MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Sedang Apa


__ADS_3

Bagian 43


Oleh Sept


Trimester pertama, kini usia kehamilan Tika memasuki bulan ke tiga akhir. Bulan depan akan memasuki trimester ke dua. Artinya masa rawan akan segera terlewati. Tika begitu menikmati masa kehamilan dengan nyaman. Tidak ada ngidam aneh-aneh. Paling parah hanya ingin makan soto. Di London banyak sekali soup seperti kuah soto. Namun, bumbunya kurang strong. Tidak seperti di tanah air, yang kaya akan rempah-rempah.


Tika mintanya pas malam-malam pula, tapi itu hanya sekali. Selanjutnya mentok ia ingin makan yang asem-asem. Tidak ngidam aneh-aneh lagi, sederhana banget. Tidak muluk-muluk. Tidak ingin plesir ke luar negeri, kan memang sudah stay di LN. Tidak mau barang mewah dan mahal, kan Dewa pasti memberikan barang branded tanpa Tika minta. Calon anak Tika sepertinya condong ke karakter sang Papa. Tidak mata duitan seperti Tika.


***


"Aku nanti pulang agak malem ya, ada jamuan bersama rekan bisnis," ucap Dewa sambil mengenakan jas warna navi. Terlihat gagah, ganteng dan kharismatik. Apalagi akhir-akhir ini ia rajin nge-gym. Alhasil dada bidang dan kotak-kotak sudah muncul ke permukaan lagi.


"Jam berapa?" tanya Tika sambil membawa dasi warna senada dengan jas yang dipakai sang suami.


"Entahlah, nanti kalau selesai langsung pulang."


"Jangan minum tapi!" Tika menatap tak suka, tempo hari Dewa pulang dengan sedikit mabuk. Hanya karena menghormati klien, meski cuma sedikit, tetap saja Tika tidak suka. Mereka orang timur, dan Tika tidak suka gaya hidup kebarat-baratan. Meskipun sekarang mereka tinggal di barat.


"Gak enak, sayang ... lagian gak banyak."


Mendengar jawaban yang selalu sama, Tika pun menghela napas panjang.


Puk puk puk


Tika menepuk dasi dan bagian depan kemeja yang sudah terpasang sempurna di tubuh tegap suaminya itu.


Cup


Dewa memberi kecupan singkat di bibir.


"Papa berangkat dulu, ya!"


Cup


Kali ini calon bayi mereka yang mendapat kecupan hangat dari sang Papa.


"Hati-hati," ucap Tika sambil melambaikan tangan.


Dewa mengangguk, kemudian menutup pintu.


Saat suaminya sudah berangkat kerja, Tika mencari kegiatan. Hampir tidak ada yang bisa ia kerjakan. Baju sudah di laundry, cuci piring? Tidak ada. Hanya tinggal berdua. Bahkan akhir-akhir ini mereka sering makan di luar. Tika bingung tidak ada yang ia kerjakan.


Dari pada benggong, Tika menyalahkan WiFi. Ibu hamil muda itu pun berselancar di dunia maya. Melihat halaman sosial media miliknya, mencari kabar teman-temannya lewat faceboook.


Tangannya yang iseng, malah mengetik nama mantan pacarnya di kolom pencarian. Tika benar-benar gabut, sampai tidak tahu harus ngapain lagi. Hingga stalking mantan kekasihnya dan tidak lupa, ia juga mengintip laman Faceboook milik sang suami.


Isinya terlalu formal, Tika pun mulai bosan. Ia malah suka melihat berandanya sendiri. Di sana muncul banyak aktifitas teman-teman lamanya, teman kerja dan teman sekolahnya dulu. Tika begitu antusias saat ada postingan foto dengan background tempat yang begitu ia rindukan. Mungkin Tika kangen rumah. Kangen tanah air beta.


Lama-lama matanya perih juga, akhirnya ia mematikan laptop. Mengambil salah satu buku di rak lemari. Panas melihat layar elektronik, Tika memilih membaca novel saja.


Sebuah novel yang ia beli lewat online shop. Maklum, Tika jarang keluar rumah. Selain Dewa sibuk kerja, ketika weekend sang suami lebih suka di apartemen. Menghabiskan waktu dengan berduaan bermanja-manja saja seharian.

__ADS_1


Tidak terasa hari sudah sore, semburat jingga menghiasi langit London. Tika baru saja bangun tidur. Tidak terasa ia membaca novel sampai ketiduran.


Tok tok tok


Saat merapikan buku-buku miliknya, mendadak ada tamu. Masih sore, Dewa bilang pulang malam. Siapa gerangan?


Dengan was-was, Tika mengintip. Ia bisa bernapas lega setelah melihat siapa yang datang.


Klek


"Tante Mira," sapa Tika dengan senyum yang mengiringi wajahnya.


"Hai ... kamu pasti terkejut?" tanya Tante Mira sambil memeluk Tika dengan hangat.


"Masuk tante." Tika sangat senang mendapat kunjungan dari kerabat sang suaminya itu. "Kok nggak berkabar dulu, Tan?" tambah Tika sambil berjalan ke belakang untuk mengambilkan minum.


"Kejutan, Tante cuma mampir. Besok udah balik."


"Kok sebentar?"


"Iya, ada urusan mendesak. Tante cuma mau lihat kalian sebentar. Dewa pulang jam berapa biasanya?"


"Sore gini biasanya pulang, tapi tadi katanya pulang malam. Ada jamuan makan malam bersama rekan bisnisnya."


"Wah, padahal tante pingin ketemu Dewa."


"Tidur di sini aja, Tante."


"Ya udah, Tante tidur di sini ya."


Tika pun langsung tersenyum senang.


***


Malam hari, pukul sembilan malam. Tante Mira sudah istirahat di kamar tamu. Sedangkan Tika, ia masih terjaga melihat drakor di layar ponselnya. Belum mengantuk, karena tadi siang tidur cukup lama, membuat ia terjaga sampai sekarang.


Tok tok tok


Tika langsung meninggalkan ponselnya yang masih menyala. Begitu pintu depan diketuk, Tika langsung berjalan keluar kamar.


KLEK


Suara pintu terbuka.


"Astaga!"


Tika menatap kesal pada suaminya sembari menutup hidung. Ia dapat mencium bau menyengat itu. Padahal sudah diingatkan, tapi tetap saja Dewa minum.


"Sedikit ... cuma sedikit," ucap Dewa sedikit merancau. Pria itu tidak bisa berdiri tegap, hampir jatuh kalau tidak bersandar pada tembok.


"Ish!" Tika semakin mendesis kesal. Dengan jengkel, ia membantu memapah sang suami.

__ADS_1


"Jangan marah ya," rancau Dewa setengah tak sadar.


"Tentu aku sangat marah!" jawab Tika dengan tegas.


"Ya ampun, galak sekali mama kamu, sayang." Dewa langsung menepis lengan Tika. Ia kini berjongkok menghadap perut Tika yang mulai buncit.


"Maafin Papa ... ya. Ya ... ya!"


Brukkk


Tubuhnya merosot ke lantai. Dan Tika dibuat kesal bukan main.


"Ayo pindah! Jangan tidur di sini!" sentak Tika yang sudah mulai emosi.


Dewa kembali membuka separuh matanya, sambil tersenyum tak jelas ia mencoba berdiri. Tapi, tidak bisa.


Melihat hal itu, Tika mengulurkan tangannya. "Cepat berdiri!" cetus Tika dengan wajah masam dan bibir mengerucut.


Srekkk


Dewa malah menarik tangan itu, membuat Tika langsung tertarik dan mendarat di pangkuannya.


"Apa sihhh! Lepasin!" Tika mau berdiri, tapi Dewa malah memeluknya dengan erat. Sang suami mengunci ruang gerak Tika. Membuat Tika tidak bisa lari ke mana-mana.


"Jangan marah, jangan marah ya." Dewa merajuk, dan mengelayut manja seperti anak kecil yang mau ice cream.


"Iya, nggak marah. Lepasin dulu!"


Seketika Dewa langsung melepas jeratannya. Tapi, saat Tika akan berdiri, pria itu malah menahan Tika kembali.


"Ayolah, cepat mandi sana!" seru Tika yang mulai jengah.


"Bersama?"


Bluk bluk bluk


Tika memukul lengan suaminya bertubi-tubi. Belum juga sadar sepenuhnya. Tapi, pikiran sudah lancar ke mana-mana.


Dewa terkekeh, sepertinya ia memang hanya minum sedikit. Makanya tidak terlalu mabuk. Selain tidak toleran terhadap itu, ia juga tidak suka minum sebenarnya.


"Jangan tersenyum ataupun tertawa, besok lagi aku nggak akan maafin."


"Hem!"


"Cih!"


Melihat Tika yang seperti itu, Dewa langsung saja mencium Tika. Ia gemas, melihat wajah Tika yang masam dengan bibir mengerucut.


"Nggak! Baukk!" Tika mendorong wajah suaminya.


Bukan Dewa namanya kalau tidak mendapat apa yang ia inginkan. Dengan jahil ia membuat Tika tidak bisa menolak maunya.

__ADS_1


"Kalian sedang apa?" Bersambung.


__ADS_2