MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
117. PAGI YANG SURAM


__ADS_3

~AUTHOR POV~


******


Suasana pagi ini kembali ke waktu beberapa minggu lalu. Diam dalam keheningan. Hanya suara sendok dan piring yang sedang beradu, bahkan suara Vania juga tidak kedengaran. Bocah itu sepertinya tahu bahwa penghuni meja makan ada yang sedang perang batin.


"Jan, soal tadi malam, Mama..."


Nyonya Helena memecah keheningan. Dia menatap anaknya yang tetap melanjutkan sarapannya seperti tidak berminat mendengar perkataan Mamanya.


"Mama minta maaf karena udah buat kamu tersinggung, cuma kamu harus ngerti Mama. Mama akan berusaha, tapi tidak seinstan yang kamu mau. Mama...."


Benar-benar keras kepala. Walau sudah di peringatkan suaminya, tetap saja bebal.


"Nggak perlu minta maaf, Ma. Jan yang seharusnya minta maaf karena tidak turut sama Mama kali ini. Jangan terlalu memikirkannya lagi. Take your time!"


Jansen menjawab dengan tenang dan hanya memandang Mamanya pada saat kalimat terakhirnya di ucapkan.


"Mungkin sampai kapanpun Mama nggak akan pernah siap dan bisa. Udah ada bukti nyatanya. Maaf Ka, Mas, kalau aku menyinggung kalian disini." Jansen menatap kakak dn iparnya berganti.


Yang di tatap awalnya bingung lalu beberapa detik mereka baru bisa mengerti.


"Bukan setahun dua tahun lagi Mas Ruli dan ka Jo kasih mama waktu, tapi tujuh tahun sudah, tapi apa hasilnya? Tak perlu aku jawab. Mama sudah tau pasti. Karena itu, Jan tidak bisa meminta Ayu untuk seperti Mas Ruli yang punya hati seluas samudra."


Ucapan Jansen membuat mereka yang ada di meja itu tercengang.


"Apa Jan menyerah untuk kedua kalinya " terlontar pertanyaan dari Johana.


Di kira itu si lontarkan dalam hati, ternyata semua mata tertuju padanya kini dan sesekali melihat Jansen sambil menunggu jawaban Jansen.


"Tidak! Jan berencana akan menikah dalam minggu ini, mudah-mudahan orang tua Ayu mau." Ucapan itu semakin membuat mereka bertanya-tanya.


"Maaf Ma, Pa. Walaupun kalian tidak bisa menerima Ayu dan Mama bilang butuh waktu. Aku tidak ingin menunggu itu karena aku tahu, Mama pasti butuh waktu bertahun-tahun untuk itu. Dengan atau tanpa restu kalian, Jan akan menikahi Ayu. Jan bersedia di usir atau di coret dari kartu keluarga." Lepas mengatakan itu, Jansen meletakkan sendoknya dan meraih gelas minum di samping kirinya.


"Jan bersedia di miskinkan. Mungkin itu akan memudahkan langkah Jan. Maaf, Jan udah kesiangan, Jan berangkat."

__ADS_1


Belum ada tanggapan dari mereka yang ada di meja makan, Jansen sudah berdiri dan bersiap pergi. Apa yang dia ucapkan barusan, sudah di pikirkan. Semoga orang tua Ayu menerimanya.


"Maksud kamu apa, Bang? Apa gadis itu lebih penting dari keluargamu? Hanya karena gadis itu, kamu berani bicara seperti itu ke Mama dan Papa? Dimana perasaanmu?"


Josh berteriak menghentikan langkah Jansen yang baru beberapa langkah.


"Ya, dia lebih penting. Dia lebih memahami aku dari pada keluargaku sendiri. Perasaan ya. Sepertinya aku baru merasakan itu akhir-akhir ini. Selama ini, perasaanku mati karena aku hidup sesuai kemauan Mama dan Papa. Walau aku tidak suka, tapi aku harus. Sejak saat itu, perasaanku udah mati. Dan baru hidup kembali sekarang. Aku tidak seberuntung kamu Josh!"


Jansen mengatakannya dengan suara datar, tidak menggebu-gebu seperti Josh.


"Semoga kamu jatuh cinta pada gadis konglomerat atau setidaknya anak pengusaha, agar kamu tidak mengalami seperti yang ku alami sekarang."


Josh tidak punya kata-kata untuk membalas lagi.


Nyonya Helena yang mendengarnya menjadi sedih. Semua ini karena kriteria yang dia mau.


"Jan, duduk dulu. Kamu salah paham, Mama bilang Mama butuh waktu bukan berarti Mama tidak setuju, Apa susahnya memberi Mama waktu, lagian, apa Ayu sudah bersedia?"


"Jan tidak akan minta Mama Papa kesana jika dia dan keluarganya tidak bersedia. Tapi jawaban Mama apa? Ayu mau karena uangku? Hahahaha, Mama mengira seolah-olah keluarganya tidak mampu saja. Kasih Mama waktu? Coba mama jawab, sampai hari ini, kurang lama waktu yang di berikan ka Jo sama Mas Ruli? Apa Mama sudah bersedia menerima Mas Ruli?"


Tuan Awan, tidak tahan lagi melihat istrinya di pojokkan oleh anaknya itu. Anak yang selama ini sangat santun dan tidak pernah belot, kini berani memojokkan Mamanya.


"Apa tidak bisa bicara baik-baik? Jika kamu mau kita melamar Ayu, ya ayo, kenapa harus adu urat dulu? Ayo duduk! Kita rencanakan kapan kita akan kesana!"


Biarlah segera di laksanakan, agar perkara ini selesai. Akhir-akhir ini, ini aja yang menjadi topik di rumah ini. Istrinya yang keras kepala sekarang sudah di balas dengan keras kepala juga oleh anaknya.


"Tanya Mama dulu, sudah iklas atau terpaksa. Ayu tidak seiklas dan sesabar Mas Ruli. Jangan di paksakan aku tidak mau Ayu ataupun Mama perang batin nantinya. Sudahlah, lupakan saja. Jan berangkat!"


Tanpa berbalik lagi, Jansen mantap melangkah. Setelah tiba di luar, dia tersenyum. Ternyata menjadi pembangkang bisa juga menjadi solusi. Dengan cara dia barusan, Papa dan Mama nya akan merencanakan lamaran untuk Ayu.


Tidak apa jika belum menerima sepenuhnya. Nanti dia bisa akting membangkang lagi agar bisa beda rumah. Jika sudah beda rumah, semua bisa lebih aman. Pelan-pelan dia akan meminta Mamanya berubah.


"Maafin Jansen, Ma. Bukan maksud Jansen bikin mama sakit hati. Tapi aku harus melakukan itu," ucapnya seraya memasang seat beltnya.


"Hah, jadi anak nakal ternyata sulit capek sekali. Sesak karena rasa bersalah."

__ADS_1


Sekali lagi pria itu menatap rumahnya, di dalam sana ada orang-orang yang dia cintai dan sayangi sedang bersedih dan kecewa karena ulahnya barusan.


"Sayang, semoga apa yang kulakukan membuahkan hasil bagus, biar dosa-dosaku ada upahnya, hehehehe." Dia terkekeh setelah berucap. "Upah dosa mana ada yang enak," lanjutnya dan bersiap pergi.


Diperjalanan dia mengirim voice note pada pujaan hatinya. Sengaja tidak menelpon karena tau, kekasihnya pasti sedang dalam perjalanan dengan motornya.


"Morning, Yang. Selamat bekerja. Love you! Heheheh"


Dia merasa sangat senang pagi ini setelah semalaman murung. Dia tidak tau huru hara apa yang terjadi di rumahnya selepas di berangkat kerja.


*****


Sementara itu di rumah, nyonya Helena masih menangis pilu.


Air matanya tak berhenti mengalir walau sudah di tenangkan oleh suaminya. Mereka semua menunda keberangkatan ke tempat kerja karena huru hara yang di tinggalkan oleh orang paling kalem di rumah itu. Masing-masing mereka tidak menyangka bahwa saudara mereka bisa sekasar itu.


"Pa, coret beneran aja deh dia dari kartu keluarga, itu kan yang dia minta tadi. Virus kampungan gadis itu kayaknya udah menularinya, makanya dia jadi tak beretika." Jansen si bungsu yang masih sangat kesal bersuara.


"Dimiskinkan, banyak gaya! paling juga tahan seminggu sampe sebulan aja. Mana sanggup dia itu," lanjutnya.


Josh mengangkat tangan dan melihat jam di pergelangan tangannya, "Ck, udahlah, udah telat juga," ucapnya entah pada siapa. Lalu detik berikutnya dia menempelkan ponsel di telinganya.


"Halo Ray, tolong gantiin gue sampe jam dua belas dong! Ada hal urgent di rumah gue nih, Gue sama nyokap nggak bisa masuk pagi ini. Please ya!"


"....."


"Amanlah itu! Ok! Fix ya! Lo gantiin gue!"


"....."


"Oke, santai aja. Aman itu. Atur aja! Thanks bro!"


Panggilan di tutup.


"Sebaiknya mama istirahat hari ini. Josh nanti siangan berangkat. Josh mau tidur bentar!" ucapnya seraya bersiap pergi dari ruang keluarga itu. Mamanya masih sesenggukan dan sedang di tenangkan oleh Papanya.

__ADS_1


"Ma, udah mama tenang aja. Kalo dia membangkang lagi karena gadis itu, coret langsung di depan matanya. Kita lihat seberapa hebat dia bisa bertahan hidup tanpa harta."


__ADS_2