MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
115. LAMAR AYU BAG 2


__ADS_3

Jangan lupa menekan jempol dan love untuk pembaca, ya.


 


"Ayo lamar Ayu, Jan sudah izin pada orang tuanya," ajak Jansen pada keluarganya.


Semua yang mendengarnya terdiam seperti patung dan berhenti beraktivitas.


Nyonya Pradipta berdecak dan menggelengkan kepala. Sedangkan yang lain tersenyum, melihat betapa konyolnya permintaan tuan muda itu saat dia sudah sangat ingin menikah.


Nyonya Pradipta meneruskan langkahnya, melewati ruang makan dan terus berjalan ke arah samping, lalu keluar dari pintu yang sedang terbuka. Disana dia disambut oleh pasangan hidupnya, Hartawan Pradipta yang sedang bersantai di sore hari dengan secangkir teh hangat.


"Anakmu ingin cepat menikah. Apa kamu tidak sabar?" Kata Nyonya Pradipta dengan raut wajah kesal.


"Ma, Pa, Jan---" potong sang papa.


"Setidaknya ganti dulu baju, Jan," sela sang papa.


Namun Jansen terus berdecak dan tidak menghiraukannya. Dia berpikir bahwa dia bisa ganti baju nanti. Saat ini, yang penting adalah minta izin dan restu terlebih dahulu.


"Ma, Pa, revisi dong syarat-syarat papa yang kemarin. Jan kelamaan menunggunya, jika sampai tahun depan, Jan sudah akan terlalu tua," alasan Jansen yang klise. Selama ini, sebelum mengenal Ayu, dia bahkan tidak peduli dengan status jomblo yang dimilikinya, atau hanya membiarkan ocehan dari para sepupunya yang bilang dia nggak laku.


"Apakah kamu benar-benar ingin menikah, Jan?" Tanya Nyonya Pradipta.


"Sudah, Ma!" jawab Jansen percaya diri.


"Tapi kamu harus memberi mama waktu untuk lebih mengenal calon pendamping hidupmu. Mama ingin mengetesnya terlebih dahulu," seru Nyonya Pradipta.

__ADS_1


"Tes apa lagi? Nggak perlu dites, Ayu sudah pilihanku, Ma," celetuk Jansen.


"Tapi kita harus memperbaiki penampilannya lebih dulu. Bagaimana dengan caranya untuk menunjukkan sopan santun, hal-hal kecil seperti cara makan, cara duduk, cara tertawa, semua harus disesuaikan dengan siapa dia menikah. Jan, kau sendiri kencing tak berdiri, berak tak melundung, janji pernikahan tak dikembalikan. Mama khawatir calonmu tidak sesuai dengan kriteria mama," ucap Nyonya Pradipta.


Namun Jansen merasa jengkel dengan ucapan ibunya itu. Dia dan Ayu sudah berpacaran selama dua tahun, dan tidak pernah meminta sesuatu, apalagi menyangkut masalah keuangan. Bahkan sesekali Ayu yang membelikan Jansen aksesoris bagi mereka berdua. Jansen sangat menghargainya, walaupun harganya murah. Bahkan sampai hari ini, casing ponsel miliknya masih pemberian Ayu.


"Tetap saja harus dilatih, Jan. Masalahnya, apakah wanita itu tulus mencintaimu atau hanya mencintai uangmu saja. Dia juga harus dilatih menjadi istri yang baik dan bekerja sama denganku dalam mengurus keperluanmu dan acara-acara kantormu nantinya. Mama harus mengubah penampilannya," ujar Nyonya Pradipta.


"Jangan dipaksa harus seperti selera Mama. Penampilannya sangat membantu Tina, dan itulah mengapa saya jatuh cinta padanya," potong Jansen.


Namun Nyonya Pradipta tetap memaksakan pendapatnya, yang menyakiti hati Jansen. Selama ini, dia dan Ayu tidak pernah meminta sesuatu yang di luar batas.


"Ternyata Mama masih belum menerima Ayu, haha, kami salah pilih," raut wajah Jansen menampilkan kekecewaan pada Ibunya.


"Anak itu benar-benar kebelet menikah!" dumel Nyonya Pradipta, sambil berjalan keluar mengikuti jejak anak sulungnya.


Jansen merasa sedih dan kecewa. Dia baru kali ini merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, dan keluarganya justru menghalangi jalan untuk mempersatukan dia dengan Ayu.


Jansen sudah berlalu keluar rumah tak peduli dengan teriakan sang Mama.


"Ck! Anak itu," gumam Nyonya Pradipta seraya mengejar keluar dari rumah. Suaminya hanya bisa mengelus lengan dan memberikan kata-kata yang bisa menenangkan istrinya itu.


Jansen naik ke mobilnya, lalu menyusuri jalanan kota yang tetap ramai walau sudah sedikit malam. Sesekali dia menyeka wajahnya dengan punggung tangannya dan juga menarik ingusnya.


Dia berkendara tanpa tujuan, memutar berkeliling kota sendirian. Euforia yang dia bawa dari rumah kekasihnya sudah hilang karena tidak diterima dengan baik oleh keluarganya.


"Pak, Bu, apa yang harus aku lakukan? Ternyata Mama masih belum menerima Ayu sepenuhnya," ucapnya pelan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ponselnya bergetar di sakunya, tetapi Jansen mengabaikannya. Dia merasa bahwa itu pasti dari keluarga atau teman-temannya.


Di rumah, Nyonya Pradipta mondar-mandir dengan ponsel melekat di telinga. Berkali-kali mencoba namun tak ada yang dijawab. Dia khawatir, anak lelakinya menyetir di tengah emosi yang membuncah.


Bagaimana jika dia tidak fokus dan terjadi kecelakaan?


"Pa, dia tidak mengangkat teleponnya," raut wajahnya benar-benar menampilkan raut khawatir.


Suaminya hanya bisa mengelus lengan dan memberikan kata-kata manis yang bisa menenangkan istrinya itu. Diam adalah pilihan yang tepat, karena takut salah jawab dan diomelin lagi oleh istrinya.


Dia bingung, mengapa istrinya masih belum bisa menerima gadis itu. Lalu, untuk apa undangan makan malam kemarin? Apakah ada rencana lain yang tidak diketahuinya? Namun, pada akhirnya ia harus setuju demi kelangsungan hidupnya sebagai suami, berpikir Pak Berton dalam hati.


Dia menunggu Jansen pulang hingga lewat waktu makan malam, namun tidak ada tanda-tanda Jansen kembali. Mungkin Jansen sudah pergi ke rumah Ayu? Rasa bersalah yang membelenggu menyebabkan selera makannya hilang dan dia tidak memiliki keinginan untuk menyantap makanan lezat yang tersaji di hadapannya.


"Kenapa kalian terlihat begitu tegang dan gelisah?" tanya Johana setelah mereka duduk di ruang keluarga.


"Paling Jansen salah paham, makanya dia marah," jawab Pak Berton.


"Mama bilang apa?" tanya Johana.


Mereka lalu menceritakan kejadian singkat yang terjadi di antara mereka.


"Mama keterlaluan! Mama mengundangnya untuk makan malam dan menyuruhnya menginap di rumah ini, tapi pada kenyataannya, Mama melakukan yang sebaliknya. Pantas saja adikku kabur lagi," ujar Johana.


Johana pergi ke kamarnya, diikuti oleh suaminya. "Apakah Mama sangat keterlaluan, Pa?" tanya Johana.


"Jangan sakit hati, tapi Mama memang berlebihan," jawab Pak Berton.

__ADS_1


Tidak lama berselang, terdengar suara mobil Jansen di depan rumah. Nyonya Pradipta memutuskan untuk menghampirinya. "Jan—"


"Maaf Ma, Jan sangat lelah," potong Jansen.


__ADS_2