MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Sang Penggoda


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda Bagian 48


Rate 18+


Oleh Sept


"Jangan mulai deh! Capek banget," keluh Tika yang mendapat tatapan menyeringai dari sang suami. Tika hafal betul dengan wajah-wajah seperti itu. Wanita tiga anak tersebut merasakan sinyal-sinyal janggal dari suaminya.


"Makanya aku pijit ... cepat sini!" Dewa menepuk pahanya sendiri. Meminta Tika kembali rebahan.


Tika memilih menolak, ia malah berdiri.


"Mau ke mana?"


Dewa menyusul sang istri, merengkuh pinggang Tika. Memeluknya dari belakang dengan lembut.


"Ayolah, Lion bahkan belum 100 hari!" gerutu Tika.


"Di tas aku ada pengaman, pakai itu aja," bisik Dewa yang nggak mau menyerah.


"Astaga!"


"Ayo!" Dewa memutar tubuh Tika, hingga kini keduanya berhadapan.


Tidak bisa menolak dan mengelak, Tika pun pasrah saja ketika Dewa merebahkan tubuhnya di atas sofa. Bila mengingat beberapa tahun silam, ini sangat lucu. Mana pernah Tika memikirkan bisa bermesraan di kamar ini? Ya ampun, Tika pun tersenyum tipis ketika Dewa mulai menciumi tengkuknya.


***


Pagi menjelang, matahari bersinar dengan lembut, menerpa pipi cubby Lion. Dewa sengaja menjemur putra mereka sambil duduk bersandar di balkon.


"Udah, jangan lama-lama sayang!" teriak Tika yang sedang menyisir rambut Cika. Sedangkan Ciki, pagi-pagi sekali sudah ikut olah raga omanya. Nenek dan cucu itu jalan-jalan memutari perumahan. Barangkali, Oma mau pamer pada para penghuni kompleks mewah tersebut. Bahwasanya kini ia sudah punya cucu.


"Iya, ini juga udahan."


Dewa berdiri sambil mengendong Lion, sesekali ia mencium hidung bayi tersebut. Cowo tapi terlihat cantik, mungkin saking gantengnya.


"Mandi dulu ya, Sayang." Tika meraih tubuh Lion dari gendongan Dewa.


Setelah semua sudah bersih dan rapi, semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga. Mama juga sudah datang dan mandi juga. Ketika anak-anak asik main, mama pun mulai serius bicara pada putranya.


"Kembali ke perusahaan, Wa. Mama serahkan kepemimpinan semuanya padamu. Mama mau menikmati masa tua Mama," terang mama dengan wajah serius.


Dewa melirik sekilas Tika yang sedang memangku Lion. Kemudian ia mengangguk pada mamanya. Wanita paruh baya itu pun tersenyum lega, kemudian menghampiri Ciki dan Cika. Sepertinya mama benar-benar serius dengan apa yang ia katakan.

__ADS_1


***


Kantor pusat Diamondland


Pagi ini ada meeting tertutup, kabar yang berhembus menyebutkan pewaris satu-satunya perusahaan tersebut telah kembali. Ada beberapa yang penasaran, lantaran Dewa yang diketahui telah lama menghilang kenapa kembali lagi.


Kasak-kusuk tak hanya sampai di situ. Isu bahwa Dewa sempat didepak dari perusahaan lantaran menikahi pembantunya sendiri pun berhembus kencang. Entah semua berita itu dari mana asalnya. Sepertinya dinding pun punya telinga.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Malika, sekretaris baru Dewa.


"Saya akan jadi sekretaris Pak Dewa untuk sementara," sambung gadis muda dengan rok selutut tersebut.


Dewa mengangguk, hampir acuh. Ia sebenarnya keberatan. Namun, bagaimana lagi. Nanti kalau ia punya waktu, akan ia cari kandidat yang pas. Dewa kurang suka, baru pertama saja ia sudah memiliki kesan tidak bagus.


Lihat pakaian gadis tersebut, kurang bahan dan terlalu tipis. Bila lama-lama di dalam ruangan ber-AC seperti itu, Dewa rasa Malika akan masuk angin.


KLEK


"Ah, maaf ... Pak!" ucap Malika yang tidak sengaja memegang handle pintu. Yang kala itu juga dipegang Dewa.


Dewa tidak mempermasalahkannya, ia lantas langsung masuk.


"Pak, setengah jam lagi kita meeting!" seru Malika saat Dewa bahkan belum duduk sempurna.


Malika tersenyum manis, seolah sedang menjual gula.


"Em ... ada yang Bapak butuhkan?"


"Tidak, dan tolong tutup pintunya."


Bibir yang semula tersenyum cerah itu mendadak kecut. Ketika berbalik, Malika mengumpat sakit hati.


"Sombong sekali!" rutuk Malika sambil melangkah keluar.


Sesaat kemudian, Dewa sudah bersiap akan keluar dari ruangan. Dan ketika dia membuka pintu, tiba-tiba Malika muncul dengan segelas kopi panas.


"Ya ampun! Maaf, Pak."


Spontan Malika membersihkan kemeja Dewa yang terkena tumpahan kopi.


"Sudah ... sudah!" Dewa menepis tangan Malika yang terus saja mengusap kemejanya.


"Tapi Pak. Ini sangat kotor. Coba Bapak lepaskan, biar saya cuci sebentar di wastafel."

__ADS_1


"Tidak usah."


"Pak, ini meeting pertama. Tunggu lima menit saja."


Dewa memejamkan mata, ia menahan napas. Pria itu sebenarnya sangat kesal.


***


"Ini, Pak. Sudah bersih."


Malika mengulurkan kemeja yang sudah ia basuh. Memang sudah terlihat bersih tanpa noda. Mungkin karena buru-buru dibasuh dengan air sabun. Jadi langsung bersih tanpa noda. Atau jangan-jangan Malika memang bawa detergent dari rumah. Entahlah.


Ketika Dewa sedang mengancingkan baju kemejanya, diam-diam Malika mencuri pandang. Pura-pura ia merapikan dokumen di atas meja. Tapi matanya jelalatan memperhatikan Dewa.


"Seperti apa sih istrinya Pak Dewa, masa sih? Pria tampan dan mapan seperti itu doyan sama pembantu?" batin Malika.


"Ehem!"


Deheman Dewa membuat Malika tersadar dari lamunannya.


"Sudah siap, Tuan?" tanya Malika dengan spontan.


Dewa mengangguk kemudian berjalan mendahului sekretarisnya.


Ruang meeting, semua peserta meeting menaruh hormat ketika Dewa masuk ruangan. Pertemuan itu berjalan dengan singkat dan lancar. Akan diagendakan lagi meeting lanjutan, untuk hari ini cukup sampai di sini.


Setelah memberikan sambutan dan ucapan terima kasih. Dewa lantas berjalan keluar meninggalkan ruang pertemuan tersebut. Begitu Dewa pergi cukup jauh, beberapa orang bisik-bisik membicarakan atasan mereka. Gibah memang tidak pernah kenal tempat. Dan itu adalah budaya lama yang terus menjamur dan subur.


"Pak Dewa nanti mau makan siang apa?" tanya Malika basa-basi.


"Tidak usah!" ucap Dewa dingin.


Malika manggut-manggut, sepertinya ia mencari ide lain.


"Mau saya bikinkan minuman?"


"Tidak terima kasih."


"Apa ada yang bisa saya lakukan untuk Bapak?"


"Tidak ada, dan tolong tinggalkan saya sendiri. Jangan lupa, tutup pintunya."


Malika mencoba tersenyum, namun hatinya mengumpat tak karuan.

__ADS_1


"Tunggu saja, kita lihat nanti. Mampukah anda menolak!" batin Malika penuh dendam.


__ADS_2