MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
80. BAIKLAH, AKU JUGA MENYERAH


__ADS_3

~JANSEN POV~


*****


    Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. 'Kalimat kita pacaran tapi seperti tidak pacaran' asih menganggu pikiranku. Otakku yang kurang atau otak Ayu yang kelebihan? Sungguh kalimat yang sulit ku cerna.


Status kami pacaran, tapi jika aku merasa cocok dengan orang lain, aku bisa pacari dia juga. Wah... canggih sekali otaknya. Dia sangat tulus yah? Artinya dia mengijinkan aku untuk selingkuh secara terang-terangan? Oh.. God Luar biasa!


    Aku ingin tahu sekali apa yang Ayu lalukan sekarang ini, apa dia sudah sadar dan sudah ingat semua yang dia ucapkan padaku?


Baiklah, dia sedang tertekan karena keluargaku. Tapi apa harus segitunya?


Kalian, siapa yang mau jadi pacarku? Ayo pacaran denganku dan kita bergandengan tangan di depan Ayu pacarku juga. Bahkan untuk mengucapkan pacar dan pacarku juga bibirku bergetar.


    Selepas mengantar Ayu, aku langsung pulang karena dia juga tidak menawari untuk singgah lagi.


"Terimakasih untuk malam ini, terimakasih traktirannya" ucapnya tadi membuat mataku melongo.


Selama ini juga aku yang bayar makan, tapi dia tidak pernah berterima kasih. Cara mengucapkan padaku juga sungguh sangat canggung seolah-olah aku ini orang lain yang bahkan baru di kenal. Untung dia tidak menunduk kayak orang jepang tadi.


    "Aku punya PR yang besar. Yuyu, kamu tega sekali, hah." Aku bicara sendiri. Seharusnya jika kami sedang baik-baik saja, aku bisa saja sambil bertelepon dengannya saat menyetir seperti ini. Kata dia dulu, supaya aku tidak merasa sepi dan sendirian di tengah malam.


    "Sayang, selamat tidur, aku masih di jalan." Aku mengirimkan voice note padanya, berharap dia luluh sedikit.


    "Mungkin begini kalau punya cewek abg, hehehe" Aku sepertinya sudha gila. Aku bicara dan tertawa sendiri.


    "Lihat saja, Yu. Kamu akan luluh dengan keteguhan hati ku ini!"


Aku berkendara di temani musik. Sengaja aku pilih musik rok agar aku tetap melek.


Lampu sudah temaram dan rumah sudah sepi. Aku menoleh pada jam dinding besar di ruang tamu, Pukul sebelas malam. Pantas, semua orang sudah tidur.


Aku bersiap naik ke lantai dua, tapi langkahku terpaksa berhenti saat mama memanggilku.


    "Kenapa pulangnya sangat larut?" Aku menoleh dan mendapati mama sedang memegang teko gelas untuk di bawa ke kamar mungkin. Kaca mata baca masih melekat di wajahnya pertanda mama memang belum tidur sedari tadi.


    "Ya, habis makan malam dengan Ayu." Aku tidak ingin menutupi segala hal tentang hubunganku dan Ayu kecuali apa yang barusan terjadi.


    "Ini weekday, jangan terlalu di paksakan untuk bertemu. Kan jauh. Selain bahaya kamu juga kecapean besoknya. Bilang ke pacar kamu, supaya tidak nuntut untuk bertemu terus-terusan. Harus sadar kalian tinggalnya berjauhan. Itu makanya mama bilang kamu sama Mi--"

__ADS_1


    "Ma, Jansen istirahat sekarang. Mama juga, sudah larut. Besok di lanjutkan lagi." Aku memotong ucapan mama yang hampir menyinggung Mira.


    "Ckckck, benar kan, Pacar kamu itu bawa pengaruh buruk sama kamu, lihat sekarang! Kamu bahkan berani memotong mama saat bicara." Mama menggeleng-gelengkan kepala dengan raut seperti kecewa padaku.


Apa aku salah jika menilai mama sangat berlebihan?


    "Mama sudah bilang, kamu cocoknya dengan Mira. Sama-sama dewasa, tinggal di kota yang sama. Kalau mau bertemu bisa kapan saja tanpa capek badan." Mama mengomel dengan suara keras hingga papa keluar dari kamar dan bertanya apa yang terjadi.


Aku menghela napas pelan, benar kata mama, badanku capek, pikiranku juga apalagi di tambah omelannya barusan.


    "Lihat anakmu. Selama ini dia tidak pernah membangkang. Bahkan ketika ku kenalkan dengan Mira. Dia hanya senyum dan tidak menolak usul perjodohanku. Tapi sejak mengenal si Ayu itu, lihat! Dia sudah pandai menjawab sekarang." Mama menunjuk-nunjukku dengan jari telunjuknya. Suaranya yang menggelegar membangunkan seisi rumah.


    Melihat aku yang masih lengkap dengan pakaian kerja tadi pagi, kurasa mereka sudah bisa menebak aku dari mana.


    "Mama, tenang dulu. Kenapa harus teriak-teriak." Papa sepertinya kesal juga karena suara mama.


    "Jansen, apa tidak ada hari lain untuk bertemu pacarmu? Kenapa harus di hari kerja begini?" Papa adalah pendukung nomor satu mama, jika mama bilang a harus a.


    "Maaf, lain kali tidak akan lagi. Aku permisi."


Aku melangkahkan kaki menaiki tangga ke kamarku.


    "Heran sama anak ini. Sudah dewasa masih saja bisa di kibuli cewek. Di kasih apa dia sama si Ayu ayu itu makanya jadi pembangkang. Lihat! sampai kapanpun aku tidak iklas menerimanya."


    "Huh,, aku memberikan yang terbaik untuknya tapi dia sia-siakan demi mengejar gadis itu. Apa istimewanya dia. Umurku bisa berkurang drastis karena terus memikirkan masalah ini. Aku sampai harus menekan rasa maluku pada Ermina karena anakmu itu."


    "Sudah... sudah mama tenang, ayo duduk dulu!" Papa menuntun mama ke sofa. Aku juga pada akhirnya turun lagi. Aku sudah tidak tahan mendengar Ayu yang selalu di salahkan karena penolakanku.


    "Papa harusnya bisa lebih tegas ke Jansen. Malah kasih syarat-syarat tidak bermutu itu."


    "Sudah, Ma! Tenangk---"


    "Ma." Sekali lagi aku memotong ucapan orang tuaku. Jika tadi mama, sekarang papa. Jika sekali lagi aku memotong ucapan anggota keluarga ini, mungkin aku akan langsung di pecat dan di coret dari daftar anggota keluarga.


    "Aku dan Ayu, kami...kami..." Bagaimana cara memberitahu pacaran tapi seperti tidak pacaran?


    "Jika Mama memang sangat menyukai Mira. Baiklah, lanjutkan saja. Aku terima apa yang akan kalian lakukan padaku. Aku akan berubah jadi anjing penurut mulai malam ini. Ayu juga sudah merelakanku. Semua demi kebahagiaan mama dan kak Jo dan kalian semua disini. Dia tidak mau merampas kebahagiaan kalian saat bersama Mira. Tolong mulai detik ini, jangan ada yang menyalahkan atau menjelek-jelekkan Ayu disini."


"......"

__ADS_1


"Terimakasih ka, Ayu juga titip terima kasih karena kemarin sudah berusaha ramah dan menerimanya. Kedepannya tolong jangan paksakan diri. Jika memang tidak terima, katakan saja. Kepura-puraan kalian semakin menambah sakit hati saja."


    Aku melihat ka Jo menggeleng seperti tidak terima apa yang barusan ku katakan. Semua orang diam. Apa mereka terkejut karena aku di campakkan?


 "Tidak ada pesta tahun ini, kurasa itu hanya bualan dari papa, itu hanya dopamin sementara untukku. Maknanya pasti sangat dalam. Dan permintaan papa yang ingin mengurus semua pernikahan tanpa melibatkan keluarga Ayu sungguh sangat meremehkan keluarga itu. Tidak menghargai."


    Aku melangkah gontai kembali ke arah tangga. 'Baiklah, jika memang harus bersama Mira, akan ku jalani. Tapi semua orang, tolong jangan enyesal nanti. Terutama kamu, Yu!' bisikku pada diri sendiri. Aku meninggalkan orang tua dan kak Jo disana yang masih melongo dengan keputusan yang barusan ku buat.


    Tidak tahu seberapa lama, tapi aku sudah menghabiskan waktu yang lumayan lama di bawah shower ini. Jemariku bahkan sudah keriput. Selama mandi tadi, aku menyadari semua yang ku ucapkan pada keluargaku.


Aku sudah membuat keputusan di barengi emosi. Apa yang akan aku katakan pada Ayu jika begini?


Aku juga mengingat-ingat semua yang dia katakan tadi. "Agar kita tahu seberapa kuat kita" Apakah ini isyarat untuk melihat siapa yang paling setia?


*****


    Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada basa-basi seperti biasanya. Ini seperti sedang makan di rumah Ayu. Hening!


    "Jans--"


    "Aku selesai, aku permisi duluan." Persetan dengan kesopanan. Sekali lagi pagi ini aku memotong ucapan mama.


Aku tidak peduli apa yang mau beliau tanyakan. Kapan dimana dan bagimana  pesta yang dimauinya, di buatkan saja seperti itu. Untuk apa protes kalau pada akhirnya harus terima kehendak mereka.


    Aku pergi dari rumah tapi tidak ke kantor, aku malah berputar-putar tidak tentu arah di kota ini. Setelah aku lelah, aku memesan kamar hotel. Aku enggan pulang ke rumah walau aku tahu semua orang sedang sibuk di luar. Aku merebahkan tubuhku begitu aku masuk ke kamar. Tidak lama mataku langsung terpejam. Aku merasa damai ketika tidur. Tidak ada yang menganggu pikiranku.


    Aku terbangun karena aku merasa lapar. Ketika aku bangun aku melihat jam di pergelangan tanganku. Jam tujuh malam.


"Aku tidur sangat lama ternyata," gumamku.


Aku memesan makanan dan  berencana akan tinggal disini untuk beberapa waktu.


    "Harusnya aku tetap mengambil Apartemen kemarin. Jika begini aku bisa pindah tidur."


Aku meraih ponsel dan melihat ada beberapa pesan dari Wulan. Ada panggilan dari mama dan papa juga. Aku abaikan saja. Aku tidak ingin di ganggu saat ini.


"Mama. kurasa sampai mati, hidupku akan berjalan sesuai kendali darimu saja.


###

__ADS_1


Tolong di like yah pemirsah, walau feelnya kurang dapet..


Asli.. mood lagi down. Berjam-jam ingin upload, tapi ide cemerlangnya lenyap.


__ADS_2