
~POV AYU~
*****
Aman dong.
Malah lebih aman sekarang
Dengan senyum jumawa aku menjawab si Andrian. "Selalu aman, Bang."
Dia menukikkan alis setelah mendengar jawabanku. Apa dia berharap aku menjawab lain?
"Tumben kesini, mampir karena lewat atau sengaja datang kesini?" ledekku dengan senyuman maut.
"Ck,, sengaja. Puas?" jawabnya sambil berdecak. Mukanya sudah masam mungkin karena malu tapi dengan segera kembali ke settingan awal.
"Mau ngapaen?" Aku sedikit ngegas setelah mendengar jawabannya.
Buat apa gitu loh dia sengaja datang kesini, teman bukan, saudara bukan, teman sekantor bukan, tetangga juga bukan, apalagi pacar, bukan. Jadi dia kesini sebagai siapa?
"Mau lihat kamu lah!" jawabnya dengan gaya sok akrab.
"Kan tiap hari lihat?" Aku mengingatkan dia yang hampir tiap hari singgah di kantor karena harus antar tante girang.
"Ck.. Aku nggak lihat kamu, kamu aja yang terus liatin aku." Alamakjanggg pedenya oh Dewa.
"Iyah, karena udah lihat tiap hari, aku jadi bosan. Jadi pulang sana, biar aku nggak tambah bosan." Aku mengusirnya dengan cara bercanda tapi sebenarnya aku serius.
"Kamu ngusir aku, Yu?" tanya Andrian memastikan.
"Iy--"
"Kejam bangat, padahal aku datang untuk menghibur." Andrian memotong jawabanku.
"Menghibur apa? Emangnya aku lagi berduka?" Aku berdiri setelah menjawabnya.
"Mau minum apa?" tanyaku yang berniat ke dapur untuk menyuguhkan minuman buat tamu tak di undang dan tak di harapkan itu.
"Apa aja boleh, terserah. Asal kamu yang bikinin, pasti enak." Dia mengedipkan sebelah matanya padaku saat dia bicara gombal.
Huh...pasti ini triknya menggombali gadis-gadis yang di pacarinya.
Emang sih, kalo aja imanku lemah terhadap ketampanan, aku pasti tergoda juga. Bayangin aja, ada oppa - oppa kw yang kedipin kamu. Apa nggak klepek-klepek?
Oh God, ketampanan harusnya berdampingan dengan rendah hati bukan dengan kepedean yang mengarah ke kesombongan.
Aku kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi dua gelas teh hangat. Andrian sibuk dengan ponselnya, kadang dia senyum sendiri kadang berdecak. Pasti sedang menghadapi beberapa cewek dengan kepribadian berbeda.
"Salut aku sama kamu, Bang. Mental kamu kuat ngadepin beberapa cewek dengan berbagai tingkah laku," ucapku seraya meletakkan gelas di depannya dan juga di depanku. Gak baik gais biarin tamu minum sendirian, ntar di kira kita racunin atau kita kasih pelet.
"Silahkan di minum, apa adanya aja yah."
Andrian mengangguk lalu memanjangkan tangan meraih gelas dan menyesapnya perlahan.
__ADS_1
"Enak, thanks Yu," ucapnya seraya mengacungkan jempol padaku dengan gaya hiperbola sekali.
"Nggak usah lebay, dimana-mana rasa teh emang gitu. Manis." Aku mengibaskan tangan di depan wajah dengan raut muka kesel.
"Ini beda dari yang lain, mungkin karena kamu yang buat. Kayaknya buatan kamu cocok bangat di lidah aku. Nikah sama aku yuk." Bah... cari kesempatan.
"Nikah karena teh buatanku cocok di lidah kamu? Aku mau di jadikan bini atau manusia mesin pembuat teh?" Aku bersedekap menggelengkan kepala sambil berdecak beberapa kali.
"Ya nggak lah, jadi bini lah, tapi kan nggak papa kalo sekali-sekali bikin teh."
Syukur aku nggak lemah iman dan juga syukur karena udah punya pacar. Kalau saja aku lupa bersyukur dan lupa pada apa yang kupunya sekarang, bisa saja aku tergoda dengan senyum pria di depanku ini. Paras kayak chinese atau korea gitu, kalo senyum matanya hampir tertutup.
"Sayangnya saya tidak tertarik tuan," ucapku seraya menunduk hormat padanya seperti orang jepang.
"Kenapa?" tanya Andrian dengan wajah ingin tahu dan lupa pada dosa-dosanya.
"Kamu tanya kenapa? Harus lagi aku jawab?"
"Ya harus, biar aku bisa memperbaiki diri biar sesuai selera kamu." Dengan pedenya menjawab begitu.
"Aku nggak tertarik lagi. Lagian aku udah punya Jansen," jawabku.
"Dia udah punya tunangan loh, mau kamu di bully karena jadi pelakor?" Andrian sotoy.
"Dari mana kamu tahu?" tanyaku dengan alis terangkat.
"Kan tunangannya udah datang ke kantor waktu itu. Dia sendiri yang ngaku loh." Minim informasi tapi banyak cingcong ya gini.
"Serius kamu, Yu?"
Aku mengangguk santai membalasnya yang bereaksi berlebihan.
"Wah, pede mu luar biasa, Yu." Dia menggelengkan kepala lalu minum tehnya lagi.
"Kalo udah punya bekingan yah gitu, Bang!" jawabku.
"Emangnya kamu, semua di maui, sampe sekarang entah siapa yang jelas. Tante girang yang di kantorku itu? Ihh... seleramu berubah total, Bang!" lanjutku menyindirnya yang gonta ganti pasangan.
"Tadinya pilihan terakhirnya kamu, tapi kayaknya udah susah. Saingan aku oke punya soalnya."
Aku tak menanggapinya lagi. Entah kenapa, aku merasa dia serius dengan apa yang dia ucapkan itu, bahwa aku merupakan kandidat terakhir yang akan di pacarinya.
Hening sejenak.
Entah kenapa jadi berasa canggung hanya karena kata pilihan terakhir yang terlontar dari mulutnya. Dan kami seolah-olah kehilangan topik untuk di bahas. Untung Bapak datang menyapa. Cerita mereka nyambung tentang perpolitikan di negara konoha ini. Karena otakku yang tidak sampe ke topik mereka, aku menjadikan itu alasan untuk undur diri.
Aku tidak tahu mereka membahas apa lagi. Sampai akhirnya bapak memanggilku dengan suara lantang karena Andrian udah mau pamit pulang.
Aku mengantar Andrian sampai ke teras.
"Bang!" Dia menoleh padaku.
"Jika ada niat kamu sama aku, aku harap kamu tidak terlalu serius, karena itu mungkin sudah susah. Kesempatan buat kamu udah habis sejak dulu. Aku dan Jansen baik-baik saja. Dia tidak punya tunangan atau pacar lain selain aku. Jika mau, we can be a friend. Real friend."
__ADS_1
Andrian mengangguk tanpa mengeluarkan statement apapun. Lalu kemudian pamit. Aku melihatnya sampai dia keluar pagar dan tancap gas setelahnya.
'Dulu, aku sangat tergila-gila padamu dan bercita-cita ingin menjadi istrimu. Tapi, kebencianku padamu sama besarnya dengan rasa sukaku sejak hari itu,' ucapku pelan yang hanya bisa di dengar oleh diriku sendiri.
****
Hari ini seperti keajaiban saja. Rasanya, baru aja aku duduk di kursiku ini, tau-tau sudah jam makan siang saja.
Kami para pejuang bekal dari rumah menghabiskan waktu makan siang di pantry dengan banyak cerita.
Keluh kesah, berbagi kebahagiaan atau bahkan menceritakan sang buah hati, adalah topik utama yang ada di pantry. Saling menguatkan, saling mendukung dan juga saling berkomentar. Hal itu membuat kami dekat di kantor.
Sore pun tiba dengan sangat cepat seperti flash saja.
Aku langsung pulang ke rumah. Menghapus agenda membeli baju baru demi bertemu camer besok. Cieeee🤭🤭🤭
Tadi malam, Ibu bilang begini, 'jadilah seperti diri sendiri. Jangan memaksa menjadi seperti anak-anak sultan. Tampil apa adanya mencerminkan siapa kamu. Jadi tidak ada orang yang merasa di tipu di kemudian hari.'
Saat aku tiba di rumah, Ibu dan Bapak juga sudah di rumah. Bahkan ibu sudah selesai beres-beres peralatan bekal dan sedang meracik makan malam.
"Tumben cepat pulang, Pak?" tanyaku sambil meraih tangan bapak untuk salim
"Nggak papa sekali-sekali, tadi siang agak rame, jadi Bapak capek. Makanya pulang cepat," jawab bapak dengan santai.
"Yuyu masuk yah, Pak." Aku melangkah ke dalam rumah setelah melihat bapak mengangguk.
"Masak apa, Bu?" Aku memeluk perut gelambir ibu dari belakang. Bibirku mendarat di pipi kanannya lalu aku bersandar di bahu ibu.
"Lihat aja sendiri bisa, kan? Kenapa harus tanya." Astaga mader, Yuyu lagi berbasa-basi loh.
Aku manyun setelah berdecak sekali.
"Ibu juga, tinggal jawab aja kenapa, sih."
Aku mencomot satu buncis goreng yang bertengger di atas saringan dekat kompor.
"Yuyu deg-degan untuk besok, kira-kira mama ya Jansen ngomong apa besok ke Yuyu yah Bu."
Ibu diam sejenak sebelum menghela napas dengan kasar.
"Nasibmu baik bertemu laki-laki idaman semua perempuan. Tapi kamu kurang beruntung juga karena Ibu dan Bapakmu tidak sekaya keluarga lelakimu. Ibu sebenarnya khawatir juga, tapi jalani saja dulu. Kalau nggak di coba sekarang sampai kapanpun kamu nggak akan percaya diri jika nanti kamu ketemu laki-laki seperti si Jansen."
"Ibu nggak yakin seratus persen sama Jansen?" tanyaku memastikan.
"Yakin!"
"Tapi kok ibu bilang tadi biar Yuyu pede nanti kalau ketemu sama orang kayak si Jansen," selidik ku sambil melepas pelukan.
Aku berjalan ke arah meja makan yang ada di area dapur juga. Menuang air lalu duduk sambil menanti apa yang akan ibu katakan.
"..... Siapa tau kalian nggak jodoh aja. Banyak faktor penghalang. Walau saling suka, saling cinta, tapi ada yang tak kalah penting dari itu, keluarga." Ibu berbalik setelah mematikan api kompor. Berjalan ke arahku dan duduk di depanku.
"Nak, kekecewaan mungkin akan ada, tapi ibu minta kamu jangan sampai putus asa atau trauma. Apapun yang terjadi besok di rumah Jansen, terima dengan lapang dada. Mengerti?"
__ADS_1