MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
104. SHOPPING WITH AYANG PART 3


__ADS_3

~JANSEN POV~


*****


        Benar-benar tak habis pikir sama perempuan satu di samping aku. Setelah menghabiskan banyak uangku untuk membeli baju couple dan sepatu couple. Dia sepertinya sadar dan benar-benar menolak kartuku ketika aku hendak membayar makanan kami.


    "Aku aja, Beb!" ucapnya seraya mengambil kartu dari dompetnya dan kemudian memproses pemabayaran makanan kami. Aku tidak menolak, karena sudah pernah pengalaman. Sepanjang jalan pulang akan didiami kadang mengomel dengan pelan "Kayak aku nggak punya duit aja, aku juga kerja, aku juga pengen rasain mentraktir, nggak melulu di traktir." Kalimat itu bisa saja sampe berkali-kali terucap. Dari pada kupingku pengeng, lebih baik aku mengalah.


    "Beb," ucapnya waktu kami berjalan di koridor. Kepalanya mereng sana sini menoleh pada setiap toko yang di lewatinya.


    "Hmm"


    "Uang kamu masih banyak kan?" tanyanya dan aku sangat gemes dengan pertanyaan itu. Ya jelas banyak lah. Percuma aku pimpinan perusahan yang bergerak semakin pesat.


    "Kenapa? tanyaku seraya berhenti. Ayu bergelayut di lenganku dan di wajahnya seperti tertulis aku mau itu, itu dan itu.


    "Topi kamu kayaknya udah jelek, ganti yuk!" ajaknya seraya menyeret aku ke sebuah toko ternama.


Dan akhirnya, di toko ini, kami membeli topi couple juga.


Yang ngatain aku norak tadi siapa yah? Sepertinya dia lupa.


    "Kamu sengaja bayarin aku makan supaya bisa rampok aku di toko mahal yah?"


    "Hehehe, kok kamu tau. Makanya cari uang yang banyak lagi, udah tahu kan cewekmu matre."


Manusia luar biasa, jujur sejujur jujurnya.


    "Kamu nggak matre!"


    "Halah, bibir kamu bilang gitu, tapi otak kamu nggak."


    "Ya udah kamu matre."


    "Hehehehhe"

__ADS_1


Ayu hanya terkekeh saat aku mengakui dia matre. Aku nggak masalah sih, pokoknya selagi aku sanggup. Di dunia ini emang masih ada yang nggak matre? Kalaupun ada, paling satu banding seratus. Perempuan pasti sangat ingin di bayari. Cuma, banyak dari mereka  yang ujung-ujungnya serakah.


    "Yang, tunggu aku disini, aku mau ke toilet bentar!" ucapku pada Ayu. Dia menerima paper bag dari tanganku dan berkata akan menunggu di stand minuman yang ada tidak jauh dari tempat kami berdiri.


Tidak berapa lama, aku kembali dan melihat gadisku duduk manis sambil bermain ponsel. Ada dua cup kopi dingin di depannya. Aku memperhatikan dia sekali lagi. Baju terusan blue ice yang di belikan oleh mamaku tadi pagi dari butik kenalannya -Tante Juliya- dan sepatu kets baby pink nya sangat menyatu. Tambah dengan topi couple kami membuat penampilannya semakin mantap dan terlihat mahal. Haruskah aku belikan dia tas atau perhiasan?


    "Masih ada yang mau di beli?" tanyaku seraya menatap jam tangan. Sudah hampir sore. Sebaiknya langsung antar pulang Ayu aja, nggak usah ke rumah papa lagi.


    "Nggak, udah. Bisa minta tolong nggak?" tanyanya dengan senyum dan aku sudah curiga.


    "Potoin aku disini, aku mau pamer sama Pian, dia lagi galau di rumahnya!" lanjutnya.


Sebenarnya aku benar-benar cemburu sama Pian dan dulu sempat curiga mereka ada rasa selain pertemanan. Tapi kata Ayu, itu murni teman yang cenderung jadi abang adik. Dan dia bilang, dia nggak bisa hapus Pian dari hidupnya walaupun dia pacaran denganku. "Harap pengertian kamu, mungkin ada kalanya aku lebih pertama mengadu padanya dari pada kamu."


    Ayu juga minta tolong mbak-mbak yang lewat untuk motoin kami. Asli! aku malu. Apaan sih poto-poto di tengah koridor kayak gini.  Tapi demi ayang aku hilangkan kemaluanku eh rasa maluku.


*****


    Ayu sibuk dengan ponselnya dan dia seperti berselancar di sosmed. Aku biarkan saja. Kini kami sedang di jalan ke rumah Ayu. Aku sudah membelikan kue untuk Bapak sama Ibu nanti.


Aku menoleh dan melihat Ayu tersenyum sendiri melihat poto-poto kami saat di mal tadi dan juga selfi di dalam mobil. "Harusnya kita ganti baju, kita pake baju kopel tadi," ucapnya tadi dengan bibir yang santapable.


Sindiran seperti ini mana mempan untuknya.


    "Namanya juga cewek, harus jual mahal dikit dong."


    "Habis itu langsung gas ya?" sindirku lagi.


    "Hmmm,, apa gunanya punya pacar kaya," jawabnya.


    "Ririn kemana sih, wawa nya nggak aktif, aku mau pamer," lanjutnya seraya mengambil poto jari yang ada cincinnya.


*****


    Sebelum sampai di rumah, Ayu mengajakku ke sebuah taman dekat rumahnya. Aku tidak tau untuk apa, tapi dia bilang, mungkin saja Bapak sama Ibu belum pulang. Jadi nggak boleh berduaan di rumah. Ada setan yang jadi ketiga.

__ADS_1


    Kami duduk tidak terlalu lama, karena sudah sore juga. Tapi saat sudah di mobil, Ayu menarik tanganku dan melepas jam tanganku dalam diam.


    "Mungkin ini bukanlah selera kamu, tapi aku ingin memberikan ini sebagai hadiah. Tolong di terima yah."


Ayu mengeluarkan kotak dari tasnya dan mengeluarkan isinya. Ada sebuah jam tangan dan dia langsung memasangkannya. Kapan dia membelinya?


    "Aku tahu, ini tidak sebanding dengan jam kamu yang lama. Tapi aku mau kamu pake ini dan ingat bahwa ini dari pacar kamu. Ada kepulan keringatku disini," ujarnya terkekeh seraya mengelus-elus jam baru ku.


    "Pas," ujarnya memutar-mutar tanganku.


    "Kapan kamu beli?" tanyaku menatapnya.


    "Rahasia."


Sok main rahasiaan. Paling juga pas aku ke kamar mandi tadi. Tapi nggak mungkin deh, cepat bangat belinya, soalnya aku rasa aku tidak terlalu lama ngantri tadi.


Apa udah di siapkan dari kapan hari?


Aku meletakkan tangan kananku di atas tangannya yang menggenggam tangan kiriku.


    "Aku terima hadiah dari kekasihku ini dengan senang hati, aku akan pake terus dan akan jaga supaya tidak rusak atau di curi orang." ucapku lalu mencondongkan badan dan mencium pucuk kepalanya.


    "Terima kasih, tolong di jaga ya, kalau sampai hilang, aku nangis kejer!"


Dating kami memang sangat absurd yah, tidak ada romantisnya. Malah kebanyakan bercanda.


Aku menatap jam tangan baru ku, ini memang tidak sebanding dengan jam lama, tapi bukan berarti ini murah. Bisa saja ini sampai dua bulan gaji Ayu. Apa dia menguras semua tabungannya untukku?


Huh,, kami kayak barter aja jadinya, aku belanjain dia hari ini, ternyata aku di balas juga. Dan malah lebih mahal dari traktiranku.


    Aku menarik Ayu ke pelukanku seraya berkata dengan pelan di balik punggungnya.


    "Aku nggak pernah mengharapkan hadiah apapun dari kamu, aku hanya mau kamu dan hati kamu untukku sepenuhnya, itu sudah cukup. Terima kasih Yang atas hadiahnya. I love you."


Aku merasakan tangannya melingkar di pinggangku. Dan kepalanya semakin di tekan di bahuku. Dia seperti mengangguk di pundakku. Aku memejamkan mata meresapi cinta yang meliputi kami.

__ADS_1


Kami dalam posisi ini untuk beberapa saat.


    "Terimakasih sudah melamarku pagi ini di tempat yang jauh dari ekspektasiku. Selama ini aku berharap kamu melamar aku di tempat romantis dan akan ada dokumentasi.  Kayaknya aku harus buang jauh-jauh harapan aku. Karena aku punya pacar yang tidak romantis. Malah tukang paksa," Berhenti sejenak setelah kami terkekeh bersama. Lalu Ayu melanjutkan lagi, "jika kamu sudah siap, datanglah ke rumah dan minta ijin sama Bapak dan Ibu. Aku sudah siap."


__ADS_2