
~AUTHOR POV~
*****
"Akhirnya kecetak juga nih undangan. Kayaknya yang bersangkutan udah nggak galau lagi," ledek Ririn saat menimang-nimang undangan di tangannya.
"Apaan, sih. Ck." Decakan malas dari yang di ledek sebagai respon.
"Kan, aku ngomong fakta. Katanya udah siap, begitu di lamar malah minta waktu lagi siapin mental. Labil banget!" Ledekan berikutnya yang merupakan sebuah fakta.
"Kamu gampang gomong gitu karena nggak ada di posisi aku tau. Coba kalo kamu di lamar sekarang sama si Pian. Yakin aku seratus persen kamu pasti galau juga."
"Jadi sekarang gimana? Masih ada ragu atau udah yakin one hundred percent?" selidik Ririn.
Hufff...
Helaan napas berat dari yang bersangkutan. Dari caranya membuang napas, sepertinya dia masih galau. Apakah keputusan untuk menjadi istri dalam waktu dekat adalah keputusan yang benar atau tidak.
"Aku udah banyak banget dengar nasihat dari orang tua. Katanya, kesiapan mental itu nggak akan pernah ada seratus persen. Akan tetap di uji sebelum sah. Bahkan setelah sah, mental kita juga masih terus di uji hingga tua."
Keduanya diam, Ayu mempersiapkan kata-kata yang hendak di keluarkan sementara Ririn menanti sahabatnya melanjutkan kata-katanya.
"Aku percaya pada mereka, secara mereka udah punya pengalaman. Aku juga kasihan sama Jansen yang selalu ku gantung. Mulutnya bilang dia mengerti kondisiku tapi tidak dengan hatinya. Aku bisa lihat dari pancaran matanya," lanjut Ayu.
"Aku hanya berharap bahwa aku tidak salah pilih," lanjutnya lagi. Dia lalu merebahkan tubuhnya di kasur Ririn. Menatap langit-langit kamar itu. Memutar kembali memori otaknya tentang perjalanan cintanya dengan Jansen.
"Kamu tahu kan, Jansen pacar pertamaku yang sah. Aku takut, jika---"
"Kamu belum berubah, suka memikirkan hal yang belum tentu terjadi dan hal-hal yang tidak pernah terlintas di pikiran orang lain." Ririn mendekat sambil berucap memotong perkataan sahabatnya itu. Ririn juga naik.ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di samping Ayu.
Tangannya di rentangkan dan dia memeluk tubuh Ayu yang terbaring itu.
"Ada banyak pasangan yang menikah dengan pacar pertama juga, sampe sekarang damai dan bahagia. Lihat kakakku, mereka di jodohkan, tidak saling kenal. Keluarganya harmonis sampai sekarang. So, jangan berpikiran negatif karena Jansen pacar pertamamu dan akan menjadi suamimu."
__ADS_1
Ririn berkata dengan wajah yang di benamkan di lengan Ayu.
"Aku senang, akhirnya kamu memutuskan pilihanmu, Yu. Aku berdoa dan berharap kamu hidup bahagia. Aku bisa melihat cinta Jansen yang begitu besar padamu. Semoga semakin besar setelah kalian menikah."
Keduanya mengaminkan harapan itu.
Pemandangan absurd bagi pria yang berdiri di ambang pintu itu. Dua gadis yang berbaring dan saling berpelukan. Apa tidak risih? pikirnya.
"Ehem..." Mencoba berdehem untuk memberitahukan eksistensi dirinya sekaligus mencari perhatian.
"Boleh aku ikutan?" tanyanya seraya mendekat ke arah tempat tidur itu.
"Nggak!"
"Laki-laki di lar--"
Ucapan bersamaan dari sahabat itu terpotong karena yang di larang tidak menghiraukan larangan, malah semakin mendekat dan melompat ke arah kasur. Memeluk kedua gadis itu sekaligus.
"Bocah sableng ini ternyata sebentar lagi menjadi seorang istri. Gue belum bisa percaya sampe sekarang, serasa lagi mimpi!" ucapnya tanpa melepas pelukan.
Fakta yah gais, orang yang sudah menikah pasti memiliki waktu yang sangat berkurang untuk berkumpul bareng teman.
Bahkan sebagian bisa menghilang tanpa kabar secara berkala.
Ayu tidak jadi menepis tangan besar itu, malah menepuk-nepuknya pelan.
"Jansen pasti ngerti, asal kamu ngomong baik sama dia, aku pasti di ijinin ketemu sama kamu," jawab Ayu.
"Halah, loe nggak tau aja, dari awal Jansen kenal gue dan tau gue sahabat loe yang bisa sesuka hati noyor loe, peluk loe, dia selalu natap tajam ke gue setiap kali gue mendekat ke loe." Pengakuan yang di ucapkan dengan nada kesal dan jengkel. Tangan yang memeluk itu akhirnya di angkat dan Pian mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
Dua gadis itu juga turut mengubah posisi mereka dan mengikuti cara Pian.
"Masa sih? Aku nggak percaya. Emang sih, awal-awal Jansen itu cemburu sama kamu, dia bilang terus terang ke aku, dia cemburu kamu bisa bebas keluar masuk kamar aku, bisa baringan kayak gini di kasur aku. Tapi pas aku jelasin hubungan kita, dia ngerti pada akhirnya. Nggak pernah bilang-bilang cemburu ke kamu lagi."
__ADS_1
"Itukan menurut loe, loe nggak tau aja dia pernah ingatin gue biar jaga jarak sama loe." Fakta mengejutkan.
Benarkah? Atau hanya bualan semata? Masa sih Jansen seperti itu, batin Ayu.
"Serius kamu, Pian? Kapan?" Ayu langsung duduk dan bersila menghadap Pian yang masih berbaring.
"Serius, Yu. Itu dulu, pas awal-awal loe bawa Jansen ke rumah loe. Kami pernah ketemu di luar," jawab Pian.
"Wah, Jansen. Aku nggak nyangka dia sampe segitunya loh, kamu juga nggak pernah ngomong!" Ada nada tidak senang dalam kalimatnya. Apa setelah ini dia akan marah lagi dan akan menunda pernikahan lagi?
Sungguh kasihan Jansen jika itu sampai terjadi.
"Ck... Nggak perlu emosi gitu. Gue juga balak lakuin hal yang sama jika Ririn punya besti kayak loe dan gue," Pian berdecak kesal karena Ayu yang mulai terlihat emosi.
"Emangnya menurut loe, berapa orang yang percaya hubungan kita murni pertemanan? Nggak sedikit yang nyangka kita ada apa-apanya. Karena mana ada cewek dan cowok yang berteman tanpa embel-embel perasaan."
Apa memang begitu yah?
"Itu tandanya dia cinta bangat sama kamu Yu, dia takut kamu kecantol karena nyaman sama Pian. Dia takut kamu tersinggung kalau dia ngomong sama kamu, makanya dia bilang ke Pian. Kamu beruntung banget, Yu." Ririn ikut membela Pian dan Jansen, tanpa sadar ada mata memicing ke arahnya.
"Maksud kamu, aku kalah dari Jansen?"
Pian langsung duduk dan bersila juga menghadap ke Ririn. Wajahnya di buat geram dan marah.
"Wah, aku juga nggak suka kamu dekat-dekat sama si pria ekonomi itu yah, awas kalau masih dekat-dekat!" ancamnya.
"Apaan sih, mana ada aki dekat-dekat sama dia. Dia yang mau dekat-dekat. Sok akrab," sanggah Ririn dengan wajah memerah.
"Kami ada saingan Pian?" Ayu malah mengompori.
"Wah, kamu pasti galau ya, Rin. Di antara dua pilihan," ucapnya sambil menerawang ke awang-awang. Gimana jika Ririn sedang di perebutkan oleh dua pria. Tarik kiri tarik kanan.
"Stop deh jadi kompor! Nggak ada itu. Cuma teman sesama guru aja."
__ADS_1
"Ingat ya! Jangan dekat-dekat. Kalau sampai aku lihat kalian dekatan kayak kemarin. Gua seret kamu ke KUA detik itu juga!"
Wow, ancaman yang sungguh menarik dan menggiurkan, haruskan aku deketan dengan pak Hendra? batin Ririn.