MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
98. JOHANA


__ADS_3

~JOHANA POV~


*****


    Aku menatap adikku Jansen yang baru saja mengatakan bahwa dia punya pacar dan berniat membatalkan perjodohan yang di atur mama untuknya. Ini seperti dejavu. Aku teringat tujuh tahun lalu ketika aku menolak wacana perjodohan dari mama karena aku punya pilihan sendiri yaitu Maruli.


Jika ingat itu, aku masih merasa sedih dengan alasan yang mama ucapkan. "Mama menolak, dia nggak sebanding dengan kamu, mau di kasih makan apa kamu nanti. Pokoknya mama tolak dan tetap  Ardy pilihan mama."


    Aku berharap Jansen berani juga kali ini. Aku mendukungnya untuk memilih pilihannya sendiri. Sudah terlalu sering dia mengalah atas keinginan orang tua, hidupnya tidak bebas karena semua yang ada padanya adalah pilihan orang tua ku.


    "Sampai kapanpun Mama nggak akan setuju!" ucap mama kala kami duduk berdua. Sejak Jansen mengatakan yang sebenarnya ke semua anggota keluarga di rumah ini, banyak upaya yang di lakukan mama untuk menarik Jansen kembali. Aku salut pada adikku itu, karena dia mengatur pertemuan dnegan keluarga Mira - calon yang di inginkan mama- dan menyatakan penolakannya disana.


    "Gadis itu pasti punya guna-guna, Jansen pasti udah pelet!"


Aku ingat, dulu saat aku bersikeras untuk tetap bersama kekasihku Maruli, mama juga bilang begitu. *"Kamu pasti udah di pelet sama si Ruli itu."  *Apa menurut mama saling jatuh cinta adalah karena di pelet?


    "Mira, gadis sesempurna Mira, di tolak Jansen. Oh Tuhan, anakku pasti udah di kelilingi awan hitam. Tolong Tuhan, jauhkan anakku dari pelet gadis bernama Ayu itu." Mama masih tetap saja mengomel walau tidak ku tanggapi.


    "Ihhh..." Mama berekspresi geram sambil menatapku. Aku tahu, pasti mama mau bilang, 'semua ini gara-gara kamu.' Jansen mengikuti jejakmu yang pernah melawan Mama! Nyesal Mama kasih restu ke kamu!'. Tapi tidak terucap karena tidak ada guna juga. Aku udah kebal dengan kata-kata macam ini. Kata-kata penolakan bahkan secara langsung dan sadar mama sering sekali menyatakan ketidak sukaannya pada suamiku walau sudah tinggal bersama selama tujuh tahunan.


    "Maaf yah, Ma!" ucapku dengan pelan dan senyum teduh penuh permohonan maaf.


*****


    Selama beberapa bulan Jansen menjadi musuh keluarga. Aku tidak tau harus bersikap apa. Jika aku terang-terangan mendukung, alhasil aku akan menjadi musuh keluarga juga bahkan mungkin suami, karena dengan tidak tau malunya, suamiku malah ikut mendukung mama. Ini iklas mendukung atau aksi menjadi penjilat kasih sayang, aku tidka tahu. Yang jelas, dengan dia tidak netral begitu, aku udah anggap dia penghianat.


    Walau sudah menjadi musuh keluarga, Jansen tetap berada di rumah. Kencan dengan pacarnya yang bernama Ayu itu juga tidak sering. Pacaran apa seperti itu hanya bertemu seminggu sekali atau bahkan dua minggu sekali. Tadinya orang-orang akan maklum jika berbeda pulau ini, hanya beda kota yang berjarak tempuh tidak lebih dari dua jam.


    Aku yakin adikku benar-benar jatuh cinta. Karena setiap hari wajahnya semakin bersinar. Apalagi kalau malam hari ketika dia duduk di balkon kamarnya atau duduk di gazebo dekat kolam renang di belakang rumah. Aku tau kenapa dia begitu karena sedang terhubung dengan pacarnya via phone.


    "Kamu lihat ada perubahan dari Jansen nggak, Mas?" tanyaku pada suami penghianat nasib di sampingku.


    "Lihat!"

__ADS_1


Aku menatap suamiku, menunggu kelanjutan jawabannya.


    "Dia benar-benar jatuh cinta, Ney!" lanjut suamiku yang menurutku masih terpotong-potong.


    "Aku salut sama dia karena dia berani lawan Mama. Tulisanmu dia, Ny, Hehehe." lanjutnya lagi seraya mengacak rambutku yang baru aja ku sisir.


    "Aku sampe sekarang masih kesal sama kamu karena kemarin kamu ikut-ikutan mama bilang nggak setuju. Kamu lupa nasib kamu sebelumnya. Sama, Mas!" Ini kesempatan untukku. Aku harus mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam kepalaku.


    "Aku bukannya nggak setuju, cuma kalo mama udah tanya dan langsung natap gitu, aku auto nggak bisa lawan, Ny. Kamu tahu kan, gimana mama selama ini sama aku. Dari pada makin di benci dan di katain semua ini karena aku, mending di depan mama, aku bilang iya aja. Iya nggak setuju."


Kasihan suamiku yah. Aku jadi mewek. Aku berjalan ke arah nya dan segera memeluknya. Menyalurkan cinta dan kasih sayang yang aku punya. Memberikan rasa nyaman baginya di dalam rumah yang terasa mencekik ini.


Aku bilang mencekik, bukan karena seram yah. Aku bilang begitu karena salah satu bos di rumah ini yaitu mamaku masih sering sinis pada suamiku.


    "Aku sayang kamu, aku cinta kamu, maaf yah, aku nggak bisa lawan mama biar kita pisah rumah dari mereka."


    "Sayang kamu juga, cinta kamu juga. Tidak apa-apa, aku tahu mama hanya gengsi aja bilang sayang sama aku. Sebenarnya mama udah terima aku, tapi mungkin gengsi." ucapnya sambil terkekeh.


    *****


    "Tidak apa-apa jika kakak tidak menerimanya, itu lebih baik dari pada berpura-pura!"


Aku ingin menampar Jansen saat dia meragukan ketulusanku pada Ayu. Hari itu dia pulang dengan wajah penuh keputus asaan dan akhirnya menyuruh mama untuk melanjutkan rencana perjodohannya.


    Mamaku yang tidak peka, langsung girang dan membuat beribu rencana. Mama tidak lihat betapa putus asanya Jansen saat dia mengatakan bahwa Ayu sudah merelakannya demi kebahagiaan keluargaku terutama Mama.


    Aku sungguh tidak tahan lagi melihat mama yang semakin egois dan Jansen yang semakin tertekan. Aku berniat menemui Ayu dan beberapa kali di tolak  dengan alasan sibuk di kantor.


    "Sibuk di kantor, sibuk apaan? kayak kamu sekretaris bosmu aja!" dumelku pada ponsel yang menampilkan pesan Ayu. karena tidak tahan lagi di tolak terus, akhirnya aku pergi ke kantornya dan menjumpainya. Aku memberikan beberapa nasihat dan tamparan berupa kata-kata untuk menyadarkannya dan menyemangatinya untuk tetap berjuang bersama Jansen.


    "Aku marah. Sangat marah sama kamu, karena kamu menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat tanpa mendengar apa yang kami bicarakan bahkan tanpa mengetahui kenapa kami bisa bersama," ucapku dengan menatapnya tajam. Ayu yang kutatap segera menunduk dengan wajah datar.


"Kamu beneran sanggup dan udah rela kalo Jansen menikahi perempuan lain? Mira masih buka kesempatan loh!" ucapku dan aku melihatnya menggeleng samar. Dasar bucin-bucin tidak waras.

__ADS_1


"Kalau nggak mau, kenapa kamu campakkan Jansen?" tanyaku kemudian aku mendengus karena aku ingat apa alasan Ayu.


"Ihh.. kesel aku. Pengan marahin kami sejadi-jadinya, tapi takut Jansen ngamuk!" omelku yang masih kesel setiap ingat apa yang jadi alasan dia mundur dari peperangan yang baru di mulai.


"Maaf ka, tapi Yuyu emang merasa bersalah sekali pas lihat kaka dan mamanya kakak segitu cerianya sama Mira. Yuyu pikir, Yuyu terlalu egois membawa Jansen dari kalian.


Apa Yuyu? Apa ini panggilan sayang Jansen? Gemes deh kalian.


"Itu karena kami udah kenalan lama. Dan kami udah dewasa. Hal begini bukan perkara besar untuk bermusuhan."


(.....)


"Temui Jansen, kayaknya dia udah mau mati karena kamu!" lanjutku dan dia mengangguk.


"Kalian itu yah, kayak abg labil tau. Dikit-dikit galau!


Ayu a.k.a Yuyu merona mendengar ejekanku.


*******


Sepertinya ada hal bagus yang terjadi. Lihat Jansen udah mulai berseri-seri. Apa Yuyunya udah mau balikan? Bagus deh. Saatnya aku menyadarkan mama.


"Ma, boleh Jo kasih pendapat?" tanyaku pelan ketika aku dan mama duduk di sofa ruang keluarga. Mama menatapku sekilas seolah bertanya pendapat apa sih.


"Jo minta maaf yah, Ma, karena menentang mama dulu. Maaf karena langkah Jo tidak bisa sesuai dengan mama. Karena Jo, Jansen jadi melawan mama," ucapku pelan seraya mengambil tangannya.


"Ma, Ayu itu gadis baik. Dari pertama bertemu dia kemarin, Jo bisa simpulkan dia gadis baik dan menyenangkan. Coba mama buka hati dikit. Gimana perasaan mama jika ini terjadi pada mama? Jansen bilang dia mau di lanjutkan perjodohan dengan Mira, tapi tidak dengan hatinya. Mama bisa lihat binar matanya. Tolong mama peka sedikit."


Sebisa mungkin aku menyampaikannya dengan pelan agar mamaku tidak tersinggung. Aku hanya ingin mama lebih peka terhadap perasaan kami anak-anaknya.


Terimakasih, karena mama sedikit melunak. Sudah mau menurunkan egonya. Semoga dengan di undangnya Ayu makan malam di rumah adalah pintu yang sudah terbuka untuk Jansen dan Ayu. Walaupun masih hanya celah, tapi ini sungguh luar biasa.


Helena Pradipta, untuk kedua kalinya di kalahkan oleh anak sendiri.

__ADS_1


__ADS_2