MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Tanpa Limit


__ADS_3

Bagian 39


Oleh Sept


"Sayang ... mana bajuku."


"Ada di situ," teriak Tika dari balik kamar mandi.


"Nggak ada."


Dewa berdiri tepat di pintu kamar mandi. Menunggu pintu ajaib itu terbuka.


"Ya ampun, sudah aku seterika tadi. Bentar ... bentar, aku lanjutin mandi dulu."


Tok tok tok


"Buka bentar dong."


"Astaga, nanti ... bentar lagi selesai."


"Tik ... bukain dong."


Tok tok tok


Rupanya Dewa hanya alasan, padahal ia tadi sempat melihat bajunya ditaruh di sebelah mana. Sebelum berangkat kerja di hari pertama, sepertinya Dewa mau melakukan acara ceremony. Perasaan meskipun dikerjakan berkali-kali, PR mereka tidak pernah selesai. Nambah dan terus nambah. Mungkin PR mereka tidak memiliki batas limit tertentu, bebas tanpa hambatan.


KLEK


"Mau ngapain sih? Tadi bukannya udah ke kamar mandi?" Tika mengeryitkan dahi.


Dewa tersenyum aneh.


Ceklek


Suara pintu dikunci.


Dewa menarik Tika masuk ke dalam kamar mandi lagi. Menyalahkan shower, dan membuat tubuh mereka berdua basah kuyup lagi.


"Astaga ... aku habis mandi!" gerutu Tika. Ia mendorong dada bidang milik suaminya. Saat Tika melangkah mundur, Dewa langsung menarik tubuh itu. Tidak membiarkan Tika lolos.


"Ya ampun, nanti kesiangan. Ini kan hari pertama. Kerja sama bule nggak bisa seenaknya," terang Tika yang sudah berpengalaman kerja di Hongkong.

__ADS_1


"Ish ... Tika, cerewet sekali. Suamimu ini bukan pegawai biasa, tenang saja. Telat satu jam juga nggak apa-apa," jawab Dewa dengan begitu PD-nya.


Sedangkan Tika, ia menatap tak percaya. Bisa-bisanya sang suami bersikap seperti itu. Seenak udelnya sendiri, memangnya itu perusahaan milik kakeknya? batin Tika.


"Tetap saja, nanti te ..."


Dewa langsung merampas mulut yang terus berbicara tersebut, mata Tika pun terbelalak. Jahil sekali suaminya ini. Tapi tidak apa, ia lama-lama menikmatinya. Sentuhan lembut, sikap ingin dan menuntut, Tika menyukainya. Ia sangat menyukai mantan Tuan mudanya tersebut.


***


Di sebuah gedung perkantoran yang berada di pusat kota London. Terlihat Dewa sedang melakukan presentasi di depan para bule-bule yang berasal dari berbagai belahan dunia. Gayanya sangat percaya diri dan lancar.


Terlahir dengan bakat yang diturunkan dari almarhum sang Papa, Dewa nampak begitu meyakinkan dan terlihat berwawasan luas. Jiwa bisnis sudah mengakar kuat pada pria tersebut. Apalagi gaya bicaranya yang fasih saat berbicara dalam bahasa asing. Ya, Dewa menguasai banyak bahasa rupanya. Tidak hanya Inggris dan Jawa. Ini gara-gara si Tika, sedikit-sedikit Dewa jadi tahu bahasa Jawa Tika yang khas dan medok tersebut.


Selesai melakukan presentasi, Dewa menyambut uluran tangan dari beberapa orang di depannya. Sepertinya mereka menyukai rencana mega proyek yang Dewa terangkan tadi.


Mantan CEO Diamondland land tersebut, sepertinya akan menggembangkan bisnis property di Britannia Raya tersebut.


Saat semua orang sudah keluar dari ruang meeting, Dewa kembali menyalakan laptop miliknya. Ia mau menghubungi Tika, mau berbagai kabar gembira.


Sambil menunggu panggilan video dijawab oleh Tika, Dewa menatap pemandangan di depannya. Deretan atap gedung yang berjajar, seolah berbaris rapi satu komando. Dewa menatap penuh keyakinan, sepertinya ia akan memulai dari titik ini. Membangun lagi bisnis yang sempat terhenti, demi masa depan keluarga kecilnya.


"Halloo ... ada apa?" Wajah Tika muncul memenuhi layar laptop.


Tika langsung bersemu merah jambu, Dewa bahkan bisa melihat hidung sang istri kembang-kempis akibat ucapannya. Ah, mudah sekali melelehkan hati istrinya itu.


"Baru juga dari rumah," ucap Tika sambil memegangi pipinya.


"Hemm ... tetep aja, gak bisa jauh-jauh. Oh ya, mungkin ini berkat doa dari kamu sayang, proyek yang aku ajuin sudah di acc. Siap-siap ya, nanti malam kita party."


Tika memutar bola matanya, pesta yang seperti apa? Kepalanya mulai berpikir yang macam-macam.


"Udah, gitu aja. Aku matiin, bye ... luv you Beby!"


Klip


Tika menepuk pipinya yang terasa hangat, Dewa membuat hatinya berbunga-bunga seperti di musim cherry.


Sedangkan Dewa, ia mulai serius untuk memulai mega proyek yang akan menjadi awal kesuksesan pria itu di negari Putri Diana tersebut.


***

__ADS_1


Lima bulan kemudian.


Ting tung


Tika sedang membereskan kamar saat bell apartemen berbunyi. Siapa gerangan, pagi-pagi ada yang memencet bell. Tidak mungkin suaminya, Tika melihat jam dinding. Dewa baru berangkat kerja setengah jam lalu. Penasaran Tika mengintip lewat lubang pintu.


Deg


Tika langsung mundur, ia cemas melihat siapa yang datang. Di depan pintu ada beberapa pria berpakain serba hitam dan kacamata hitam pula. Sepertinya bukan orang biasa. Takut, Tika langsung lari ke kamar. Mencari ponsel dan menghubungi suaminya.


Tut Tut Tut


Tika panik, Dewa tak mengangkat telpon miliknya. Dewa sedang mengemudi, ponselnya ada di dalam tas. Ia tidak mendengar, sebab semalam ia masih mode silent.


"Sayang ... angkat telponnya," batin Tika.


Bruakkk


Tika makin panik, terdengar suara pintu depan sudah didobrak.


Tap tap tap


Suara derap langkah semakin mendekat, Tika terlihat gelisah, bulir keringat mulai memenuhi dahi wanita itu.


Bruakkk


Salah satu pria berpakain serba hitam menendang pintu kamar utama dengan keras. Begitu pintu terbuka, tiga di antara mereka langsung masuk dan mendekati Tika. Tika cemas, panik, dan gelisah berlebihan. Belum disentuh, wanita itu jatuh pingsan. Bersambung.


Sambil nunggu up, baca juga ya ;


Rahim Bayaran


Istri Gelap Presdir


Dea I Love You


Kesetiaan Cinta


Instagram : Sept_September2020


Yang mau tahu info novel apa yang Sept tulis, cussss ke Instagram ya.

__ADS_1


Terima kasih, terlope.


__ADS_2