
Jerat Cinta Tuan Muda 28
Rate 18
Oleh Sept
"Ma ... Mama!"
Dewa nampak gusar, ia menjalankan kursi rodanya dengan emosi yang menyelimuti hati. Pria marah lantaran sang Mama memecat Tika tanpa bicara terlebih dulu kepadanya.
"Maa!"
Bruakkk
Dewa membuka pintu kamar sang mama dengan kasar. Menimbulkan keributan dan membuat semua penghuni rumah menjadi tegang. Tapi tidak dengan Nyonya besar, wanita yang terlahir kaya raya tersebut, bergeming, diam seribu bahasa. Nampak tenang dan tetap elegant seperti biasanya.
"Tenanglah, tensimu bisa naik," ucap Mama dengan nada biasa.
"Kenapa Mama pecat Tika?"
Dewa langsung to the point, bertanya langsung ke akar masalahnya.
"Ah ... itu, Mama rasa kontrak dia sudah habis. Dan Mama sudah merekrut orang baru."
"Ma!"
"Astaga! Pelankan suaramu!"
"Katakan alasan mengapa Mama pecat Tika!"
"Mama sudah jawab!"
"Jangan pikir Dewa tidak tahu, sebelum Dewa cari tahu sendiri, akan lebih baik Mama yang mengatakannya!" ancam pria yang duduk di kursi roda tersebut.
"Ya ampun, rupanya dia sudah terlalu banyak meracunimu. Mama pikir keputusan tepat memecat gadis tidak tahu diri tersebut!"
"Ma!"
"Sadar kamu Dewa! Ingat tempatmu di mana! Hanya karena kamu lumpuh, bukan berarti kamu asal menyukai orang!" sentak Mama yang tidak terima Dewa menyukai pembantunya.
Dewa tertegun, apa benar ia menyukai Tika? Asistennya itu? Ia sendiri tidak menyadarinya.
"Apa yang Mama katakan?"
"Jangan pikir Mama tidak tahu."
__ADS_1
Dewa diam sesaat, kemudian pria itu memutar kursi rodanya.
"Kau mau ke mana?" cegah Mama yang khawatir bila Dewa mencari Tika.
"Bukan urusan Mama!" Dewa dengan cepat melajukan kursi rodanya.
"Kris! Krisna!" teriak Nyonya besar.
"Iya Nyonya."
Pria yang mematai-matai Tika dan Dewa langsung muncul saat namanya disebut. Dah mirip jailangkung
"Cegah Dewa keluar dari rumah ini. Aktifkan semua keamanan. Tidak ada yang boleh keluar!" titah Mama dewa.
"Baik, Nyonya."
"Satu lagi! Kurung Dewa dalam kamarnya!"
Bodyguard Kris langsung tertegun sesaat, apa ia tidak salah dengar?
"Kris! Lakukan sekarang."
"Baik, Nyonya."
***
Ponsel, ia ingat masih ada ponsel. Bodohnya ia dari tadi tidak menghubungi Tika. Dengan buru-buru ia menekan tombol di layar sentuhannya itu.
Tut Tut Tut
Lama sekali ia menunggu panggilan vidionya dijawab.
"Ke mana kamu Tika?" gumam Dewa yang cemas karena hilangnya Tika.
"Tuan ...,"
"Kamu di mana? Di mana itu? Mengapa gelap sekali?" Dewa langsung memberondong banyak pertanyaan begitu dilihatnya Tika di dalam layar smartphone miliknya.
"Tika di kontrakan Maesa, Tika nginep di sini. Besok Tika mau pulang kampung."
Tika menjauhkan ponselnya sejenak, sengaja ia membuang muka. Agar Dewa tidak melihatnya menangis. Lampu juga begitu, ia memang menantikan lampu di dalam ruangan itu. Takut bila Dewa tahu, betapa merah dan sembabnya mata gadis itu.
"Cepat ke sini! Jemput aku!" perintah Dewa.
"Maaf, Tuan. Tika sekarang sudah bukan asisten Tuan. Semoga Tuan sehat selalu."
__ADS_1
"Tika!!! Tik! Cari tempat terang! Aku mau bicara!"
"Mati lampu, Tuan." Tika mencoba berkelit, sesekali ia mencuri waktu untuk mengusap ingusnya.
"Jangan bohong! Cepat keluar dari ruangan itu!"
"Maaf, Tuan. Besok Tika berangkat pagi-pagi, sudah ya Tuan. Tika mau tidur. Jaga kesehatan Tuan. Tika selalu mendoakan kemsembuhan Tuan."
Tut Tut Tut
"Tika!! Tikaaaaaa!!!
Itu adalah saat terakhir Dewa bicara pada gadis pengasuh tersebut. Tika yang selalu ia marahi kini sudah pergi. Tika benar-benar lenyap dalam hidupnya. Tanpa kabar, tanpa berita. Bahkan rumah di kampung pun sudah dijual. Tika hilang tanpa jejak.
***
Lima tahun kemudian.
Hongkong, di tengah jalanan yang amat ramai terlihat seorang wanita cantik berjalan dengan wajah cerah. Ia menenteng paper bag berisi dua buah roti besar.
Dia adalah Sartika Sarasvati, hatinya sedang berbunga-bunga. Lima tahun yang lalu ia menginjakkan kaki di negara ini, besok kontrak kerja Tika sudah habis. Tika akan kembali ke tanah air. Tentunya tidak dengan tangan kosong.
Wanita itu kini memiliki rekening yang jumlahnya tidak main-main. Lima tahun setelah keluarga konglomerat itu memecatnya, Tika memutuskan ke luar negeri. Nyonya Besar sudah menyiapkan berkas-berkasnya. Bila tidak, ia akan dimintai denda yang luar biasa. Meski ia yang dipecat, karena alasannya adalah Tika lancang membuat Tuan mudanya ketergantungan pada dirinya. Sungguh alasan yang dibuat-buat oleh Mama Dewa.
Karena hanya rakyat jelata, Tika tak berkutik. Saat Nyonya besarnya itu menyodokan dokumen. Meminta Tika meninggalkan negara ini untuk waktu yang lumayan lama.
Mau menolak, tapi ia tidak kuasa. Ganti rugi 10 kali lipat tidak mungkin ia dapatkan. Akhirnya Tika menerima keputusan Nyonya besar tersebut. Tika bekerja di Hongkong selama lima tahun, dan kini kontrak kerja sudah habis.
Ia boleh pulang, meski tidak tahu pulang untuk siapa? Ia sudah benar-benar sebatang kara. Tika pulang membawa banyak uang, tapi semua hampa. Saat tidak ada siapapun yang ingin ia bagi kebahagiaan dengannya.
***
Bandara International SOETA
Tika menarik tas koper dengan wajah menunduk, ia sedang memesan taksi online. Ia juga sedang berusaha menghubungi sahabat baiknya, Maesaroh. Ke mana si Mei Mei ini, di what's app sejak tadi masih centang dua belum dibaca juga.
Asik berjalan sambail menundukkan wajah, ia sampai menabrak sosok pria berbadan tegap di depannya.
Bukkk
Pyarrr
Ponselnya pecah, LCD-nya langsung dedel duwel, pecah parah.
"Ih!" Tika langsung memunguti serpihan ponselnya, tersisa satu tepat di bawah kaki si pria.
__ADS_1
Ketika ia berjongkok, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh rambutnya. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba juga dadanya terasa sesak. Tika menangis tanpa menatap siapa yang mengusap kepalanya. Bersambung.