MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
82. TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

~JANSEN POV~


*****


Me:


'Aku udah di rumah, Yang.'


Aku mengirimkan pesan dan gambar aku sudah di dalam kamar pada Ayu supaya dia tenang.


Yuyu Love:


'Hmmm'


Pasti dia pantengin ponsel sedari tadi. Jawabnya sangat cepat.


Aku terkekeh. Walau dia bilang seperti tidak pacaran tapi dari cara pedulinya kami memang pacaran.


Rumit sekali.


Aku bergegas ke kamar mandi dan mengganti baju tanpa mandi karena aku udah mandi saat di hotel. Pun ngantuk ku hilang sekarang, aku rasa itu karena aku tidur seharian tadi.


Aku tidak berniat untuk turun ke ruang tamu lagi. Terserah mereka mau anggap aku durhaka dan pembangkang sekarang. Terkadang menjadi pembangkang sepertinya perlu. Lihat saja aku, menjadi anjiing penurut sejak kecil menjadikan aku lembek dan pengecut.


Aku meraih tablet dan mulai memeriksa pekerjaan yang ku tinggalkan hari ini.


Beberapa saat aku tenggelam dalam pekerjaanku sampai saat aku mendengar ketukan di pintu kamarku.


Aku kira mama atau papa yang datang tapi ternyata, ...


"Kemana aja kamu seharian? Jawab jujur!"


"Ck.. aku udah bilang aku istirahat di hotel. Sono cek ke hotel." Aku benci pada orang yang meragukan ku dan selalu berpikir negatif padaku.


"Ada apa sebenarnya? Apa kalian ada masalah? Kenapa tiba-tiba kamu menyetujui akan menikah dengan Mira? Lalu Ayu?"


"Bukankah itu yang kalian semua inginkan?"


Aku tersenyum sinis ke arah kakakku yang duduk santai di sofa dekat pintu.

__ADS_1


"Apa maksudmu Jan?" Johana menyolot tak terima.


"Apa aku salah? Kaka juga sama, Kakak hanya berpura-pura mendukung Ayu, kan?"


Aku bicara tanpa melihatnya. Nadaku juga bertahan datar.


"Omong kosong apa yang kau katakan ini?


Aku tak pernah mendukung siapapun. Itu pilihanmu, aku tidak mau ikut campur." Johana mulai tersulut emosinya. Kenapa emosi? Jika tidak merasa demikian yah santai aja. Kenapa berubah jadi singa betina?


"Vania tidak salah lihat hari itu," ujarku memberitahu. Tanganku berhenti menscrol tablet. Aku meletakkannya di atas nakas dekat kasurku.


"Ayu melihat bagaimana bahagianya kakak dan mama saat bersama Mira dan mamanya. Maka dari itu, Ayu merelakan ku untuk menikah dengan Mira. Demi bahagia keluarga ini." Tanganku meraih satu bolpoin dari meja dan memutar-mutarnya di udara.


"Dia merasa insecure karena pasti tidak bisa membuat mama dan kakak tertawa selebar itu. Jangankan untuk tertawa, menatapnya saja mama enggan," lanjutku dengan tawa miris.


"Jadi, kalau kalian ingin aku menikah dengan Mira, baiklah, persiapkan saja semuanya. Aku terima beres aja."


Aku tak membiarkan Johana menyangga kalimatku.


Aku ingin dia mengerti, bahwa aku juga sangat kecewa padanya karena sudah tega berbuat seperti itu.


"Keluarlah, aku ingin istirahat lagi," ucapku seraya bangkit dari kursi kerjaku dan berjalan ke arah tempat tidur."


Aku akan pura-pura tidur untuk mengusirnya dari kamar ku.


"Aku rasa kalian salah paham, terutama Ayu. Tidak mungkin tidak disapa ketika bertemu. Apa aku dan mama harusnya sembunyi agar tidak bertemu mereka?


"Kau dan Ayu terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Dan kalian menyiksa diri kalian masing-masing."


Apakah iyah? Apa kami menyimpulkan dengan emosi?


"Mama memang belum menerima Ayu hingga hari ini, tapi bukan berarti aku juga sama. Ayu orang yang baik, Supel dan ceria.


Vania saja langsung kompak padanya hanya dalam satu kali pertemuan," lanjut Johana. Kini posisi kami di balik, dia yang sekarang menyerang ku dengan tampa henti seolah-olah membalas apa yang ku lakukan


dan katakan.


Aku menutup mata seolah-olah aku sudah tidur

__ADS_1


"Sepertinya aku harus menjelaskan ini sendirian pada Ayu, aku tidak mau di salah pahami terus-terusan."


"Selamat Malam Jansen." ucapnya langsung keluar dari kamarku tanpa menunggu jawabanku.


Benar juga, sepertinya aku sudah ketularan Ayu yang suka mengambil kesimpulan sendiri tanpa mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Astaga Yuyu...


Aku menepuk jidatku sendiri karena sudah bodoh.


Dasar Ayu!


...****************...


Pagi itu aku turun dan menuju ruang makan dalam diam. Sudah ada mama dan papa dalam di, dan aku juga enggan menyapa.


Aku duduk dan mulai menikmati sarapan sambil sesekali melihat portal berita di ponsel.


"Kapan kau akan bertemu Mira?" Mamaku bertanya dengan nada lembut.


"Jika ada waktu akan aku temui."


"Apa kau serius ingin menikah dengannya?" Kali ini papa yang bertanya.


"Apa aku boleh menolak? Bukankah ini mutlak?" jawabku tenang.


"Bagaimana dengan Ayu?"


"Dia pasti mengerti."


"....."


"Apa kalian putus?" Entah kenapa mendengar kalimat dari mama, sumpah aku kesal.


"Aku di campakkan karena dia kalah saing dengan perempuan lain yang dipilih oleh orang tuaku.


Dia ikhlas jika aku menikah dengan Mira sesuai keinginan orang tua ku."


"Mama, untuk apapun yang terjadi nanti ke depan, bahagia atau tidaknya aku, semua karena apa yang mama pilihkan untukku"


"...."

__ADS_1


__ADS_2