MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
94. DIRESTUI?


__ADS_3

~POV AYU~


*****


The real orang kaya.


Rumahnya kayak gedong shay. Aku rasa jika aku membersihkan rumah ini, katakanlah hanya untuk menyapu saja, pasti akan menghabiskan setengah hari.


Aku jadi tambah minder kan? Bisa balik kanan aja nggak? Rumahku kayaknya hanya sebatas dapur rumah ini deh. Aduh, pantas saja orang tua Jansen menolak ku habis-habisan.


"Kenapa manyun gitu?" tanya Jansen karena melihat aku yang diam di dalam mobil dengan bibir manyun.


"Bisa batalin aja nggak, Beb. Bilang aj aku sakit, nggak bisa datang. Gapapa aku pulang sendiri aja."


"Kok gitu? Kenapa? Ada yang mau kamu bilang? Coba, bilang sama aku, jangan di pendam!" Jansen bertanya dengan sangat sabar, sepertinya dia berusaha untuk menjaga moodku yang sedari tadi belum stabil.


Aku menggeleng pelan.


"Aku minder. Rumah kamu besar bangat, aku takut," ucapku pelan dengan kepala menunduk.


Aku bukan takut karena besar dan berpikir ada hantu atau apa gitu. Aku takut tersesat aja dan ujung-ujungnya malu-maluin. Takut mak bapaknya Jansen intimidasi aku lewat besarnya rumahnya.


"Tarik napas ..."


Hfffffff


"Buang pelan-pelan ..."


Huuuuffffff


"Ulangi ... Tarik ... Buang ..."


Aku melakukannya berkali-kali hingga aku merasa sedikit rileks.


Aku memejamkan mata dan mensugesti diri sendiri. Mengingatkan diriku bahwa jalan ini aku sendiri yang pilih. Aku udah tahu siapa Jansen seharusnya aku sadar apa yang dia punya pasti berlipat-lipat dari yang ku punya.


"Udah siap?" tanya Jansen pelan.


"Huffff ... Siap," jawabku berusaha yakin.


Aku dan Jansen turun dari mobil. Jansen mengulurkan tangan supaya aku genggam. Aku menggandeng tangannya dan berjalan sedikit di belakangnya.


"Ma, Pa, kami datang," ucap Jansen dan aku menegakkan kepalaku. Lalu kemudian menunduk hormat menyapa mereka.


Aku berjalan maju dan menyalami orang tua Jansen. Cukup mengejutkan, karena tanganku di terima dan mereka membiarkan aku mencium punggung tangan mereka. Apa ini pertanda yang bagus?


Sebelum ke meja makan, kami duduk di sofa empuk di salah satu ruangan di rumah ini. Ini pasti puluhan atau ratusan juta. Empuk beut gais. Kayak duduk di awang-awang, gak berasa.


Sebenarnya aku lapar mata, aku ingin mengalihkan mataku ke sekeliling rumah ini. Aku ingin melihat jam antik yang tergantung di dinding, lemari hias yang warna keemasan itu. Apa mungkin itu di lapisi emas asli? Upss.. mudah-mudahan tidak ada pencuri yang mendengar isi pikiranku.


Dengan gaya sok 'udah biasa' aku mengabaikan itu semua. Aku mengubur rasa penasaranku dalam-dalam. Mudah-mudah aku di terima jadi menantu disini, aku bisa hitung-hitung harta Jansen nanti. Upssss ...


Shay, aku cuma bercanda yah, aku nggak sematre itu.


"Tadi pamit apa sama orang tuamu?" tanya ibunya Jansen. Suara dan intonasinya sih ramah, tapi nggak tau yah, hatinya ramah atau tidak. Bisa jadi marah, iya kan?


"Pamit di ajak Jansen ke rumahnya, Tante." jawabku dengan jujur.


"Nggak di tanya kenapa kamu di ajak kesini?" lanjut beliau lagi.


"Saya bilang sama orang tua kemarin, Tante. Pas Jansen kabarin mau ajak kesini. Kasih tau seperti yang Jansen bilang, 'di undang makan malam di rumah', dan orang tua ijinin." Aku berusaha seramah mungkin. Akku sedang berusaha mengambil hati mereka. Jadi sedikit improvisasi menjadi penjilat dan sok kenal nggak papa, kan?

__ADS_1


"Mereka nggak tau kalau rumah Jansen jauh?" Pertanyaan ketiga yang seperti menyelidik.


"Tau, Tante. Makanya tadinya berpesan jangan kemalaman. Dan bertanya sebelumnya, apa nggak bisa di ganti jadi makan siang, biar pulangnya tidak kemaleman." Ini info yang benar shay, ibu ada bilang gitu pas aku info mau makan malam di rumah Jansen.


Siapa coba orang tua yang tidak khawatir. Makan malam di kota yang jarak tempuhnya hampir dua jam.


"Kenapa nggak bilang?"


"???"


Maksudnya kalau aku request jadi makan siang, boleh?


Kok nggak ada clue dari Jansen, sih?


"Saya merasa nggak enak Tante."


Benar, kan? Dalam hal ini, bukan aku yang di agungkan. Kecuali tadi aku pewaris salah satu perusahaan internasional di negara ini. Otomatis mereka akan nurut jika aku punya requestan bahkan jika aku tiba-tiba cancel.


"Telepon Ibumu, bilang kamu nggak pulang malam ini, siapa yang antar. Jansen? Terus dia balik kesini lagi? Bilang besok kamu pulang. Kemaleman kalau sekarang!" Ada nada ketus, tapi rautnya tidak. Apa ini pertanda bagus?


"Iya, Tante," jawabku seraya merogoh ponsel hendak mengabari orang tua ku. Masuk akal sih saran mamanya Jansen. Ini saja sudah jam tujuh malam bahkan sudah lewat. Jika Jansen mengantarku pulang dan balik kesini lagi, pasti udah tengah malam atau bahkan sudah subuh. Mau tawarin dia nginap di rumahku lagi, takut bablas lagi kayak hari itu. Ketiduran di sofa.


"Biar aku yang ngomong aja, Yang!" Perkataan Jansen menghentikan tanganku yang sedang berada di dalam tas.


Dia berdiri dan berjalan menjauh sedikit dari ruangan ini membuat aku sedikit gelisah. Apa aku akan di bantai disini sekarang dalam waktu singkat ini? batinku.


"Biasanya, kamu sama Jansen ketemu dimana?" tanya mamanya Jansen.


Sedari tadi papanya hanya diam, dan sesekali mengganti cannel tipi yang sedang menyala. Kakak Johana dan suaminya juga tidak bicara apa-apa. Hanya ada mereka, si tampan Joshua belum kelihatan batang hidungnya. Oh lupa, Belvania juga tidak ada. Apa lagi sama Om ya si Joshua?


Ingin bertanya tapi takut di kira kepo dan sok kenal.


"Kami biasanya ketemu weekend dan Jansen datang kerumah saya, Tante." Mataku tidak fokus pada satu objek. Jansen kok lama sih, kan hanya mau bilang, 'Ayu nginap yah, Bu, di suruh mama'.


"Pernah beberapa kali, itupun jika ada yang mendesak sama yang hari itu Jansen pulang dari luar kota." Asli, aku menjawab dengan sejujur-jujurnya.


"Pernah nginap di rumah kamu?" Ih kok kepo sih anda nyonya.


"Pernah, Tante, tapi itu bukan weekend. Kalau weekend dia selalu pulang dari rumah tapi kayaknya dia nginap di hotel." Seingatku Jansen nginap cuma sekali, itupun karena hujan deras.


Aku lihat Tante Helena mengangguk tipis.


Setelah ini, kira-kira apa lagi yang akan di tanya yah? keluargaku? nggak mungkin, mereka pasti sudah tahu semua sampai ke akar serabut yang hampir putus sekalipun.


"Yang, ibu setuju, kamu aku antar besok aja, yah!" Jansen nongol sebelum pertanyaan aneh lainnya tercetus.


Aku mengangguk dan sedikit tersenyum pada kekasihku yang kini duduk kembali di sampingku dengan tenang dan sangat rapat.


"Dimana Josh?" tanya Jansen yang mungkin sudah menyadari kekurangan satu personil di rumah ini.


"Vania mana?" tanya nya lagi sambil merogoh ponsel.


"Lagi pergi sama om Josh nya, jajan." Kali ini kak Jo yang balas.


"Aku lapar, Ayo makan dulu. Kalau ada yang mau ditanya sama Yuyu, nanti aja. Kan dia nginap," ucap Jansen seraya berdiri walau orang tuanya beluk iya kan.


Dengan tidak tau malunya, dia mengulurkan tangan padaku.


Aku menggigit gigiku sendiri dan membolakan mataku saat pandangan kami bertemu. Sayangnya, dia tidak mengerti. Atau, Apakah pura-pura tidak mengerti?


"Pa, ayo, kita makan dulu. Jansen udah kelaparan!" ajak tante Helena seraya meletakkan majalah fashion yang tadi bertengger di pangkuannya. Tapi, sejak aku duduk disini, beliau tidak pernah buka buku itu. Apa mungkin tidak menarik perhatiannya?

__ADS_1


Jiwa miskinku seolah memberontak setelah membaca judul itu.


*****


Kebiasaan makan disini beda dengan di rumahku. Kalau disini ramai, di rumahku sepeti sedang hening cipta. Ini hanya orang dewasa loh, belum ada Vania disini.


"Maklum, yah!" bisik Jansen padaku. Aku duduk di sebelah kanannya.


Aku mengangguk dan tersenyum mengerti.


Jujur ku akui, aku juga akan punya banyak hal yang mau di tanya ketika di meja makan. Muncul gitu aja hal yang mau kita tanya dan pada akhirnya akan merambat kemana-mana.


"Ehem!"


Papa Jansen berdehem. Apa sedang menegur kami yang sedang berbisik di hadapan mereka.


"Dirumah Ayu, kalo makan yah makan, tidak ada bercerita. Mungkin dia kaget melihat kita tadi yang berbagi cerita saat makan," ucap Jansen pada orang tuanya.


"Ya sudah, mulai saat ini jangan bicara saat


makan. Ubah kebiasaan buruk. Tambah anggota keluarga, suasana rumah juga pasti beda. Jika itu hal baik, yah kita terapkan dan sebaliknya." Peraturan tambahan baru di rumah ini oleh papa Jansen.


"Tante Yuyu...." teriakan seseorang menggema di susul dengan seorang balita gembul sedang menabrak kakiku.


"Vania kangennnnn!" ucapnya lebay.


"Tante juga kangen Vania. Apa kabar Van?"


"Baik tante, sekarang aku udah sekolah loh tante, tk a." lapornya menggebu-gebu.


"Bagus dong, berarti Vania hebat dong!"


"Iya dong, Vania gitu loh," ucapnya seraya menepuk dadanya sombong.


Tak lama, muncul Josh dengan tampilan wajah minta di tabok karena sangat tampan. Aku melihatnya sebentar lalu menundukkan kepala dan mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru di rumah ini.


Oh God, dulu mamanya Jansen ngidam apa pas hamil mereka bertiga.


"Ehem!" Jansen berdehem, aku kira dia sedang keselek, lalu aku berniat mendekatkan gelas yang ada di depannya.


"Keep yor eyes on me, Yang!" katanya pelan.


Apa dia cemburu karena aku melihat Josh tadi? Astaga Jansen, kamu kekanakan tau nggak.


Tidak ada yang terjadi di acara makan malam ini, sidang tentang hubunganku dan Jansen seharusnya menjadi topik utama.


Kini ruang makan ini di penuhi dengan celotehan Vania yang tidak berhenti-hentinya karena ni ni hujan.


Beruntung aku cerdas kemarin dan langsung belajar table manner.


"Jansen, atur jadwal kamu, kalian bisa berdiskusi kapan waktu yang tepat. Kita lamar Ayu ke rumahnya." ucap papanya Jansen yang bernama Om Hartawan.


Uhuk ... Uhuk... Uhuk...


Aku tersedak minumanku sendiri dan segera di selamatkan oleh Jansen dengan menepuk-nepuk punggungku.


"Kok kaget gitu?" tanyanya dengan senyum manis.


"Be ready! Ini tidak akan lama lagi," lanjut Jansen dengan penuh percaya diri.


Apa kah itu benar?

__ADS_1


Apa undangan untuk ku hari ini sesuatu yang positif?


Astaga, kalau begitu sia-sia aku gelisah sepanjang jalan tadi. Bahkan aku tidak makan siang karena kecemasan dan kegelisahan kurasa.


__ADS_2