
Jerat Cinta Tuan Muda #14
Oleh Sept
Rate 18+
Dokter pun bisa tersenyum lega, ketika Dewa akhirnya mau diterapi. Entah bisikan apa yang dihembuskan Tika, yang jelas pria itu nampak kesal saat menjalani kegiatan terapinya.
"Bagus, kita akan melanjutkan terapinya besok pagi lagi. Semoga Pak Dewa lekas sembuh," ucap dokter terapis Dewa.
Setelah mengantar Dewa kembali ke kamarnya, Tika dipanggil oleh Nyonya Bos.
"Kenapa lagi nih aku dipanggil? Apa aku buat salah?" gumam Tika sambil kakinya terus melangkah menuruni tangga. Rumah ini terlalu luas, jarak kamar dan yang satunya sangat jauh. Kalau sering-sering dipanggil terus, lama-lama betis Tika jadi berkonde.
Sudah kaki pendek, berkonde sekalian, ish. Gadis muda itu terus saja mengerutu, ia baru diam dan menundukkan kepala ketika berpapasan dengan Mbak Mar.
"Kenapa kamu di sini? Tempatmu bukan di sini!" cetus Mbak Mar dengan juteknya.
"Anu ... Nyonya memanggil Tika, Mbak."
Mbak Mar menatap Tika dari bawah sampai atas. "Apa ia akan dipecat?" batin Mbak Mar.
"Ya sudah, pergilah!" ucapnya datar. Kemudian pergi melewati Tika.
"Itu orang sarapan apa sih? Kok mukanya ditekuk terus. Sudah mirip cucian kusut!" batin Tika yang melihat kepergian kepala pelayan tersebut.
Sadar bahwa ia sedang ditunggu, Tika buru-buru melanjutkan langkahnya.
Tok, tok, tok
"Permisi, Nyonya ... ini Tika."
Tika berbicara di depan pintu, tidak berani masuk sebelum yang punya kamar mempersilahkan ia masuk.
KLEK
Begitu pintu terbuka, sosok wanita cantik keluar. Auranya sudah terpancar, pantas Dewa terlihat tampan. Mamanya saja cantik banget, awet muda dan itu loh, meski sudah tua tapi awet muda banget. Kulitnya kenceng, putih dan mulus, seperti kulitnya orang Korea, batin Tika.
"Ayo ke ruangan kerja saya!"
"Baik, Nyonya!"
Tika berjalan mengekor pada Nyonya besarnya itu. Melewati lorong luas dan panjang. Benar-benar bukan rumah, mata Tika terus saja memindai barang-barang mewah di rumah itu. Ah, luas sekali. Sudah mirip lapangan golf.
"Duduklah, Tika!"
"Baik, Nyonya."
Mama Dewa, si pemilik saham terbanyak di Diamondland tersebut juga mulai duduk di meja kerjanya.
"Saya senang dengan kamu, kamu sepertinya bisa menghadapi Dewa. Anak yang bahkan tidak bisa saya kendalikan."
Tika mengeryitkan dahi, tidak tahu arah pembicaraan mereka.
"Ini, bonus buat kamu."
Mata Tika langsung tertuju pada amplop di depannya. "Kira-kira isinya berapa?" pikir Tika dalam hati.
"Buat saya, Nyonya?"
"Hem. Jangan lupa, besok bujuk lagi Dewa untuk terapi."
"Baik, baik Nyonya."
"Kamu boleh pergi."
"Terima kasih, Nyonya."
__ADS_1
Tika tidak lupa mengambil bonusnya. Bibirnya mengembang ketika ia berbalik. Hatinya bersorak, "Yes!"
Saat di lorong sendirian, Tika clingak-clinguk. Matanya mengamati sekeliling. Ia tidak sabar, berapa besar bonus yang ia dapat kali ini.
"Wah ... rejeki emang nggak ke mana! Hihihi."
Tika tersenyum sumringah saat melihat uang senilai 10 juta.
"Lumayan, kalau begini terus aku bisa kaya betulan!" gumam Tika sambil senyum tak jelas, sudah mirip orang gila di pinggir jalan.
Ia tidak menyangka, betapa mudahnya dapat uang di rumah ini. Nggap apa-apa deh, harus ngurus bayi besar yang hobby marah-marah itu. Yang penting cuan jalan terus, lancar jaya.
***
Malam harinya, seperti biasa Tika memeriksa kondisi Dewa. Dilihatnya pria itu sudah tidur.
"Nah, kalau begini kan bagus. Tidur, nggak usah marah tak jelas dan nyusahin," gumam Tika.
Karen bayinya sudah lelap, Tika pun mau istirahat. "Sudah ya, Tuan. Tika mau tidur juga," ucapnya pelan.
"Eh, apa udara kamar terasa panas? Mengapa keringatan begitu?"
Tika bicara sendiri, kemudian berjalan mengambil tisu. Tangannya mengelap dahi Dewa yang dipenuhi bulir keringat sebesar biji jagung.
"Mimpi apa, Tuan ini?" Tika memperhatikan Dewa yang terlihat tak tenang dalam tidurnya. Dahinya mengkerut, sesekali kepalanya bergerak. Tika kok jadi takut sendiri.
"Tuan ... Tuan Dewa?"
Gadis itu tambah panik, karena ia merasa ada yang tidak beres. Dewa bahkan tidak mendengar suaranya. Pria itu bergeming tak merespon panggilan darinya.
"Jangan mati!" batin Tika sembari menempel kepalanya tepat di atas dada Dewa.
"Tika! Apa yang kamu lakukan!" sentak Dewa yang kaget karena Tika ada di atas tubuhnya.
"Tuan!"
"Apa yang kamu lakukan barusan? Dasar mesum!"
"Hah?"
"Jangan karena kaki aku lumpuh, kamu mulai berani macam-macam."
"Maksud, Tuan? Tadi saya bangunin Tuan. Tapi Tuan tak merespon. Saya takut Tuan kenapa-kenapa."
"Alasan! Aku ingatkan. Jangan sentuh-sentuh tubuh ini lagi!" Dewa terlihat gusar, ketika matanya terbuka malah mendapati kepala Tika ada di atas dadanya.
"Tuan salah paham, jangan GR!" Tika yang kesal dituduh mesum malah keceplosan. Ia ngomong dengan asal, tidak peduli siapa lawan bicaranya.
Makin meradanglah si Dewa.
"Pergi sana!"
"Baik, Tuan." Tika mengigit bibir bawahnya dan pergi. "Aduh!" sambil berjalan, ia memukul kepalanya sendiri. Padahal Dewa hanya tidur karena lelah, mengapa ia pikir pria itu mati? Ish.
***
Pagi harinya, matahari bersinar sangat cerah, secerah hati Sartika Sarasvati. Gadis itu tersenyum lebar menatap amplop miliknya. Dari semalam ia sibuk mengeluarkan lembaran uang dari amplop itu. Ia tebar di atas kasur empuknya, semalaman Tika tidur bertabur uang.
Tok tok tok
"Tika!" Panggil Mbak Mar di depan pintu. Seketika Tika membereskan kamarnya.
"Lama sekali!"
"Iya, Mbak Mar."
"Waktunya Tuan mandi, jangan lama-lama. Cepat ke sana."
__ADS_1
"Baik, Mbak."
Tika buru-buru berjalan setengah berlari. Ia sampai lupa mengunci kamarnya. Selepas Tika pergi, Mbak Mar masuk ke dalam kamar itu.
Entah apa yang dilakukan kepala pelayan tersebut. Jarang sekali Mbak Mar masuk ke kamar pelayan lainnya.
***
"Selamat pagi, Tuan. Waktunya mandi."
"Mana mau aku mandi saat ada wanita mesum di kamarku?" sindir Dewa.
"Sepertinya besar uang yang aku dapat, setara dengan harus makan hati!" batin Tika dengan hati yang gondok.
"Tuan salah paham."
"Keluar dari kamarku!"
"Ish ... Sebentar lagi waktunya terapi, ayo mandi Tuan!"
Tika yang muka tembok, langsung saja mendorong kursi roda itu menuju kamar mandi.
"TIKAAA, kamu benar-benar ...!"
Kesal, Dewa meraih apa saja untuk dipakai pegangan. Dengan kuat ia mencengkram salah satu sudut kursi yang ada di dekat sana.
Tika terus saja mendorong, mereka berdua bagai anak kecil. Tarik menarik tidak jelas. Karena saat ini fisik Tika yang lebih kuat, automatis Dewa kalah. Tapi ia tidak mau menyerah, tangannya masih berusaha meraih apa saja.
"Astaga Tuan, jangan seperti anak kecil!" cetus Tika yang sudah tidak tahan.
"Apa katamu?"
Marah dikatakan anak kecil.
"Bukan anak kecil, tapi bayi!" Tika mungkin sudah lupa siapa lawan bicaranya.
"Katakan sekali lagi!" Dewa mencengkram lengan Tika denga kuat.
"BAYI!" Tika kesal karena Dewa mencengkram lengannya dengan kuat.
Dewa langsung menarik lengan itu dengan kasar, beraninya Tika mengatakan dia seperti bayi. Kelewat emosi, ia menarik Tika hingga gadis itu oleng.
Reflect Tika mengulurkan tangannya, ia juga menarik tangan Dewa. Seketika dua orang itu malah sama-sama sama mendarat di atas lantai. Dengan posisi Tika di bawah dan Dewa di atas.
Wajah mereka terlalu dekat, Tika tak berkedip ketika hembusan napas yang hangat itu menerap wajahnya. Bersambung.
Baca juga novel Sept yang lain ya
Rahim Bayaran
Istri gelap presdir
Kesetiaan cinta
Menikah karena Dijebak
Jerat Cinta Tuan Muda
Dea I Love You
Suamiku Pria Tajir
Pernikahan Tak sempurna
Terima kasih
Lope lope yaa
__ADS_1