
Bagian 38
Oleh Sept
Dewa perlahan membuka mata, begitu tersadar ia langsung berusaha duduk, wajahnya panik mencari Tika.
"Tetaplah berbaring!" Tika datang membawa kantung kresek.
"Tika."
Dewa langsung turun dari ranjang, tidak peduli dengan seruan Tika. Ia ingin mendekap tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Syukurlah mereka tak membawamu," ucap Dewa sembari membelai rambut Tika, mencium puncak rambut itu berkali-kali. Dewa sangat bersyukur, akhirnya Tika bisa ia raih kembali.
Puas temu kangen meski hanya berpisah beberapa jam, Tika dan Dewa mengucapkan terima kasih pada petugas keamanan Bandara yang sudah menolong keduanya. Kini mereka pun berencana pergi kembali.
"Beneran naik ini? Kita naik taksi saja ya?" tawar Tika, ia tidak yakin dibonceng suaminya naik motor. Apalagi Dewa habis pingsan.
"Nggak apa-apa, kamu nggak percaya sama aku, Tik?"
"Bukan begitu, Tuan."
Dewa langsung meraih kedua tangan Tika, "Jangan panggil suamimu dengan sebutan Tuan lagi, Tik."
Tika menelan ludah, lidahnya terlanjur kapalan memanggil Dewa dengan sebutan Tuan.
"Emm ... iya Tuan, nanti ... menunggu kalau sudah terbiasa."
"Biasakan mulai dari sekarang," titah Dewa sambil mengenakan helm.
"Ayo naik."
Akhirnya mereka berdua boncengan naik motor meninggalkan Bandara.
Mbremm
__ADS_1
WUSHHH
"Pegang yang kenceng!" Dengan satu tangan, Dewa menarik lengan Tika agar memeluk pinggangnya erat.
Malu tapi mau, lama-lama Tika mau nyabuk juga. Tidak peduli hubungan mereka tertolak. Keduanya melesat, membelah debu jalanan. Menyusuri jalanan kota besar. Memecah keramaian, entah mau dibawa ke mana cinta mereka. Asal berdua, segalanya akan baik-baik saja.
***
Hotel Melati
Tika langsung memasukkan semua barang-barang ke dalam koper, mereka akan meninggalkan tempat ini.
Saat check out, mereka melihat Tante Mira di lobby hotel. Wanita itu langsung bergegas menemui Dewa, keponakannya.
"Syukurlah kalian bisa bersama lagi."
Tante Mira pun memeluk Dewa dan Tika bergantian.
"Bawa ini, untuk sementara tinggal di luar negri dulu. Semua ini pasti lebih dari cukup, Tante tahu ... mamamu sudah membekukan semua kartu Kredit, dan lainnya. Bawa Tika jauh, nanti kembalilah ... kembali saat mamamu mulai menyesali tindakannya."
Tante Mira menyerahkan tas berisi banyak berkas dan tentunya tabungan serta benda berharga lain. Melihat perjuangan Dewa, ia menjadi terenyuh. Seolah ingin mendukung cintanya yang dulu sama sekali tidak ia perjuangan karena lebih memilih bertahan dengan harta kekayaan orang tua. Takut dicoret dari hak waris, Tante menghapus cintanya. Dan itu tidak boleh terulang. Dewa harus mempertahankan hubungannya, meskipun dari kasta bawah.
"Pergilah kalian sekarang, jangan buang-buang waktu." Tante Mira mengengam tangan Tika. Kemudian memeluk keduanya sebagai salam perpisah.
***
London, Inggris.
Di sebuah apartemen cukup mewah, terlihat Dewa masih terbaring di atas ranjang. Sedangkan Tika, ia sedang berada di dapur. Wanita dengan rambut warna emas itu sedang memasak sarapan untuk suaminya.
Sebulan hidup di London, membuat Tika memilih memasak sendiri. Lidahnya kurang cocok dengan makanan di sana. Dewa sampai protes, tubuhnya bertambah melar karena Tika selalu membuatnya makan dan makan.
"Sayang, bangun ... sarapan sudah siap." Tika berbisik di telinga suaminya yang masih tertidur pulas.
Berkali-kali ia meniup-niup telinga pria itu, agar merasa geli dan bangun.
__ADS_1
"Hemmm ... masih ngantuk."
Mulutnya bicara masih ngantuk. Tapi, tangannya malah menarik tangan Tika. Dengan gerakan cepat, ia langsung membuat Tika berada tepat di atas tubuhnya.
Tika terkekeh, bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Pagi-pagi suaminya sudah mengajak duet maut. Ia merasa ada sesuatu yang menganjal di perutnya. Sepertinya paku payung mulai berulah.
"Ya ampun ... ayolah, bangun yang bener."
Baru bangun Dewa langsung menyeringai.
"Ini udah bangun dari tadi."
Bukkk
Tika memukul barisan roti yang sudah tidak sobek lagi. Dewa sepertinya harus nge-gym karena perutnya sudah mulai tidak rata lagi. Tinggal bersama Tika, benar-benar perbaikan gizi. Isinya kuliner terus. Apalagi Dewa juga belum bekerja, rencananya awal minggu depan ia sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan asing di sana.
"Ayo," bisik Dewa disertai kecupan singkat.
"Semalam kan udah, dua kali malah."
"Ish ... kurang!"
Dengan lihai, tangan Dewa langsung melepas pakaian yang di kenakan Tika.
Tika yang malu, langsung menutup korden kamar dengan menekan remotes yang ada di atas nakas.
"Padahal habis keramas," ucap Tika sambil melingkarkan lengan di leher suaminya. Ia kini duduk di pangkuan Dewa, dengan posisi saling berhadapan.
"Nanti aku belikan shampoo yang banyak," canda Dewa.
Tika langsung manyun, kemudian tersenyum tersipu malu.
"Aku suka senyummu."
Cup
__ADS_1
Pria itu mencium Tika, dimulai kecupan singkat berkali-kali. Bermain-main, kemudian berubah lebih serius dan menuntut. Dewa dengan lembut menyesap bibir ranum kemerah-merahan milik Tika. Memberikan gigitan kecil, kemudian kembali menyesap dengan dalam dan lama.
Makin lama, wajah keduanya terasa semakin panas. Terdengar suara napas mereka yang saling mengejar dan memburu, Dewa dan Tika sepertinya sudah siap untuk mengerjakan PR pertukangan.