
Siapapun pasti akan sangat senang dan sangat berharap jika di kasih cuti panjang saat menikah.
Tapi, itu hanya keinginan kita yang masih budak korporasi. Bahkan pemilik korporasi juga banyak yang mengalami hal seperti kita.
"Huf, besok udah harus kerja, curi empat hari kayaknya sekejab mata aja!" Ayu bersungut-sungut masih di depan lemari melanjutkan packing baju yang tertunda tadi malam.
"Mau panjangin? Biar aku telepon bos kamu. Aman itu!" ujar Jansen yang duduk santai dengan tablet di tangan.
"Gak lah. Buat apa. Kamu juga kan udah masuk besok. Ngapain aku sendirian di rumah!" balas Ayu dengan tangan yang masih sibuk pilih-pilih mana baju yang di bawa. Tentunya yang di pilih adalah baju-baju yang bagus. Ayu sungguh sangat tidak ingin mendengar protesan mertuanya nanti.
"Aku nggak mau makin di cap istimewa gara-gara kamu temenan sama bos aku. Ini aja aku udah gak enak bangat sama yang lain gara-gara udah ketahuan kamu temen deket bos ku," lanjut Ayu.
Pastinya teman-teman Ayu udah tahu lah kenapa Ayu bisa masuk di kantor itu, sejak Jansen memamerkan diri waktu itu, udah ada beberapa orang yang sadar. Ditambah di pesta kemarin ada yang menyinggung kedekatan Jansen dengan bos nya.
"Peduli amat kamu sama pemikiran orang. Selagi kita punya jalan yang mempermudah, kenapa tidak kita manfaatkan?" balas Jansen.
Emang kenapa kalau kita punya akses yang lebih mudah dari orang lain? Itukan keuntungan kita. Kalau punya keuntungan tapi tidak di manfaatkan, kan kita rugi sendiri.
"Kamu terlalu memikirkannya, Yang. Jangan semua di masukkan hati. Kita sendiri yang makan hati!" ucapan datar Jansen benar adanya.
Bagi Ayu, yang punya rasa empati seluas samudra, apapun yang terjadi padanya dan dan merupakan suatu hal yang tidak terjadi pada temannya, maka itu akan menjadi sebuah beban untuknya.
Sungguh tidak menyenangkan bila kita menjadi buah bibir di sekitar kita, kan?
...*********...
Wajah masam mertuanya benar-benar membuat Ayu menciut.
Mata memicing dan sesekali berdecak kesal semakin menciutkan nyalinya.
Hubungan keduanya yang sudah membaik sebelum pernikahan rasanya sia-sia.
"Kalian lupa janji kalian apa sama Mama?" tanyanya saat keluarga itu berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
Koper dan barang-barang lainnya bawaan Ayu masih teronggok di sisi sofa tempat mereka berkumpul.
"Ck, janji apalagi, sih! Emangnya bisa langsung hamil masih dua hari pernikahan? Mama ngawur!" jawab Jansen acuh pada raut mamanya.
"Ya usaha dong!" balas mamanya tak terima jawaban Jansen.
"Usaha sih usaha, Ma. Tapi lihat juga waktunya. Mama kayak nggak dokter, deh. Udah ya, aku capek, Yuyu juga. Kami istirahat. Besok udah mulai kerja!" Jansen berdiri seraya mengangsurkan tangan pada Ayu.
"Ayo! Besok kamu nggak mau kesiangan di hari pertama kerja setelah istri, kan?" Ada nada jahil dalam kalimat yang dilontarkan Jansen.
"Nah, kan? Besok udah langsung masuk kerja? Cuti kamu berapa hari sih Yu?"
Darah yang masih mendidih makin mendidih.
"Empat hari, Ma."
"Dikit bangat!"
"Janjan?" Alis nyonya Helena menyatu.
Yang lain juga semua tersenyum simpul pada panggilan Ayu.
Yuyu dan Janjan.
Astaga, dua orang bucin ini. Panggilan apa itu?
"Eh, Maksud Yuyu mas Jansen, Ma."
Makin lebarlah senyum yang muncul di wajah Jansen.
Udh di panggil nama kesayangan, sekarang sebutan mas yang baru terlontar itu melambungkan hatinya.
"Nama kalian bagus-bagus, malah di plesetin jadi jelek."
__ADS_1
"Ck, nama panggilan kesayangan itu, Ma," balas Johana yang masih menampilkan raut senyum. Tak nyangka aja dia, adiknya Jansen yang kaku itu, bisa-bisanya jatuh cinta sama orang semanis Ayu. Janjan? lucu sekali.
"Mama kayak nggak pernah pacaran aja," lanjut Johana.
Lalu dia menatap kedua adiknya. Jansen dan Ayu.
"Yuyu and Janjan, sana! Kalian istirahat. Nanti aku panggil kalau sudah waktunya makan malam," ucapnya pada pengantin baru itu.
...*******...
"Huf.. Mama bener-bener bikin aku nggak berkutik, Beb!" kata Ayu pelan saat mereka baru aja tiba di lantai dua dan sedang berjalan ke arah kamar Jansen.
"Sabar, ya! Lama-lama kamu pasti terbiasa dengan sikap mama."
Jansen mengusap kepala istrinya seraya tersenyum. Bagi mereka, anak-anak Helena. Meraka sudah terbiasa dengan ocehan ibunya untuk mengkritik apapun yang mereka lakukan.
Ayu mengangguk merespon Jansen dan berdiri dengan sedikit deg-degan di salah satu pintu besar.
"Kamar Jansen pasti luas bangat," batinnya seraya menatap pintu itu.
"Selamat datang!" ucap Jansen saat mereka membuka pintu dan menampakkan pemandangan indah yang maskulin.
Tidak banyak hiasan di dalam kamar itu tetapi terlihat sangat elegan
Ada figura besar berisikan poto keluarga dan di sampingnya ada beberapa bingkai kecil berisi Jansen dan keluarganya juga.
Tidak Jauh dari kumpulan bingkai itu, ada bingkai yang lebih besar. Isinya adalah, poto prewed Jansen dan Ayu. Sama seperti kumpulan poto tadi, yang ini juga ada beberapa bingkai kecil yang isinya poto mereka berdua.
"Kamar kami luas bangat, Beb!" puji Ayu dengan wajah kagum.
"Kamar kita!" jawab Jansen seraya mendekat ke arah Ayu. Memeluk istrinya dari belakang.
"Dulu, ini kamar aku, sekarang kamar kita. Apapun yang ada di dalam ini, sekarang milik kita bersama. Jadi, kalau kamu mau mendekor ulang juga tidak apa-apa. Kami bebas memilih desainnya seperti apa!"
__ADS_1