MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
125. HAPPY ENDING PART 2


__ADS_3

Wanita paruh baya itu melemparkan kapas bekas yang barusan di gunakan untuk membersihkan sisa mekap di wajahnya.


"Nggak nyangka mama akan seramai itu tadi loh, Pah," ucapnya pada sang suami seraya berjalan ke arah ranjang.


Suami yang di ajaknya ngobrol sudah ada di tempat tidur dan sedang melihat sesuatu di layar tabletnya.


"Iya, tapi dari awal papa memang sudah prediksi kalau pesta ini bakal rame," jawabnya menatap istrinya sejenak.


"Mas Berton kan jualan di pasar, pasti banyak teman dan pelanggan, pasti di undang


, dan juga mereka hidup di lingkungan ramah tetangga, bukan kayak kita yang siapa kamu siapa aku," lanjut tuan Awan lalu beberapa detik kemudian dia melepas kaca mata dan meletakkannya bersamaan dengan tablet di atas nakas di samping tempat tidur.


"Papa senang, mas Rudy dan mbak Ermina datang, walau papa melihat mereka sedih tapi mereka sudah terima keputusan. Tidak ada pandangan permusuhan atau marah tadi," ucap tuan Awan lagi seraya bersiap merebahkan badannya.


"Selama ini juga, kalau ketemu, Er udah biasa aja. Kayaknya Mira yang masih belum terima. Papa ingatkan terakhir kali mama cerita ketemu dia di butik pas belanja?"


Suaminya mengangguk.


"Saat itu mama bisa lihat, ternyata dia sangat mencintai Jansen," ucapnya sendu lalu menghela napas kasar.


"Hah... Semoga dia ketemu jodohnya yang seperti Jansen bahkan melebihi Jansen."


Ucapan dan doa dari nyonya Helena di aminkan juga oleh tuan Awan.


Walau bagaimanapun keinginan mereka agar Mira menjadi menantunya sangat besar dulu. Tapi jodoh anaknya bukan Mira.


Walau sudah melakukan banyak hal agar menyatukan keduanya, tetapi cinta Jansen pada gadis pilihannya sangat besar. Sekarang pasangan itu hanya bisa mendoakan semoga anaknya nggak salah pilih.


...*****...


"Kok masih nangis? Ibu cengeng!" Kalimat itu di ikuti oleh kekehan ringan dari pak Berton.


Usai pulang dari pesta, bahkan masih di jalan pun, istrinya sudah mulai cemberut.


Puncaknya udah sampai di rumah, langsung menangis tanpa alasan.


"Ibu masih nggak nyangka, bontot ibu udah jadi punya orang. Ibu masih sedikit khawatir, dia udah sanggup atau belum menjadi istri apalagi jadi menantu," Rohaya menguarkan semua unek-uneknya.


"Dia terbiasa hidup sederhana sama kita, gimana dia nanti disana, sanggup nggak ngikutin gaya hidup keluarga barunya. Ibu khawatir karena usianya masih muda juga."


Pak Berton menghela napas. Maklum dengan kekhawatiran istrinya.


Walau anak gadisnya bisa membantu pekerjaan di rumahnya, tapi pasti akan berbeda dengan rumah Jansen.


"Jangan khawatir, percaya aja dia bisa. Anak kita anak yang cerdas dan cepat tanggap, semua akan baik-baik saja. Kan, ibu udah bekalin dia banyak nasehat sebelum di nikahin Jansen. Doakan aja, supaya dia makin dewasa dan bijaksana dalam rumah tangga!" Tangan pak Berton menepuk pelan punggung istrinya.

__ADS_1


"Ayo sana, cuci muka dulu. Seharian keringatan bikin lengket. Ini bapak udah ngerasa segar setelah mandi."


Rohaya mengangguk dan berjalan ke kamar mandi masih dengan sisa tangisnya.


Dalam hati keduanya, mereka berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga anaknya. Semoga Jansen adalah jodoh yang di pilihkan Tuhan buat anaknya.


...*****...


"Makasih, Mbak!" ucap gadis itu usai semua perintilan yang melekat di kepalanya di ambil. Terasa ringan seperti biasa.


Seharian ini lehernya terasa kaku karena harus menopang kepala yang di hiasi konde besar itu.


Usai menutup pintu selepas kepergian tukang mekap itu, Ayu berbalik dan tetiba kaget begitu melihat Jansen keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk kimono.


Mau teriak tapi tiba-tiba ingat, sekarang pria di hadapannya itu adalah suaminya.


"Mandi dulu, Yang! Biar seger!" ucap Jansen seraya mengeringkan rambut dengan handuk.


"Hmmm" jawab gadis itu berjalan ke arah kamar mandi.


Dirinya juga hanya mengenakan kimono handuk, karena pakaiannya tadi di lepas dengan bantuan mbak mekap.


"Hufff, aku deg-degan!" ucapnya pada diri sendiri usai berhasil masuk ke kamar mandi.


"Nggak harus, kan?"


Sekali lagi dia menghela napas kasar sebelum memulai ritual mandinya.


Tiga puluh menit berlalu, Ayu keluar dengan kimono yang sama dan kepala yang di bungkus handuk.


Dia berusaha sesantai mungkin berjalan keluar kamar mandi dan bergegas ke meja Rias dikamar itu.


"Koper kita mana?" tanyanya pada pria yang sudah berganti pakaian itu.


Pria itu duduk si sofa dan sedang melihat tablet di tangannya.


"Baju ada di lemari," jawabnya pelan dan melihat sekilas pada istrinya.


Dia kembali sibuk dengan tabletnya atau lebih tepatnya menyibukkan siri untuk mengusir kegugupannya.


Sejak Ayu masuk ke kamar mandi tadi, pria itu udah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Apakah langsung bertindak seperti kebanyakan orang atau menunda?


Bagaimana memulainya? Haruskah di rayu atau biasa saja?

__ADS_1


Dia bahkan searching di internet bagaimana seharusnya bertindak di malam pertama.


Usai mengeringkan rambutnya, Ayu berjalan santai ke arah lemari dan membukanya. Berharap tidak menemukan kejahilan keluarganya. Misalnya, mengganti semua baju yang dia siapkan dengan lingerie atau bikini.


Hihihi, dia berharap tidak di ganti atau di ganti saja?


Ayu menghembuskan napas pelan karena masih ada piyama dan tidak menemukan lingerie.


Haruskah dia senang atau sedih?


Dengan santai dia melewati Jansen ke kamar mandi dengan baju tidur di tangan.


"Duh, ini gimana,yah? Kok aku gugup bangat!" ucapnya seusai di kamar mandi.


Tak ingin menunjukkan kegugupannya, dia langsung berganti pakaian dan keluar.


"Cape bangat hari ini, udah jam berapa sih? Kok mataku udah berat bangat," ucapnya seraya pura-pura menguap dn berjalan ke arah kasur.


"Jam sebelas kurang, ayo istirahat, hari ini hari yang melelahkan tapi hari bahagia kita!" ucap Jansen seraya berdiri dan berjalan ke arah kasur juga.


Keduanya berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Good night, istriku!" ucapnya seraya mencium kening Ayu dan menariknya untuk lebih dekat.


"Jangan gugup, malam pertamanya kita tunda, aku tahu kamu capek, aku juga. Jadi, ayo tidur!" ucapnya pelan dengan mata tertutup.


Ayu menggeser tubuhnya lebih dekat pada Jansen.


"Hmmm, aku kira kamu nggak ngerti, aku udah deg-degan dari tadi." Jujur sekali anda nona.


"Pikiranku udah kemana-mana dari tadi, sampe aku capek sendiri mikirin gimana cara nolaknya," ucapnya lagi di ikuti kekehan ringan.


"Dasar! Masa cara nolaknya, cara mulainya, Yang."


"Kamu juga mikir kesana?" tanyanya mendongak dan mendapati pria itu tetap terpejam.


"Menurutmu?"


Jansen berusaha tidak membuka mata dan menunduk, dia tahu gadis di pelukannya sedang menatapnya. Bahaya jika dia membuka mata.


Bukan hal yang terlarang lagi sebenarnya bagi mereka, tapi dia mengerti kondisi istrinya.


"Ayo tidur, kumpulin tenaga dulu!" ucapnya lagi seraya menuntun gadis itu untuk merebahkan kepala di dadanya.


"Aku nggak akan bisa berhenti jika memulainya sekarang, kamu bisa remuk kelelahan nanti! Simpan tenagamu karena aku nggak akan tanggung-tanggung nanti!"

__ADS_1


__ADS_2