MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
DIPECAT


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda 27


Rate 18


Oleh Sept


"Yah ... kotor, Tika ambilin botol yang lain di dalam mobil ya, Tuan?" Tika mengusap permukaan botol minuman yang terkena pasir. Terlihat kotor, pasti Tuan mudanya tidak mau. Ia hafal betul dengan pria higenis tersebut.


"Tidak! Tidak usah." Dewa langsung menolak.


"Katanya haus?" Tika mengeryitkan dahi. Katanya haus, mau diambilin kok nggak mau. Dasar aneh!


"Aku bilang tidak usah." Nada bicaranya sudah mulai meninggi. Bukan karena Dewa marah pada gadis tersebut. Isi kepala Dewa sedang kacau, bayangan gunung Merbabu membuatnya tidak fokus. Ah, sial! Mengapa otaknya mulai konslet.


"Antar aku ke sana!" perinta Dewa kemudian. Ia melirik ke arah kafe pinggir pantai.


"Tuan lapar?"


"Sudahlah Tik. Jangan banyak nanya ... cepat ke sana."


"Baik, Tuan." Tika dengan masam mendorong kursi roda Tuan mudanya itu.


Setelah sampai, Dewa melambai ke pelayan kafe. Memesan apa yang inginkan. Tidak lupa juga memesankan apa yang Tika mau.


***


Dari jauh, Kris sang mata-mata terus saja mengamati keduanya. Pria berpakaian rapi dan serba hitam tersebut terlihat juga sedang berbicara. Kris sedang ditelpon oleh Nyonya Bos. Mama Dewa terlihat gusar ketika melihat potret sang putra yang dikirim Kris barusan.


"Sudah! Tetap awasi mereka, dan jangan kirim lagi gambarnya!" cetus Mama kemudian memutus sambungan telponnya. Ia benar-benar marah melihat kedekatan Tika dan Dewa yang dirasa tidak wajar. Harusnya Dewa menjaga jarak dengan pelayan itu, pikir Mama.


Sedangkan Dewa, ia kini sedang menikmati air kelapa muda sambil menatap pantai. Sengaja ia tidak mau menatap Tika yang ada di dekatnya. Gadis itu hanya membuatnya gagal fokus. Dan pikirannya traveling ke mana-mana.


Si Tika sendiri juga tengah menikmati camilan. Angin pantai yang berhembus, lama-lama membuatnya kedinginan. Bajunya belum kering, melihat hal itu, Dewa pun mengajak balik ke mobil.


"Sudah habis? Ayo balik!" ajak pria tersebut.


"Tapi ... baru sebentar, itu belum habis, kan?" Tika menunjuk kelapa muda di depan Dewa.


"Tidak apa-apa, ayo pulang."

__ADS_1


Tika hanya manggut-manggut, kemudian kembali mendorong kursi roda menuju mobil mereka terparkir.


"Balik sekarang, Tuan?" tanya Pak sopir ketika melihat Dewa dan Tika datang mendekat.


"Hem!" Dewa hanya mengangguk pelan.


***


WUSHHH


Mobil meluncur membelah jalan, melintasi bayang-bayang pohon kelapa di tepi jalan. Baik Tika maupun Dewa sama-sama diam di kursi belakang. Sesekali pria itu kembali melirik.


"Matikan AC-nya, Pak!" titah Dewa tiba-tiba. Ia melihat Tika merasa kedinginan.


Sedangkan Pak sopir, tanpa berbicara, ia hanya mengangguk kemudian mematikan AC mobilnya.


"Bagaimana? Apa masih dingin?" tanya Dewa sembari menatap Tika.


"Sedikit!"


"Ish! Siapa suruh kau main air, Tika!" cecar Dewa yang kesal. Ia sebenarnya tidak tega melihat Tika yang memeluk tubuhnya sendiri seperti itu. Tapi bagaimana lagi, tidak mungkin ia menghangatkan gadis itu dengan memeluknya. Sangat gegabah dan berbahaya!


"Pakai ini!"


"Tidak, Tuan ... terima kasih. Tika tidak apa-apa."


"Astaga! Jangan keras kepala! Lihat ... bibirmu sudah pucat begitu!" sentak Dewa.


"Ah ... beneran Tika nggak apa-apa."


Kesal, Dewa langsung menyelimuti Tika.


"Jangan banyak bicara! Pakai ini."


Seketika itu, Tika langsung membisu. Tidak membantah dan tidak bergerak. Perhatian dari Dewa membuatnya goyah.


"Astaga Tika! Jangan sampai kamu ada rasa!" rutuk Tika dalam hati.


Saat Tika sedang berjibaku dengan pikirannya, Dewa sudah menatap lurus ke depan. Matanya nampak kosong, mungkin matanya melihat ke depan, tapi hati dan pikirannya terus dibayang-bayangi Tika.

__ADS_1


Ya ampun, sepertinya ia sudah terkontaminasi virus Tika. Karena dalam kepalanya Tika terus saja berputar-putar di sana.


***


"Tuan ... Tuan muda!" Dewa tersentak kaget. Rupanya cukup lama pria itu melamun, sampai tidak sadar dari tadi Tika memanggil-manggil namanya.


"Sudah sampai," ucap Tika dengan senyum mengandung banyak gula.


Gila! Gadis itu malah tersenyum manis ke arahnya. Ya ampun! Dewa merutuk, mengumpat, menyumpahi diri sendiri. Ada yang tidak beres, entah pada diri Tika atau justru pada jantungnya.


"Hem!" Pria itu membuang muka. Terlalu bahaya dekat-dekat dengan Tika untuk saat ini.


"Kau boleh pergi, aku bisa sendiri!" ucapnya setelah sudah memasuki rumah. Secara tak langsung, Dewa mengusir Tika. Ia butuh waktu untuk menata hati.


Tika yang tidak curiga, ia lantas ke kamarnya. Dan di ujung tangga sana, sorot mata mama dipenuhi rasa benci. Ia sangat marah, apalagi dilihatnya Tika memakai sweater milik Dewa.


"Berani kamu Tika!" gumam mama sembari meremas peganggan tangga.


Malam harinya, dari tadi Dewa menanti makan malamnya. Tumben tidak ada yang datang, padahal baru telat lima menit dari jam makan. Tapi pria itu terlihat cemas dan klimpungan.


KLEK


"Lama sekali kamu, Tik!" sentaknya.


"Maaf, Tuan. Ini makanannya."


"Tika mana?" Dewa melotot pada Mbak Mar. Mengapa pelayannya ganti? Ke mana si Tika?


"Anu ... anu, Tuan ..." Mbak Mar kelihatan gugup, takut cerita yang sebenarnya.


"Katakan dengan jelas!" sentaknya lagi.


"Itu ... Tika sudah tidak ada di sini."


"Ngomong apa Mbak Mar ini? Bicara yang jelas!" tuntut Dewa setengah emosi.


"Tika dipecat, Tuan."


Wajah Dewa seketika langsung mengeras. Bersambung.

__ADS_1


Yuk kenalan sama mak Sept


Instagram : Sept_September2020


__ADS_2