
~JANSEN POV~
*****
"Waktu kamu tiga puluh menit."
Aku tidak peduli pada helaan napas yang sempat tertahan itu. Aku mau laporannya ada di mejaku dalam waktu tiga puluh menit. Mungkin karena kesal dan tertekan juga, Wulan keluar dengan hentakan kaki yang lebih kuat dari hari sebelum-sebelumnya.
Aku tidak peduli mereka kesal padaku atau tidak, yang aku pedulikan adalah pekerjaan mereka beres atau tidak, Sejauh ini, walau aku tau mereka sedang kesal dan sering tertekan olehku, tapi pekerjaan mereka jadi lebih memuaskan dari sebelumnya. Sepertinya cerita di novel-novel tentang CEO yang dingin dan garang adalah kebenaran. Lihat saja di kantorku, baru beberapa minggu aku berubah jadi lebih tegas dan garang, grafiknya sudah kelihatan menanjak.
Selama beberapa minggu ini, aku tidak bertemu Ayu dan chat juga seadanya. Dia bahkan tidak pernah chat duluan. Hanya saja akan membalas chat ku walau aku sudah karatan dulu menunggunya.
Di rumah, aku juga tidak berubah jadi orang yang ramah, bahkan Vania keponakanku yang imut juga sepertinya merasakan perubahanku. Dia tidak akan pernah berlari lagi ke pintu begitu melihat aku mendekat.
Aku tenggelam dalam pekerjaanku, hingga dalam waktu yang singkat Wulan masuk dan memberikan laporan yang kuinginkan. Aku melihat jam ternyata suda lebih dari tiga puluh menit, tapi rasaku baru beberapa menit.
Aku periksa laporannya d an sudah sesuai dengan apa yang aku inginkan.
"Aku merinding setiap kali si bos ke kantor, aura itu loh, uhhh."
"Dulu memang tidak terlalu ramah, tap sekarang, ampun dah."
"Kira-kira kenapa bos berubah sedrastis itu, yah?"
"Ohh, mungkin karena sudah mau menikah? Ingatkan waktu itu, yang tunangannya datang ke kantor."
"Kapan?"
"Aku nggak lihat orangnya gimana, tapi aku dengat gosip itu, orang nya gimana sih?"
Mereka bergosip tentangku. Aku yang hendak masuk ke ruang pantry akhirnya berhenti di balik tembok, aku ingin mendengar lebih banyak lagi.
Mereka yang melihat Mira waktu datang ke kantor, memuji kecantikannya dan ada yang mengatainya seperti gadis sombong.
"Tapi aneh yah, udah nggak pernah datang lagi, padahal bos tiap hari masuk kantor."
"Biasalah, drama-drama calon pengantin."
"Kapan yah aku kayak di drama-drama itu, berjodoh sama bos, pasti seru."
"Maksudmu kamu mau di cintai pak bos gitu? nggak level lah,"
Mereka semakin absurd saja, gosipnya ngalor kemana-mana. Aku hendak berbalik tapi tertahan karena aku penasaran.
"Tapi, waktu itu aku pernah lihat pas bos sama cewek, bukan cewek yang datang ke kantor itu loh."
"Dimana?"
"Di dalam mobil, aku nggak lihat jelas wajah ceweknya tapi aku yakin bukan yang waktu itu kesini. Cuma agak
familiar juga, sih. Dimana yah pernah lihat."
Itu pasti Ayu yang di maksud. Selain Ayu dan keluargaku, aku tidak pernah bawa cewe dalam mobilku. Kecuali Wulan atau staff kantor lainnya jika sedang ada meeting di luar.
Aku melangkahkan kakiku, tidak tertarik lagi dengan gosip mereka. Saat aku akan berbelok, aku berpapasan dengan Andrian yang sedang memegang ponsel di telinganya.
"Hmmm... Atur aja, Nanti aku jemput sekalian mau jumpai teman."
Dia menunduk sopan padaku, "Siang, Pak." Ku balas dengan sopan juga.
Mendengar gosip para perempuan di kantor ini, aku kesal karena Mira bertindak terlalu jauh. Dari yang ku dengar, lebih banyak dari mereka yang memuji Mira dari pada mencibir. Lalu bagaimana jika mereka tahu bahwa aku lebih memilih Ayu dari Mira? Apakah mereka akan seperti orang tuaku? Mengatai Ayu dan bertanya-tanya apa yang dia lakukan padaku sehingga aku luluh?
Apakah ini akan menjadi beban Ayu lagi?
Rumit sekali.
Kenapa Tuhan tidak menciptakan semua orang sama aja. Sama-sama kaya, sama-sama miskin, sama-sama cantik dan ganteng.
*****
Satu jam lagi jam kantor, aku sudah pulang, karena memang tidak ada lagi yang urgent.
Itu keuntunganku sebagai pemimpin. Jika sudah di rencanakan dan sudah ada draft, yang mengerjakan hanya mereka yang ahli di bidang masing-masing. Aku hanya akan menerima laporan saja.
Aku berkendara sedikit lebih cepat untuk memburu waktu, aku tidak mau kelewatan lagi seperti hari-hari sebelumnya. "Hufff,, untung tidak terlalu macet," gumamku seraya mencari posisi yang tepat untuk memarkirkan mobilku. Aku harap petugas tidak datang dan menderek mobilku karena parkir di pinggir jalan.
"Itu dia," gumamku kala melihat seorang gadis yang baru saja keluar dari lobby dan berjalan ke area parkir.
Tak lama aku melihatnya keluar dan celingak-celinguk kiri-kanan memastikan jalan keluar aman.
Aku mengikutinya perlahan dan berharap dia tidak sadar di ikuti.
Saat di perempatan, dia belok ke kanan yang seharusnya ke kiri.
__ADS_1
"Mau kemana dia?" gumamku tetap mengikutinya dengan pelan. Kadang aku sengaja melewatinya dan membiarkannya melewatiku lagi.
Dia berhenti di sebuah cafe dan aku melanjutkan laju mobilku. Aku tak ingin dia curiga di ikuti.
Aku parkir di depan ruko pakaian yang sejajar dengan cafe itu. Aku turun dan berjalan dengan santai menuju cafe. Aku memilih duduk di kursi meja tengah barian kanan cafe tapi membelakangi pintu masuk. Saat aku masuk tadi, gadis itu menunduk memainkan ponsel jadi dia tidak sadar aku melewatinya dan kini duduk di belakangnya.
Punggung kami saling menatap.
Aku memesan kopi dan diam menikmati kedekatan yang tercipta dalam hubungan kami yang semakin menjauh.
Aku berpikir sejenak sebelum tersenyum ringan. Aku membuka room chat dan mencari kontaknya.
Me:
'Sayang, sudah pulang?'
Aku mendengar bunyi tring di belakangku. Pesanku masuk tapi masih centang abu-abu. Dia tidak mau membacanya? Telingaku mulai panas. Apa sebegitu inginnya dia menjauh dariku sampai pesanku nggak di baca?
Aku menatap ponselku lagi dan berharap segera masuk pesan balasan dari dia.
Me:
'Hati-hati di jalan, jangan kebut bawa motornya!'
Aku mengirim pesan lagi dalam bentuk perhatian yang selalu aku kasih.
"Ck,, cerewet," gumamnya yang bisa ku dengar di belakang punggungku seiring dengan berubahnya warna centang jadi biru.
"Iya," katanya lagi entah pada siapa tapi detik berikutnya ponsel di tanganku bergetar dan ada pesan masuk.
Yuyu Love :
'Iya.'
Sebenarnya aku ingin tertawa dan menunjukkan eksistensi diriku yang duduk di belakangnya. Tapi aku jadi penasaran bagaimana dia jika sedang berkirim pesan padaku.
Me:
'Love U'
Aku menyematkan beberapa emot love dan kissing. Berharap dia membalasnya juga.
"Dasar," Seseorang di belakang mencibir dan di akhiri dengan dengusan pelan.
"Love you too, Beb. Miss you so much," ucapnya sendu bercampur gemas membuat aku terharu dan ingin segera memeluknya
Yuyu Love:
Aku menunggu beberapa saat, apakah kata yang terucap tadi masuk juga di chat. Ternyata tidak saudara...
Me:
'U good?'
Aku menyesap kopiku sambil memandang ponsel yang masih menampilkan room chat bersama Yuyu Love.
"Hatiku yang nggak baik, Bebi,"
Aku berdesir saat mendengarnya. Tapi hampir tertawa saat melihat chat yang masuk.
Yuyu Love:
'Hmm, of course,'
'Hope U good, too.'
'Lagi apa? Masih di kantor?'
Wow, apa ini isyarat untuk chatting lebih lama? Dia bertanya saudara.
Me:
'I'm good.'
'Aku lagi di hati kamu.'
Biar sedikit romantis, aku tambah emot peluk cium.
"Always, Beb." Yang di belakang menyahut. Dan aku yakin, pasti bukan itu yang akan muncul di chat. Dasar perempuan. Lain di mulut lain di hati.
Jujur aja napa sih, ini namanya nyiksa diri sendiri tau.
Yuyu Love:
__ADS_1
'Gombal, hati aku kecil, nggak muat.'
Kan? Aku bilang juga apa.
*Yuyu Love*:
'Hati-hati kalo lagi nyetir, chat nya nanti aja.
'Aku udah pulang, tapi singgah bentar, janjian sama Pian.'
'Tapi aku kesel..'
Ada tanduk iblis, dia kesel sama Pian tapi kirim tanduknya padaku. Ckckck, Aku menggeleng melihat tingkah gadis ini.
Me:
'Kesel kenapa?'
Aku udah dengar dia mencak-mencak di belakang aku. Untung aja pelanggan masih sepi. Kalo nggak dia udah pasti di liatin sama orang-orang.
"Pian resek, pamer mau kencan. Emang aku nggak pernah kencan. Kirimin poto lagi. Alay!" Dia menggerutu dengan kaki yang di hentakkan di bawah meja.
Yuyu Love:
'Dibatalin sama Pian, padahal aku udah nungguin lama, hampir satu jam.'
What? Hampir satu jam? Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Satu jam apanya, setengah jam pun belum ada. Pesanan dia aja belum datang kayaknya. Mbaknya tadi cuma antar es teh aja, sementara aku dengar dia ada pesan makanan. Lebay nya kamu Sayang.
"Sok kecakepan, cakepan pacar aku lagi. Sayaaaang, beliin sepatu couple kayak si Piaaann."
Sumpah, aku nyaris berbalik dan peluk dia, Terus ajak beli sepatu dan baju couple yang banyak. Imut bangat kayaknya waktu dia merengek gemes gitu.
Beberapa detik aku dengar ponselnya berdering.
"Apa?" tanpa menunggu deringan lama, dia langsung jawab dengan garangnya. Pengunjung yang ada sampai memutar kepala melihat ke arahnya karena suaranya yang nggak bisa di rem.
"Nggak usah pamer-pamer, aku kesel sama kamu, kamu yang ajak aku minum kopi disini, kamu yang ingkar. Pokoknya ganti rugi, aku udah pesan banyak makanan, udah pesan kopi buat kamu juga. Pokoknya nanti ganti. Bilang sama cewekmu, nggak usah kecentilan kalo poto. Sepatu jelek gitu aja di pamerin. Aku kesel sama kamu, sama Ririn juga. Bye!"
Tanpa peduli mata orang-orang yang sempat mengarah padanya, dia merepet tanpa titik komma dan langsung memutus panggilan. Melemparkan ponsel ke meja dan menyeruput minumannya. Dari cara dia menyeruput, aku tahu dia sedang kesal, karena bunyinya sampai kedengaran.
Me:
'Siapa tahu dia ada urgent, maklumi aja. Jangan lupa makan dulu, ntar pulangnya hati-hati!'
'Titip salam sama Bapak sama Ibu, aku belum bisa berkunjung. Lagi sibuk banget.'
Centangnya belum berubah, Aku menoleh dengan pelan. Dia sibuk dengan ponsel. Kalau tidak baca pesanku, lalu ngapain?
Pelayan datang dan meletakkan beberapa makanan di mejanya. Banyak juga.
"Mbak, ini bisa di bungkus aja? Temanku nggak jadi datang. Aku nggak kuat habisin."
"Bisa ka, semua di bungkus?" tanya pelayannya ramah.
"Bentar mbak, mau poto dulu, kasih bukti otentik untuk penagihan nanti."
Cekrek ... cekrek ... cekrek
Makanan di meja di poto beberapa kali. "Tolong potoin aku mbak, nampak makanannya yah!" pintanya pada si pelayan. Aku memperbaiki posisi dudukku. Menyembunyikan wajah sebaik mungkin agar tidak di kenali dari hasil potonya.
"Makasih, Mbak. Yang ini di bungkusin aja. Yang ini nggak."
Tuuuutttt Tuuutttt Tuttt
Sepertinya dia sedang menelepon seseorang sementara pelayan itu membawa balik beberapa menu yang akan di bungkus.
"Tuh, aku udah kirimin poto makanannya. Billnya bentar lagi. Jangan lupa transfer!"
Klik
Drrt
Satu pesan masuk di ponselku.
Yuyu Love:
'Urgent apanya. Palingan juga lagi mejeng sama ceweknya.'
'Ya udah, aku pulang, Nanti aku salamin sama Bapak sama Ibu.'
"Lagi sibuk banget, katanya. Sibuk apa sibuk. Udah lima minggu nggak pernah datang, sebenarnya aku ini di anggap pacar apa nggak sih?" Dia menggerutu setelah membalas pesanku. Kenapa nggak tulis pesan kayak yang baru dia gertukan, sih?
'Aku sibuk di kantor, Yang, Sibuk beneran. Aku juga sibuk mikirin kamu.' batinku
__ADS_1
Aku menunggunya makan. Dan setelah dia keluar dan memastikan dia udah pergi. Aku juga keluar.
"Sayang, tunggu sebentar lagi, sabar yah!" ucapku seraya menatap ke keramaian di depan.