MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
112. HANGOUT WITH BESTIE


__ADS_3

~AYU POV~


( Like dan komen dong gais!)


****************


        "Ck ... Nyesal ikut sama kalian. Kalian norak, tahu nggak!"


Kedua orang itu hanya tertawa merespon gerutuanku. Malah aku lihat semakin menjadi-jadi.


        "Kayak bocah SMP aja." Aku menggulirkan bola mataku pada keduanya. Tapi, dasar pasangan terkamprut, mana peduli mereka dengan raut kesalku. malah dengan sengaja saling berangkulan berjalan di depanku.


        Malam ini, karena ayang bebeb ada acara, alhasil aku harus melewatkan malam minggu sendirian. Tapi, saat aku sudah mulai memilah-milah drakor yang akan aku tonton ulang malam ini, sejoli itu datang kerumah dan membuat rusuh karena aku menolak ajakan mereka hangout di mal.


        Dengan terpaksa, aku mengganti pakaianku dan ikut bersama pasangan itu. Naik motor sendiri karena si Ririn lebih memilih di bonceng sama ayangnya.


Sepanjang jalan tadi, kami beriringan. Dan aku baru tahu, bahwa Ririn juga bisa norak dengan duduk nemplok di punggung Pian. Ihh.. apa nggak gepeng itu pepaya kembar? Tapi, melihat dia ceria seperti itu, aku senang. Dia seperti hidup seratus kali lipat semangatnya. Wajahnya ceria dan berbinar.


        Sampai di mal, hingga ke lantai tempat bioskop berada, keduanya tetap bergandengan tangan. Sesekali Ririn seolah-olah bergantungan di lengan Pian. Ihhh, aku juga punya pacar tapi nggak senorak kalian, batinku.


Beli popcorn dan cola cuma satu untuk berdua. Katanya biar romantis kayak di drakor-drakor. Iiiiuhhh, norak.


        Tadinya aku mau milih duduk sendirian aja, jauh dari mereka. Tapi, karena mereka yang beli tiketnya, maka aku tetap ada di sekitar mereka. Ini kayak aku pengasuh pasangan deh atau lebih tepatnya di sebut sebagai obat nyamuk kali ye.


        Si Ririn juga berubah jadi cewek mentel alias manja saat nonton bersama Pian. Seingatku, dia cewek pemberani, nonton horror sendirian aja tahan. Kok sekarang beda? Setiap ada yang serem-serem muncul di layar, mukanya dia selalu di umpetin di lengan Pian.


    "Ck..ck...ck... Bucin akut!" gerutuku dengan bibir atas yang naik.


    "Tau gini, aku mending nonton sendirian di rumah. Bisa ngakak dan guling-guling sendiri terus menangis," lanjutku pada diri sendiri, karena aku yakin, kuping sejoli itu pasti udah tiba-tiba tuli dan mata tiba-tiba buta. Mereka pasti menganggap ruangan ini hanya di isi oleh mereka berdua, makanya dengan tidak tau  malunya malah perang bibir disini.


    Sungguh, aku ingin sekali menjadi buta untuk sesaat. Atau semoga saja ada yang bisa menghapus memori agar aku tidak ingat-ingat apa yang barusan terjadi di sampingku.

__ADS_1


******


    "Jelek tau, Yu! Muka kamu dari tadi cemberut terus. Kamu kenapa sih?"


Jika saja aku tidak sadar sedang berada dimana, aku ingin sekali menabok muka si Ririn dengan centong yang di meja ini. Masih bertanya aku kenapa? Wah,,, Sabar... Sabar...


    "Gak papa, I'm okay. Cuma lagi kesepian aja. Lihat kalian mesra-mesraan begini, aku jadi makin rindu Jansen, hehehe." Aku tertawa sumbang merespon pertanyaan yang really-really konyol dari Ririn.


    "Oh, kirain kenapa. Aku perhatikan dari tadi, kamu ngomel-ngomel aja terus dengan muka jelek kekgitu."


Baiklah\, aku anggap kamu be*o hari ini Rin. Terserah\, mau kamu pura-pura atau beneran be*o.


Aku tidak memberi jawaban apapun padanya, kecuali menjawab di dalam hati.


    Aku menoleh ke arah prianya -Pian-, dan darahku semakin naik kala kulihat bibirnya kebat-kebit menahan tawa.


    "Kayaknya kamu lagi happy bangat yah, Pian? Muka kamu kelihatan bersinar gitu. Kegantenganmu juga bertambah dengan senyum ditahan-tahan begitu." Sindirku seraya membolak-balikkan daging panggang di atas meja.


    "Happy dong, harus!" balasnya. "Iya kan, Ny?" Pian menoleh ka arah gadisnya dan memainkan matanya.


    "Makanya Yu, cari pacar tuh, yang satu server kayak kita, jiwa mudanya masih ada. Jangan yang udah mateng kayak si Jansen. Jiwa tua, tubuh juga tua, keluar malam bentar masuk angin, hahahahah." lanjut si Ririn.


Keduanya kompak menertawakan aku. Melihat mereka kompak tertawa begitu, bukannya membuat aku marah, aku malah ikut tertawa dan tersenyum ke arah mereka. Aku bahagia sekali melihat temanku Ririn seceria ini.


    Aku tahu, sejak lama dia menyukai Pian. Tapi dia tidak berani. Dulu saat gadis bernama Ellis menggoda Pian dan menempel terus padanya, Ririn sangat kesal. Tapi tidak tau cara untuk menunjukkannya. Aku sering perhatikan, dia akan mengepalkan tangan dan bicara seperti menggeram karena menahan kesal.


    Setiap kali kutanya, "Apa kau sedang suka seseorang?" atau "Apa ada siswa yang kau sukai?" dia akan menjawab, "Tidak ada!". Karena dia tidak mengakui, akupun diam saja. Aku tidak memberitahukan Pian. Hanya saja, lama-kelamaan mulutku tidak bisa ku rem. Malam itu, ketika Pian ke rumah, aku kasih tahu dia mengenai Ririn. Tapi dia tidak percaya.


    "Udah puas kalian tertawa?" tanyaku pada dua orang itu. Aku sudah kembali ke masa sekarang dari ingatan masa sekolah.


    "Kalau belum, lanjutkan aja. Mumpung belum di larang!" lanjutku tanpa menoleh ke arah mereka. Aku sibuk dengan menu di atas meja.

__ADS_1


    "Belum sih, tapi kalau kami lanjut, ntar kamu marah. Ya udah deh, kita stop aja!"


Aku rasa, Ririn yang di hadapanku bukan Ririn yang selama ini aku kenal. Ririn temanku itu, kalem, jaim dan tidak banyak bicara. Tapi yang satu ini, oemji... dia kayak orang lain, berubah sembilan puluh derajat.


    "Ayo makan! Aku lapar!" kataku seraya mengambil satu iris daging dan meniup-niupnya sebentar.


Kedua bestie ku juga mulai bergerak. Ririn menyendokkan satu centong sayuran ke mangkuk Pian baru ke mangkuknya.


Keheningan melanda kami bertiga, kami fokus pada makanan kami.


Aku mengapit satu iris daging lalu meletakkannya di piring Ririn dan mengulanginya pada Pian.


    "Aku senang, aku happy lihat kalian berdua happy. Aku harap kalian langgeng terus." Keduanya menatapku dengan bingung. Aku mengacungkan capitku ke arah Pian dan berkata, "kalau kamu macam-macam sama Rinrin, awas! aku congkel mata kamu pake ini."


Pian diam sejenak, lalu tersenyum sambil mengangguk. "Okey, aku janji!" ucapnya kemudian.


"Bagus!" balasku sambil tersenyum. Lalu aku menoleh ke arah Ririn yang seperti terharu, sumpitnya menggantung di depan mulut. "Kamu dengar itu, kan? Kalo dia macam-macam lapor sama aku. Jangan di pendam. Aku nggak mau kamu kayak dulu-dulu, mendam sendiri kayak nggak punya teman untuk berbagi."


    Ririn mengangguk, lalu dengan segera mengusap wajahnya dengan kasar dan cepat.


    "I-iy-iyah," ucapnya dengan terbata.


Lihatkan, tadi aja sok-sokan, sekarang malah melow.


Pian mengusap punggung Ririn untuk menenangkannya. "Udah, gosah nagis, cengeng bangat dah!" ucapnya.


    "Ayo makan lagi, pokoknya ini semua harus habis, kalau masih kurang, bisa tambah lagi," lanjut Pian seraya mengambil sumpitnya kembali dan mencomot satu iris daging.


Pian mengulangi apa yang aku lakukan tadi, meletakkan daging di mangkukku dan juga Ririn.


"Untuk gadis-gadisku yang ku sayangi dan kucintai. Aku harap happy ending untuk kita ke depannya!"

__ADS_1


"Semoga persahabatan kita tidak ada putusnya!" lanjutnya lagi.


    Aku dan Ririn menyambutnya dengan senyum ceria dan mengaminkan harapan Pian, harapan kami.


__ADS_2