MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
107. MORNING IN THE KITCHEN


__ADS_3

~AYU POV~


******


Aku bangun lebih pagi, karena hari ini adalah hari Senin alias Money Day a.k.a Monday.


Hari yang sangat jahat karena menebarkan bibit-bibit kemalasan bagiku. Tapi, walau malas, bagaimanapun harus di lawan.


Aku menyiapkan sarapan dan sambil beberes di dapur. Keluargaku terbiasa sarapan dengan menu berat setiap pagi. Setangkup roti tidak akan terasa, tapi, sepiring nasi goreng akan membuat perut seakan berada tepat di tempatnya.


Tapi beberapa bulan terakhir, tepatnya saat aku mulai mempersiapkan diri untuk pantas berdiri di samping Jansen, aku sudah mulai merubah pola hidup, aku memaksa berlatih sarapan hanya dengan setangkup roti. Awalnya sulit, aku malah jadi sering double sarapan. "Yuyu nggak kenyang!" Itu yang aku katakan ketika mengambil setengah centong nasi goreng setelah makan roti.


Pagi ini, aku menyiapkan roti panggang, yang ku bakar dengan alat pemanggang yang aku beli setelah aku mengumpulkan sisa gajiku. Aku membuat roti dua tangkup dan membuat sarapan untuk Bapak dan ibu berupa nasi putih dan lauk pauk.


Tidak butuh waktu lama, karena aku memang punya sedikit keahlian di dapur. Aku sudah tau apa yang akan aku masak setelah melihat bahan yang tersedia.


Tapi, ini hanya berlaku di dapur rumahku saja ya, jangan tanya di dapur orang lain.


Dulu ketika Ririn nginap di rumahku, dia akan senang makan nasi goreng buatanku. Katanya enak. Tapi aku biasa aja, nasi goreng emang gitu rasanya, kan?


Saat aku gantian nginap di kosnya, dia minta supaya aku memasak, tapi dengan cepat tanpa mikir dua kali aku langsung menolak dengan alasan takut rumah kosnya terbakar karena aku. Aku belum punya uang untuk ganti rugi.


Setelah sarapannya ready, aku membuat minumannya. Katakanlah aku sok-sokan, tapi untuk beberapa minggu terakhir ini, aku sudah membiasakan untuk makan teratur walau hanya secuil karena aku ada penyakit mag.


Aku membuat jus pagi ini, biarlah Ibu marah nanti karena melihat jus bau ini nangkring di meja.


Bit dan segala campurannya adalah musuh Ibu dalam perbuahan. Tidak masalah pisang di campur dengan mangga atau apapun asal jangan ada bit nya.


Tapi, walau demikian, jus nya tetap di minum karena aku bohongi, dengan minum jus bit rutin, kulit akan sangat cantik dan punya umur yang panjang.


'Ibu masih mau melihat kalian semua bahagia. dan Ibu masih ingin memeluk cucu ibu lebih banyak lagi.'


Dengan terpaksa jus itu masuk walau dengan hidung tertutup.


"Morning, Sayang!" ciuman di kepala yang datang tiba-tiba tanpa tanda-tanda mengembalikan ingatanku tentang perjus-an. Aku menoleh dan mendapati Jansen dengan muka bantalnya berdiri di sampingku. Tangannya parkir di bahuku.


"Morning, Bebi. Nyenyak tidurnya?"


"Hmmm, tapi masih lebih nyenyak yang dulu walau hanya di sofa sempit. Kasur yang besar itu terasa dingin walau sudah ku coba memeluk guling."


"Mungkin karena guling kemarin beda dengan tadi malam. Kemarin kan guling bernapas, tadi malam guling tanpa nyawa." Aku tersenyum tipis saat mengatakannya.


"Hmmm, bisa jadi," balas Jansen dan tiba-tiba dia bergeser ke belakangku lalu menjatuhkan. kepala di bahuku.


"Awas, ntar di lihat sama Ibu!" kataku memperingatkannya.


Ini kan udah pagi, ibu pasti udah bangun dan sebentar lagi ke dapur, kalo sampai ke gap lagi, mampuslah.


Bisa-bisa aku di kawinkan besok karena menganggap aku udah nggak tahan lagi.


"Ck, mau mesraan dikit aja susah bangat yah, Yang. Padahal aku pengen kayak orang-orang, meluk pasangan sambil memasak. Kayaknya menyenangkan. Apalagi kalau sekalian morning kiss. Wah, mantap itu." Setelah berucap demikian, Jansen mengangkat kepalanya lalu menjauh dari ku. Aku mengikutinya dengan pandanganku. Dia berjalan ke arah lemari dan mengambil gelas lalu menuang air dari dispenser.


"Kalau sambil olah raga pagi bakar kalori gimana? Mantap gak?" tanyaku dan beberapa detik kemudian Jansen terbatuk-batuk hampir mokad.


Aku menghampirinya dan menepuk-nepuk punggungnya. Dan dengan polosnya bertanya,


"kenapa? Airnya terlalu panas?"

__ADS_1


Jansen masih berusaha mengembalikan nyawa yang hampir melayang, dia menepuk dadanya lalu kemudian minum satu teguk.


"Airnya nggak panas, kata-kata kamu yang panas," ucapnya sambil memicing padaku.


Hah.. aku melongo, yang mana?


Aku berucap biasa aja.


"Olah raga bareng pasangan," kata Jansen memperjelas.


"Apanya yang salah dari itu?"


Hah....


dia membuang kasar napasnya.


"Aku nggak tau kamu pura-pura polos atau polos beneran, huh.. tiba-tiba aku merasa panas," ucapnya pelan seraya berlalu dari dapur.


Aku mengikutinya sampai keluar dari dapur dengan mataku yang memicing.


Dasar pria, itu aja langsung kepanasan.


Apa tidak bisa pembicaraan melenceng dikit?


*****


Kami sarapan dalam diam. Jansen sudah rapi dengan pakaian kerja yang tersedia di dalam mobil sebagai cadangan jika suatu hal terjadi yang mengharuskan ganti baju. Dan aku bersyukur karena dia bijak memikirkan hal itu. Aku juga sudah rapi, pagi ini aku akan berangkat dengan Jansen.


Huh, malasnya pas pulang nanti, mau naik kereta pasti padat bangat, mau naik bus, pasti macet. Dan yang pasti orang-orang muda sepertiku akan sangat sulit mendapat tempat duduk.


Tapi tetap habis karena mata kami bertemu saat dia mengedarkan pandangan. Aku sedikit membulatkan mata, tujuannya mengancam dia harus menghabiskan jus itu.


"Kami berangkat ya Pak, Bu!" Aku berdiri dan menyampirkan tas ku di bahu. Aku mendekati Bapak dan Ibu lalu salim. Sebelum pergi, aku menumpuk piring dan gelas Jansen dan milikku, aku mengantarkan ke wastafel yang tidak jauh dari meja makan.


Aku meraih tas bekal di meja saat melihat Jansen sudah selesai salim.


Kami berjalan bersama ke luar rumah bagai pasangan suami istri yang hendak berangkat bersama le tempat kerja. Aku jadi teringat apa kata tante Helena, sebaiknya aku kerja bersama Jansen jika sudah menikah nanti. Jika itu sampai kejadian, berarti kami akan berangkat bersama-sama setiap pagi seperti ini.


"Harusnya kami kasih madu dikit di jus nya, rasanya ihhh."Bahunya seperti bergetar, mungkin karena mengingat rasa jus yang baru di minum.


"Enak?" Aku bertanya dengan jenakanya.


"Enak apanya, aku nggak mau lagi minum kayak gitu, rasanya nggak bisa aku deskripsikan apalagi baunya."


"Padahal aku suka."


"Selera orang beda-beda, Yang."


Aku melihat beberapa tetangga yang sedang melewati rumah kami -pulang belanja- melihat kami dengan tatapan penasaran.


Mungkin mereka bertanya-tanya kenapa ada pria sepagi ini di rumah kami atau bertanya-tanya hubungan apa pria ini dengan kami makanya bisa menginap, mengingat mobil Jansen yang terparkir di depan rumah.


Saat aku berdiri di samping Jansen dan sedang bersiap masuk ke dalam mobil yang pintunya di bukakan oleh Jansen. Aku mendengar suara motor dan aku yakin itu Pian.


"Cie-cie, calon manten!" teriaknya memperlambat laju motor lalu dengan segera melaju kencang.


Teriakannya mencuri perhatian para ibu-ibu yang sedang lewat itu.

__ADS_1


"Yu, kapan pesta?"


"Cakep calonmu, Yu!"


"Yu, kok bisa dapat calon cakep?"


Aku mengurungkan niat naik ke mobil, aku mengarahkan pandangan pada ibu-ibu itu sambil tersenyum.


"Yuyu kan cantik bude, yah dapat yang cakep dong! Hehehehe."


"Kamu bisa aja, jangan lama-lama, Bude udah pengen makan di pesta kamu," jawabnya padaku.


"Ditunggu yah, Bude. Masnya lagi cari uang dulu, biar bisa kasih makanan yang enak-enak pas pesta nanti."


"Hahahah, kamu bisa aja, iya deh, bude-bude ini bantu doain. Udah sono berangkat, nanti terlambat malah potong gaji, jadi makin lama ngumpulin uangnya," seloroh salah satu dari bude tetangga itu.


"Mari bude." Aku buka pintu sendiri dan masuk lalu menutup nya sendiri juga. Dasar Jansen, masa dia masuk mobil tadi saat aku bicara sama tetangga, harusnya dia tungguin dong sampe aku selesai dan lanjutin bantu aku bukain pintu mobil.


"Kamu panggil 'Mas' kayaknya manis, Yang. Panggil aku 'Mas' dong!" ucapnya dengan senyum saat aku sudah selesai pasang seatbelt dan kami bersiap go.


"Ih, nggak ah, nggak cocok buat kamu, nggak ada muka-muka jawa kamu," tolakku dengan cepat tanpa mikir panjang.


"Nggak musti orang jawa, kan? Noh, yang kerja di restoran, orang batak juga kamu panggil mas, orang sunda juga kamu panggil mas. Masa pacar sendiri nggak mau manggil mas."


"Nggak ih, aku nggak suka. Suka panggil kamu Bebi aja atau Sayang."


"Belum pernah dengar kamu panggil aku sayang."


Aku menatapnya dengan alis menyatu. Belum pernah katanya?


Bah, dia lupa kayaknya waktu itu melas minta di panggil sayang.


"Sayang, tolong panggil aku sayang!" Aku menirukan suara dan nada dia waktu nelpon aku.


"Aku pengen dengar, tolong sekali aja panggil aku sayang!"


Aku lanjutkan lagi.


Mudah-mudahan dia sadar.


"Aku ingat ada orang kemarin itu nelpon minta di panggil sayang dengan suara melas hampir nangis," ucapku dengan nada mengejek.


Dia hanya menoleh sejenak dan kemudian fokus pada jalanan ramai di depan.


"Serius Beb, waktu itu kamu kabur kemana sih? Adekmu yang tampan itu sampe menelpon aku berkali-kali dan bilang gini, 'Gue tahu, lo pasti tau dia dimana, atau mungkin lo lagi bareng dia, cepat suruh pulang sebelum gue cari tau sendiri keberadaan kalian.' Ih, serem bangat tau dengar nada datarnya itu. Untung aku ingat mukanya ganteng, jadi aku gak takut-takut amat, karena pasti dia gak seram saat ngancam malah makin cool!"


Seketika, aku merasa seperti ada yang menusukku dengan sesuatu yang dingin.


Aku menoleh sekilas dan mendapati Jansen yang menatapku tajam.


Apa dia cemburu?


"Dugaanku ternyata tidak salah!" ucapnya datar.


Aku tidak tau maksudnya apa.


Apa ini tentang aku yang memuji kegantengan adeknya, jadi dia mikir aku menyukai Josh?

__ADS_1


__ADS_2