama Ayu untuk menghadiri pesta.


"Katanya lima menit, ini saja udah hampir sepuluh menit. Dia sedang apa, sih?"


Jansen menggerutu sebab lima menit sekarang jadi di kali dua.


"Panggil aja sana! Siapa tau dia lagi dandan dan butuh bantuan mau ambil ini itu makanya lama!" nyonya Helena dn tuan Awan sedang duduk menikmati teh sore hari.


"Gak bisa dandan apanya, yang ada dia disana bolak balik ganti baju. Kalau mekapnya nggak cocok yang di ganti bajunya."


Jansen kemudian menceritakan kondisi tempat tidurnya tadi.


Sekarang, dua orang itu menempati salah satu kamar di bawah karena kehamilan yang semakin besar.


"Kalian mau ke pesta siapa, sih? Teman Yuyu?" Tanya nyonya Helena.


"Mantannya!"jawab Jansen reflek.


"Mantan pacar?" nyonya Helena memperjelas.


"Iya, Ma. Mantan gebetan. Dan pegawai Jan juga."


"Jadi kamu rebut Ayu dari anak buahmu?"


Tuan Awan akhirnya ikut bertanya.


"Nggak dong, Pa!"


Mukanya sungguh sangat jelek karena cinta pertama Ayu di ungkit lagi.


"Jadi?"


"Mantan gebetannya waktu sekolah. Lah malah kebetulan jadi pegawai Jan."


"Kan mantan gebetan waktu sekolah, kenapa kamu sewot gitu?"


Akhirnya mengalirlah cerita pertengkaran di hari pertama jadi suami.


Nyonya Helena tertawa dan semakin memberikan kata-kata mengejek buat Jansen.


"Perkara itu aja kamu cemburu?" tanya nyonya Helena.

__ADS_1


"Bahaya, Ma. gimana kalau Andrian nyatain cinta lagi waktu itu?"


"Menurutmu Yuyu mau?"


"Nggak sih!"


"Ya udah, ngapain cemburu. Apalagi Yuyu sekarang udah hamil. Berarti kamu pemenangnya."


Tak berselang lama, yang di tunggu - tunggu keluar juga. Tampilannya fresh tetapi di mata Jansen itu sangat cantik dan menggairahkan.


Menurutnya, istrinya semakin cantik saat perutnya semakin besar.


"Ayo!"


"Udah hampir lima belas menit, Yang!" Geram tapi tak bisa dilampiaskan.


"Maaf yah, baju yang tadi terlalu pas. Jadinya aku ganti lagi."


Ayu menunjukkan raut memelasnya. Siapa tau ada yang bisa membela dirinya.


"Hmmm, ayo!"


Keduanya berjalan keluar meminggalkan pasangan generasi di ruang keluarga.


Siapa yang menyangka Jansen bisa se bucin itu pada Ayu. Perkara cinta monyet bisa bikin naik darah sampai sekarang.


*****


"Hmmm, bedakan dikit lagi. Biar nutupin jerawat!"


"Apa semua perempuan kayak kamu ini? Atau ini karena mantan?"


Rasa cemburu benar-benar tak bisa di tahan.


Ayu ingin mengumpat tapi tersadar bawa-bawa bayi di perutnya.


Dasar Jansen, sedikitpun nggak ada niatan Ayu seperti yang di bilang tadi. Asli! Murni hanya ingin ke pesta biasa.


"Ayolah, banyak kali cemburumu." Ayu bergegas keluar mobil dan mengulurkan tangan untuk di sambutnya.


"Kamu itu, kalau mau cemburu pake asal sehat." Yuyu menasehati Jansen sambil berjalan ke arah pesta.


Pestanya cukup meriah, Jansen dan Nuri menampilkan senyum ceria untuk menyambut para undangan.


Yuyu dan Jansen juga langsung berjalan menuju pelaminan. Walau sedikit lambat karna kehamilan yang besar.


"Selamat ya Bang Andrian dan kak Nuri. Langgeng sampe kakek nenek," ucap Yuyu saat menyalami mereka.


Jansen menoleh pada Yuyu saat Ayu bicara pelan pada Andrian.

__ADS_1


"Sudah nikah, udah saatnya kembali ke jalan yang benar. Abang harus berubah. Bimbing Nuri biar berubah juga.


Pelan-pelan berjalan bersama untuk lebih baik."


Andrian mengangguk. Sedari dulu mulut Ayu kan sangat pedas saat menasehatinya.


"B.t.w bang, kekasihmu yang lain pada tau nggak bahwa abang menikah hari ini?"


*****


Belum terlalu malam saat mereka memutuskan untuk pulang dari pesta. Akhirnya mereka menghabiskan malam dengan berkencan seperti yang dahulu kala sering mereka lakukan.


"Udah ya! Jangan ada alasanmu cemburu sama bang Aan. Di--"


"Ulangi coba!"


"Apanya?"


"Kamu panggil dia apa??


"Ohh, Aan. Dia kan bang Aan ku waktu sekolah. Tadi aku bilang sama dia. Untuk satu hari ini aku bebas panggil dia aan seperti yang biasa Yuyu panggil waktu sekolah."


Sebuah jawaban yang seharusnya tidak di ucapkan.


"Kamu jangan cemburu dong!Aku sama dia itu udah end lama. Apalagi ini?" Ayu menunjuk seraya mengelus pelan perutnya yang berisi bayi.


"Kamu udah menang, buktinya aku udah hamil besar ini!"


****


Jika dulu mereka bisa makan sepuasnya, sekarang karena kondisi kehamilan Ayu, Jansen benar-benar membatasi asupan makanan untuk Ayu. Tidak ada jajan asongan ataupun gorengan.


"Beb, Ayo buka kamar!"


Ayu berseru saat melihat lampu hotel menyala terang benderang.


"Hah!"


"Ayo nginap di hotel!"


"Sekarang?"


"Iya, malam ini."


"Tapi bilang sama mama malam ini kita tidak pulang. Kamu yang bilang jangan suruh aku."


Ayu merogoh tas dan mengambil ponsel. Segera meletakkan ponsel di telinganya.


"Hallo? Ma, Mas Janja sama Yuyu nginap di hotel, boleh?"

__ADS_1


"Oke, Ma!"


Panggilan terputus dan Ayu bersorak hore.


__ADS_2