MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
120. TERNYATA AKU SALAH MENILAI


__ADS_3

~AUTHOR POV~


-Kembali ke masa kini-


******


    Lamaran tak terduga tiga bulan lalu itu memberi perubahan yang sangat besar.


Dimana orang tua Ayu dan orang tua Jansen lebih tepatnya ibu mereka berdua tetiba berubah seperti sepasang bestie.


Tak ada nada ketus atau raut bengis yang di tunjukkan oleh nyonya Helena. Sejak malam itu, cerita mereka nyambung.


Begitu juga pada Ayu, pandangan nyonya Helena yang semula sangat meremehkan kini perlahan mulai berubah.


Apalagi kerabat yang lain banyak yang memuji-muji Ayu.


    "Jan, kamu dapat cewek begini dari mana, sih? Tunjukin jalannya dulu sama Mas mu, biar dia nggak salah-salah mulu bawa cewe ke rumah Tante." Salah satu kerabat Jansen berkata seperti itu saat Jansen membawa Ayu untuk makan malam bersama.


    "Mas, perasaan waktu kamu di jodohin sama si itu nggak seceria ini, deh. Hayo,, di kasih apa kamu sama tunangan kamu?" Seorang sepupu yang jahil bertanya.


    "Di kasih cinta lah, menurutmu apa lagi?"


    Pembawaan Ayu juga yang sopan dna mudah bergaul membuat mereka senang.


Hal itulah yang membuat nyonya Helena mengubah pandangannya terhadap Ayu. Bahwa Ayu yang di anggap dulu tidak pantas bersanding dengan anaknya karena berasal dari keluarga yang jauh di bawah mereka, dan selalu beranggapan bahwa Ayu hanya ingin menjadi gold digger pada anaknya, semua anggapan itu terpatahkan sekarang.


    ******


    "Kamu dengar tadi kan apa yang Bude mu tanyakan?" Nyonya Helena memulai pembicaraan saat mereka bertiga berada di mobil.


    "Jangan tunda-tunda lagi deh Yu, gak baik nunda-nunda," lanjutnya lagi.


    "Maksud mama apa sih?" tanya Jansen.


    "Nikahan kalian lah!" balasnya judes.


    "Kalau mau berumah tangga itu ya mental terus di uji, jadi kalau mau mentalnya siap, ya nggak bakalan siap-siap. Udah deh, mama gak mau dengar alasan lagi. bulan depan kalian nikah aja deh, biar mama sama ibu kamu yang urusin semua."


    "Tapi, Ma--"


    "No debat!"


Nyonya Helena memutus pembicaraan sejenak dengan memotong bantahan yang hendak di keluarkan oleh Jansen.


    "Heran sama kamu Jan, perasaan kamu deh yang ngebet waktu itu, sampe bikin mama jantungan. Tiba giliran di mau i, kamu malah yang ulur-ulur."


Gerutuan dengan nada kesal dan di dukung dengan mimik judes menghiasi perjalanan yang padat karena kemacetan.


    Sebenarnya, jika ditanya. Jansen bahkan sudah lebih dari siap. Jika di minta nikah besok atau bahkan malam ini dia sudah siap. Janji pernikahan udah hafal di luar kepala. Hanya saja, permasalahan ada di gadisnya itu.


Walau berkata "i'm ready" waktu itu, tapi masih ada keraguan yang terlihat jelas dari rautnya pun dari jawaban jika ditanyakan tentang pernikahan.

__ADS_1


    "Bukan ngulur, Ma. Jan sama Yuyu lagi nyatuin mental biar sama-sama siap."


    "Halah, banyak alasan."


Ayu yang duduk di depan merasa tidak enak, karena sadar bahwa dirinya yang merupakan pihak yang mambuat semuanya berjalan lambat.


Segala kerisauan sudah di utarakan pada orang tuanya pun ipar-iparnya, tapi dasar otaknya yang membal, segala saran dan masukan langsung putar haluan.


    "Tante, menurut tante nanti baju Yuyu bagusan model yang gimana? Yuyu punya beberapa referensi tapi  masih bingung mau pilih yang mana." Ayu memberanikan diri bertanya. Sudah di putuskan dalam tempo yang seingkat-singkatnya, bahwa dia tidak akan minta waktu lagi.


    "Baju apa?" Dengan nada judesnya nyonya Helena bertanya seraya menegakkan tubuhnya.


Jansen yang mendengar itu tersenyum diam-diam. Ternyata gadisnya sudah kena mental dari mamanya, langsung gercep ambil keputusan.


    "Baju untuk nikah nanti, Tan."


    "Kasih Mama lihat dulu, sini Mama pilihin! Jan, minggirin bentar, biar Yuyu pindah ke belakang!" titahnya.


    "Jan jadi supir nih?"


    "Emang dari tadi bukannya supir?"


Waktu yang tidak pas untuk bercanda ternyata. Daripada di judesin lagi, akhirnya Jansen menurut.


    "Pindah belakang, Yang!" titahnya pada kekasihnya.


    "Dari sini aja!" titah sang Ratu dengan menunjukkan celah kursi pengemudi dan penumpang depan.


'Elegannya dimana sih ini sebenarnya,batinnya.'


    Dua wanita beda generasi itu akhirnya sibuk dengan beberapa gambar di ponsel Ayu. Mereka berdebat tentang pilihan masing-masing.


    "Yuyu sebenarnya suka ini, tapi dadanya terlalu rendah."


    "Ya udah, minta di buatin kayak gitu, tapi bilang bagian dadanya seperti ini."


    "Bagian punggungnya begini boleh, Tan?"


    "Jangan, terlalu terbuka. Punggung kamu nggak sebagus itu untuk di pamerin. Itu cocok untuk yang punya postur tinggi, kamu kan pendek."


Kejujuran yang sangat menusuk jiwa dan raga.


    "Yuyu seratus enam puluh, Tan." Tak terima di katain pendek.


    "Pendek itu. Jan aja hampir satu lapan. Kamu cuma seketeknya, kan?"


Lebih baik terima aja pujian tak bermartabat tadi, dari pada makin di ulik ke bagian-bagian terdalamnya.


    "Ini udah pas, model begini dan bagian dadanya di naikin. Ntar suruh dibuatkan dobel cup bra nya, punya kamu kekecilan, gak kelihatan nanti kalau nggak di dobelin."


Sesorang yang sedang menyetir tiba-tiba kepanasan sendiri mendengar kalimat ibunya. Pikirannya sudah jauh ke mana-mana tanpa tujuan.

__ADS_1


Sementara gadis muda di belakangnya sudah memerah hingga ke telinga.


    "Tan--"


    "Mama! Kamu jangan malu-maluin Mama deh, Yu! Mulai sekarang biasakan panggil Mama. Ntar di kira orang kamu menantu tak di inginkan, udah di lamar juga malah masih panggil tante."


    "O-- Oke Ma -Mama." Agak canggung sih, kan biasanya dia panggil Tante bahkan dulu panggil nyonya, dokter.


Apalagi selama ini, dia panggil ibunya yah ibu. Nggak Mama, jadi agak janggal.


    "Pestanya nggak rame kan, Ma?"


    "Emang ada pesta yang nggak ramai? Yang namanya pesta ya ramai. Udah kalian tenang aja. Yang urus itu semua Mama sama Ibu kamu."


Walau sudah di terima, tapi gadis itu tetap tidak bisa berkutik pada calon mertuanya itu.


    "Ma, Ma, denger Ayu dulu, jangan di potong. Maksudnya nggak ramai apa, Yang?"


    "Pestanya gak besar-besaran, kan? Cuma keluarga besar aja, kan?


    "Itu bukan pesta, itu syukuran! Yang ini pasti besar-besaran, rekan Jansen banyak, papanya juga."


Daripada syok sebelum waktunya, mending diam aja. Ikutin apa yang mereka rencanakan aja.


    "Ya udah deh, Yuyu ngikut aja!"


Sepanjang jalan kerumah, topik di dalam mobil adalah pernikahan dan  segala pernak-perniknya.


Calon pengantin tidak bisa berkutik karena calon mertua lebih mendominasi.


*****


    "Kamu benaran udah siap kan, Yang? Nggak merasa terpaksa, kan?"


 Saat ini hanya sejoli itu yang ada di dalam mobil. Setelah mengantar nyonya Helena pulang, Jansen langsung berangkat mengantar Ayu. Sungguh pria yang sangat sehat dan bertenaga. Cocok sekali menjadi supir antar provinsi.


    "Nggak, aku udah siap."


    "Benaran?"


    "Iya, buat apa di lama-lamain, ntar kamu keburu tua."


    "Ck,,, makin tua makin hot, Sayang!"


    "Hmmm..."


Lebih baik hentikan pembicaraan tentang ini sebelum merambat kemana-mana. Sensitif soalnya.


    Sejak tiga bulan lalu, keduanya merasa lega karena kehadiran keluarga Jansen di rumah Ayu dalam acara lamaran kejutan buat Jansen.


Akhirnya, perjuangan mereka membangkang orang tua Jansen ada hasilnya. Buah yang manis.

__ADS_1


Semoga kedepannya juga menghasilkan banyak buah yang manis.


__ADS_2