
~POV AYU~
****
'Sabtu besok kita di undang makan malam di rumahku.'
Aku rasa aku salah dengar, mungkin ini akibat dari seringnya berkhayal tentang di terimanya diriku dengan sangat ikhlas di keluarga Jansen.
Jansen malah mengulangnya sampai dua kali karena aku tidak memberi respon.
Sabtu besok itu tinggal dua hari lagi. Aku harus gimana? Apa ada janji hari itu? Apa aku harus beli baju mahal?
Otakku panik karena ajakan itu.
Aku memutus panggilan segera karena tidak mau mendengar kata-kata manis ini untuk kedua kalinya. Apa aku sudah bisa tersenyum sekarang karena hilal di terimanya aku sudah mulai muncul? Atau apakah besok akan hari terakhirku?
Aku harap segera sore dan aku bisa menanyakan ini pada Jansen dengan sepuasnya.
Me:
'Ayo ketemu nanti sore, kamu harus tanggung jawab. Jantungku hampir copot ini.'
Aku menuliskan pesan padanya. Dan segera di baca.
Jansen P
Typing.....
Jansen P:
'Sorry Yang, aku ada janji sama cewek imut selain dirimu.'
Imut? Bah, apa dia melaksanakan kata-kataku dulu? Apa sekarang dia punya pacar lain?
Wah... Apa dia,... hufff
Tarik napas, buang napas!
Aku melakukannya berkali-kali sampai aku merasa tenang.
Me:
' Imut? Imut siapa dia atau aku?"
Jamsen P:
'Sama2 imut , Yang'
😚😚😚
Me:
'Hmmm, baiklah.'
'Kabari aku jika sudah punya waktu uang'
Ini hanya kata-kata penghiburan untuk diriku sendiri yang terpaksa kulakukan agar aku tidak di katai menjilat lidah ludah sendiri.
Wah... mantap juga si Jansen. Apa selama lima minggu ini dia sibuk bangat karena. si imut yang baru ini?
Aku meredam emosiku sepanjang hari, aku berdoa agar segera sore hari dan semakin aku berharap sore datang, maka semakin lama pun sore itu tiba.
"Kamu kenapa?" Lia yang duduk di samping aku bertanya.
"Emang kenapa?" tanyaku balik.
"Dari tadi kamu menghela napas mulu, ada masalah? Ayi cerita padaku."
"Hehehe, gak ada apa-apa Li, aman," ucapku seraya membentuk tanda oke di jariku.
Ini dapur ku dan Jansen. Keadaan dapurku nggak semestinya jadi konsumsi orang lain, apalagi yang baru kena. Apalagi ini ada indikasi kabar tidak sedap.
__ADS_1
*****
Jansen P:
'Sending pict'
'Ini si imut yang aku bilang tadi.'
Aku tertawa konyol dan menepuk kepalaku dengan keras.
"Astaga, aku udah netting tadi" ucapku setelah tawaku reda. Aku melihat sekali lagi foto yang di kirimkan. Aku bis melihat gadis imut itu sedang tertawa lepas ketika tali ayunannya di dorong.
Ya, si imut yang Jansen bilang adalah Belvania. Mereka sedang ada di taman. Jansen mengirim beberapa poto lagi dan juga ada video Vania yang sedang bergelantungan di area permainan yang ada di taman.
Ada video singkatnya yang sengaja di zoom dan di ambil close up.
"Tante Yuyu, Vania imutkan? Lebih imut dari tante. Hihihi"
Dia terkikik dengan tangan imut menutupi mulutnya yang terbuka. Aku mendengar Jansen mengajarinya mengucapkan beberapa kata,
"Pasti tante kepikiran yah, hahahah"
Dia tertawa puas, padahal aku yakin dia tidak ngerti apa yang dia bilang.
Me:
'Baiklah, Tante Yuyu ngalah. Vania lebih imut dari Tante."
Jansen P:
' Udah tenang sekarang?'
Me:
'Tenang karena apa?'
Jansen P:
Me:
'Sok tahu!'
'Aku nggak sepencemburu itu yah😖
Jansen P:
' Emang kapan aku bilang kamu cemburu?'
Me:
'Udah yah, aku mau masak, bentar lagi ibu sama bapak pulang'
Aku menutup room chat dengan Jansen. Asli, malu gais, malu bangat tertangkap basah cemburu.
Lagian si Jansen, sok-sokan bikin aku jantungan. Kan jantungan beneran jadinya.
Untung aku nggak ngambek lagi.
*****
"Aku harus gimana dong, Rin. Aku nggak punya baju bagus ini. Temani aku besok cari baju bagus yuk!" Aku merengek pada temanku Ririn sambil berdiri di depan lemari yang isinya udah keluar setengah.
"Besok aku nggak bisa, aku udah janjian sama Pian."
Apa? Dia menolak ku demi Pian? Wo ya jelas, lah.
"Lagian acara apa sih makanya harus pake baju baru? Pilih aja salah satu baju kamu yang paling bagus!" saran si Ririn membuat aku sakit kepala. Setengah bajuku sudah ku coba tadi dan nggak ada yang bagus menurutku.
"Udah ku coba, tapi nggak ada yang bagus,"
jawabku datar dan mata masih mengikuti pergerakan jariku yang mencari baju paling bagus di lemari ini.
__ADS_1
"Ck, kamu lebay deh. Dari segitu banyak baju nggak ada yang bagus. Mata kamu sakit? Lagian tanya dulu si Jansen kekasih hatimu itu, acara apa? biar kami nggak salah kostum. Masa mau makan di rumah aja atau mungkin hanya sekedar jumpa orang tuanya aja, kami pakai pakaian glamor. Bisa-bisa kaki jadi bahan omongan mereka sekeluarga." Omongan panjang lebar di Ririn nggak ku hiraukan. Aku tetap mencari baju yang bagus. Kalau tidak ada, terpaksa aku harus cari ke mol besok sebentar.
"Yu, menurutku, kamu pakai baju apa adanya aja, jangan terlalu memaksakan diri."
Omongan si Ririn seperti menyadarkan aku.
Aku menghela napas berat lalu berkata,
"Kamu benar, aku terlalu panik, jadi mikirnya juga kejauhan." Aku berbicara sambil berjalan menuju kasur yang sudah penuh dengan pakaian yang aku keluarkan dari lemari.
"Semangat! Semoga kita segera berpesta," ucap Ririn seraya terkekeh.
"Ya udah, aku tutup yah Rin. Besok kamu hati-hati sama si Pian. Jangan mau di dusel-duselin sama dia." ucapku menasehati gadis yang sedang bucin parah itu.
"Emang kenapa kalo gue duselin dia? Keberatan lo?"
"Pian?"
"Kenapa? Kaget lo? Cie yang mau jumpa dengan camer. Seneng ni yeeee" ejeknya padaku dengan kekehan yang seperti biasa ketika dia mengejek.
"Apaan sih"
"Gue tahu lo, pasti lo udah heboh sekarang cobain baju mana paling bagus. Pasti baju lo udah pindah ke kasur sekarang."
Pian memang temanku yang paling oke. Dia menebak dengan sangat gampang dan tebakannya benar.
Saat aku masih ngobrol meladeni sejoli yang kadang sengaja bermesraan hingga aku bisa dengar suara ciuman singkat mereka dengan sangat kesal, tapi enggan memutus panggilan. Ibu mengetok pintu kamarku yang memang kututup untuk menghindari amukan karema kerapian kamar ini turun drastis dari yang biasanya.
"Yu, ada Andrian di depan, cep ---"
"Ayu Apriani, apa yang terjadi di kamarmu bisa seberantakan itu?" Ibu memotong ucapannya sendiri.
"Heheheh, aku lagi coba-coba" jawabku konyol.
"Temui Andrian di depan."
"Andrian?"
"Iyah, kenapa? Kamu pikir si Jansen?" tebak ibu asal-asalan.
Sebenarnya tidak berharap Jansen akan segera datang kesini. Selain jauh, sabtu besok juga pasti kemari jemput aku.
"Nggak, Besok dia baru datang. Coba ibu lihat. Ini cantik? Ini? Ini?"
Aku mengangkat beberapa baju yang dari lemariku.
"Mau di ajak makan malam sama orang tua nya."
"...."
"Gimana, Bu? ini bagus?"
"Nggak, itu jelek." Tanpa babibu, ibu langsung bergerak ke tumpukan kain di kasur.
"Pake pakean yang bikin kamu nyaman, bukan pakean yang bikin kamu norak. Apa adanya aja nak. Jangan terlalu di paksakan."
Ririn sama ibu sama-sama memberi saran yang sederhana tapi bermakna dalam. Aku merasa tertampar lagi.
"Oke ibu, semoga besok aku ngga malu-maluin disana."
"Sana ke depan ada Andrian!"
"Ck, dia ngapain sih datang-datang." Aku berdecak sebal karena tamu tak di harapkan itu.
"Udah, jumpai aja sana, muka kamu jangan masam gitu loh, Yu!"
Aku melangkah ke arah ruang tamu, menemui pria yang dulu ku gilai tapi kini tak sedikitpun rasaku ada padanya lagi.
"Hai Bang, apa kabar?" ucapku seolah kami sudah lama tidak bertemu. Padahal hampir tiap hari walaupun tidak sapa lama-lama. Sekarang dia jadi tukang antar jemput ceweknya di kantor. Aku bertanya-tanya, berapa kecepatannya dari kantorku ke kantornya. Nggak mungkin telat tiap hari kan?
"Baik, kamu gimana? Hati aman?"
__ADS_1