
Canggung.
Malu.
Itulah kata yang sekarang sedang menyerangku dan juga Jansen. Ibu sama Bapak memang tidak mengatakan apa-apa dari saat aku bangun sampe sarapan. Mereka bersikap biasa aja tapi tidak dengan aku dan Jansen.
Bayangkan shay, gimana rasanya kamu ke gep lagi tidur dan pelukan sama pacar kamu? Astaga, ada lubang yang bisa aku masuki nggak? Malu bangat euyy.
"Yuyu berangkat yah Pak, Bu," ucapku lalu salim.
"Jansen juga yah Pak, Bu, sekalian antar Ayu." Jansen juga pamit pulang dan salim juga.
"Hati-hati."
"Hati-hati."
Aku menarik napas dan membuangnya dengan kasar kala kami sudah berada di luar rumah. Serius shay, aku nggak mau hal ini terulang lagi entah sampai kapan pun.
Aku memukul kepalaku sendiri karena kesal, bisa-bisanya kami bablas ketiduran di sofa tadi malam.
Semua ini salahku, aku yang menawarkan teh pada Jansen. Aku yang dusel-dusel dan memeluknya. Aku yang memulai semuanya dan kami terlena dengan rasa nyaman yang tercipta di iringi suara hujan deras di luar.
Entah jam berapa kami tertidur semalam, yang jelas setelah sesi ciuman kami, kami masih bercanda sebentar dengan obrolan ringan. Kami bahkan masih mengomentari acara televisi yang kurang kualitas menurut kami.
Seingatku, ada sesi kedua ciuman kami. Lagi-lagi aku yang memulainya juga. Buset dah, ganas nya diriku.
Lalu setelah itu, aku lupa. Aku harap tidak ada sesi yang lebih dasyat selain ciuman.
Saat aku bangun karena guncangan di bahuku yang di lakukan Jansen, aku kaget karena ada selimut menutupi tubuh kami. Televisi juga udah dalam keadaan gelap. Hanya saja gelas teh tadi malam masih ada di meja.
Yang paling serem, aku melihat Bapak duduk di sofa menyendiri di dekat jendela dengan cangkir kopi yang masih megepulkan asap di nakas samping kursinya duduk.
"Sumpah, canggung bangat rasaku, Beb," ucapku sambil berjalan ke luar gerbang, karena mobil Jansen tetap berada di luar pagar semalaman.
"Aku juga, malu. Aku kira Bapak sama Ibu bakal marah karena aku udah tdur bareng anaknya. Aku udah takut tadi," ucap Jansen.
"Kamu sih, Beb. Bukannya bangunin aku tadi malam biar pindah, eh malah bablas ketiduran juga." Aku mulai mencari kambing hitam, padahal jelas-jelas aku tahu bahwa semua ini berasal dari ku.
"Tapi nyaman, kan?" ucapnya seperti meledek.
Aku tersipu. Wajah tersipuku udah menjawabnya dengan jelas. Yes, aku nyaman, pengen lagi dan lagi. Ehhh
"Kayaknya aku harus mulai bekerja keras lagi deh, Beb," ucap Jansen saat kami sudah di mobil dan sudah siap otw. Sebelum benar-benar otw, aku memeriksa barang-barang aku dulu dan Jansen juga melakukan hal yang sama.
"Kerja keras, maksudnya?" Selama ini kan dia memang kerja, nggak tahu apa dia santai atau kerja keras. Tapi menurutku, sebagai pimpinan itu pasti berat dan pastinya bekerja keras untuk sebuah inovasi. Mencari ide-ide gimana cara untuk mengembangkan usaha.
"Yakinin mama papa, aku udah pengen nikahin kamu secepatnya."
Nikah lagi. Oemji, apa aku harus dukung rencananya?
"Gimana, mau, kan?" tanyanya karena aku nggak respon untuk beberapa saat.
Duh, ini gimana yah, barusan ngerasa canggung sama mak bapak, sekarang sama Jansen. Oh Dewa, tolong!
"Kamu udah beneran mau kawin?" tanyaku memastikan.
"Hmmm,, udah bangat, tapi harus nikah dulu. Makanya aku harus kerja keras biar dapat izin terus langsung nikahin kamu. Baru habis itu aku kawinin kamu. Mau, kan?" Wajahnya berseri-seri saat bicara seperti itu. Ada senyumnya juga. Aduh gantengnya pacar ku, bikin melelh pagi-pagi gini.
__ADS_1
Aku memukul mulutku tiba-tiba karena teringat apa yang aku ucapkan. Kawin? pantesan Jansen berseri-seri. Gawat, aku udah ketularan si Rinrin.
"Gimana?" Karena aku tak kunjung memberi respon, Jansen bertanya lagi untuk kesekian kalinya tentang kesediaan aku menikah dengannya.
"Hmm, tapi nanti aku coba tanya bapak sama ibu dulu, kalau nggak diijinin gimana?"
Dengan pertimbangan yang kulakukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, sebaiknya aku iya kan saja ajakan Jansen. Nikah muda atau tua sama-sama punya untung dan ruginya. Satu keuntunganku jika menikah muda, yaitu Jansen udah mapan. Semoga saja restu dari orang tuanya juga turun dengan sangat iklas.
"Serius mau yah?" ulang Jansen seraya meraih tangan kananku dengan tangan kirinya.
Aku menatapnya dan mengangguk dengan senyum tipis di bibirku.
"Thanks Beb. Aku akan ngomong sama Papa mama, biar di atur jadwal lamaran ke rumah kamu."
What? atur jadwal? Lamaran? terus restunya?
"Mama sama papa udah bebaskan aku sama pilihan aku. Tentunya dengan beberapa syarat. Nanti kapan-kapan aku akan kasih tahu kamu syaratnya. Kalau kamu setuju, aku ajak kamu kerumah untuk kenaan resmi dengan orang tua ku." Jansen menjelaskan seakan-akan dia tahu apa yang ada di pikiran aku.
Syarat?
Apa lagi ini? Orang kaya emang banyak aturan yah.
Kenapa sih nggak langsung okein aja pilihan anak-anaknya. Kayak berat bangat kasih restunya karena masih harus ada syarat yang harus di penuhi.
"Syaratnya apa?" Aku sungguh penasaran dengan syarat ini.
"Nanti aku kasih tahu, weekend kita jalan, disitu aku kaksih tau kamu. Sekarang nggak sempat, kamu udah mau nyampe," ucapnya tenang. Tapi ketenagannya tidak menular padaku. Entah kenapa aku merasa ini sangat berat.
Apa orang tuanya minta saham perusahaan? Minta penggabungan usaha? biasanya orang kaya dan pengusaha kan gitu. Tapi orang tua ku kan nggak punya perusahaan, nggak punya saham. Cuma punya toko kelontong di pasar.
"Jangan mikir kejauhan, jangan mikir yang aneh-aneh. Syaratnya yang masuk akan semua kok. Tenang aja."
"Hehehehe, harusnya aku nggak nyinggung itu yah, biar kamu nggak penasaran." ucap Jansen sangat santai dan tenang. "Jangan terlalu di pikirin yah, yang harus kamu pikirin sekarang, gimana malam pertama kita nanti."
Dia tertawa renyah sekali saat mengucapkan kata malam pertama.
Benar - benar udah ngebet kawin ini.
"Mesum." gumamku dengan muka merah.
Ciuman aja kadang-kadang aku masih malu, gimana jika malam pertama? pasti yang sedap-sedap seperti kata orang, kan? Aduh, gawat, pagi-pagi otakku udah mulai traveling.
"Wajar, Beb. Semua laki-laki gitu. Tapi harus pintar lihat situasi."
Aku menatap Jansen tak percaya, apa topik kami sekarang menuju ke hal-hal mesum? Aku suka itu. ehhh
"Pikiran mesum itu, lumrah Beb, yang nggak lumrah itu, kalo di praktekin dengan cara yang salah. Kalau kita bisa berpikir mesum, berarti kita normal. Karena tubuh kita ada hormon yang mengakibatkan kemesuman loh, Beb. Cuma yang perlu yah kontrol diri."
Topik panas pagi-pagi.
"Stop deh, aku masih kecil, belum bisa mikir mesum-mesum." Aku menatap lurus dan berbicara dengan datar.
"Masih kecil tapi udah cippok-cippok," ucapnya terkekeh ke arahku.
Aku mendelikkan mataku padanya. Kan, aku malah jadi pengen cippok lagi karena lihat bibirnya yang tersenyum semanis gula itu.
"Yang ngajarin kan kamu? Kamu dulu yang cium aku di kantor kamu."
__ADS_1
Aku mengingatkan dia yang mencuri kecupan pertama ku.
Dia terkekeh dan berkata, "Tapi suka, kan? Pasti kamu nggak bisa tidur semalam waktu itu," tebaknya dna tepat sasarn.
Benar shay, padahal itu cuma kecupan singkat. Tapi efeknya besar bangat shay, aku sampai nggak bisa tidur nyenyak semalaman. Tanganku reflek ke bibir terus-terusan tanpa perintah.
"Udah akh, aku udah mau nyampe, nggak usah sampe di depan kantor, lewat dikit aja."
Aku nggak mau orang lain lihat aku turun dari mobil, apalagi ini mobil kelas atas. Bukan kayak mobil sejuta umat.
Nggak cocok bangat aku ngaku itu taksi online.
"Kenapa?"
Malah bertanya. Aku jawab ntar kamu sakit hati. Tinggal turutin aja napa, batinku.
"Nggak papa, pokoknya turunin di sana aja!" tunjukku pada Jansen.
"Hmmm, padahal aku pengen bangat, kamu pamerin ke teman-teman kamu. Sosmed kamu juga nggak ada poto aku," protesnya kayak perempuan.
"Emang kamu ada?" tantangku.
"Ada," jawabnya dan mengambil ponsel. Membuka aplikasi I dan menunjukkan akunnya padaku.
Ada poto kami berdua pas kami jalan berdua di taman. Poto kapan? siapa yang ambil?
"Ini dari Josh," jawabnya seakan tahu arti kerutan di dahiku.
Josh? Oh, jadi ini poto yang di bicarakan Jansen waktu itu.
Cakep. Pintar juga josh ambil angelnya.
Aku merogoh tas dan mengambil ponsel, membuka aplikasi kamera dan siap-siap mengambil gambar kami berdua di dalam mobil.
"Beb, hadap sini bentar!" titahku dan segera senyum pepsoden seraya tekan tombol bidik.
Aku mengambil beberapa poto dan melihat yang mana yang paling bagus.
"Aku add di sosmed tapi nggak tag akun kamu yah." ucapku tanpa melihatnya.
"Hmmm, gitu juga oke, yang penting harus ada dong!" jawabnya seraya merapat padaku.
Sambil aku upload poto ke sosmed, aku ngomong sama Jansen,
"Pasangan bahagia dan harmonis itu kebanyakan yang nggak banyak upload-upload di sosmed, Beb."
"Aku tahu, tapi aku cuma mau biar orang-orang tahu tentang kita," jawabnya.
"Ya udah aku kerja yah, hati-hati pulangnya," pamitku seraya salim dan anehnya di ladeni juga sama dia.
"Kok aku salim?" protesku setelah sadar dan aku menabok tangannya yang barusan aku lepas. Dia tertawa renyah dan menarik kepalaku dan mencium bibirku sekilas.
"Happy working!!!" ucapnya.
@YuyuAP
Some people think that falling in love was an accident,
__ADS_1
But for me, falling in love with you was intentional.
JP*