MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
135. HAMIL?


__ADS_3

Bukannya dapat pembelaan malah dapat tabokan. Poor Ayu.


"Ndak malu! Udah jadi istri malah ngambekan. Gimana sih kamu? Malu-maluin Ibu aja! Gimana coba tanggapan mertua kamu?"


"Ibuuuuu..."


"Ndak ada ibu - ibu, perkara kecil malah di besar-besarin. Ibu kira kamu adu jotos sama Jansen atau kamu di usir mama mertuamu makanya kesini. Perkara mie rebus kan bisa bikin lagi, Yu!"


"Tapi disana nggak bisa makan mi instan, Bu. Itu aja Yuyu udah sembunyi-sembunyi di dapur tapi mantu ibu datang dan marah-marah habis itu malah makan punya Yuyu sampe habis. Telornya aja masih satu gigitan Yuyu makan." Ayu merengek seperti bocah. Tidak sadar Jansen merekamnya dengan wajah penuh senyum kelicikan.


"Ya udah sana masak lagi!" Ibu Rohaya sangat kesal dan juga malu. Anak gadisnya yang sudah menjadi istri ngambek di depan mertua. Sungguh perilaku tidak terpuji.


"Udah nggak pengen lagi!" Yuyu berlari ke kamarnya. Niat mau cari sekutu untuk marahin Jansen malah yang dapat lawan.


"Lah, malah ngambek lagi! Yu!" Rohaya memanggil dengan suara lantang.


"Udahlah, Bu. Moodnya lagi nggak bagus. Biarin aja. Nanti juga sadar sendiri udah kekanakan." Mata pak Berton tetap tertuju ke layar televisi.


Jansen bangkit menghampiri ibu mertuanya.


"Bu, bisa tolong ajari Jan masak mi rebus?"


"Kamu mau makan mi rebus?"


"Bukan buat Jan, Bu. Buat Yuyu. Seingat Jan tadi pagi, ada dua telurnya. Satu di rebus satu di mata sapi."


"Ibu ngerti, Yuyu emang gitu kalau makan mi instan."


Mertua dan menantu itu akhirnya memasak mi rebus yang menjadi sumber kekesalan Ayu. Pada akhirnya Jansen hanya tim pemantau, yang mengiris bawang sampai memasak adalah mertuanya.


"Kamu udah bilang mama kamu Jan kalau kalian kesini?"


"Udah, Bu!"


"Maafin Yuyu ya, Jan. Bilangin mama kamu juga. Ibu malu punya anak perempuan ngambekan."


"Iya, Bu. Tapi dari semalam dia udah ngambekan, Bu. Gara-gara Jan tolak dia bawa motor ke kantor."


"Tuh, kan? Perlu di tatar itu anak!"


Rohaya tak habis pikir. Buat apa bawa motor le kantor kalau ada mobil bahkan lengkap dengan supir?


Orang lain bahkan mengimpikan itu, lah si Ayu malah sok-sokan ngimpi turun derajat.


*****


"Yang, aku boleh masuk?" Jansen berdiri di depan pintu kamar istrinya.


Tidak ada sahutan yang artinya masih marah. Jansen menekan hendle pintu dan tidak terkunci, artinya seseorang yang di dalam sedang menunggunya, kan?


"Aku bawain kamu mi rebus dengan dua telor," ucap Jansen layaknya memberi kejutan tapi garing.


Tidak ada respon dari orang yang sedang berbaring itu.


"Bukannya mandi, sedari tadi dia ngapain?" gumam Jansen karena melihat istrinya masih lengkap dengan pakaian kantornya tadi.


"Kami mau nggak, Yang? Kalau nggak biar aku yang makan. Cobain masakan sendiri dan nilai sendiri juga gak papa kayaknya."


Jansen memancing Ayu dengan perkataannya.


"Emang kamu bisa masak?" Umpan di makan.


"Bisa, dong!" Jansen menepuk dadanya sombong.


"Bohong! Palingan juga ibu yang masak." Buat apa bohong, udah jelas tersurat di wajah Jansen bahwa dia tidak bisa memasak. Pria sultan kan biasanya gitu.


"Aku yang masak, Yang. Di bantuin ibu!" balas Jansen jujur pada akhirnya, dia ciut juga di pelototi gitu sama Ayu.


"Ya udah sini, aku mau coba dulu! Kamu nggak aku bagi, tadi pagi kamu habisi punya aku. Seharian aku nggak makan karena nggak nafsu jadinya."


Awalnya Jansen hendak marah karena Ayu sampai nggak makan. Tapi melihat istrinya yang terpejam setelah satu suapan kuah kental penuh bumbu mi instan itu masuk ke dalam mulutnya, akhirnya kemarahan di hold dulu.

__ADS_1


Tunggu mood Ayu bagus dulu, baru di kasih ceramah nanti


"Walau aku yakin seribu persen ini masakan ibu, tapi karena kamu 'bantuin' maka aku kasih kamu dua jempol. Masakan 'kamu' enak!"


Jansen tersenyum dan mengusap kepala istrinya. Dengan isengnya, dia lalu mengambil ponsel dan mengambil foto Ayu yang sedang menikmati mi instan.


"Sudah sembuh dari ngambek."


Pesan bergambar itu di kirim ke Mamanya.


*****


Pagi-pagi sekali Ayu sudah segar dan hendak ke dapur membantu ibunya.


Ditatapnya punggung terbuka Jansen yang masih berbaring dengan pulasnya.


Sejak menikah, Jansen berubah jadi orang yang siangan.


Ayu mengecup bahu Jansen lalu menaikkan selimut hingga menutupi bahu Jansen.


"Masih ngambekan kamu?"


"Ish!" Ayu mencebikkan bibirnya membalas ucapan selamat datang ke dapur dari ibunya. Dia segera membantu ibunya menyiapkan sarapan.


"Kamu udah haid?"


"Ibu apa-apaan sih nanya kekgitu. Privasi, Bu. Malu."


"Yang nanya kan ibu, kon malu? Lagian yang ibu tanya hal yang wajar, lain hal kalo ibu tanya masalah ranjang kamu sama Jansen."


Pipi Ayu merona. Baginya, ini pembahasan yang tabu di bahas selain sama suami.


Sejak awal dia datang bulan waktu sekolah dulu, dia tidak pernah cerita ke ibunya. Ibunya tau karena melihat ada plastik bungkus pembalut di tong sampah.


"Ibu tanya serius loh, Nak. Kamu udah haid?"


"Belum!"


Tangan Ayu yang sedang mengupas wortel seketika berhenti.


"Bulan lalu juga nggak datang. Yuyu juga mikirnya kayak ibu, tapi badan Yuyu sama aja kek biasa. Nggak ada mual atau pusing. Jadinya yuyu kurang yakin buat cek atau bilang ke ibu dan mama."


"Nggak semua orang hamil harus pusing dan mual. Ibu hamil empat kali udah tiga bulanan baru ketahuan. Karena ibu nggak rasain apa-apa dan juga abai kalau tidak haid."


Ayu terdiam. Apa dia udah hamil?


Apa dia merasakan seperti pengalaman ibunya?


"Mood kamu yang ngambekan juga bisa jadi pertanda."


Sebenarnya Rohaya nggak kepikiran itu semalam. Tapi suaminya yang menyinggung.


"Bisa jadi karena dia hamil, jadi ngambekan begitu, coba ajak periksa besok!" Begitu kata pak Berton pada istrinya tadi malam.


"Nanti Yuyu cek, tapi Ibu nggak usah bilang dulu ke Jansen ya, Bu!"


"Hmm, terus itu loh Yu. Kamu jangan nama-namain Jansen lagi. Udah suami. Panggil abang kek, mas, atau akang. Terserah kamu. Jangan Jansen Jansen terus."


Hufff, Ayu menghela pelan. Masalah panggilan pun jadi besar sekarang.


"Banyak bangat pendukung Jansen sekarang, Ibu juga, udah kayak Jansen anak kandungnya."


Ayu menggerutu pelan. Tak berani mendebat ibunya selain berkata "Iya, nanti Yuyu nggak gitu lagi."


"Kalau kamu beneran udah hamil, banyak pantangannya. Banyak juga godaannya. Jangan karena hamil, kamu punya alasan untuk minta ini itu ke Jansen. Itu tidak selamanya karena ngidam. Jangan sekali-sekali jadikan hamil kamu itu alasan."


"Iya, Bu!"


Perasaan Ayu sekarang tak karuan


Apa benar dia jadi hamil? Berarti dia akan jadi mamak-mamak sebentar lagi?

__ADS_1


Udah siapkah dia?


"Udah siap menikah berarti siap menjadi mamak-mamak, bodoh!" gumamnya pada diri sendiri.


*****


Ayu melihat suaminya yang masih pulas. Posisinya berubah dan selimutnya melorot lagi.


Jika dia hamil, berarti beberapa bulan lagi Jansen akan jadi papa.


Ayu penasaran, gimana perasaan Jansen saat mengetahui istrinya hamil.


"Beb, bangun. Udah siang!" Ayu menepuk pelan lengan Jansen.


"Hmmmm" Jansen menggeliat. Terlihat jelas dia masih enggan untuk bangun.


"Ayo bangun! Mandi! Aku udah siapin baju kamu."


"Bentar lagi, masing ngantuk. Udah jam berapa?"


"Enam, ayo! Nanti kita telat."


"Hari libur kapan lagi sih? Aku mau bangun siangan dikit."


"Nanti hari minggu kan libur. Sabtu besok juga kamu libur. Kamu bisa bangun siang. Tapi sekarang nggak, aku nggak mau telat lagi. Ayo bangun cepat!"


Jansen dengan tidak iklasnya meninggalkan tempat tidur. Berjalan seperti zombi ke kamar mandi.


*****


Sepanjang hari Ayu berpikir keras, gimana menghadapi mertuanya. Dia malu karena ngambek dan hampir nangis di depan mertuanya kemarin pagi. Bahkan pergi tanpa salim.


Ponsel di tangan nya di letakkan kembali. Tadinya dia berniat menelpon mertuanya.


Tring


Mama:


"Yu, kamu pulang jam berapa?"


"Sama mama aja yah, Mama yang jemput!"


"Bilangin Jansen, nggak usah jemput kamu."


Seketika jantung Ayu berdetak cepat.


Apa setelah ini dia dapat ceramah lagi?


Yuyu:


"Jam 5 pulangnya, Ma."


"Yuyu kasih tau mas Jan ya, Ma."


*****


Sore hari di cafe,


Ayu duduk gelisah di hadapan mertuanya. Sesekali dia meremas tangannya di pangkuan.


"Yuyu minta maaf ya, Ma. Kemarin udah nggak sopan pas mau ke kantor. Malamnya Yuyu malah minta pulang ke ruman ibu."


Dia menunduk tak berani menatap mertuanya.


"Iya, nggak papa. Mama ngerti. Mama juga gitu dulu kalo lagi kesel. Tapi jangan di biasain ya! Takutnya anak kamu kebawa-bawa nanti!"


Uhuk...Uhuk...


Ayu tersedak ludah sendiri. Segera dia meraih jus jeruk pesanannya dan menyeruput sebelum merespon mertuanya.


Nyonya Helena tersenyum melihat tingkah Ayu itu.

__ADS_1


"Mama jemput kamu, biar kita pergi periksa ke dokter. Jangan kasih tahu Jansen dulu. Nanti kita kasih kejutan buat dia."


__ADS_2