MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
131. AFTER MARRIAGE // MENANTU VS MERTUA


__ADS_3

"Jangan dimasukin hati semua omongan Mama yah, Yang!" Jansen berkata seraya memeluk Ayu.


"Mungkin, Mama terlalu exited karena punya anggota keluarga baru. Dan feelingku bilang, Mama udah kangen bangat gendong bayi lagi, secara Vania udah hampir tujuh tapi belum ada adiknya. Mungkin mama rindu saat-saat nimang cucu," ujar Jansen lagi.


Jansen sedang berusaha untuk membesarkan hati Ayu yang seperti di tuntut sesuai keinginan Mamanya. Sungguh, jika mamanya tetap seperti ini, bisa-bisa Ayu menjadi stress dan  merasa tertekan.


"Hmm, iya! Aku bisa ngerti. Untung kamu yang bilang begitu. Tadinya aku mau ngomong gitu sama kamu, tapi aku takut kamu kira ke geeran. Hahahaha," balas Ayu.


Sebenarnya, pada awalnya dia memang merasa tertekan karena terlalu di tuntut di usia pernikahan yang masih berumur tiga hari. Masih jelas teringat di kepala Ayu kata-kata mertuanya waktu menelepon di pagi hari pertama dia menjadi menantu.


"Jangan pulang sebelum yakin berhasil."


Ingin jawab, emangnya aku Tuhan yang bisa langsung pastikan hari ini berhasil. Tapi takut di kira membangkang. Maknya dia hanya mengangguk saja. Tapi melihat Ibunya juga yang berseri-seri saat mengatakan jangan menunda-nunda. Ayu menyimpulkan bahwa orang tua mereka sudah rindu menimang cucu. Mereka bersikap seperti itu karena rasa keinginan yang menggebu-gebu itu.


"Cuma, aku heran aja sama mama, mama kan dokter, walaupun bukan dokter kandungan ya, tapi seenggaknya pasti taulah, masa tiga hari udah langsung positif. Beda hal kalau udah di tanam saham terlebih dahulu sebelum sah kemarin," lanjut Ayu usai meredakan tawanya.


Lalu tiba-tiba berjengit dan melepaskan diri dari pelukan Jansen dengan cepat.


"Beb, atau jangan-jangan mama mikirnya kita udah gituan sebelum nikah?" Raut wajah Ayu menegang dan matanya melotot.


"Nggak lah, biarpun mama gaul dan punya banyak teman sosialita yang nggak mau ketinggalan jaman. Tapi pemikiran mama soal pernikahan itu masih kolot kok, dari dulu itu pesan mama.' Jaman semakin canggih, kenakalan muda-mudi semakin tinggi. Tapi, kalian jangan coba-coba seeks sebelum menikah. Awas kalau sampai ketahuan sama mama.' Gitu dulu pesan mama sama kami," jawan Jansen sambil tersenyum.


"Hufff, syukurlah. Aku nggak mau di prasangka i buruk." Wajah Ayu mulai mengendur. Nampak jelas ada kelegaan disana.


Ketukan di pintu menginterupsi keadaan keduanya sejenak.


Nampak dua orang pria dan satu wanita paruh baya berdiri di depan pintu kamar.


"Silahkan masuk aja, Bi!" jawab Jansen pada ketiga orang itu seraya membuka pintu lebih lebar. Ketiganya menarik koper Ayu dan menyeretnya  hingga ke ruangan kecil di dalam kamar itu.


"Bi, biar aja, biar Ayu yang susun nanti." Ayu yang melihat wanita paruh baya itu mulai bergegas untuk menyusun barang-barang Ayu.


"Kata nyonya, Bibi sekalian susun, Non!"


"Biar Yuyu  aja nanti, gak papa."


Wanita paruh bawa itu mengangguk dan membalas senyum nona mudanya.


*****


Sambil menunggu waktu makan malam. Ayu menyusun barang-barang yang di bawanya. Dari pakaian dan sedikit peralatan mekap dan juga ada beberapa bingkai dan hiasan kecil.

__ADS_1


Pakaiannya tidak begitu banyak, tidak mengisi space yang di sediakan untuknya. Sepatunya juga hanya beberapa pasang, tidak sampai sepuluh pasang.


Salah satu hal yang di khawatirkan olehnya. Jika sampai mertuanya melihat itu, sudah pasti keesokan harinya dia akan di seret ke butik untuk belanja pakaian. Dan jangan lupakan soal sepatu dan tas. Mertuanya penggila tas dan sepatu.


Kamar Jansen yang dulunya maskulin hingga bisa di sebut sepi, kini sudah sedikit berwarna karena hiasan yang di susun oleh istrinya. Bahkan sekarang, Ayu sedang duduk selonjoran di sofa dan sedang asik scrol layar ponselnya.


Dia sedang berburu bunga hias yang akan di pajang di kamar ini.


"Mandi dulu, Yang!" ujar Jansen yang baru keluar dari kamar mandi seraya mengusap rambutnya dengan handuk kecil.


"Bentar! Sini bentar, Beb!" Yang di panggil tidak menghiraukan. Malah pura-pura tidak dengar.


"Beb!" seru Ayu lagi yang tidak merasakan Jansen mendekat. Matanya tetap fokus pada layar ponselnya.


"Beb, sini bentar deh, bantu aku milih!"


Masih tidak ada respon. Kenapa ya? pikir Ayu.


"Jansen, sini bentar!" geramnya mulai kesal.


Yang di panggil malah makin tuli, bahkan sedang menyisir rambut sambil bersiul.


"Perlu bantuan, Yang?"


Cuih, Wajahnya langsung berseri-seri gitu. Dasar kekanakan! batin Ayu.


Jansen yang barusan di panggil dengan sebutan barunya langsung bergerak cepat menghampiri Ayu di sofa.


"Kenapa, Yang?" tanyanya seraya melihat layar yang masih menyala itu. Kepala Ayu mengikuti gerakan Jansen dan mulutnya sedikit menganga melihat respon Jansen itu.


"Aku baru tahu ada orang narsis kayak kamu. Cuma karena panggilan bisa berubah dari tuli menjadi jeli."


Jansen tidak menanggapi sindiran Ayu. Yang penting, dia sudah dapat yang dia mau, 'Mas Janjan'.


"Mau beli apa?" tanya Jansen setelah melihat apk e commerce yang masih terbuka di ponsel istrinya. Ada beberapa poto bunga lengkap dengan vasnya.


"Aku mau pajang ini di kamar ini, boleh?" tunjuk Ayu pada sebuah bunga hias dengan pot keramik bertuliskan huruf mandarin.


"Atur aja!" jawab Jansen mempersilahkan.


*****

__ADS_1


Ayu menatap hidangan yang berlimpah ruah di meja makan. Apa akan ada jamuan?


Tapi ruang tamu sepi, tidak ada tamu yang sedang bercengkrama, dan mertuanya juga sedang sibuk mondar-mandir di sekitar ruang makan. Menyiapkan ini itu di meja makan.


"Kok makanannya banyak bangat?" bisik Ayu pada Jansen dan di jawab gelengan.


"Ayo duduk, papa bentar lagi turun!" ajak nyonya Helena seraya menarik kursi dan duduk. Ayu memperhatikan mertuanya. Penampilannya seperti akan menjamu tamu. Sementara dia, dia hanya mengenakan pakaian rumahan. Pun dengan Jansen.


"Mama rapi bangat, apa nggak masalah kita pake baju kayak gini? siapa tau ada tamu." Ayu berbisik lagi.


"Ma, ada tamu?" tanya Jansen yang juga memperhatikan dandanan mamanya.


"Nggak, cuma makan malam keluarga. Kita menyambut anggota keluarga baru. Harus dengan makanan istimewa dong, supaya berkah dan betah disini."


"Yuyu maksudnya, Ma?"


"Ya iya kamu, emang mama punya mantu yang lain?" jawab mertuanya. Hadeh, kata-katanya masih belum selow. Masih ngegas dan wajahnya tampak kesal.


"Makasih, Ma. Kalau gitu, Yuyu ganti baju bentar. Masa mau di sambut pake baju ginian, nggak mau kalah dari Mama." Ayu berlari usai berbicara cepat.


"Dasar menantu gak mau ngalah sama mertua. Mama kan udah tua, udah jelas kalah cantik dari kamu!" teriaknya tapi dengan senyum di wajahnya.


Samar-samar teriakan mertuanya terdengar ke telinga Ayu. Dia hanya tersenyum dan melesat cepat ke kamar di lantai dua. Langsung masuk ke walk in closet dan memilih gaun yang pernah di belikan oleh mertuanya.


Lalu dia segera berdiri di depan meja rias dan memoles wajahnya dengan mekap tipis.


Saat dia merapikan rambutnya, Jansen masuk dan tersenyum melihat istrinya yang bergerak cepat.


Dalam hati dia bersyukur, mamanya dan istrinya sepertinya satu jalur.


Jansen merasa senang saat mendengar gurauan istrinya tadi, walau dia sempat melihat semburat merat di wajahnya sebelum berlari.


Mamanya juga tersenyum menanggapi tingkah menantunya itu.


"Cantik bangat!" rayu Jansen berdiri di belakang istrinya.


"Ganti baju sana, cepat! Jangan pake celana trening gitu!" Ayu mendorong Jansen dengan pinggulnya.


Jansen tertawa dan mengikuti maunya Ayu seraya berkata.


"Thanks God."

__ADS_1


__ADS_2