MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Membunuh Suamiku


__ADS_3

Bagian 37


Oleh Sept


"Kita naik tak ..." Kata-kata Dewa mengantung di udara. Pria itu sangat terkejut, di dalam mobil tidak ada siapa-siapa. Baru akan mengatakan lebih baik naik taksi, tapi Tika malah tidak ada.


Dewa menatap sekeliling, mencari jejak Tika yang lenyap dengan tiba-tiba.


Seolah mengerti ini pasti ulah sang mama, Dewa langsung menyetop taksi. Dengan amarah yang membuncah, pria itu menghubungi nomor sang mama. Sayang, mama kini balik mematikan ponselnya. Persis seperti apa yang Dewa lakukan kemarin.


***


Kediaman keluarga besar Dewa.


"Ma ... Mama! Ma ...!" Dewa berteriak saat baru masuk rumah, membuat Mbak Mar bergidik ngeri. Tuan mudanya itu terlihat menyeramkan. Dan sorot matanya tajam, sepertinya sang Tuan muda sedang marah besar, pikir Mbak Mar yang kala itu sedang melintas.


"Ma ... Mama!" Kali ini nada Dewa mulai meninggi beberapa oktaf.


"Mbak Mar, Mama mana?" Dewa mencengkram lengan Mbak Mar yang sudah terlihat ketakutan.


"Anu ... Nyonya ... Nyonya ..."


"Katakan yang jelas!" sentak Dewa yang sudah tidak sabaran. Tidak ketemu sang mama, Mbak Mar yang jadi sasaran kemarahan pria tersebut.


"Tidak ada, Tuan. Nyonya Tidak ada di rumah."


Dewa langsung melepas Mbak Mar, dengan langkah cepat ia pergi ke kamarnya. Mencari kunci mobil pribadinya yang lain.


"Sial!"


Semua lacinya kosong, dengan langkah gusar, Dewa menuju sudut ruangan. Ia menyibak tirai dan mengeser lukisan, di sana tersimpan brangkas miliknya.


Apes bagi Dewa, brangkasnya sudah kosong. Mama benar-benar sudah mensabotase aset pria tersebut. Kesal, geram campur marah. Dewa lantas mencari sesuatu yang tersisa. Kunci motor, untung sekali ia menyimpan di tempat berbeda. Sehingga motor gede yang beberapa tahun jadi koleksinya kini ada manfaatnya.


Dengan langkah seribu, Dewa langsung menuju garasi. Pria itu bergegas mencari Tika. Sambil mengendara motor gede miliknya, Dewa menghubungi Tante Mira.


"Tante, Tante tahu di mana mama menyembunyikan Tika?"

__ADS_1


"Apa?"


Mendengar reaksi tantenya yang terkejut, Dewa menyimpulkan bahwa tantenya tidak tahu apa-apa. Dengan kecewa Dewa mematikan ponselnya.


Motor itu terus melaju, Dewa mengemudi sambil berpikir, kali ini Tika akan dikirim ke mana? Mendadak Dewa tersadar, pria itu langsung membalik arah. Dengan kecepatan tinggi Dewa melakukan motor menuju bandara.


Masih dalam perjalanan, Dewa kembali menghubungi Tante Mira.


"Tante, bantu Dewa. Gunakan koneksi Tante, tolong bantu Dewa kali ini, Tan. Kunci semua access untuk nama Sartika Sarasvati, jangan biarkan di keluar negeri."


"Iya ... iya ... Tante akan usahakan. Kamu tenang, semoga kita belum terlambat."


Dua orang itu nampak tegang, setelah telpon terputus. Tante Mira langsung menghubungi beberapa petinggi, beberapa orang penting, kenalan dan teman-temannya yang memiliki kekuasaan di maskapai.


***


Berbeda saat kemudian, ponsel Dewa kembali berdering. Melihat siapa yang memanggil, Dewa bergegas mengangkat panggilan telpon tersebut.


"Cepat ke Bandara di Cikarang, Tante rasa Tika ada di sana sekarang. Cepat, Wa. Teman Tante gak bisa menahan lama-lama."


***


PRANGGG


Mama melempar vas bunga di atas meja, ia sangat marah karena Tika ditahan di Bandara.


"Kalian memang tidak bisa diandalkan! Mengantar wanita itu naik pesawat saja kalian tidak becus!" maki mama dengan muka yang meradang menahan amarah. Harusnya selangkah lagi ia bisa menjauhkan Tika dari putranya.


"Sekarang cepat kalian urus Dewa! Jangan biarkan dia bertemu dengan wanita itu!" tambah mama dengan tangan yang mengepal.


"Baik, Nyonya."


"Pergi kalian!" sentaknya kasar. Membuat Kris ingin membalas. Namun, ia tahan.


***


Di area Bandara, Dewa berlarian mencari Tika. Matanya memindai sekeliling, ia sedang mencari sosok sang istri.

__ADS_1


Tidak jauh dari sana, sebagian orang-orang suruhan mama mulai mendekati Dewa. Rombongan pria berprawakan sangar itu tiba-tiba mengepung Dewa.


"Menyingkir!" ucap Dewa dengan sinis. Ia tahu, itu pasti suruhan sang mama.


"Tuan, lebih baik Tuan ikut kami dengan baik-baik," ucap salah satu di antara pria sangar itu.


"Cih!" Dewa yang kala itu sudah sangat marah, mulai melipat lengan bajunya. Kebetulan, ia sangat ingin menghajar orang.


"Tuan, kami tidak mau melukai Tuan. Jadi ikut kami dari pada Tuan menyesal."


BUGH


Kesal dengan ucapan pria itu, Dewa langsung meninju saja orang tersebut. Pria sangar itu meringis sebentar, kemudian melirik pada teman-temanya.


"Maaf, Tuan."


BUGH


Salah satu dari mereka memukul tengkuk leher Dewa, membuat mata Dewa langsung berkunang-kunang. Dari jauh, Dewa menyaksikan, tangan Tika ditarik paksa oleh seseorang.


"Tika ..." ucap Dewa lirih, kemudian pingsan.


"Tuan ... Tuan ... Tuan ..." Tika berteriak-teriak dari jauh, ia juga bisa melihat suaminya terkapar di atas lantai Bandara.


Takut sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya, Tika mencoba melepaskan diri. Dengan kuat ia mengigit tangan pria yang mencekam lengannya.


"Aduh! Sialan!" rutuk pria yang mengibaskan tangan karena Tika telah mengigitnya. Terlihat bekas gigi yang dalam, rupanya Tika mengigit dengan kekuatan maksimal, itu semua demi melihat Dewa yang jatuh di lantai.


"Tuan!"


Tika berlari menyibak kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Saat sebuah tangan menyeretnya kembali, Tika langsung menghempaskan tangannya. Memukul orang itu dengan tas yang ia bawa. Lolos sekali lagi, Tika langsung berlari kencang menghampiri Dewa.


"Apa yang kalian lakukan pada suamiku?" Teriak Tika dengan murka, membuat semua mata tertuju padanya.


"Siapa saja! Tolong panggil polisi! Mereka ingin membunuh suamiku!" Teriak Tika histeris.


Spontan, para suruhan mama lari kocar-kacir. Bisa-bisa mereka dihajar masa karena tuduhan Tika. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2