
Jerat Cinta Tuan Muda Bagian 46
Rate 18+
Oleh Sept
"Mana sih orang tuanya, punya anak nggak dijagain!" omel wanita yang gaunnya kotor karena Ciki sesaat yang lalu.
Wanita itu menatap sebal pada anak kecil yang tidak mengerti apa-apa tersebut. Namanya juga anak-anak, lari-larian itu adalah hal yang biasa dan wajar. Wanita cantik itu mungkin marah karena seharusnya anak kecil itu berada dalam wawasan orang tuanya, mengingat ini adalah acara penting.
Dengan muka masam, wanita itu berjongkok sembari bertanya.
"Mana ibumu?"
Ciki hanya diam, jarang-jarang ia mendapat tatapan tidak ramah dari orang lain. Selama di London, Ciki jarang berinteraksi dengan banyak orang. Dan ketika sampai di sini, anak itu takut mendapati tatapan yang tidak biasa. Sebuah tatapan benci, kesal dan kemarahan.
"Anak siapa ini?"
Tiba-tiba mamanya Dewa datang mendekati kerumunan. Mulanya ia hanya penasaran, kekacauan apa yang sedang terjadi. Akan tetapi, ketika melihat Ciki dengan dalam, mama merasakan sesuatu.
Masih terkejut, mama juga memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Wajah itu, dan sorot mata yang kini menatapnya. Hati mama mulai resah, banyak sangahan yang muncul dalam kepalanya.
"Tidak mungkin!" batinnya menolak.
"Ini pasti tidak mungkin!" gumam mama masih tidak percaya. Wajah Ciki yang sekilas mirip Dewa membuat mama perang batin.
Mama kemudian perlahan berjongkok di hadapan anak kecil itu, "Katakan, nama ayahmu siapa?"
__ADS_1
Mama lantas memegangi pundak Ciki sambil menunggu anak kecil itu menjawab pertanyaan darinya.
"Sayang, sini!" ucap Dewa yang sudah berada di sana di antara kerumunan.
Mama tak mampu menoleh, hatinya bergetar tak kalah mengenali suara itu. Suara sang putra, membuat mata mama langsung terasa perih.
Sedangkan Ciki, anak itu pun berlari ke arah papanya. Semua pun membuyarkan diri, kembali fokus pada acara pernikahan lagi.
Kini hanya tersisa mama, dengan kaki yang mendadak terasa lemas karena mendapati kenyataan yang mengejutkan. Mama berusaha tegar berdiri, ia tidak mau kelihatan lemah di depan Dewa.
Tanpa menoleh atau menyapa Dewa. Mama langsung bangun, bangkit dan melangkah meninggalkan Dewa dan Ciki.
"Ma ....!" panggil Dewa lirih.
Ada dua hati yang tersayat, perpisahan selalu meninggalkan jejak luka. Dan pertemuan selalu bisa menciptakan haru yang terbentang saat bersua.
Mendengar putranya memanggil, pertahanan mama seolah mulai runtuh. Namun, masih ada ego yang mengerak dalam hati wanita yang tak lagi muda itu. Mama masih menyimpan kecewa pada Dewa.
"Benarkah Mama tidak ingin bertemu Dewa lagi?"
Dari belakang, Dewa bisa melihat tubuh sang mama yang bergetar. Ia tahu, mamanya sedang larut dalam tangis. Sebagai anak, Dewa menepis egonya jauh-jauh. Perlahan, ia berjalan mendekati sang mama.
"Ini anak Dewa, cucu Mama. Mama juga tidak mau melihatnya?" ucap Dewa dengan suara serak. Dada pria itu pun sama sesaknya dengan sang mama.
Ah, rasanya hati mama sudah hancur. Atau mungkin egonya yang sudah melebur. Mama langsung berbalik dan memeluk Dewa dengan tangis.
"Jahat sekali kamu, Wa! Kenapa kamu tega sekali menyiksa Mama!" isak mama sembari memukuli punggung Dewa.
__ADS_1
"Maafkan Dewa, Ma ....!"
Cukup lama keduanya berpelukan, dan Tika hanya melihat dari kejauhan. Ia belum berani mendekat, tidak mau merusak susana. Tika lebih memilih mengajak Cika dan mendorong troller Lion untuk menjauh.
Sedangkan Dewa, setelah sang mama melepas pelukannya, pandangan matanya menyisir ruangan. Ke mana Tika dan dua anak mereka, mengapa tidak ada? Harusnya tadi tidak jauh darinya.
"Cantik sekali, siapa namanya, Wa?"
Saat Dewa menatap ke sana ke mari mencari Tika, mama justru mencoba mengendong Ciki.
"Cikisyah Dewani Narendra, Ma," jawab Dewa sambil terus memindai sekeliling. Ia lantas tersenyum, saat melihat sosok Tika yang tidak jauh darinya.
"Sebentar, Ma. Dewa mau cari anak Dewa lagi," tambah Dewa. Ia langsung berjalan, meninggalkan Ciki bersama sang mama.
"Anak? ... lagi?" batin mama penuh tanya. Sejak kepulangan dari London kala itu, mama memang tidak mau mendengar kabar apapun dari Dewa. Tante Mira pun tahu, keduanya sedang perang dingin. Ia pun tidak memberikan kabar apapun pada kakaknya itu.
Tapi, ia memiliki sebuah rencana. Saat di hari bahagianya. Tante Mira ingin sang kakak dan keponakannya itu bertemu, tante sangat yakin, sang kakak tidak akan menolak pesona sang cucu yang akan membuat hatinya terenyuh. Cucu-cucu yang manis dan lucu, mana mungkin kakaknya menolak? Setidaknya itulah yang ada dalam benak tante Mira, ketika meminta Dewa segera pulang.
Sesaat kemudian, ketika mama sibuk membelai Ciki dengan sayang. Tiba-tiba kembali jantungnya dibuat terkejut.
"Anak kamu, Wa?" tanya mama dengan tatapan tak percaya. Bila mama tidak salah ingat, mereka tidak bertemu hampir lima tahun, dan kini Dewa datang bersama tiga anak sekaligus? Astaga, mama pun menangis haru.
"Ke mari ... ke mari Tika," ucapnya kemudian.
Tika melangkah dengan ragu, ia masih tidak percaya. Apalagi saat mantan Nyonya besarnya itu memanggi dirinya untuk mendekat. Apa ia tidak salah dengar?
Saat Tika sudah berada sangat dekat di depannya, mama langsung memeluk tubuh Tika.
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih sudah menjaga Dewa mama ... terima kasih."
Tidak terasa, mata kedua wanita itu berair. Baik Tika maupun mama sama-sama larut dalam tangis. Mungkinkah ini awal dari perdamaian antara menantu dan mertua? Entahlah. Bersambung.