MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Lakukan Denganku


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda #15


Oleh Sept


Rate 18+


"Menyingkir dariku!" sentak Dewa.


"Tuan yang minggir," ujar Tika balik. Dewa yang ada di atasnya, bagaimana ia bisa minggir? Dalam hati Tika merutuk, bener-bener pria aneh. Namun, sesaat kemudian Tika tersadar. Tuan mudanya itu tidak bisa mengerakkan kaki, bagaimana Dewa bisa menyingkir.


Dengan perlahan Tika bergerak-gerak, ia ingin merubah posisi. Tapi apa yang terjadi, kini malah posisi mereka berbalik. Tika yang mau menyingkirkan Dewa dari atas tubuhnya, malah kini ada di atas pria itu.


Mata hitam jernih itu menatap ke arahnya. Tika jadi canggung sendiri, reflect ia langsung bangkit. Kemudian pura-pura tidak merasa apa-apa.


"Hati-hati, Tuan!" Tika membantu Dewa naik ke kursi rodanya kembali.


Dua kali berada di posisi saling tumpang tindih, membuat Tika merasa tak enak. Tau-tau degup jantung miliknya berdegup kencang. Persis seperti habis lari marathon. Atau pas lagi ulangan takut ketahuan nyontek. Itulah yang dirasa Tika saat ini.


Kalau Dewa, Tika tidak tahu. Yang pasti pria itu tidak ngomel-ngomel lagi. Aneh, Tika juga heran. Mengapa Dewa tidak memarahi dirinya lagi? Dewa malah lagsung ke kamar mandi. Tentunya tidak lupa memasang wajah dingin dan jutek.


***


Kamar Tika, Mbak Mar sedang berkelana di kamar gadis yang terlahir tak kaya tersebut. Bibirnya tersenyum, ketika menatap lembaran kertas merah di tangan.


"Banyak duit juga tuh anak!" seringai Mbak Mar. Tidak mau ketahuan, Mbak Mar langsung mengambil uang milik Tika. Ia memasukkan ke dalam bajunya, agar tidak ada yang curiga.


Ketika Mbak Mar asik melakukan aksi kleptonya, Tika sedang berdiri di depan kamar mandi.


"Tuan, apa sudah selesai?" teriak Tika.


KLEK


Dewa muncul dengan rambut basah, Tika lantas masuk dan mengeringkan tubuh serta rambut Tuan mudanya itu. Biasanya sih biasa saja, tidak ada desiran di hati keduanya. Kini, baik Tika dan Dewa malah sama-sama diam seribu bahasa.


Apalagi saat Tika membantu Dewa memakai baju, Tika meren-merem tapi sesekali mengintip. Body Tuan mudanya masih oke, meski duduk di kursi roda, nyatanya pesona Dewa tak terelakkan.


Tok tok tok


Tika buru-buru membuka pintu.


"Nyonya Mira," sapa Tika.


Wanita itu masuk sembari melempar senyum.

__ADS_1


"Aku dengar kamu sudah mau diterapi, Wa?"


Dewa hanya melirik kemudian memutuskan keluar kamar sendiri. Sadar, bayi besarnya pergi, Tika langsung berlari mengejar kursi roda yang sudah jauh meninggalkan dirinya.


"Tuan, jangan cepat-cepat."


Tika ngos-ngosan dan meraih pegangan kursi tersebut.


"Selamat pagi, Tuan," sapa perawat yang sudah tiba duluan di ruang terapi. Sedangkan dokter belum tiba.


"Dokter ke mana, Sus?" Tika clingak-clinguk, karena dokternya belum datang.


"Masih on the way, kita tunggu ya. Sepertinya macet," ucap suster memberikan keterangan sembari menyiapkan semua alat-alat.


"Sembari menunggu dokter tiba, Mbak Tika bisa melatih Tuan Dewa dulu."


"Saya?" Mata Tika mau keluar.


Suster tersenyum, mau siapa lagi? Dewa pasti tidak mau bila diterapi dengan suster tersebut.


Tap tap tap


Tante Mira mendadak muncul di sana. Ia penasaran dengan terapi yang dilakukan keponakannya itu.


"Ke mana dokternya?"


Tante Mira mengeryitkan dahi, "Cuma memapah dari sana sampai sana, kan? Coba Tika, kamu bantu Dewa."


Tante Mira ingin melihat perkembangan Dewa terkini. Setahu dia, Dewa selama ini tidak mau diterapi.


"Tapi, Nyonya ...!"


"Kenapa?"


"Tika mau-mau saja, tapi sepertinya Tuan mungkin enggan."


Tante Mira berdecak, ia pun berkaca pinggang. Menatap remeh pada Dewa.


"Ah ... hanya karena karena kamu di atas kursi roda, bukan berarti kamu menyusahkan semua orang. Lama-lama kami akan bosan menghadapi kamu, Wa. Jangan selalu berharap kasihan pada mereka yang lebih dari kamu."


Tante Mira sengaja memancing keponakannya itu.


Dewa langsung geram, mendengar Tante Mira mengatakan ia berharap rasa kasihan dari orang, membuat ia mengepalkan tangan.

__ADS_1


"Tolong, kalau tidak ada urusan. Tante mending keluar."


Dewa mengusir tantenya sendiri.


"Mau sampai kapan kamu mau dilayani terus kaya bayi?"


Makin panas telinga Dewa.


"Tika! Kosongkan tempat ini!" perintahnya pada si Tika.


"Tapi, Tuan."


Tika menatap ragu, ia tidak enak pada Nyonya Mira. Padahal wanita cantik itu yang membuatnya bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Masa harus mengusirnya?


"Dasar, nggak bisa berubah! Tante pulang, Tante harap pada kunjungan berikutnya, kamu nggak lagi menyusahkan banyak orang."


"Aduh!" gumam Tika saat melihat Dewa mencengkram pegangan kursi. Jelas sekali Tuan mudanya itu sangat geram.


"TIKAAA!"


"Baik, Tuan."


Tika langsung mengantar Nyonya Mira pergi. Sebelum gunung Bromo itu meletus dan membakar siapa saja dengan lava yang ia muntahkan.


Klek


Tika menutup pintunya.


Sudah satu jam, ternyata dokter tidak bisa hadir. Dokter terpaksa putar balik karena tiba-tiba ada masalah besar. Alhasil, terapi ini dibatalkan.


"Maaf, Tuan. Sepertinya dokter mendadak berhalangan."


"Jadi tidak jadi terapinya, Sus?" tanya Tika.


"Terserah, Tuan. Kalau mau sama Mbka Tika, ya sama saja."


Tika tersenyum garing. Mana mau pria balok dan jutek itu mau terapi dengan bantuannya.


Tika menghela napas panjang.


"Mari balik ke kamar, Tuan."


Dewa menahan kursi rodanya. "Lakukan denganku!" Bersambung.

__ADS_1


Terima kasih supportnya ya


lope lope sekebon cabe hihihih


__ADS_2