MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
105. KEDUA KALINYA


__ADS_3

~AYU POV~


*****


"Iya, Bu," jawabku dengan malas.


"Jangan iya-iya aja, tapi nanti malah tidur pelukan lagi." Ibu menatapku tajam kemudian dan bicara dengan ekspresi tidak percaya padaku.


Ini sudah kesekian kali ibu memperingatkan aku. 'Jangan sampai terjadi seperti kemarin. Jangan di ulang.'


Hari ini, karena hujan deras, terpaksa Jansen menginap di rumahku. Sejak wacana menginap ini di kumandangkan, ibu sudah menatapku penuh arti. Mewanti-wanti agar kejadian hari lalu tidak terulang. Kalian belum lupa kan kejadian apa itu?


Yap, ketiduran di sofa di ruang tamu sambil berpelukan.


Dan sekarang, saat aku ke dapur membereskan bekas minum teh barusan di ruang tamu rumah, ibu menyusul dan memberi peringatan lagi.


"Ibu kok gak percaya sama Yuyu," ucapku pura-pura sedih.


"Iya, sejak pergoki kamu tidur sambil peluk Jansen, ibu nggak percaya lagi sama kamu."


Weeehh, malah di iyakan. Kan aku jadi sedih.


"Yang kemarin, kan Yuyu udah bilang, nggak sengaja, bablas, lagian cuma tiduran pelukan begini doang, masa jadi perkara besar,"


puukkk


"Jangan bilang 'cuma', kalo kamu bablas kayak di Renita gimana? yang malu kan ibu sama bapak kamu. Ih."


Bandingin aja terosss sama semua tetangga. Kemarin Vanny, sekarang Renita, besok siapa lagi?


"Ibu negatip tingking deh, kalo Yuyu mau kayak Renita udah dari awal, kan? Tapi kan otak Yuyu lurus bu. Yuyu tau yang benar dan salah, yang harus dan tidak. Ibu jangan gitu dong mikirnya sama Yuyu, Yuyu sedih."


Aku berlakon pura-pura sedih dan seperti ingin menangis. Berharap ibu memelukku sambil usap-usap kepala. Tapi, yang aku bilang tadi benar ya, otakku masih lurus.


Harapan tinggal harapan, ibu malah dengan santainya menjawab, "baguslah, jangan percuma sekolah tinggi-tinggi tapi nol etika."


Lalu pergi meninggalkan aku tanpa perlu mendengar sangkalan ku lagi.


Wah, ibuku, luar biasa.


Aku menyelesaikan mencuci gelas, lalu aku bergegas membersihkan kamar abangku yang akan menjadi kamar Jansen malam ini.


Mengingat tadi malam aku tidur di rumahnya, wah, kamar ini bahkan tidak ada seperempat dari kamar tamu yang ku tempati itu.


Jelaslah Jansen kurang nyaman, bahkan tidak.


Saat aku tiba di ruang tamu setelah selesai menyiapkan kamar, aku melihat mereka bertiga berbincang dengan serius. Sepertinya tetap membicarakan rencana Jansen. Huhhh calon manten nih... hihihi.


"Udah kasih tau mau nginap?"


Aku bertanya seraya bersiap duduk.


"Ntar aja!" jawab Jansen.

__ADS_1


"Kenapa harus menunda? Ntar kamu di tungguin sama Om dan Tante. Telpon aja, atau kirim pesan."


"Iya Nak Jansen, kasih tahu aja, hujannya masih deras, nggak ada tanda-tanda mau berhenti," lanjut ibu mendukungku.


Jansen meraih ponsel di atas meja dan terlihat sibuk setelahnya. Kami juga tidak mengatakan apa-apa, mata kami tertuju pada layar televisi yang menayangkan kontes nyanyi yang di dominasi lawak-lawak.


"Ribet bangat ini acara, cuma mau nilai yang nyanyi aja, jurinya musti maju ke panggung, habisin waktu."


Aku menggerutu melihat satu peserta aja durasinya bisa setengah jam lebih di komentari.


Tak ada yang menanggapi gerutuanku, ibu hanya melirik sekilas lalu sibuk dengan acara kesukaannya.


"Yang, ada payung? Aku mau ambil baju di mobil. Seingatku ada kaos disana." Ucapan Jansen membuatku mengalihkan pandangan dari layar televisi.


"Bentar!"


Aku bergegas ke dapur, seingatku di sela-sela lemari yang di dapur ada payung kecil, di tiang pintu ada payung besar bergambar partai yang tergantung pada sebuah paku yang tertancap.


Ibu kalian gimana shay? Apa selalu ikut acara hajatan partai atau acara reses anggota dewan demi suvenirnya?


Selain gambar partai di juga poto salah seorang anggota dewan yang di usung oleh partai ini. Senyumnya sangat lebar di gambar itu, mungkin karena dia menang saat pencoblosan.


"Ayo aku temani, Beb!"


Kami bergegas keluar untuk mengambil kaos dari mobil.


Aku melihat Jansen membuka bagasi dan sedikit mengobrak-abrik isinya. Tak lama dia tersenyum sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Ada?" tanyaku memastikan.


Kami melangkah kembali ke dalam rumah dengan payung yang sama.


Bapak sama Ibu udah bersiap ke kamar. Alahhh udah pengantin lama alias udah karatan.


"Jangan kelamaan di luar ya, udah larut." Saat mengatakannya mata ibu tertuju padaku, aku merespon ibu dengan mata berotasi malas.


*********


"Mama kamu bilang apa?" tanyaku setelah tinggal kami berdua saja di ruang tamu ini. Aku duduk mepet dan hampir merebahkan kepala di dada Jansen sebelum dia menolak dengan cara menopang kepalaku dan melihat ke sekeliling.


Aku terkekeh geli melihatnya, sepertinya dia sangat berhati-hati sekarang.


"Udah, Gak papa, Ibu pasti ngerti."


Aku menyingkirkan tangannya dan merebahkan kepalaku di dadanya. Detak jantungnya terdengar kencang, apa dia grogi karena aku rebahan atau deg-degan ketahuan ibu?


"Ngerti sih iya, tapi nggak enak bangat ke gap kayak waktu itu. Asli Yang, aku malu banget."


Tangannya yang tadi menopang kepalaku kini malah bertengger cantik di kepalaku. Sedetik kemudian tangannya secara otomatis naik turun mengelus-elus rambut super halusku.


"Hmmmm nyamannya!" Aku dengan tidak tau malunya melingkarkan tangan di perutnya.


"Ck, kayaknya kamu senang bangat bikin aku senam jantung."

__ADS_1


Kepalanya celingak celinguk ke arah kamar Bapak.


"Hah, mau pelukan aja susahnya minta ampun."


Aku mengangkat tangan dan juga kepalaku dari tubuhnya. Aku menyandarkan diriku di sandaran sofa, berdampingan dengan kepala Jansen.


"Makanya besok, kalau aku sama Papa Mama kesini, kamu jawab iya yah saat di tanya bersedia atau tidak. Soalnya tergantung di jawaban kamu keputusannya."


Wah, aku gugup seketika, apa ini nyata? Aku mau menikah?


"Yang..." lanjut Jansen karena aku tidak memberi jawaban.


"Hmm,"


"Kok, kamu kayak nggak antusias gitu, masih ragu? Tadi katanya udah siap."


Jansen seperti kecewa karena jawaban singkatku.


"Aku nggak nyangka aja, ternyata aku udah mau kawin," ucapku terkekeh.


"Awalnya aku ngotot kalau umur ideal untuk merid itu yah dua lima. Tapi ternyata, aku di pertemukan dengan calon jodoh jauh sebelum dua lima dan sekarang sedang bicara tentang merid."


"Jodohkan kita nggak tau kapan datangnya, contohnya aku, aku juga nggak nyangka aku harus menunggu sampe umur tiga puluh baru nikah," jawab Jansen.


Aku mengangguk, benar apa kata Jansen. Jodoh itu salah satu misteri hidup, kadang datang di waktu yang tidak kita inginkan dan kadang tidak datang saat kita sudah berkata siap.


Semoga saja, apa yang kami niatkan dan rencanakan ini menjadi sesuatu yang tepat.


Bukan sesuatu yang kami paksakan terjadi, sehingga memberi dampak negatip di masa depan.


Sungguh, aku adalah salah satu dari mereka yang mengusung komitmen "just one marriage in a life time."


"Beb, haruskah kita bikin perjanjian pra nikah?" usulku tiba-tiba.


"Buat apa?"


Aku juga tidak tahu, aku hanya ingin ada perjanjian 'no divorce for anything reason except death'


"Kamu nggak percaya sama aku? Menurutku, mereka yang buat perjanjian seperti itu adalah orang-orang yang kurang yakin dan percaya dengan komitmennya sendiri dan komitment bersama pasangan,"


Bukan nggak percaya, cuma...


"Kenapa?" tanya Jansen lagi. Kepalanya miring ke arahku dan dia menatapku dengan raut penasaran akan jawabanku.


"Biar kayak yang lagi hita aja, artis-artis banyak yang buat begitu, kan?"


"Ck, artis di contoh. Nggak semua hal yang artis lakukan harus kita contoh, Yang. Sekalipun dia idola kamu ataupun panutan kamu. Be yourself and trust your self also."


Jansen menggeleng dengan bibir yang sesekali berdecak.


"Ada alasan lain?" lanjutnya. Sepertinya dia tidak percaya dengan jawabanku tadi.


"Nggak sih, emang aku tadi tiba-tiba teringat aja sama yang lagi hits sekarang." Aku dian sejenak setelah menjawab.

__ADS_1


"Aku takut, karena aku masih sangat muda, aku takut tidak bisa mengontrol emosi, jadinya ada pertengkaran yang berujung negatip di keluarga kita nanti, aku bilangin sama kamu, Beb. Aku pengusung 'no divorce except death', aku takut kamu nggak kuat hadapin aku yang masih labil ini."


__ADS_2