MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
140. HAPPY FAMILY part 2


__ADS_3

Sawah luas yang menghijau dengan biji padi yang mulak menunduk di setiap batangnya.


Di kejauhan terlihat bayangan pepohonan seperti pegunungan.


Sungguh mahakarya yang sangat indah.


"Di Kota, kita sudang tidak bisa menikmati ini semua. Yang bisa kita hirup tiap hari hanya udara kotor karena asap-asap kendaraan yang membludak."


Nyonya Helena dan juga Ibu Rohaya sedang duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu di samping rumah orang tua Maruly.


Keduanya sedang menikmati udara sejuk di pagi hari pertama mereka di kampung halaman Maruly.


"Mungkin karena pertama kali. Tapi saya rasa disini sangat dingin." Ibu Rohaya merapatkan jaketnya sebagai bentuk dukungan untuk perkataannya barusan.


"Seharusnya kita ikut mereka tadi ya, Jeng. Saya rasa kalau berjalan pagi, banyak bergerak, badan kita nggak akan menggigil begini."


Nyonya Helena dan Ibu Rohaya tadi menolak ajakan suami mereka untuk berjalan-jalan pagi di pinggir jalan. Sekarang keduanya seperti menyesali keputusan mereka tadi.


"Yuyu mana? Udh bangun?"


"Sudah. Dia sama mamanya Vania menyusul para bapak-bapak tadi."


"Kirain masih molor karena dingin."


Kedua besan itu masih asik bercerita berbagai topik. Siapa sangka nyonya kelontong itu ternyata orang yang bisa ngikut topik.

__ADS_1


Tidak ada kebosanan bagi keduanya dan selalu ada aja topik pembicaraan keduanya.


Hingga tak sadar hari mulai terang dan sebentar lagi kampung ini akan mulai ramai oleh lalu lalang masyarakat.


"Mbak Helen, sebaiknya kita masuk. Ayo kita bantu neneknya Vania memasak."


"Ooo Iya,, aku sampai lupa!"


Besan itu masuk ke arah dapur untuk menjumpai besan yang satu lagi.


"Eh, ngapain repot-repot. Duduk aja memandang mandang yang hijau-hijau. Di kota itu sudah tidak ada."


"Iya, Mbak semua udah bangunan tinggi."


Walau tidak banyak macam yang di masak. Ketiganya menikmati waktu memasak bersama sekaligus bertanya ini itu.


"Sasami? Apanya di bilang?" gumam Ibu Roma ibunya Maruly.


Walau dia sudah beberapa kali ke kota, tapi dia tidak pernah makan sasami.


"Itu loh mbak. Ikan mentah yang langsung bisa di makan." jawab Rohaya.


"Ooo, naniura namanya. Iya, prosesnya lama itu. Kalian mau? Kalau mau biar saya buatkan"


"Emang ibu bisa?"

__ADS_1


"Bisa"


"Ya udah kapan kita buat?"


"Nanti kalo sudah selesai makan pagi, atau besok juga gak papa buatnya."


Helena takjub melihat isi makanan di tikar lantai. 'Apa kita baru saja memasak sebanyak ini', pikirnya.


Sekitar jam tujuh pagi, rombongan para pria itu mendekat ke arah rumah. Di Kejauhan terlihat dua wanita sedang berjalan santai. Sesekali wanita dengan perut buncit itu berhenti seperti menghirup udara segar.


Mereka berjalan pelan sambil memuji-muji hamparan sawah yang menghijau.


...****************...


Orang-orang kota itu tercengang, terutama nyonya Helena ketika sarapan pagi yang biasanya roti atau nasi goreng.


"Ini sarapan atau makan pagi?"


"Apa bedanya?"


"Ini terlalu berat, seharusnya yang lebih ringan!" ucapnya.


"Ikuti dimana kita tinggal aja ka. Ayo ma, kalau tidak sanggup makan banyak yah makan sedikit."


Nyatanya mereka menikmati sarapan pagi ala kampung itu dengan penuh suka cita.

__ADS_1


Keluarga Ayu yang tidak suka keributan saat makan akhirnya berhianat pada janji. Mereka juga ikut tertawa.


Sungguh keluarga yang luar biasa. Terima kasih Tuhan karena kami bisa berkumpul semua di rumah ini, batin Jansen.


__ADS_2