MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Menuju Halal


__ADS_3

Bagian 33


"Aku tidak pernah menyangka, Tuan pemarah ini berubah seratus delapan puluh derajat. Ish ... ke mana perginya Tuan sombong, dingin dan angkuh itu?" batin Tika ketika mendengar candaan Dewa.


Ia lalu menggeleng sembari menatap Dewa, tanda bahwa ia memang tidak minta dicium.


"Ya sudah, sekarang sudah malam. Tidurlah, besok aku akan urus semuanya." Dewa mengusap rambut Tika, membuat hati gadis itu berdesir saat kulit tangan itu menyentuh bagian tubuhnya.


Bagaimana bisa tidur? Sebentar lagi ia akan menikah. Ini seperti mimpi, Tika sampai tidak bisa memejamkan mata hingga dini hari.


***


Pagi hari, mentari sudah bersinar cerah. Secerah hati Dewa.


"Aku butuh semua dokumen pribadimu, semuanya akan aku urus hari ini," ucap Dewa saat keduanya sudah duduk di meja makan. Ini sarapan pertama bagi mereka.


"Bagaimana dengan Nyonya, Tuan?"


"Kalau kamu masih mikirin restu mama, mungkin kita tidak akan pernah nikah."


Tika menelan ludah dengan pasrah, Dewa memang benar sekali. Bila menunggu dapat restu, itu pasti butuh waktu. Dan sepertinya Dewa tidak mau menunggu itu. Iyalah, lima tahun mungkin sudah cukup bagi Dewa. Bila tanaman, mungkin dia sudah lumutan. Bila besi, mungkin Dewa juga sudah berkarat.


"Jadi kita kawin lari, Tuan?" tanya Tika dengan wajah sepolos mungkin.


"Ish! Kita tetap menikah Tik, bahkan aku pastikan resmi secara hukum. Tapi, aku nggak jamin tengang restu mama."


Dewa sangat paham dengan mamanya yang idealis nan matrealis tersebut. Akan sangat sulit membuat sang Mama menerima Tika sebagai pendamping hidupnya.


"Menikah tanpa restu?" Tika menatap penuh tanya. Namun, wajahnya menyiratkan sebuah kesedihan. Sudah tidak memiliki ibu, mungkin Tika juga tidak akan memiliki kasih sayang dari seorang ibu mertua. Hanya karena miskin, mungkin kehadirannya akan ditolak mentah-mentah.


Dewa lantas menarik tangan Tika, kemudian meremas dan memainkan jari-jari lentiknya itu.


"Kan ada aku? Apa aku belum cukup?"


Tika memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ah, sudahlah. Mungkin inilah garis hidupnya. Menikah tanpa restu dari orang tua.


Selesai sarapan, mereka berdua keluar bersama. Dewa membawa tas berisi banyak berkas milik mereka berdua.


"Loh kok ke sini?"


Tika heran, mengapa mobil berhenti di sebuah boutique. Katanya mau mengurus berkas pernikahan mereka.

__ADS_1


"Kita akan pilih, baju yang cantik untukmu," jawab Dewa santai.


"Berkas-berkasnya?"


"Sebentar lagi sekretarisku ke sini, biar dia yang urus." Dewa menatap jam rolexxx miliknya. Mereka masih punya beberapa jam.


"Ayo masuk!" tambah Dewa sambil mengandeng tangan Tika masuk ke dalam boutique yang terlihat eksklusif tersebut.


"Ya Tuhan ... aku tidak menyangka, dia mengajakku memilih gaun pengantin? Apa aku harus senang atau malah sedih?" batin Tika sembari menatap deretan gaun pengantin yang terpasang di manekin. Cantik, elegant dan wah.


"Selamat datang Tuan dan Nona," sapa pegawai boutique yang tersenyum ramah pada keduanya.


Dewa hanya mengangguk, kemudian terus berjalan sambil mengandeng tangan Tika.


"Mbak, tolong bantu calon istri saya mencoba gaun yang ini!" ucap Dewa sambil memegang ujung lengan gaun pengantin yang terlihat memukau.


"Baik, Tuan. Mari Nona."


Ketika pegawai berjalan mendahului Tika, Tika tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Bibirnya meliuk-liuk, gara-gara Dewa mengatakan pada orang lain bahwa dia adalah calon istrinya. Aduh, hati Tika kembang-kempis dibuatnya.


***


Dewa menunjuk gaun yang lain, ia belum puas dengan gaun pertama yang ia pilih.


"Tuan, ini sudah cantik," Tika menolak bila harus ganti sekali lagi.


Dewa melirik ke pegawai, seolah mengatakan agar mereka di tinggalkan berdua saja di ruang ganti. Dan ketika pegawai boutique itu benar-benar meninggalkan mereka berdua. Dewa berjalan mendekati Tika.


"Jangan panggil Tuan lagi, Tika. Apalagi di depan orang," bisiknya sangat pelan di telinga wanita tersebut, membuat Tika merinding tak karuan. Sepertinya Dewa sengaja melakukannya, pria itu bahkan malah meniup telinga Tika.


Sembari menelan ludah, Tika lantas bertanya.


"Lalu harus panggil apa, Tuan?"


"Apa saja!"


"Apa saja?" Tika memutar otak. Harus panggil apa kepada mantan Tuan mudanya itu. Tika jadi bingung. Mau panggil sayang tapi malunya minta ampun.


"Hem ... apa saja, tapi jangan Tuan. Telingaku geli mendengarnya."


"Emm ... apa Tuan? Tika juga bingung."

__ADS_1


"Ya ampun. Apa kamu tidak pernah nonton film atau membaca novel romance?"


"Tika malu, Tuan."


"Malu? Malu sama siapa?"


"Malu sama diri sendiri." Tika menundukkan wajahnya.


"Tika ... Tika, malu itu kalau Kita berbuat salah. Hanya karena kamu mencintai seseorang, mengapa harus malu?" ujar Dewa.


"Entahlah, Tuan. Tika rasa ini masih seperti mimpi."


"Mimpi?"


Dewa lantas memutar tubuh Tika, kini keduanya saling menatap. Meski tinggi mereka sangat beda jauh, membuat Dewa harus merunduk bila mau bicara pada Tika. Dan Tika harus mendongak ketika menatap pria tersebut.


Untuk membuktikan bahwa Tika tidak sedang bermimpi. Dewa perlahan menundukkan wajahnya. Pelan tapi pasti, Dewa menautkan bibir mereka. Singkat dan jelas, Dewa kembali mencium Tika dengan hangat.


"Apa ini masih seperti mimpi bagimu?" tanya dewa sambil memegang dagu Tika. Sepertinya itu masih kurang, karena durasinya terlalu singkat. Sedangkan Tika, ia terkejut untuk kesekian kali. Mungkin Dewa benar, ini bukan mimpi. Karena ciuman barusan begitu nyata, lembut dan membuat jantungnya berdebar.


"Itu ... emm ... nanti dilihat orang." Tika dengan halus menepis tangan Dewa yang masih memegang dagunya.


Srekkk


Dewa menutup tirai di ruang ganti. Bersambung.


Jangan aneh-aneh Dewa, belum sah woi!


Baca juga novel Sept yang lain ya


Rahim Bayaran


Istri Gelap Presdir


Dea I Love You


Kesetiaan Cinta


Instagram : Sept_September2020


Terima kasih supportnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2