MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
133. AFTER MARRIAGE // BACK TO ROUTIN


__ADS_3

Kehebohan terjadi pagi ini di kamar pengantin baru itu. Bagaimana tidak, keduanya bangun kesiangan. Bahkan mungkin jika Ayu tidak terdesak ke kamar mandi, mereka berdua masih tidur.


"Gara-gara kamu ini." Sejak bangun tadi, sudah lebih dari sepuluh kali Ayu mengatakan hal itu. Menyalahkan Jansen karena mereka bangun siang.


"Iya, Yang! Maaf!"


Tidak mungkin di bantah. Justru kalau di bantah akan semakin menjadi-jadi.


"Dasi kamu miring, Beb!" ujar Ayu seraya mendekat dan merapikan dasi Jansen. Jansen tersenyum karena kejahilannya akhirnya tertangkap oleh istrinya. Sebenarnya, Jansen sengaja.


"Aku bedakan di mobil aja. Sarapan juga di mobil aja. Kamu juga ya, Beb! Aku udah telat nanti kalau kita masih harus sarapan dulu."


Ayu segera meraih tas usai merapikan dasi Jansen.


"Ayo, Beb! Cepetan!" Ayu kesal karena Jansen sangat lambat.


Seperti tidak peduli terlambat atau tidak.


Seketika Ayu tersadar. Jelaslah Jansen tidak terburu-buru, kan dia bosnya.


"Beb, aku ini kerja sama orang loh. Jadi ada aturan yang harus aku ikuti."


Melihat istrinya yang panik sedari tadi, membuat Jansen sedikit kasihan. Tadinya dia sudah berniat meminta tambahan ijin hari ini pada bos Ayu. Tapi urung karena melihat semangat istrinya masuk kerja hari ini. Saking semangatnya, Ayu jadi panik sendiri karena kesiangan.


"Iya, masih terkejar, Yang! Jangan panik gitu."Jansen mengimbangi langkah istrinya untuk turun ke lantai satu. Keduanya langsung menuju ruang makan. Disana semua anggota keluarga lengkap bahkan Vania juga ada.


"Mama pikir kalian nambah cuti satu hari, makanya nggak turun-turun," ujar nyonya Helena menyambut pasangan itu.


"Pagi Ma, Pa. Pagi semuanya!" Ayu menyapa mereka sebentar tak lupa mencium pipi Vania dan menguyel-uyel nys .


"Ma, Yuyu sama mas Jan sarapan di mobil ya. Takut telat hari pertama masuk," ijin Ayu pada mertuanya.


"Makanya ingat waktu!" balas mertuanya menanggapi.


Jansen hanya menggaruk kepala ketika dia di omelin oleh istrinya melalui tatapan maut dan gigi menggertak.


"Bi, bawa in kotak bekal tolong!" panggil nyonya Helena pada bibi.


"Minum susunya dulu. Kamu juga Jan, minum dulu!"


Tak lama bibi datang dengan kotak bekal yang sudah berisi nasi goreng.

__ADS_1


"Ini Non, bibi buatin satu tempat tapi porsi jumbo." Bibi mengangsurkan tas berisi satu kotak nasi goreng dan dua botol air kemasan.


"Makasih yah, Bi," jawab Ayu dengan senyum.


"Ma, Pa, Yuyu berangkat!" Ayu mendekat ingin salim tapi kedua mertuanya heran.


"Mau salim, Pa!" ujar Ayu karena tangan mertuanya tidak ada si hadapannya.


Setelah anak-anak mereka besar, tidak ada yang salim saat ingin keluar dari rumah ini. Terakhir kali anak-anak mereka rutin salim hanya sampai kelas satu SMA. Itupun sudah mulai bolong.


"Ka, Mas, Josh, kami duluan ya! Dada Vania."


Ayu masih menyempatkan diri untuk mencubit gemes pipi Vania.


Keduanya berlalu di iringi suasana baru yang tertinggal tanpa mereka sadari apalagi Ayu.


"Sudah lama sejak kalian tidak salim Papa lagi!" ujar pak Awan pada Johana dan Josh.


"Kalian dulu selalu alasan ',udah besar, udah nggak anak sekolahan lagi' dan akhirnya bablas nggak pernah salim lagi," lanjutnya.


"Hari ini, papa kaget sekaligus senang!" Wajah nya berbinar saat mengatakan rasa senangnya.


*****


"Iya, Yang. Sorry!"


"Sori sori, tapi besok di ulang lagi. Awas kalo hari ini aku telat dan di potong uang makan. Bayar sepuluh kali lipat."


Jansen mendengus. Sepuluh kali lipat? Sedikit sekali. Bahkan seratus kali lipat dia akan kasih.


Dia hanya menatap Ayu sejenak tanpa berkomentar.


"Ih, pasti malu bangat nanti kalau terlambat. Mereka pasti ngejekin aku nanti, mentang-mentang pengantin baru. Ih, kesel." Ayu menggerutu tapi mulutnya juga tak berhenti mengunyah sarapannya.


Salah satu kebiasaan buruk Ayu yang belum lepas hingga dia sudah menjadi istri.


Prasangka tak terduga. Karena dia sudah memikirkan hal buruk yang akan dia dapat bahkan sebelum dia menjalani suatu hal yang kurang baik.


"Mereka pasti maklum, Yang. Jangan ngomel terus. A lagi, nanti keburu sampai aku belum kenyang." Jansen berusaha mencairkan suasana dan mengalihkan topik dari pada mendengar repetan sepanjang jalan.


Ayu menyuapkan satu sendok nasi. Mulutnya ikut menganga saat dia minta Jansen buka mulut.

__ADS_1


"Kalau kamu ngomel terus, kapan siapnya sarapan. Kami belum bedakan, loh!"


Satu hal yang sangat penting bagi perempuan. Make up.


"Nggak papa nggak mekap. Udah merid kok, udah laku ini. Kecuali tadi masih gadis atau janda, ya jelas harus udah cantik paripurna masuk kantor." Ayu menanggapi dengan santai.


"Serius? Kamu pede nggak mekap?"


"Kenapa tidak? Sebelumnya juga gitu. Ini aku belajar mekap gara-gara kamu. Biar aku cantik dan cocok sama kamu. Biar nggak butek amat." Ayu meneruskan sarapannya usai berkata seperti itu.


Empat puluh menit kemudian mereka sampai di depan kantor Ayu.


Masih ada lima belas menit lagi sebelum jma kantor di mulai dan Jansen, fix dia sudah pasti terlambat. Jarak kantor Ayu dan Jansen sekitar setengah jam. Jansen harus putar balik menuju kantornya karena dia lebih dekat sebenarnya.


Dalam waktu yang singkat, Ayu memoles cepat wajahnya.


"Kamu udah pasti telat, tunggu dikit lagi, aku mau bedakan bentar," ujar Ayu untuk menahan Jansen.


Dengan cekatan dia memoles wajahnya sebentar. Hanya pake bedak tipis dan lipstik nude.


Saat melihat Ayu mekapan. Jansen merogoh kantongnya.


"Nih, aku akan isi tiap bulan. Pake buat keperluan kamu!" Jansen memberikan kartu atm pada Ayu.


"Pinnya ulang tahun kamu," lanjutnya.


"Akhirnya, ini yang aku tunggu-tunggu, kapan sih aku dapet transferan kayak istri-istri orang. Ternyata pagi ini." Dengan segera Ayu mengambil kartu ATM itu dan menyimpannya dalam tas.


"Jangan periksa-periksa apa yang aku bayar pake ATM ini. Jangan tanya-tanya untuk apa. Oke!"


"Iya, lagian kalo mau di tanya kemana aja uangnya, apa aja yang di beli. Mending kamu nggak ku kasih aja. Setiap kamu mau payment aku yang transfer aja. Tapi, aku nggak pernah punya tujuan kayak gitu, Yang. Istri emang harus di nafkahin, kan?"


"Bagus!" ucap Ayu dengan senyum merekah.


"Ya udah, aku masuk, ya! Kami hati-hati nyetirnya." Ayu bersiap buka pintu dan akan segera keluar. Tapi di urungkan karena sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikirannya.


"Beb, kalau aku kerja naik motor aja kayak kemarin sebelum nikah, boleh?"


"Nggak!"


"Biar kamu nggak telat karena harus ngantar aku dulu."

__ADS_1


"Nggak papa. Lain kali kalau kita kesiangn seperti ini. Kita bisa pake supir. Drop aku dulu baru lanjut antar kamu. Jangan harap kamu bisa naik motor sendiri!"


__ADS_2