
~JANSEN POV~
*****
Keadaan di rumah masih sama saja. Masih berkobar api dingin di kepala masing-masing.
Aku yang sudah terkenal dingin di kantor akhir-akhir ini, sama juga dengan di rumah. Makan bersama dalam diam, setelah itu kembali ke kamar. Aku tidak pernah terlibat lagi dalam obrolan keluarga di ruang keluarga seperti yang biasa kami lakukan.
Sama seperti malam ini. Aku yang baru pulang dari pengintaian, tiba di rumah sudah jam tujuh lewat dan semua sedang makan malam.
"Jan, makan malam dulu," ajak kakakku yang tertama kali menyadari eksistensiku.
"Nanti saja, Ka. Mau mandi dulu, gerah." Aku melangkah menaiki tangga tanpa menyapa yang lain termasuk orang tuaku.
Aku tidak tahu apakah sikap ku ini sudha termasuk dalam daftar kategori durhaka atau belum. Tapi, walaupun aku menyadari bahwa ini bukanlah sikap yang baik, sampai detik ini hatiku belum tergerak untuk bicara dengan mama papa.
Aku merebahkan tubuhku di kasur dengan kaki menggantung lengkap dengan sepatu yang belum ku lepas kemudian merogoh ponsel dari kantong celana. Aku membuka room chat dan membaca ulang chattinganku bersama Ayu.
Aku tersenyum seperti orang bodoh saat membacanya, teringat dengan gerutuannya ketika dia duduk di belakangku di cafe tadi. Jika aku tidak mendengarnya langsung tadi, aku akan percaya bahwa dia sedang tidak ingin ku ganggu dan aku akan yakin bahwa dia sudah iklas melepasku. Kini aku bersyukur karena memiliki pikiran untuk mengikutinya tadi.
"I Miss You So bad," ucapku seraya menatap ponsel yang menampilkan poto Ayu yang sedang tersenyum manis sebagai profil wawa nya.
"Dasar perempuan, gengsinya selangit, apa susahnya bilang aku rindu."
Aku mengelus wajahnya di layar ponselku. Mataku sendu karena sampai detik ini belum ada titik terang untuk kami. Mamaku sudah kembali ke settingan awal, dia sudah mulai ngotot mengenai Mira lagi. Benar-benar tidak peka terhadapku. Beberapa kali sudah menyinggung Mira, apa sudah ku temui atau belum. Jawabanku tetap sama. Nanti. Aku tidak tau kapan pastinya, 'Nanti' ini.
Aku menarikan jemariku di layar ponsel.
Me:
'Aku sudah di rumah, capek sekali rasanya. Butuh liburan.'
Aku memancing Ayu, semoga dia peka. Jika dia mengajak untuk berlibur bersama, aku akan pergi saat itu juga.
Jangankan berlibur, di ajak bertemu saja, aku pasti pergi.
Tring
Yuyu Love:
'Sending Pict'
Dia mengirimkan poto pantai yang bersih dan sangat indah.
Yuyu Love:
'Nanti kapan-kapan kita kesini, cari uang yang banyak dulu.'
Apa dia salah kirim?
Apa ini sinyal bahwa kami sudah baikan dan sudah pacaran lagi?
Eh, kami memang pacarankan walaupun seperti tidak pacaran.
Me:
'Kamu Serius?'
Yuyu Love:
"Duarius,'
Me:
'Weekend ini mau?'
Yuyu Love:
__ADS_1
'Senin kan kerja, aku masih termasuk anak bawang, nggak bisa cuti2 sekarang ini."
Hahahahaha, anak bawang katanya. Sudah enam bulan masih anak bawang?
Me:
'Pulang Minggu Sore.'
Aku lebih bersemangat sekarang. Semoga dia mau, berangkat Sabtu, pulang minggu sore. Aku rasa udah cukup untuk melepas kangen.
Yuyu Love:
'Itu pantai di Maldives,'
Oh,,God. Setidaknya harus seminggu itupun pasti masih kurang.
Me:
'Kita ke tempat yang dekat saja dulu, yang jauh kapan2,'
Yuyu Love:
'Halalin aku dulu, Bang!'
Walau dia mengirimkan emotikon tertawa terbahak-bahak, tapi ada makna dari kalimatnya.
'Tidak boleh pergi liburan berdua jika belum halal.'
Emangnya aku mau apain dia, aku juga punya moral.
Me:
'As soon as possible'
'Di tunggu, yah,'
Yuyu Love:
'Jansen, Miss you so bad, I'm not lying'
Aku langsung menekan tombol video call dan di tolak.
Yuyu Love:
'Don't call'
'I can't hold to see your face'
Me:
'Miss you too, Sayang.
'Pls stand there for me!'
Aku mencium ponselku lebih tepatnya wajah Ayu yang ada di layar ponselku. 'Sayang, aku kira kamu sudah menyerah, aku hampir putus asa,' batinku.
Me:
'Sayang, Thanks for taking me back'
Semangatku langsung membaik. Sejak di cafe tadi, moodku memang membaik, jika seseorang bisa melihat aura, mungkin mereka bisa dengan jelas melihat bagaimana aku tadi dan sekarang pasti makin berlipat-lipat.
*****
Aku melangkah dengan pelan, menuruni tangga. Sejak pulang sore tadi, aku tidak keluar kamar dan sekarang aku sepertinya lapar. Ini sudah jam sepuluh malam bahkan sudah lewat, pastinya penghuni rumah sudah tidur.
Saat aku hampir berbelok ke arah ruang makan, aku mendengar sayup-sayup orang berbicara, aku menelengkan kepalaku ke arah suara dan itu berasal dari ruang keluarga.
__ADS_1
Seperti pencuri, aku mengarahkan pandanganku ke segala arah sebelum melangkah dengan pelan ke arah sumber suara. Dari suaranya aku bisa tahu itu adalah Kak Jo dan Mama.
Apa yang mereka bicarakan selarut ini? Apa mereka sedang mereview sinetron?
Atau apa mereka berubah jadi sutradara dadakan?
"Jangan terlalu memaksakannya, Ma. Jansen berkata begitu karena dia sudah putus asa." Itu suara Kak Jo.
"Putus asa gimana maksud kamu?" tanya Mama.
"Waktu aku ke kamarnya, dia bilang, Ayu melihat kita waktu di mal kemarin bersama Mira dan tante Er, terus
Ayu merasa insecure karena kita terlihat sangat bahagia. Makanya dia bilang ke Jan, putus aja, biar Mama sama
kakak kamu dan keluarga lainnya tetap bahagia dan tidak merasa terpaksa. Jan merasa di campakkan dan putus
asa. Makanya dia jadi kurang ajar sama Mama, melawan mama dan berbuat seenaknya. Sampe kabur-kaburan."
Aku mendengar kak Jo berdecih karena sifat ke kanak-kanakanku yang kemarin.
Aku mendengar mama menghela napas dengan berat.
"Jansen anak baik dan pekerja keras, mama pikir dia akan cocok dengan Mira. Setelah beberapa minggu ini, mama pikir mama seperti terlalu memaksakan dia. Tapi untuk menerima Ayu, sepertinya mama belum bisa. Waktu ketemu kemarin, kayak tidak nemu kemistrinya," ujar mama dan aku merasa seperti menemukan titik terang.
Aku tersenyum dalam diam. 'Mama terlalu cepat menilai, Ayu juga gitu, sepertinya kalian cocok, Ma,' batinku.
"Mama kan baru bertemu sekali, Coba kalo sudah berkali-kali. Aku aja yang cuma sekali bisa langsung cocok. Cuma aku agak sedih kemarin, mereka berdua menuduh aku pura-pura. Aku kira ini pemikiran Ayu, karena melihat kita di mal." Kak Jo sepertinya masih kecewa pada kami. Apa dia belum bertemu Ayu lagi seperti yang di gumamkan waktu itu di kamarku?
Aku memutar badan, melangkah ke dapur dan mencari sesuatu yang bisa di makan.
Aku melahap makanan yang di sisakan untukku. Aku merasa makanan ini sangat enak sekarang. Saking lahapnya, aku sampai tidak sadar bahwa dua wanita yang bergosip tadi sudah ada di ambang pintu ruang makan ini.
"Jansen?"
Aku menaikkan alisku, melihat mereka berdua dengan datar seperti hari-hari sebelumnya. Aku harus ekting pura-pura datar dan cuek. Aku tidak ingin mereka curiga bahwa aku sudah mendengar obrolan mereka.
"Tumben makan jam segini." Kak Jo mendekat dan menarik kursi di hadapanku. Mama berjalan ke arah lemari dan mengambil satu gelas lalu mengisi air. Aku kira itu untuknya tetapi aku melihat mama meletakkan gelas itu di depanku.
"Karna aku lapar. Kenapa?" jawabku cuek pada kak Jo.
"Makasih, Ma," ujarku seraya meraih gelas itu dan menyesap satu tegukan.
Kedua wanita itu duduk di hadapanku dalam diam.
Aku tidak tahu harus bicara apa, tapi aku sudah merasa damai melihat mama yang duduk di hadapanku. tidak ada kobaran api dingin di kepalaku.
"Jans--"
"Maafin Jansen, Ma."
Kami sama-sama terdiam dan kemudian tersenyum geli karena kami berucap bersamaan.
"Ya sudah, udah larut, Mama udah ngantuk. Jangan langsung tidur setelah makan."
Aku menangguk dengan binar bahagia ke arah mama. Dewa kedamaian, terima kasih sudah hadir di rumah ini.
"Senang?" tanya kak Jo dengan alis menaik seperti mengejek.
"Apanya?"
"Senang menguping?"
What? Bagaimana dia tahu?
Kak Jo berdiri dan bersiap pergi,
"Tidak perlu pura-pura kaget, aku bisa cium parfummu tadi,"
__ADS_1
"...." ~Auto mengendus tubuh sendiri.~