MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
114. LAMAR AYU


__ADS_3

~AUTHOR POV~


Pls like dan komen yah sodara.


******


-Tiga bulan lalu-


Usai mengantar kekasih hati ke tempat kerjanya, Jansen langsung pulang kerumah. Walau sudah berpakaian rapi dan bisa saja langsung ke kantor. Tapi, dia memilih pulang kerumah, berharap orang tuanya masih di rumah walaupun itu sangat mustahil.


Dia ingin sekali mengatakan bahwa dia sudah siap untuk melamar kekasih hatinya. Keluarga Ayu juga sudah setuju, asal, papa dan mamanya benar-benar sudah menerima Ayu dengan tangan terbuka dan ikhlas.


"Ma, Pa!" teriaknya begitu masuk ke dalam rumah.


"Ma, Pa!" ulangnya seraya berjalan ke ruang makan. Nihil!


Mendengar tuan mudanya berteriak, bibi yang sedang bebersih di dapur kotor segera membersihkan tangan dan melap tangannya pada celemek yang melekat di badannya.


Dengan tergopoh-gopoh dia berjalan ke arah suara berasal.


"Mas Jan," sapanya dengan linglung. Tak biasanya tuan mudanya masih ada di rumah di jam seperti ini. Seharusnya udah dalam perjalanan atau sudah ada di kantor.


"Tuan sama Nyonya udah berangkat, Mas. Belum lama!" beritahunya.


"Mas, mau Bibi buatkan sarapan?" tanyanya setelah mengingat bahwa tidak menjumpai tuan mudanya pagi ini di meja makan.


"Jan udah sarapan, Bi. Terimakasih! Ya udah, kalau mama sama papa udah berangkat, Jan juga berangkat ya, Bi!" Sang bibi mengangguk seraya mengikuti tuannya dengan arah pandangannya.


Saat si bibi sudah kembali ke dapur kotor, Tini, seorang asisten rumah tangga yang lebih muda datang dari ruang laundry.


"Siapa tadi, Bi?"


"Mas Jan,"


"Tumben jam segini masih di rumah. Kesiangan?"


"Ntah, tapi tadi bibi nggak lihat waktu sarapan."


"Iya, Tini juga nggak lihat, apa semalam nggak pulang? Kan, dari siang pergi sama Mbak Ayu."


"Iya, mungkin!"


Keduanya melanjutkan pekerjaan sambil ngobrol.

__ADS_1


"Bi, menurut Bibi, cocok Ayu atau Mira buat mas Jan?" Tini sambil membilas piring bertanya.


"Non Mira cantik dan kelihatan dewasa, cocok sama mas Jan. Tapi entah kenapa, Bibi nggak terlalu suka. Lebih suka sama non Ayu.


Non Ayu itu kelihatan lebih ramah dan tulus. Itu kalau menurut Bibi ya."


"Tini juga sama, Bi. Mbak Ayu itu kayak namanya. Ayu parasnya juga hatinya. Ramah! Masih ingatkan, waktu dia bangun pagi-pagi dan nawarin bantuan. Kelihatan udah terbiasa bangun pagi dan kerja beresin rumah. Waktu Mbak Mira nginap, mana pernah seperti itu. Keluar kamar udah rapi, udah bedakan. Tinggal jalan ke meja makan."


"Tapi, mungkin itu karena di rumahnya banyak yang urusin kerjaan. Kan anak orang kaya. Bibi pernah dengar Nyonya ngomong ke Bapak, Non Ayu itu berbanding terbalik dengan Non Mira. Orang tuanya cuma punya toko kelontong di pasar," Bibi bicara nyaris berbisik.


"Toko kelontong di pasar udah lumayan, Bi."


"Iya, lumayan bagi kita, tapi nggak buat orang yang punya pabrik atau perusahaan."


"Iya, Bibi benar. Kapan ya Bi, kita punya toko. Jangankan toko, kedai kecil aja mungkin mustahil bagi kita," ucap Tini sendu.


"Kerja yang benar, nabung, jangan foya-foya belanja online. Biar nanti udah nikah, bisa buka usaha."


"Amin."


Dua orang beda generasi itu bekerja sambil mengobrol. Selama mereka bekerja di rumah ini, mereka selalu kompak tidak ada selisih paham ataupun rasa iri hati. Tini bisa bekerja di rumah ini karena Bibi. Jadi, di menganggap Bibi sebagai Bibinya.


*****


"Bapak rasa udah, kalau belum, nggak mungkin Ayu di ajak ke rumahnya dan tadi malam Jansen malah lamar Ayu ke kita. Kalau belum ada restu dari orang tuanya, nggak mungkin dia berani ajukan lamaran ke bapak," ucap pak Berton dengan bangganya.


Sejauh ini, selama dua tahun mengenal Jansen, menurut pak Berton, tidak ada hal janggal pada Jansen. Dan Jansen selalu terlihat serius dengan putri mereka.


"Ibu kepikiran Pak, gimana nanti kalau mereka menikah, ternyata mertuanya nggak cocok sama Ayu. Nggak akur."


"Ibu mikirnya kejauhan."


Pasangan paruh baya itu duduk di kursi dekat meja kasir. Mereka baru saja selesai membungkus pesanan salah seorang pelanggan mereka.


"Anak bontot kita ternyata udah besar ya, Pak. Udah siap menikah. Perasaan baru beberapa tahun lalu gendong dia di punggung sambil melayani pembeli. Sekarang, badannya malah lebih besar dari Ibu," ucapnya sendu tapi ada senyum di bibirnya.


Pak Berton mengulurkan tangan dan menepuk tangan Bu Rohaya yang ada di atas meja.


Bukan hanya istrinya, dia juga merasa seperti itu. Perasaaan baru beberapa tahun dia bolak balik sekolah mengantar Ayu. Masih memakai seragam merah putih.


"Waktu berlalu sangat cepat ya, Pak. Ibu harap Jansen jodoh yang tepat untuknya dari Tuhan."


Mereka berdua mengaminkan harapan itu.

__ADS_1


Sungguh, tak ada orang tua yang berharap anaknya tidak langgeng, kan?


Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Tentu saja pada anak-anak yang sudah dan akan menikah, mereka akan pergi dari rumah. Pun dengan putri mereka, setelah menikah, sudah pasti akan keluar dari rumah. Akan mengikuti suami. Pertemuan pasti akan sangat minim.


"Ibu pasti akan rindu, pengen Yuyu tiduran di kaki Ibu. Walau kadang-kadang dia kayak cacing kepanasan nggak bisa diam, tapi ibu senang setiap kali dia merengek dan langsung menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ibu."


Bu Rohaya mengeluarkan kata-kata yang selama ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi. Karena jelas-jelas, ketika Ayu merengek minta baringan di paha ibunya, Ibunya akan merepet dulu baru acc, atau kadang-kadang mendorong-dorong kepala anaknya agar segera menyingkir dari pangkuan.


Ternyata, semua itu hanya kebalikan.


******


Sore hari, begitu jam kantor selesai, Jansen segera bersiap pulang. Dia merapikan berkas-berkas di meja dan memasukkannya ke dalam laci mejanya lalu menguncinya.


Dia berjalan sambil mengangguk menyapa beberapa karyawan yang menyapanya.


Saat hendak keluar, dia berpapasan dengan Andrian. Sampai hari ini, dia masih sedikit sentimen pada pria itu karena mengingat pacarnya yang dulu sangat tergila-gila pada Andrian.


Andrian menganggukkan kepala untuk menyapa dan di balas oleh Jansen.


Setelah melihat beberapa saat dan lebih teliti, Andrian sepertinya lebih kurus dari yang biasanya.


Jansen memacu mobilnya lebih kencang, sudah tidak sabar ingin mengutarakan hal yang sangat dia inginkan pada orang tuanya.


Beberapa kali dia menekan klakson untuk meminta jalan pada kendaraan di depannya.


Sungguh, bukan Jansen yang tetap kalem walaupun macet seperti biasa, sekarang dia berubah menjadi Jansen yang emosian dan dan mudah kesel.


"Apa kau tidak bisa menyetir, hah?" teriaknya dari dalam mobil saat ada satu mobil melewatinya dan bergerak cepat di depannya.


"Huh, kemana perginya para pejabat itu, dulu saja koar-koar janji akan mengurangi kemacetan. Mengurangi apanya. Malah makin macet," dumelnya pelan dengan wajah yang sangat tidak enak di lihat.


Selama ini, dia bahkan tidak peduli tentang apapun di bagian pemerintahan, tapi karena dia sedang kesal, janji-janji yang di ucapkan calon pejabat saat menggaet suara kini di protesnya.


Tak berselang lama, akhirnya dia tiba di rumah. Dia tersenyum setelah melihat mobil papanya juga mamanya sudah terparkir di depan rumah.


"Ma, Pa!" panggilnya begitu masuk ke rumah.


Suaranya menggelegar, sungguh mengganggu pendengaran.


"Apa sih teriak-teriak, ini bukan di hutan," dumel mamanya sambil berjalan ke arah dapur.


"Ayo lamar Ayu, Jansen udah minta izin sama orang tuanya."

__ADS_1


__ADS_2