MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
99. KISAH CINTA YANG AWET


__ADS_3

~POV AYU~


*****


        Ini terasa aneh. Benar-benar aneh menurutku.


Coba cubit pipiku shay, kalo sakit, beneran aku ada di dunia nyata bukan di dunia halu.


Ups... maaf, tangan anda tak sampai yah, biar aku cubit sendiri aja. Ouch... ternyata sakit sodara, berarti aku tidak sedang berhalu ria.


        Wajar nggak kalau aku memiliki rasa curiga terhadap keluarga ini?


Masih ingatkan, gimana kekeuhnya mereka menolak kehadiran diriku di sisi anaknya yang berharga itu.


Kalimat-kalimat penolakan jelas-jelas di ucapkan di depan muka ku sendiri. Tambah lagi si ganteng Josh yang menyangka aku memacari abangnya karena uangnya. - dan itu tidak salah - ups...


Tapi, malam ini, sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini, astaga, aku waspada! Apa jangan-jangan ada sianida di minumanku nanti? Oh Tuhan, kenapa otakku langsung gercep untuk hal-hal yang negative?


        Perlakuan mereka padaku itu kayak nggak pernah ada penolakan shay. Kata-kata yang keluar dari mulut tante Helena -mamanya si Jansen- emang masih ada pedas-pedasnya, tapi itu cuma pedas di nadanya aja, di maknanya mengandung gula shay, ada manis-manisnya.


Wawancaranya tidak se-ekstrim yang ada di otakku. Ternyata aku buang-buang energi karena begitu gelisah saat di perjalanan tadi, bahkan punya wacana untuk balik kanan alias mundur lagi. Aku benar-benar labil. Masih pantas di sebut ababil -abg labil-.


        "Jadi abangmu yang di luar pulau udah pernah ketemu Jansen?"


        "Belum, Tante!"


        "Kok bisa? Bukannya Jansen sering ke rumah kamu? Dan kalian kan udah lama pacaran, masa belum pernah."


Tante Helen ini dokter apa sih? Mudah-mudahan bukan dokter anak yah. Soalnya anak-anak pasti kabur setiap mau berobat karena juteknya.


        "Abang pulang kalau ada libur panjang aja, Tante. Kalau hanya dua atau tiga hari, tidak pulang Tan kecuali urgent."


        "Abang kamu kerja apa?"


Bukannya udah di selidiki sampe ke perut-perutnya yah waktu itu? Kok di tanya lagi.


        "PNS Tante,"


Nggak usah bilang di departemen aja yah, apalagi golongannya. Cukup kami aja yang tahu. Yang penting  ibuku so pasti sangat bangga kalau bercerita sama tetangga soal anaknya yang PNS.


Dan para tetangga pun pasti mengucapkan kekagumannya bahkan keirian hatinya karena anaknya tidak bisa PNS.


"Beruntung sekali ya Jeng, punya anak PNS. Cobalah kalau di Rani kami juga pintar seperti anak lanangmu, udah PNS dia itu."


"Kapanlah anakku kayak anakmu yah, Jeng?"


"Jauh kali anakmu ke luar pulau Jeng, emang disini nggak ada lowongan?"


"Berapa duit kalian keluar kemarin?"


Dan banyak lagi. Tapi ibuku mana peduli kalo misal ada yang julidin, di bilang main uang biar lulus.


"Bukan mulut ibu yang cape, mereka bilang apa ya terserah. Yang tau benar atau tidaknya kan kita."


        "Kamu nggak coba lamar PNS juga?" tanya tante Helena.


        "Udah sekali kemarin Tan pas ada buka, cuma nggak lulus," jawabku dengan pelan.


Berharap mereka mengerti bahwa ujian masuk PNS itu tidak segampang ujian nasional yang wajib lulus. Ribuan pendaftar hanya dua atau bahkan satu yang akan di terima.


        "Nggak usah coba lagi nanti, kamu kerja sama Jansen aja. Kan kemarin magang disana, otomatis kamu udah ngerti seluk beluk pekerjaan di kantornya!" titah yang Mulia Ratu Helena.


Aku mau jawab apa coba? Pengen jawab iya, sebenarnya aku nggak mau dan nggak setuju.


Mau jawab nggak mau, takut  di pulangkan segera karena melawan titah.


Haduh, serba salah.


        "Biarin dia kerja dimana dia suka aja, Ma. Kalau nggak mau di kantor Jan, jangan di paksa." Terimakasih dewa, ternyata aa tim pembela yaitu Om Hartawan.


Lagian si Jansen dimana sih, kok lama banget. Katanya cuma ke kamar bentar, masa setengah jam nggak balik-balik. Ini aku kalau di siksa rame-rame disini siapa yang tolongin?


        "Ya, nggak boleh dong, Pa! Kejauhan itu. Masa perjalanan satu jam ke tempat kerjanya dia. Terus kalau macet gimana? Mau berangkat jam berapa dia dari rumah?"


Ini mereka bahas gitu, kayak aku udah mau tinggal di rumah mereka aja. Perjalanan satu jam kan, masih biasa, Andrian aja hampir dua jam kalau naik mobil. Pulang pergi dia tuh.

__ADS_1


Aku dari rumah juga hampir satu jam, karena aku memang tim bebek kalo bawa motor, -Pelan-pelan yang penting sampe dengan selamat-.


        "It---"


        "Stop Ma, Pa, kalian debatin apa sih? Tuh si Ayu jadi bingung. Papa benar, biar dia kerja dimana Ayu suka. Lagian mama lebay, perjalanan satu jam jauh.  Mama ke rumah sakit juga hampir satu jam. Satu jam itu nggak jauh ma, udah biasa untuk para pekerja." Ka johana tim bijak angkat bicara memotong ucapan papanya.


        Tante Helen cemberut setelah mendengar ucapan anak perempuannya. Kemudian menghela napas berat.


Kayak mak gue saat lagi minim pendapatan dan perlu uang banyak.


        "Ini kali pertama Ayu kesini, kalian udah kasih bahasan berat. Ntar dia trauma kesini, loh!"


Bener bangat kak Jo, bisa-bisa aku cari alasan kalo misal Jansen ajak kesini lagi, batinku.


        Aku  salut sama keluarga ini, setelah makan malam bersama, mereka ngumpul bersama lagi di salah satu ruangan yang kayaknya ruang keluarga. Membicarakan banyak hal, mulai dari pekerjaan atau hal remeh temeh orang sekitar dan juga negara konoha ini, saling tukar pendapat juga. Pokoknya hangat. Suasana keluarga yang harmonis, yang membangun cinta.


 *****


        "Huuffff, nyamannya!" Aku menghempaskan tubuhku ke kasur empuk du kamar tamu.


Wangi, segar, nyaman, ini kayak di kamar hotel yang Jansen book hari itu.


Kamar tamu aja begini, apalagi kamar pemilik rumah yah. jadi penasaran gimana kamar Jansen. Bisa nyelinap nggak sih? hihihi


    Tuuuttt ... Tuuuttt ...Tuuuttt


"Ibu udah tidur kali yah." Aku bicara sendiri sambil melihat ke sekeliling kamar mencari jam.


"Oh, pantas nggak di angkat, udah jam sepuluh lebih," lanjutku lagi.


    Me:


*    'Bu, tadi Jansen udah ijin ibu kan?'*


*    'Maaf yah Bu, td Yuyu segan main ponsel,'*


*    'jadi nggak kirim ibu kabar.'*


*    'Yuyu nginap yah Bu, kemaleman Jansen kalau bolak-balik.'*


Aku kirim pesan ke ibu, siapa tau nanti tengah malam bangun dan buka ponsel.


    Tring


    Tring


    Jansen P:


*    'Udah tidur, Yang?'*


*    'Kencan yuk, masa nggak kencan di malam minggu,'*


Kencan gundulmu. Udah jam berapa ini?


    Me:


*    'Ayok, kemana? keliling kota?'*


Aku menggerutu saat dia ajak kencan, tapi sebenarnya aku pengen. Hahahha


    Jansen P:


*    'Taman samping rumah'*


*    'Ntar Mama marah kalo kita keluar keliling kota, udah hampir tengah malam,'*


Yah, kencan di rumah doang. Apa enaknya? Gak bisa jajan, gak bisa teriak.


Belum aku balas, suara ketukan di pintu kamar yang aku tempati.


Tok ... Tok ... Tok ...


Itu pasti si Jansen. Haduh ini laki, aku kan mau jaga image selama di rumahmu ini, mau jadi gadis rumahan polos.


Malah dia ajakin kencan, ya nggak mungkin ku tolak, kan? Kapan lagi coba. Udah sebulan lebih nggak ndusel-ndusel.

__ADS_1


"Ayo," ajak Jansen seraya mengulurkan satu tangan, dan satunya lagi menenteng kresek yang aku nggak tau isinya apa. Soalnya mataku belum tembus pandang.


"Nggak usah pegangan juga bisa, kan?" Aku pura-pura menolak dengan cara menabok tangannya yang terulur.


"Kangen, Yang," ucapnya seraya menangkap tanganku dan menyeretku keluar dari kamar.


Mau tidak mau aku menurut saja. Dan tak mau buang kesempatan aku mengulurkan satu tanganku lagi untuk memeluk lengannya. Pengennya sih naik di punggungnya, tapi aku masih sadar tempat.


"Tadi sok-sokan nolak, sekarang malah peluk," Jansen sok-sokan protes padahal aku yakin seribu persen dia sangat suka aku begini.


"Namanya juga mau jual mahal dikit," jawabku.


"Beb, kita begini apa nggak masalah sama keluarga kamu, ntar aku di katain kegenitan sama kamu, gimana?" tanyaku sambil berjalan.


Otakku sih menolak adegan ini, tapi hatiku sangat menginginkannya. Ya terpaksa mengalah lah demi kesehatan hati.🤪🤪


Kami duduk berdempetan di bangku taman yang ukuran besar sebenarnya. Dan ternyata kresek yang di bawa Jansen tadi adalah beberapa cemilan dan minuman soda kaleng. Astaga! kencan romantis tanpa modal ini sungguh sangat ku nikmati dengan sepenuh hati.


"Thanks ya, Yang. Udah kasih aku kesempatan lagi," ucap Jansen dan setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa sebenarnya yang harus berterima kasih adalah aku.


Aku menunduk dan menghentikan kunyahanku. Cemilan di tangan ku letakkan di sampingku.


"Beb, bukan kamu yang berterima kasih, seharusnya itu aku. Thanks udah sabar dan pengertian untuk menghadapi gadis labil ini. Maaf ya, Beb. Aku sadar, aku sering mengambil keputusan tanpa mikir panjang, tanpa mikir perasaan kamu juga." Aku menghela napas sejenak.


"... Tolong bantu aku untuk merubah diri ya, terutama sifat kekanakan dan kelabilanku," lanjutku seraya mendongak menatapnya.


"Tapi aku suka!" ucap Jansen.


Suka? Suka yang mana? ABG labil?


"Aku suka sifat kamu yang begini, jujur dan menyadari kekurangan. Soal labil dan kekanakan, aku anggap itu tetangga dari manja. Yang sebenarnya mau di perhatikan lebih tapi gengsi."


"Aku nggak manja!"


"Tapi aku suka kalau kamu manja!"


"Awas protes dan ngeluh kalau mulai besok aku manja sama kamu," ucapku memberi peringatan di awal.


Kami menghabiskan waktu hingga tengah malam di taman. Aku tidak tahu, apakah ada anggota keluarga yang lihat kami atau tidak. Kami bertukar cerita, apa aja yang di lakuin selama kami ceng ecek-ecek beberapa minggu ini. Dan dari sini aku tau bahwa Jansen beberapa kali memantauku dari dekat dengan cara mengikutiku beberapa kali bahkan hingga sampe di rumah.


"Kepercayaan diriku pada hubungan kita bangkit lagi saat aku ikutin kamu ke cafe sore itu. Saat itu aku tahu bahwa kamu merindukan aku tapi gengsi untuk bilang."


Asli! Aku kaget ples malu, apalagi pas Jansen bilang, "chat yang masuk di ponsel beda dengan kalimat yang keluar dari mulut. Seandainya aku tidak dengar sendiri, aku pasti ngira kalau kamu beneran mau pisah dari aku."


Aku menutup muka dengan kedua tanganku. Malu shay, ke gap pas lagi gengsi - gengsinya.


"Nggak usah malu gitu, thanks karena kamu mengomel sebelum membalas pesanku waktu itu, hehehe. Jadi kapan kita beli sepatu couple kayak si Pian sama ceweknya. Aku dengar kamu merengek minta sepatu couple waktu itu."


Astaga pria ini! Malah menambah rasa maluku.


"Beneran, Yang. Besok kita ke mal cari baju sama sepatu couple. Aku juga pengen."


Aku tersenyum dalam hati, aku akan balas kamu Rinrin. Tapi ayok pura-pura nggak mau sampe Jansen ngajaknya berulang-ulang dan bujuk aku, hihihi


"Gak lah, itu karena aku lagi kesel aja karna Ririn pamer. Jadi aku asal ngomong aja."


"Beneraaaaan?" Nadanya ngejek bangat.


"Beneran, Beb!"


"Nanti nggak. Kamu kan lain di hati lain di mulut."


Malah di perjelas lagi.


"Beneran nggak mau?" ulang Jansen.


"Nggak!" jawabku mantap. Lalu beberapa detik, "nggak mau nolak!"


Jansen terbahak merespon jawabanku. Lalu detik berikutnya membawaku ke dalam dekapannya. Dia memelukku dengan sangat erat dengan dua tangan.


"Kalau mau apa-apa jangan sungkan untuk bilang, selagi aku sanggup, aku akan kasih buat kamu."


Aku mengangguk dalam dekapan Jansen. Aku bersyukur pada Tuhan karena mengirim Jansen untukku. Aku berharap cinta kami ini akan awet selamanya.


"Love you, Beb!" ucapku pelan sambil membenamkan wajah di dadanya.

__ADS_1


"Love you more and more, Sayang."


Ditengah malam, di taman sepi, duduk di banku berdempetan, kami menyalurkan kerinduan dan cinta kami dalam ciuman dalam yang manis.


__ADS_2