
~JANSEN POV~
*****
Ada rasa malu ketika bertemu dengan Kak Jo pagi ini di ruang makan ketika sarapan.
Mengingat dia yang mengetahui bahwa aku sudah menguping malam tadi. Apakah Mama juga tahu aku ada di belakang tembok itu? Aku melanjutkan sarapanku seperti biasa, tidak menyapa yang lain termasuk Mama dan kak Johana juga. Aku ingin orang-orang rumah melihat aksi protes ku masih berlanjut. Walau sebenarnya aku sudah tidak tahan untuk tidak berbicara seperti sebelumnya.
"Oom!" Vania yang duduk di samping kiriku memanggilku dengan pelan. Aku menoleh dan menaikkan alisku.
Aku lupa dia masih balita, aku meresponnya seperti aku merespon Josh.
"Kenapa, Sweety?" tanyaku dan langsung merubah mimik wajahku. Aku tak ingin dia merasa takut melihat mimik mengintimidasi yang sempat ku suguhkan padanya. Cukup sudah selama beberapa minggu ini dia merasa takut dan menjauhiku.
"Kapan kita ke taman?" tanya Vania dengan wajah polosnya. Matanya bulat dan sangat bening. Rambutnya yang di kuncir tinggi dan menyisakan poni nya yang hanya setengah dahi membuatnya seperti boneka.
"Nanti sore, mau?" jawabku dengan senyum di bibir.
Kepalanya mengangguk-angguk seperti anjing dasboard dengan mata yang berbinar. "Benar yah Om! Awas kalau bohong! Nanti jadi pinokio, hidungnya panjang kalau bohong." Dia mengacungkan jari telunjuknya tepat ke wajahku yang sedang menghadap sambil menunduk ke arahnya.
"Iya, Om nggak mau bohong ah, Ntar Om jadi jelek kalau hidungnya panjang, Ihh takut." Aku ekting bergidik takut di hadapan Vania dan dibalas dengan cekikikan.
"Ayo, lanjut makan lagi biar cepat gede!" Aku mengusap kepalanya lalu duduk kembali dengan posisi awal dan melanjutkan sarapan. Tidak ada satu orang pun yang ikut terlibat dalam obrolan kami.
"Om Josh nggak di ajak juga?" Josh tiba-tiba bertanya setelah meletakkan sendoknya di atas piring yang sudah kosong.
"Nggak, Om Josh pasti alesan sibuk terus obatin orang sakit." Vania dengan mulut penuh menjawab sambil menggeleng.
"Telan dulu makanannya, Sayang!" tegur Maminya ~Kak Johana~.
"Tapi nanti sore Oom nggak sibuk loh Van, gimana, mau ajak Oom juga?" Josh kenapa ngotot banget sih?
"Nggak! Vania sama Om Jan ajjah." Vania langsung melanjutkan makan setelah menjawab Josh. Dan tetap menggeleng walau Josh berusaha menawarkan berbagai macam sebagai sogokan.
"Oom belikan berbi terbaru, mau?"
"Nggak, Ntar Mami yang beli aja."
"Ya udah, kita makan es krim?"
"Nggak, Vania sama Om Jan ajjah."
"Om beli---"
"Udah Josh, dia nggak mau jangan di paksa. Berarti dia emang mau sama Om Jan, bukan sama kamu. Jangan di biasakan janji mau beli ini itu. Nggak baik. Ntar dia jadi terbiasa harus di sogok." Kak Jo ambil tindakan sebagai penengah.
Aku dan yang lain hanya pendengar saja, dan aku pribadi setuju dengan apa yang Johana bilang, 'jangan di biasakan menyogok'. Suatu saat kalau dia nggak di sogok, dia nggak akan mau nurut.
Ada obrolan ringan di meja makan, tapi karena aku masih gengsi untuk langsung nimbrung. Aku hanya menjadi pendengar saja. Aku masih melanjutkan ekting tidak tau apa-apa mengenai obrolan mama dan Johana tadi malam.
"Aku selesai, aku pamit duluan!" ucapku seraya berdiri dan memutar badan.
Aku berjalan ke arah pintu keluar walau tidak ada jawaban dari mereka semua. Punggungku terasa dingin, sepertinya ada seseorang atau beberapa yang memandangku dingin itu terbukti dari keheningan yang tercipta tiba-tiba di meja makan.
"Oom jangan lupa! Nanti jadi pinokio beneran kalau ingkar!" teriak Vania dan akhirnya aku berbalik.
"Ok!" ucapku seraya membentuk oke pada jariku.
Dugaanku benar, semua orang dewasa itu menatapku ternyata.
__ADS_1
*****
Tok ... Tok ... Tok ...
Bunyi ketokan pada pintu kantorku. Aku mengangkat kepala dan melihat ke arah pintu yang sudah di buka dan muncullah kepala Wulan di ikuti Papaku.
"Apa kamu ada waktu?" tanya papaku setelah berhasil masuk ke ruanganku.
'Ck,, nggak mungkin aku bilang tidak ada, kan? percuma! orang yang bertanya sudah ada di depan mata.'
"Tentu!" jawabku seraya berdiri, berjalan menuju sofa di ruanganku.
"Tolong dua kopi yah, Lan!" titahku pada Wulan dan di angguki sebelum dia keluar dari ruanganku.
Aku dan papa duduk berhadapan, tidak ada yang bicara untuk beberapa saat. Sampai Wulan datang dan meletakkan dua cangkir kopi di meja.
"Ada yang ingin papa sampaikan?" Aku bertanya saja. Menunggu itu membosankan, benar, kan?
Walau aku sudah bertanya, Papa tetap diam dan tentunya aku jadi bingung dan serba salah.
Aku jadi berpikir negatif ketika papa mengarahkan pandangan ke seluruh ruangan. Kalian tau apa yang ku pikirkan?Apakah ruangan ini akan di berikan ke orang lain? Apa marahnya papa akan berakibat pada pekerjaanku?
Aku mulai deg-degan sebenarnya, karena aku belum punya cadangan jika di depak.
Mana aku harus ngumpulin duit banyak lagi biar bisa bawa Ayu ke Maldives.
"Perasaan kamu sekarang, gimana?" Papa bertanya datar bahkan tidak melihat melihat ke arahku.
Aku bingung, apa maksudnya. Perasaan apa?
"Bagaimana rasanya menjadi musuh satu keluarga?"
"Biasa aja. Kecuali jika aku di usir dari rumah dan di coret dari daftar keluarga," jawabku santai sambil terkekeh.
"Dasar!" Papaku mencibir.
"Tadinya mau coret kamu dari kartu keluarga, tapi kamu tetap nongol setiap pagi di meja makan. Nggak enak Papa kalau coret nama kamu. Harusnya kamu pindah rumah, biar memudahkan papa," lanjut Papa.
Aku terkekeh dengan jawaban Papa. Dalam hati aku berterima kasih pada Ayu karena melarang ku membeli Apartemen atau rumah waktu itu. Kalau saja dia kemarin setuju, habis lah aku.
Sayang, terimakasih karena sudah melarang ku kemarin.
"Tadinya udah mau beli, udah cek beberapa unit, tapi nggak jadi. Di larang sama sama Ayu." Aku menjawab jujur dan aku lihat papa seperti kaget walau langsung kembali ke ekspresi awal.
"Hubungan kalian gimana sekarang?" tanya papa.
Aku diam menelaah sejenak. Gimana yah,
"Pacaran tapi seperti tidak pacaran." Aku terkekeh dengan status yang di agungkan oleh Ayu waktu itu
"???"
"Papa pasti bingung, kan? Sama. Jan juga bingung."
"???"
"Hehehehe"
Papa menatapku dengan heran karena aku malah terkekeh melihat aksi bingung papa.
__ADS_1
Aku udah lewatin itu beberapa minggu ini, tapi aku yakin sekarang kalau kami pacaran, soalnya dia lagi kangen.
Udah ngaku, nggak gengsi lagi. Hehehe
"'Kita pacaran tapi seperti tidak pacaran, jadi kalau kamu nemu sama cewek yang cocok sama kamu, ya udah kamu pacaran aja sama dia, bisa gandeng dia di depan aku', itu kata Ayu kemarin itu. Coba papa bayangin, aku gandeng pacar aku di depan pacar aku yang lain. Ini namanya apa?"
"???"
"..."
"Ckckckck, di luar nalar. Jadi kamu mau poligami pacaran? Dia iklas?"
"Kayaknya nggak, tapi dia gengsi dan sok kuat." Aku berseri-seri saat menceritakan Ayu. Apalagi mengingat kejadian semalam di cafe juga chattingannya tadi malam. Itu membuktikan bahwasanya dia benar-benar cinta sama aku tapi gengsi mengakui dan malah sok tegar mengijinkan aku punya pacar lain. Semalam aja pas aku bilang sibuk, dia menggerutu, ada indikasi dia curiga aku selingkuh.
"Kayaknya kamu udah gila benaran Jan, cerita gini aja kamu sampe senyum-senyum nggak jelas." Papa mencibir dan aku iyakan.
"Aku tergila-gila padanya. Nggak tau kenapa, tapi hatiku kayaknya udah klop bangat sama dia. Pa, aku bilang kemarin lanjutin aja soal Mira sama mama, jujur aja, setelahnya aku menyesal dan hampir depresi. Please papa bantuin ngomong sama mama, Ayu nggak seburuk yang kalian pikirkan. Jika bukan karena dia, aku udah pasti beli apartemen atau rumah dan keluar dari rumah. Aku udah tinggal pilih mana yang lebih cocok. Tapi, Ayu ingetin Jan. 'Jika kamu keluar dari rumah dan menjauh dari keluarga, kamu bukan menyelesaikan masalah tapi menambah dan daftar keburukan aku bertambah karena kemungkinan besar, keluarga kamu akan anggap aku yang pengaruhi kamu'. Dia ngomong gitu pa, akhirnya aku putuskan tetap tinggal di rumah walau tidak di anggap."
Papa menatapku dengan datar. Aku sungguh tidak tau mengartikan tatapannya dan raut wajahnya.
"Kamu yang tidak di anggap atau kamu yang tidak menganggap? Mamamu sedih berhari-hari karena kamu mengunci mulutmu selama di rumah. Bahkan menyapa pun tidak. Coba jawab papa, siapa yang tidak di anggap?"
Aku menunduk malu menatap papa. Benar kata papa, aku yang kekanakan dan pengecut. Aku yang memilih bersikap kurang ajar tapi,
"Aku sedang protes!" kataku jujur
"Aku protes karena aku harus menjalani hidup sesuai yang kalian arahkan, yang kalian mau, aku tidak boleh memilih dan harus turut pada apa yang kalian minta terutama mama. Sejak awal di kenalkan dengan Mira dan di usulkan perjodohan, aku udah pernah bilang aku nggak suka, nggak cocok sama Mira, nggak ada kemistri. Tapi kalian ngotot dan meminta aku mencoba menjalani." Aku tidak salah untuk protes, kan?
"Aku udah coba, tapi tetap aja nggak dapat," lanjutku sambil menunduk.
"Nggak dapat karena ada Ayu itu, kan?" selidik papa.
"Bukan karena dia, tapi gak papa kalian anggapnya karena dia. Jujur aja, begitu aku melihatnya di kantor ini di hari pertama dia magang, aku langsung penasaran dan merasa ingin dekat dengannya. Bisa kukatakan aku jatuh cinta padanya. Dan pada akhirnya, aku tidak berniat untuk berusaha keras menyukai Mira." Biar saja papa marah pada pengakuanku ini atau mengadu pada mama, karena inilah memang yang kurasakan.
"Thanks buat Ayu karena milih magang disini, karena jika bukan, mungkin aku akan terjebak dalam hubungan pertunanganku dengan Mira. Bukan papa atau mama yang akan tertekan tapi aku." Memberi pencerahan sekali-sekali pada orang tua tidak apa-apa, kan? Kuharap ini bisa menjadi pelajaran buat mereka untuk tidak memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Khususnya mengenai jodoh.
"Apa rencanamu sekarang?" tanya papa lagi.
"Banyak! Salah satunya mau yakinin mama sama papa kalau Ayu itu orang baik dan tepat untukku. Aku juga mau yakinkan Ayu supaya mau nikah cepat sama aku."
Itu baru salah dua tugasku. Salah banyak lagi yang masih waiting list.
"Memangnya dia belum yakin sama kamu?" Papa memicing tidak percaya.
"Papa pasti nggak percaya, tapi ini fakta, Ayu menolak menikah denganku dalam waktu dekat. Makanya waktu aku kasih syarat papa yang kedua, dia langsung setuju tanpa mikir lama," ucapku memberitahu.
"Berarti kamu yang ngebet?"
"Nggak salah, kan? Jan udah tiga puluh."
Tanpa sadar obrolan kami semakin santai saja seperti tidak ada perselisihan selama ini. Yang paling hebatnya, yang menjadi topik adalah Ayu, sumber perselisihan kami.
"Bawa dia makan malam sabtu ini ke rumah!"
"Iya"?
....
"Apa, Pa?"
__ADS_1
"Sabtu, mari makan malam bersama, bawa Ayu dan perkenalkan dia pada kami."