MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Tidak Sengaja


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda


26


Rate 18


Oleh Sept


"Kris!"


"Iya, Nyonya."


Krisna menundukkan wajah ketika Nyonya besar itu berbicara dengannya. Pengawal paling setia di rumah itu, kini kembali mendapat tugas khusus. Sebuah tugas rahasia dari sang pemilik perintah.


"Ikuti mereka!" sekilas raut wajah Mama Dewa mengeras.


"Baik, Nyonya."


Kris segera melakukan perintah sang atasan. Mengikuti Dewa sembari memata-matai pria tersebut. Sedangkan sang mama, ia menatap lembar kertas biodata Sartika. Meremasnya, dan melemparnya ke tong sampah, ia memang menyukai gadis itu. Tapi tidak berarti Tika bisa masuk dalam keluarganya.


Gadis itu hanya cocok jadi pelayan mereka. Tidak boleh lebih, karena pelayan tetaplah pelayan. Ia bersikap seperti sekarang karena akhir-akhir ini merasa cemas. Sikap Dewa yang berubah, membuatnya merasa curiga. Apalagi melihat tatapan Dewa pada Tika. Mama mulai cemas, jangan-jangan putranya jatuh hati pada gadis miskin itu. Enak saja, dikasih jantung mintak ginjal. Mama menentang keras, bila sampai Dewa menaruh hati pada pengasuhnya tersebut. Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan.


***


Di tempat yang lain, Tika menatap takjub, matanya terlihat berbinar-binar. Berkali-kali Dewa mewanti-wanti gadis itu, agar Tika mengeluarkan wajah ke luar jendela mobil. Tapi, Tika tetep ngeyel. Rasanya ia tidak mau menyia-nyiakan pemandangan indah di depan mata.


"Tik, hati-hati ... dan jangan norak."


"Ya ampun Tuan, nggak ada orang juga."


"Astaga, Tika!"


Tika malah melambaikan tangan, menikmati sensasi terpaan angin pantai sepoi-sepoi yang menyapa kulitnya.


"Makasih ya, Tuan." Gadis itu menoleh dan melempar senyum kepada Dewa.


"Hey! Jangan GR. Aku tidak mengajakmu jalan-jalan, aku hanya butuh orang yang membantu mendorong kursi rodaku!" Dewa berkelit bahwa ia sedang mengajak Tika jalan-jalan. Padahal ia memang ingin pergi ke luar dengan gadis tersebut. Tapi, Dewa enggan mengakuinya.

__ADS_1


Sementara Tika tetap tersenyum senang. Apapun itu, pokoknya ia sangat senang. Menikmati keindahan ombak, bermain pasir ... ah Tika sudah tidak sabar turun dari mobil. Menginjakkan kakinya di atas pasir yang lembut.


"Masukkan kepalamu!" titah Dewa ketika ada motor dari jauh. Seketika, Tika langsung menarik diri dan kembali duduk dengan tenang.


"Bagus ya, Tuan."


"Hemm!"


Tika kembali menatap jendela, mengamati pohon kelapa yang berjajar di tepi jalan. Daunnya melambai tersapu angin pantai. Jarang-jarang ia bisa melihat pemandangan seperti ini. Kalau boleh berharap, semoga Tuan mudanya itu sering-sering seperti ini, doa Tika dalam hati.


Sesaat kemudian, mobil pun memasuki area parkir khusus. Pak sopir membantu Dewa untuk turun dengan sangat hati-hati. Sedangkan Tika, ia membawa barang-barang mereka.


"Terima kasih, Pak," ucap Tika pada sang sopir.


Sedangkan tidak jauh dari sana, Kris yang merupakan pengawal kepercayaan mamanya Dewa, sedang mengamati mereka dari kejauhan. Beberapa kali ia mengambil gambar mereka dan mengirimkan langsung ke ponsel sang atasan.


Saat Dewa mulai masuk ke area pantai, Kris buru-buru mendekati mereka. Mendekat tapi jangan sampai terlihat.


***


"Ya ampun ... seger banget Tuan airnya!" teriak Tika ketika ombak menyapu kakinya sampai selutut.


"Ini masih cetek, Tuan. Seger banget deh!" Tika tersenyum girang, ia terkekeh saat ombak kembali datang. Gadis itu seperti anak kecil, terlihat ceria saat bermain air.


"Tik, kembali. Ombaknya terlalu besar."


"Ah ... iya, Tuan."


Byurr


Tika tertawa ketika ombak menyapu sebagian tubuhnya.


Dewa hanya bisa menggeleng kepalanya. "Aku bilang juga apa!" cetusnya yang kesal karena Tika tidak menurut.


"Hehehe," Tika tak membela diri. Karena tubuhnya sudah basah kuyub.


"Pakai ini!" Dewa melepaskan sweater yang tadinya ia kenakan.

__ADS_1


"Tidak! Tidak usah, Tuan nanti masuk angin. Kalau Tika sudah biasa... Tika tidak apa-apa."


"Kau mau menggodaku?" tuduh Dewa dengan wajah yang nampak serius.


Jelas saja Tika langsung melonggo seperti orang bodoh.


"Maksud Tuan?"


Gadis itu tidak mengerti apa yang diucapkan Tuan mudanya itu. Menggoda apanya? Beberapa detik kemudian, Tika manatap bagian depan tubuhnya. Astaga, kacamata itu terlihat tembus pandang, bahkan warnanya saja nampak begitu jelas. Warna merah cabai. Sial, Tika mengerutu dalam hati.


Saat itu juga ia memeluk tubuhnya sendiri, malu karena Dewa bisa melihat dalaman yang ia kenakan.


"Pakai ini! Perlu kamu ingat! Aku juga seorang pria."


Jleb, deg mak byurrr


Mendadak Tika seperti disentil tepat dihatinya. Ya, Dewa itu masih seorang pria. Meski di atas kursi roda, sepertinya ia masih pria yang sangat-sangat normal.


"Terima kasih!" Tika buru-buru memakai sweater milik Dewa.


Untung saja sweater itu memiliki panjang yang cukup, sehingga bisa menutupi bagian bawah yang juga nyaris menerawang karena bajunya yang basah.


"Kenapa Tuan tidak bilang ke pantai, tau begini Tika bawa ganti."


Gadis itu mengerutu pelan. Namun dewa tetap bisa mendengarnya.


"Jangan bicara seperti nyamuk di telinga!" sindir pria tersebut.


Tika langsung diam seketika.


"Berhenti di sana!" Dewa menunjuk sebuah bangku dari pohon kelapa.


Mereka berdua menikmati angin pantai sambil melihat ombak yang berkejar-kejaran. Tak sengaja, ketika Dewa memperhatikan wajah Tika, tiba-tiba Tika juga sedang menatap ke arahnya. Alhasil, dua orang itu langsung membuang muka. Dan rasa canggung pun melanda keduanya.


"Ehm ... aku haus!" ucap Dewa dengan nada kaku.


Buru-buru Tika mengambil botol dari tas. Karena masih grogi, botol itu malah jatuh dan mengelinding ke dekat kursi roda. Dua orang itu secara bersamaan mengambil barang yang sama. Tangan keduanya tidak sengaja bersentuhan.

__ADS_1


Dewa menelan ludah, jakunnya naik turun. Ada sesuatu yang tak sengaja tertangkap mata, saat Tika membungkuk di depannya. Ya ampun!


__ADS_2