MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Kebahagiaan Yang Utuh


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda Bagian 47


Rate 18+


Oleh Sept


Dari jauh tante Mira menatap haru, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang om Pram, pria yang sebentar lagi akan mengucapkan janji suci di antara semua orang.


"Jangan nangis, nanti make up kamu luntur," canda pria pemilik nama Pramana Jatmiko tersebut.


Pria yang dulu hidup melarat, kini sudah berubah 180 derajat. Om Pram berhasil mengolah bisnis besi tua yang dulu dipandang sebelah mata. Kini, ketika tidak lagi muda, om Pram tinggal memetik hasil usahanya dulu.


Bisnis export import biji besi om Pram sampai ke manca negara, bahkan ia sempat menetap lama di Bairut. Bahkan sempat menikah dengan WNA. Namun, sudah bercerai beberapa tahun silam.


Nyatanya, om Pram tidak pernah melupakan tante Mira. Lepas cerai, ia mencari sosok yang pernah singgah dalam hatinya. Dan rupanya mungkin jodoh masih terikat antara mereka berdua. Meski duda, cinta tante Mira tidak berubah.


***


Setelah sah, tante Mira berpamitan pada keluarga besarnya. Rencananya, sang suami akan mengajak tante Mira bulan madu naik kapal pesiar. Mengelilingi beberapa negara, sekalian menebus masa kelam di masa lalu.


Tante dan om rupanya ingin bulan madu, sebuah bulan madu romantis yang selama ini hanya dalam angan semata. Meskipun tidak muda lagi, cinta keduanya tetap saja hangat. Masih bisa memanas juga, apalagi mereka adalah mantan kekasih yang kembali jatuh cinta lagi.


Bisa dibayangkan bagaimana cara mereka merayakan hal itu. Pasti panas dan mengebu, jangan salah. Mungkin usia mereka sudah tidak muda, tapi kalau urusan begitu. Tinggal minum obat apa saja bisa. Wkwkwk


***


Di tempat dan suasana yang berbeda, Dewa tidak menyangka. Akhirnya ia bisa masuk ke dalam rumah bersama istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


Sejak tadi, sang mama mengandeng tangan Ciki, dan satunya tangan Cika. Terlihat sekali kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah sang mama. Membuat Dewa dan Tika merasakan bahagia yang tak ternilai harganya. Sebuah restu yang sangat mahal, akhirnya mereka dapatkan.


"Ini rumah kalian, udah ... nggak usah balik. Nanti Oma siapin kamar yang cantik untuk kalian," ucap Mama sambil memangku Lion.


Mereka kini sedang duduk santai di ruang keluarga. Rumah yang dulu besar dan hampa, kini sangat ramai. Karena Cika dan Ciki kejar-kejaran dari tadi.


Ketika semua sedang mengobrol, dari belakang muncul mbak Mar. Wanita itu keluar membawa nampan dan beberapa camilan.


"Kok bisa anak Tika lucu-lucu begitu. Ya ampun, aku masih tidak percaya. Tika benar-benar jadi nyonya di rumah ini," batin mbak Mar sambil meletakkan minuman di meja.


"Mbak Mar, apa kabar," sapa Tika dengan ramah.


"Astaga! Dia tersenyum kepadaku? Apa dia mau pamer? Kalau sekarang sudah jadi orang kaya? Sombong sekali!" gerutu mbak Mar dalam hati.


Pyarrrrr


"Ciki!" pekik Tika.


"Jangan dimarahin, nggak papa. Sini sama Omo," bela mama yang nggak mau Tika bicara keras pada cucunya.


Tika tak jadi marah, ia malah mengusap sudut matanya yang perih. Ya ampun, mengapa jadi cengeng begini? Melihat mertua sayang sama Ciki, putrinya. Hal itu membuat hati Tika melempem. Ia tersentuh.


"Jangan Nyonya Tika ... biar saja saja!" cegah mbak Mar. Padahal hatinya merutuk saat Tika membereskan makanan yang tercacar karena ulah Ciki.


"Nggak apa-apa, Mbak. Tika sudah biasa."


Tika apa-apa sudah mandiri, semua ia lakukan sendiri. Baginya, selama ia mampu. Akan ia lakukan.

__ADS_1


Melihat itu, makin masam lah hati mbak Mar. Barangkali penyakit manusia, berupa iri hati sedang menyerang tubuh mbak Mar. Ia sepertinya tidak suka melihat orang lain bahagia, terutama Tika. Kok bisa pembantu menikahi majikan, pasti Tika main dukun, pikir mbak Mar.


***


Malam hari, biasanya mama paling malas makan sendirian. Kini, ia malah bersemangat. Sesekali ia menyuapi Ciki atau Cika. Mama benar-benar senang hidup dikelilingi cucu-cucunya itu. Hidupnya terasa lebih bahagia dari pada tahun-tahun lalu. Kesepian dan merasa hampa.


"Nanti tidur sama Oma, ya? Oma masih kangen."


Mama membelai poni Cika, dicuimnya pucuk kepala gadis kecil itu.


"Aku Omaaa, Aku mau!" teriak Ciki bersemangat.


Dewa tersenyum lega, akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ganjalan dalam hati sudah pergi. Restu sang mama nyatanya adalah pelengkap yang tidak bisa ia pungkiri. Kebahagiaan Dewa kini terasa komplit dan berlipat-lipat.


Lepas makan malam, dua anak itu ikut ke kamar omanya. Sedangkan Dewa, ia langsung menarik Tika ke kamar lamanya. Masih sama, semua terlihat sama seperti saat terakhir ia meninggalkan rumah itu.


"Aku tidurkan dulu Lion di ranjang," ucap Tika, ia lantas meninggalkan Dewa sendirian yang bersandar di sofa kamar.


"Apa sudah tidur?" tanya Dewa saat Tika datang mendekat. "Ke mari!" tambah Dewa sembari menarik lembut lengan Tika.


Tika lantas duduk di samping suaminya itu. Ia menghela napas panjang, mungkin kelelahan. Anak tiga dengan rentang usia yang cukup dekat membuat wajah Tika terlihat kelelahan.


"Pasti capek banget, rebahan di sini!" Dewa merebahkan Tika di atas pangkuannya.


Dengan lembut ia membelai rambut dan pipi istrinya.


"Aku pijitin ya?"

__ADS_1


Tika langsung bangkit, ia menatap curiga pada Dewa. Lalu mengeleng pelan. Ia tahu, ada udang di balik bakwan. Bersambung.


__ADS_2