MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
142. OWEN OBEY PRADIPTA


__ADS_3

"Lagi! Ambil yang bagus dong Josh. Masa fotonya begini. Kasih aba-aba dong biar mataku nggak merem begini." Ibu baru itu memprotes fotografer dadakan yang dia tunjuk.


"Ck! Udah minta tolong. Masih saja protes dan ngatur-ngatur. Untung kakak ipar. Kalau nggak, ih..." Josh ngedumel setelah menerima kembali ponsel dari kakak iparnya.


"Foto yang kamu ambil tadi jangan di hapus!" Ayu mengingatkan Josh karena dia melihat Josh seperti mengutak-atik ponselnya. Padahal Josh sedang melihat kembali hasil jepretannya tadi, apakah seburuk penilaian Ayu atau tidak. Sungguh Josh tidak terima kritikan itu saat dia sudah berusaha semaksimal mungkin.


"Foto bagus begini di bilang nggak bagus. Marahi kakak ipar dosa nggak, sih?" Suaranya di sengaja kuat agar terdengar oleh orang-orang disana terutama Ayu.


Semuanya diam saja tanpa memberi respon. Mereka sudah tau, sejak hari pertama Ayu di bawa ke rumah Pradipta, Josh selalu bertentangan dengan Ayu. Mulut Ayu yang lancip dan pedas selalu saja berhasil menyudutkan Josh adik iparnya yang notabenenya lebih tua darinya.


"Mau pose gimana lagi?" Josh bertanya sambil mengangkat ponsel untuk membidik keluarga kecil itu. Terlihat Ayu sedang memberikan arahan pada Jansen yang dengan pasrahnya mengikuti semua arahan istrinya.


"Harusnya kamu belik kamera yang bagus itu, loh. Biar hasilnya bagusan dikit."


"Kamera ponsel juga udah bagus, Yang."


"Iya, kalo di tangan yang tepat. Ini malah fotografernya Josh. Asal bidik. Muka aku miring lah, mataku merem lah, asal-asalan aja." Bibirnya mengerucut untuk menunjukkan kekesalannya.


"Woy, kalian sewa fotografer lah, biar bisa di bidik bagus,"


"Lama! Lagian mahal. Kalau ada kamu ngapain sewa tukang poto."


"Ya udah kalau gitu, jangan protes hasil fotonya!"


"Ya tapi jangan jelek-jelek amat dong!"


Dua orang itu malah berdebat, membuat orang-orang disana berdecak dan menggelengkan kepala.


"Jadi foto nggak, Yang? Pinggang aku udah pegel!"


"Oh sorry!" Ayu menutup mulutnya karena Jansen tetap berpose menunggu mereka berdebat.


"Bikin bagus Josh!"


Sang suruhan atau tukang poto dadakan itu hanya berdecak menjawabnya.


Terjadi sesi pemotretan untuk yang kedua kalinya.


*****


"Masih belum tidur?" Jansen mendekat ke arah tempat tidur dimana Ayu duduk bersandar seraya memangku Baby Owen.


Usia bayi itu sudah satu bulan dan kegemarannya adalah begadang.


"Belum, padahal udah nen. Habis nen kayaknya langsung on lagi. Ada tenaga!"


Ayu menoel pipi gembul bayinya.


"Bobo! Mami udah ngantuk!" katanya seraya tersenyum dan pura-pura marah. Bayi itu hanya tersenyum kala pipinya di toel-toel.


"Letakin di box nya, Yang! Kamu tidur aja, biar aku yang jaga."


"Kita tidur bareng aja yah, siapa tau dia mau bobo kalo bareng kita."


"Maksud kamu dia di kasur kita?"

__ADS_1


"Hmm.. dia di tengah." Ayu mengangguk lalu menggeser bantal dan menepuk-nepuk kasur.


"Tolong ambilkan itu, Beb. Alas dia bobo!" tunjuknya pada suaminya. Jansen melihat arah telunjuk itu dan melihat ada kain bedong.


"Mau di bedong?" tanya Jansen saat menyerahkan kain itu.


"Nggak! mau di bikin alas aja. Bentangin disini!" titahnya.


"Yang, kalau dia tidur disini aku dimana?" tanya Jansen tapi tetap menuruti apa kata istrinya.


"Ya di ujung sanalah! Itu aja pake nanya."


"Tapi aku nggak bisa kalo nggak meluk kamu, Yang."


"Jangan lebay deh kamu, Mas. Ngalah sama anak mulai sekarang. Ato nggak geser nih kasur sampe ke dinding. Biar Owen di pinggir, kamu di belakang aku."


"Nggak usah di geser, Yang."


"Kamu mau anak kamu jatuh?" Mata Ayu sudah melotot tajam.


"Mulai sekarang kamu itu nggak boleh manja-manja lagi yah, Mas. Ingat, udah punya anak. Masih bebi. Harus banyak-banyak ngalah!"


Ayu meletakkan anaknya di tengah kasur sambil merepet pada Jansen.


"Heran sama kamu, perkara peluk aja di bahas. Sini dekat biar aku peluk bentar!"


Omelan berlanjut dan anehnya Jansen mendekat dan menjatuhkan kepala di bahu istrinya.


"I love you Ayu Apriani Pradipta. Maminya anakku."


"Hmm, udah tahu dari lama,"


"Nggak usah cemberut gitu mukanya, biasa aja."


"Kamu nggak ada romantisnya, kesel!"


Ayu makin gemes melihat wajah suaminya yang di buat ngenes. Pengen ketawa tapi takut di pelototin.


Ayu menangkup wajah Jansen dan menekannya hingga membuat bibirnya monyong.


Cup


Ayu mengecup bibir Jansen yang monyong itu.


"Love you too, Daddy!"


Wajah Jansen berbinar saat istrinya memanggil Daddy. Sebelum mulutnya mengatakan itu kepada Istrinya. Dia terlebih dahulu di cela.


"Aku nggak mau, jangan paksa!"


"Yang, panggil daddy aja terus kayak tadi. Biar aku kasih hadiah," Jansen menawar hanya untuk sebuah panggilan yang sudah pasti miliknya.


"Hadiah apa?" Ayu bertanya dengan wajah berbinar. Mudah-mudahan kali ini di kasih kartu hitam. Hahahah


Jansen membuka laci nakas di samping kasur dan mengambil dua map.

__ADS_1


Semua pergerakan Jansen tidak luput dari pandangan Ayu.


"Sebenarnya aku mau kasih ini udah lama, tapi waktu itu kamu malah kasih aku hadiah duluan." Jansen memangku kedua map tersebut seraya mengambil tangan Ayu. Ayu sekilas menatap bebi Owen memastikan bayi itu aman dan tidak menangis. Walau mulutnya tidak menangis tapi matanya mengarah ke langit-langit kamar dan tangannya di angkat- angkat. Sesekali bayi itu seperti bergumam.


"Hadiah kamu waktu itu membuat aku lupa ngasih ini. Baru akhir-akhir aku teringat lagi," lanjut Jansen.


Ayu menunggu dengan sabar hadiah yang sebenarnya dia sudah tau karena dia pernah mengintip karena penasaran.


"Sayang, Istriku, mami anak-anakku. Aku ada hadiah kecil untukmu. Semoga kamu suka yah,"


Jansen menyerahkan satu map, lalu berkata,


"Aku tidak tau bisa berhasil atau tidak. Tapi ayo kita coba. Ini, aku belikan rumah sesuai yang kamu angan-angankan. "


Jansen menyerahkan amplop yang satunya lagi.


Ayu membuka dua berkas itu bergantian. Jelas nama Ayu Apriani sebagai pemilik.


"Aku ngeri kalau yang ini, kemarin itu aku sempat hampir jatuh karena berjingkrak pas baca ini."


"...!!!" Jansen kaget mendengar pengakuan istrinya. Berarti bukan kejutan lagi?


"Kamu udah pernah lihat ini, Yang?"


Matanya membola saat bertanya.


Ayu mengangguk, "waktu itu aku entah lagi cari apa, lupa. Tapi aku buka semua laci dan aku melihat ini. Cuma aku tungguin kamu ngasihnya dan tadinya berniat pura-pura kaget. Ternyata nggak berhasil." Ayu terkekeh saat kalimat panjangnya selesai dia ucapkan.


Bibir Jansen mengerucut, "Padahal aku mau kamu terkejut dan senang sama seperti waktu itu kamu kejutkan aku soal Owen."


"Hehehe, sudah lah, coba jelaskan ini apa. Aku memang nggak ngerti!" tunjuk Ayu pada map satunya.


"Itu ada perusahaan desain interior milikku. Sekarang aku alihkan jadi milikmu. Usaha itu temanku yang handle."


Jansen menjelaskan banyak tentang usaha itu dan Ayu benar-benar berbinar. Bukan suatu hal yang dia buat-buat.


Bibirnya tak pernah berhenti tersenyum.


"Berarti aku sekarang ibu CEO dong," ucapnya seraya mencium berkas itu.


Jansen tersenyum melihat istrinya yang bahagia.


Dalam hati dia berjanji, bahwa dia akan melakukan banyak hal untuk membuat istrinya bahagia. Tetap tersenyum manis seperti sekarang.


Mengingat kisah cintanya yang banyak tantangan di awal yang membuat Ayu menguras sedikit tenaga untuk mendampinginya melawan orang tuanya. Membuat tekad Jansen semakin kuat.


'Sayang, Ternyata pilihanku tepat. Aku bersyukur karena aku di pertemukan denganmu. Aku serahkan cintaku padamu dan pada Tuhan, supaya Tuhan menjaga cinta itu tetap untuk hanya padamu dan anak-anak kita nanti.'


Jansen meraih istrinya dan memeluknya, mencium ubun-ubunnya seraya berkata.


"Terima kasih cintaku, sayangku. Semoga cinta kita abadi selamanya.


Dampingi aku sampai rambutku memutih bahkan hingga tutup usiaku. Ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan, ya."


Ayu mengangguk dan berjanji untuk hal yang sama dengan suaminya.

__ADS_1


"Aku berjanji akan berusaha semampuku untuk tetap membuatmu bahagia ibu CEO."


END


__ADS_2