
"Selamat!"
Aku mendengar ucapan datar itu dari mulut Ririn yang sedang sibuk mengunyah. Dia bahkan tidak melihat aku saat berbicara. Dasar gadis tak punya perasaan!
"Kenapa?"
Dengan polosnya dia bertanya setelah melihat mimik wajahku.
Aku menggeleng dengan muka datar juga.
Sepertinya pilihan untuk curhat padanya adalah pilihan yang salah.
Aku sudah menggebu-gebu saat bercerita malah di tanggapi dengan datar.
"Kan sesuai keinginan kamu, belum mau kawin muda. Tunggu dua lima baru kawin. Nah, kan pas. Kalo nggak ada pesta tahun ini, artinya tahun depan atau dua tahun lagi atau tahun-tahun berikutnya. Berarti kamu satu server sama camer kamu, Yu," ucap Ririn setelah menelan makanan di mulutnya. Dia sampai minum air setelah bicara denganku.
"Tapi entah kenapa, penguluran waktu ini seperti ada tujuan tertentu dari mak bapaknya Jansen," ucapku dengan pikiran mengambang.
Apa ini pengalihan?
Merestui tapi membatasi. Bisa saja dalam waktu menunggu ini, ada kejadian yang di atur. Semisal, sakit tiba-tiba dan meminta Jansen menikah dengan pilihannya karena permintaan terakhir.
Duh, otak gue lancar bangat untuk hal-hal negatip.
"Jangan kebanyakan mikir, otak kamu kecanggihan. Dari dulu begitu. Jalani aja dengan santai. Kalo emang jodoh nggak kemana, Yu. Mau ada seratus cewek yang di jodohkan sama dia kedepannya kalau kamu emang jodohnya yah tetap sama kamu. Jadi nggak usah pusing. Kamu harus belajar bagian ini dari aku sepertinya."
Benar juga apa kata Ririn. Aku terlalu memaksakan.
Inhale exhale
Aku lakukan berulang-ulang.
Lalu aku terkekeh mengingat syarat ke empat.
Empat?
Astaga Jansen. Udah langsung ngomongin anak bahkan hilal menikah juga belum nampak.
"Empat anak Rin, aku udah kayak kucing nanti." Kami terkekeh bersama dengan karena kalimatku.
Ternyata orang kaya juga memiliki pemikiran kayak orang-orang yang tinggal di kampung. Banyak anak banyak rejeki. Benar sih, rejeki anak
Tapi ngasih makannya kan susah, sekolahinnya juga udah ngos-ngosan. Saran cerdas pemerintah di tolak mentah-mentah.
...****************...
__ADS_1
"Kok mukanya kecut gitu?" tanyaku pada Jansen. Akhir-akhir ini dia begitu. Waktu ketemuan ataupun vc an begini tetap aja suguhin muka kecutnya sama aku. Emang aku salah apa?
"Kamu masih tetap sama pendirian kamu?"
tanyanya lagi. Ini sudah ke seratus ribu kali. Aku mulai kesal.
"Ck... itu lagi. Udah ah, aku mau tidur, aku matikan, bye!" Tanpa mendengar sanggahan dari Jansen aku langsung memutus panggilan vc yang baru tersambung beberapa menit.
Heran sama cowok berbiji satu itu, bahasannya itu-itu mulu, kelihatan bangat udah kebelet kawin.
Noh, protes sama mak bapakmu, kenapa kasih restu tapi harus tahun depan.
Ponselku berdering lagi, nama Jansen sebagai pemanggil. Malas.
Aku biarkan sampe dia bosan dan berhenti menghubungi aku.
Udah dua bulan sejak syarat di turunkan, masih tetap aja itu pembahasan.
Bisa ganti pacar nggak sih?
Aku mau pacar yang romantis dan alay-alay dikit, bukan kayak Jansen datar dan monoton.
Jansen P:
'Sorry Sayang, Aku nggak bahas itu lagi, Janji!'
Bisa galau berbulan-bulan karena nggak di kasih nikah tahun ini. Padahal hanya sisa delapan bulan lagi.
Tidak lama ponselku berdering. Dan karena rasa cinta yang ku miliki juga. Aku akhirnya menerima panggilan Jansen dan mabuk kepayang dengan ungkapan cintanya.
_lebay mode on_
...****************...
Aku mematung dengan apa yang ku lihat di depan sana.
Apakah dugaanku selama ini benar?
Apa ini hanya bentuk pengalihan saja?
Mira dengan senyum anggunnya sedang duduk bersama mamanya Jansen dan juga kakaknya. Ada juga di imut Belvania.
Aku melihat ada satu orang lagi wanita paruh baya. Apa itu mamanya Mira.
"Huh,, sepertinya mereka berkomplot untuk mempermainkan aku." Aku bermonolog pelan pada diriku sendiri.
__ADS_1
"Apa?" tanya Ririn.
"Itu keluarga Jansen dan juga mantan calon tunangannya. Sepertinya aku syarat 'tidak ada pesta tahun ini' adalah sesuatu yang di sepakati bersama."
Aku menunjuk kumpulan keluarga itu pada Ririn dengan daguku.
"Itu Jansen, kan?" tiba-tiba Ririn menunjuk arah pintu masuk dan aku mengikuti arah tangannya.
Tidak ada yang bisa ku katakan selain 'penipu dan komplotan' pada keluarga ini.
Siapa yang harus aku percaya?
Apa mereka menggunakan topeng terbaik mereka selama ini?
Johana, kakak Jansen, ketika kami bertemu dia seperti malaikat suci pendukungku. Tapi lihat sekarang, giginya mungkin saja akan kering karena terus-terusan tertawa.
Saat Jansen akan duduk, tiba-tiba mata Vania mengarah padaku. Aku langsung mundur dan menghindar. Samar aku mendengar dia berteriak, " Tante Yuyu!"
Tak berselang lama setelah kami mutar balik, aku merasakan ponsel di tanganku bergetar.
Nama Jansen sebagai pemanggil.
"Dasar kadal!" gerutuku dan membiarkan ponselku tetap berada di tangan tanpa menerima panggilan itu.
Getar yang kedua dan aku hendak menolak sampai akhirnya Ririn mengambil paksa dari tanganku.
"Hallo, Yuyu eh maksudku Ayu lagi di kamar mandi. Telp lima menit lagi aja yah."
"....."
"Oke!"
Ririn mengembalikan ponselku dan berkata, "Harus di angkat, biar dia nggak curiga kita disini dan melihat mereka. Mulai hari ini, jangan percaya seratus persen padanya. Aku sangat mengidolakannya kemarin tapi tidka mulai malam ini. Orang alim tapi lihat, dia mau mempermainkan kamu."
Aku memikirkannya sejenak kemudian mengangguk.
Baiklah, Jansen, jika kamu mau mempermainkan aku, maka lakukan. Aku juga bisa membalasmu, batinku.
Kami melanjutkan rencana kami, ini bukan weekend tapi karena ada film baru, kami menonton hari ini.
Jansen P:
'Bisa aku nelpon?"
Makan saja dulu dengan tunanganmu itu. Kenapa heboh mau nelpon aku?
__ADS_1
Me:
'Aku lagi me time sama Ririn. Nanti aja atau besok.'