MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
103. SHOPPING WITH AYANG PART 2


__ADS_3

~JANSEN POV~


******


    Kami menoleh bersamaan kala ada suara yang memanggilku.


"Siang, Tan!" sapaku pada wanita paruh baya yang cantik nan elegan di depanku. Beliau adalah teman Mama ku sekaligus calon mertua gagalku.


"Shopping?" tanyanya tapi arah pandangannya pada Ayu yang berdiri di sampingku.


"Heheh, iya Tan. Tante sama siapa?" tanyaku berbasa-basi, dan saat itu aku langsung merasakan genggaman tangan Ayu di lenganku mengerat.


"Sama Dodi dan Dinda." Tante Er menjawab seraya mengedarkan pandangan, mungkin mencari Dodi dan Dinda.


Karena udah ketemu disini, akhirnya aku memperkenalkan Ayu pada beliau.


"Kenalin, Tan. Ini Ayu," ucapku menunjuk Ayu. "Mamanya Mira, Yang," lanjutku pada Ayu, yang sebenarnya hanya basa-basi, karena Ayu sudah pernah melihat Tante Er lebih dari dua kali dan tentunya selalu bersama Mira.


"Salam Tante, Ayu!" ucapnya sambil mengatupkan tangan.


"Hallo, senang bertemu denganmu!" balas beliau ramah.


     Aku hendak pamit, tapi terhenti karena tante Er bertanya, "ini calon kamu itu, Jan?"


    "Iya Tan, doain ya!" ucapku dan di respon dengan anggukan.


Waktu itu, ketika aku menolak perjodohan dengan Mira. Tante Er sangat marah. Mengatai bahwa aku hanya mempermainkan perasaan anaknya. Sempat beberapa kali bertemu setalah kejadan itu, Tante Er selalu mengacuhkan aku. Bahkan saat aku menjemput mama dan kak Jo hari itu di mal, tante Er masih saja cuek padaku.


Mungkin masih marah karena aku gagal menjadi menantunya kali ya.


    Hanya saja dua minggu lalu, kami bertemu saat aku menjumpai rekan ku di salah satu resto. Kebetulan ada tante Er dan suaminya juga disana. Aku menyapa dan sekali lagi minta maaf karena sudah menolak Mira dan lebih memilih Ayu. Dari saat itu, kami sudah bertemu beberapa kali dalam berbagai kesempatan dan tante Er sudha kembali ramah.


    "Kami duluan ya, Tan!" ucapku seraya tersenyum ramah.


Kami melangkah ke arah yang berbeda dari tante Er. Aku merasa tante Er masih memandangi kami, tapi aku bertahan untuk tidak menoleh. Pun dengan Ayu. Walau dia diam, dia tetap mengencangkan tangannya di lenganku.


    "Tante sama siapa?" Ayu tiba-tiba berujar dan aku melihat sekeliling. Tidak ada orang. Dia nyapa siapa?


    "Berharap bangat kayaknya di jawab, Oh sama Mira." gerutuan berlanjut dan kini aku sadar, dia sedang mengolok-olokku.


    "Kamu kenapa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti akan kecemburuannya.


    "Tante sama siapa?" jawabnya sambil menye-menye. Astaga pacarku!


Gemes pengen uyel-uyel sampe penyet.


    "Kamu cemburu?" tanyaku.


    "Ya jelas!" jawabnya tanpa mikir panjang.


Keren ya. Langsung jujur. Gak ada jaim-jaimnya. Aku melepaskan tangannya dari lenganku kemudian mengangkat tanganku dan meletakkan di bahunya. Aku melihat dia tersenyum dengan bibir tertahan.


*****

__ADS_1


    "Kamu suka warna apa?" tanyaku saat kami sudah berada di salah satu toko.


    "Pink!" jawabnya ceria sekali dan aku hampir pingsan mendengarnya. Gak mungkin kan aku pake sepatu pink.


    "Mau kopelan warna pink?" Aku tak habis pikir kalau dia jawab iya.


    "Emang kamu mau?" tanyanya seraya menatapku dengan binar ceria.


Jebakan. Aku jawab mau, habis aku. Dimana wibawaku dengan sepatu pink? Jawab tidak, mukanya pasti mewek.


Kenapa dia nggak ngerti sendiri aja sih.


    "Yang putih krem-krem aja deh, Ntar kamu kemanisan kalo pake yang pink."


Syukur pada Tuhan. Akhirnya dia mengerti kegalauanku walau tidak aku suarakan.


    "Tapi beliin aku yang ini. Imut!" Matanya berkedip-kedip dengan pipi menggembung. Jurus apa lagi ini?


    "Beli apa yang kamu mau, bebas Yang!" jawabku dan di respon dengan kaya 'Yes' tanpa suara.


Perempuan dan segala gengsinya. Tadi aja bilangnya norak, pas aku tawarin beli baju kopel. Sekarang malah dia yang pilih sendiri sepatu setelah tadi pilih baju juga.


Apa emang harus nolak dulu ya? Berharap di bujuk-bujuk atau gimana sih? Nggak ngerti.


    Aku melihat dia langsung mencoba sepatu pinknya. Wow, pilihannya bagus. Dia berdiri di standing mirror dan berbincang-bincang dengan mbak spg nya. Mereka tertawa seolah-olah udah kenal dekat.


Saat sepatu itu udah terpasang di kedua kakinya, dia menghentak-hentakkan kakinya lalu memutar badannya ke arahku. Dia memberiku tanda cinta dan kiss jauhnya membuat aku tersenyum. Dasar. Dia bertingkah imut-imut begitu, aku yang kena getahnya. Aku yang dag - dig - dug ser sekarang.


    "Kamu suka?" tanyaku saat kami keluar dari toko dengan beberapa paper bag di tangan.


    "Nggak lah. Malah aku tambah semangat cari uang biar bisa beliin kamu lagi ntar."


Bukan gombal ya, tapi aku memang tidak masalah kalau habis-habisan sama Ayu. Udah sejak lama aku pengen di porotin kayak gini dan baru kesampaian hari ini. Selama ini cuma bayarin dia makan aja, itupun  pernah dia yang bayar. Katanya udah ada gaji, jadi mau traktir sekali-sekali.


    "Baguslah, habis ini aku mau minta di belikan rumah! Semangat kerja bebi!" Tangannya mengencang di lenganku, dan bibirnya tersenyum lebar menampakkan giginya yang rapi.


    "Kan waktu itu kamu yang nggak mau beli rumah, udah kita cari-cari yang pas. Tapi kamu nolak."


    "Beda situasi! Kemarin kan kamu mau kabur. Makanya aku nggak setuju.Ck"


    "Mau beli tipe apa?"


    "Heheheh, nanti aja dulu deh. Cari uang yang banyak dulu, biar bisa bikin rumah kayak Raffi ahmad!"


Wah, permintaannya nggak kaleng-kaleng. Aku harus cari kerja sampingan kayaknya. Ada lowongan jadi tuyul nggak? Jalur expres.


    Kami berhenti di depan sebuah resto. Ayu melihat-lihat menu pada buku menu yang di letakkan di meja dekat pintu. Dia ngapain sih, masuk aja udah.


    "Makan disini aja, Yang. Kayaknya aku ngidam yang asam-asam manis."


Uhuk-uhuk-uhuk-


Dasar! Untung aku tidak sedang makan atau minum. Ngidam? Nggak ada pilihan kata yang lain? Kalau ada yang dengar gimana? di kirain aku udah tanam saham duluan.

__ADS_1


Nggak papa sih ngidam, aku pasti turutin. Tapi nanti dulu. Sah dulu. Astaga! Aku kehilangan kata-kata.


    "Ayo!" ucapnya menarik tanganku. Padahal aku mau menceramahinya agar mulutnya di kasih saringan pas mau bicara.


    "Yang, kamu bilang kamu ngidam?" cuih.. malah keluar pertanyaan bodoh dari mulutku.


    "Hm..hm.. kenapa?"


    "Ngidam? emang kapan kita----?"


    "Kamu mikir apa? ngidam emang hanya orang bunting aja? ck..ck..ck.."


Ayu malah menggeleng tanpa dosa. Memasang mimik wajah mengejekku.


    "Jangan piktor terus, Beb! Sabar!" ucapnya dengan terkekeh.


    "Gimana ya, mau sabar tapi sampe kapan? Punya ayang, tapi aku di gantung terus. Padahal aku udah tua, udah kebelet lagi," ucapku pelan menyindirnya.


    "Gantung apanya, terus ini apa?" tanyanya seraya mengangkat tangan dan pamer jari yang ada cincinnya. Cincin yang aku sematkan tadi pagi di kolam renang.


    "Emang kamu setuju itu cincin lamaran? Tadi pagi kan nolak?"


    "Jadi apa lagi selain itu? hadiah? ya udah, kasih aku lagi yang lain sebagai hadiah." Ayu menadahkan tangan padaku dengan mata berkedip-kedip dan bibir tersenyum manis.


Gadis penggoda! Jahat! Penyiksa diriku!


    Aku menepuk tangannya dan mendorongnya.


    "Gak, aku bisa bangkrut kalau gini terus!"


    "Gak papa, ntar aku yang traktirin kamu, kalau kamu bangkrut. Tenang aja!"


Dia bicara sangat enteng. Bukannya aku berharap. Tapi roda dunia berputar, Jika seandainya itu kejadian padaku, maksudku bangkrut, kira-kira gadis ini masih mau bersamaku nggak yah? Aku menatapnya dalam-dalam. Aku ingin sekali bisa menembus hatinya dan melihat seberapa dalam ketulusannya padaku. Bukan meragukan sih, cuma ingin memastikan saja.


    Dia memesan makanan untuknya dan untukku. Dan minumannya juga. Aku serahkan pada dia aja.


Aku melihatnya memilih-milih sejenak sembari berpikir.


Mataku mengarah pada jarinya, ku harap dia segera berubah pikiran dan menerimaku secepatnya.


    Tak lama, pesanan datang. Tak sebanyak yang ku bayangkan. Melihat dia tadi begitu lama dan begitu seksama memilih-milih, ternyata yang datang hanya dua porsi  dengan menu beda.


    "Cuma ini aja?" tanyaku.


    "Iya, kamu mau yang lain, Yang? Aku sengaja pilih yang beda, supaya bisa icip-icip," ucapnya.


Jadi, tadi dia ngapain aja sama waiternya? ngerumpi? wah,, hal-hal kayak gini yang bikin waiters marah.


    "Aku ada pesan kentang goreng sih, belum datang. Kalo ada yang lain, yang kamu mau, pesan aja nanti. Kali ini aku yang traktir," lanjutnya.


    "Cukup ini aja, aku nggak terlalu lapar. Heran aja, aku kira kamu pesan banyak, soalnya bnyak nanya-nanya sama mbaknya tadi."


    "Mubajir kalo gak habis, pesan seadanya aja, lagian aku yang mau bayar, Sayang bangat uang aku kalo sampe sisa-sisa."

__ADS_1


Baiklah, makan saja apa yang di pesan.  Makin panjang protesanku, malah dia akan makin absurd lagi menjawabnya.


__ADS_2