
Aku mengabaikan rasa sakit yang kurasakan. Bagaimanapun, aku ikut andil dalam menciptakan rasa sakit itu. Penyesalan kini datang padaku. Kata jika saja dan seandainya memenuhi pikiranku.
Beruntung siang ini saat waktu makan siang, Pian datang dan mengajak makan di luar. Dengan terpaksa aku ikut dan tidak lupa membawa kotak bekal ku. Pian menggeleng malu saat aku hanya memesan es teh karena akan memakan bekalku saja.
"Aku seperti pria tidak mampu membayar seporsi lagi," gerutunya dengan muka yang masam. Aku terkekeh dan dengan spontan berkata pada pelayannya,
"Maaf yah ka. Aku kurang sehat jadi bawa makanan khusus dari rumah." Aku tersenyum sambil saat mengatakannya dan di balas senyum raman pula, "Tidak apa-apa ka."
"Kau yang terlalu berlebihan," ucapku pada Pian.
"Seharusnya kau jemput si Ririn juga, biar kita makan sama," lanjutku.
"Jam dua dia baru bisa, lo mau nunggu sampe jam dua?"
Oooo, temanku ternyata sudah hapal jam pulang kekasih hati.
"Kenapa senyum-senyum gitu? Setres kamu gara-gara si Jansen?"
Uhuk..Uhuk.. Uhuk
Aku hampir mati tersedak untung saja Pian sigap memberikan gelas minumku.
"Buset, aku hampir mokad gara-gara kamu!" Dengan lantang tapi tertahan aku melotot pada Pian yang dengan santainya menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Kan masih hampir, belum mokad beneran."
Jeda sejenak sebelum dia melanjutkan lagi, "Lo juga, masa gara-gara dengar nama si Jansen langsung keselek. Masih cuma dengar nama, gimana kalo dengar dia kawin?"
Selera makanku langsung hilang, aku, aku mengaduk-aduk makanan ku.
"Aku merasa bersalah!" ucapku kemudian hening untuk beberapa saat.
"Tak apa jika dia menipuku, tapi aku sedih karena ibu dan bapak juga sangat percaya padanya."
"Emang Jansen ngapain lo?" tanya Pian sambil menatapku.
"Selingkuh?"
Aku menggeleng, aku tidak tahu harus mendeskripsikan apa.
"Cuma karena lo ngeliat dua keluarga makan bersama dan ada pacar lo disana juga, bukan berarti mereka sedang menipu lo. Siapa yang tau kalau itu hanya pertemuan tidak di sengaja?"
Aku menggeleng. Itu bukan suatu kebetulan. Siapapun yang melihat formasi itu akan sadar bahwa itu bukan kebetulan semata.
"Lo stres dan merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak pasti. Buang-buang energi saja," lanjut Pian.
Apa aku terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan? Apa benar yang di katakan Pian.
"Lo harus berbenah,Yu. Pemikiran lo masih jauh di bawah standar untuk gadis yang sudah akan menikah. Gue dengar bahwa Jansen ingin menikahi lo segera, tapi melihat lo yang langsung menyimpulkan sesuatu tanpa mendengar penjelasan, Gue yakin lo nggak akan sanggup menjalani pernikahan nanti. Seandainya lo menikah dengan Jansen, Apa lo akan begini setiap kali melihat Jansen dengan keluarga lain yang punya anak gadis?"
Dia menjeda karena ingin melanjutkan makan.
"Jansen itu pengusaha, orang tuanya juga. Jadi wajar saja mereka bertemu dengan keluarga-keluarga yang ada anak gadisnya. Makan bersama dan terlihat mesra. Itu semua bisa jadi hanya kamuflase para pengusaha karena ada kerja sama antar perusahaan. Saran gue, tabayun sama Jansen dan juga untuk ke depannya perbaiki pola pikir lo. Jangan suka ambil kesimpulan sendiri. Karena apa yang di lihat mata, belum tentu itu kebenarannya."
Ilham dari mana yang datang? Kenapa bisa nyasar pada Pian?
Aku mengangguk. Usia dua tiga hampir dua empat ternyata belum menjamin kedewasaan seseorang. Berkaca pada diriku sendiri dan juga Pian yang ada di hadapanku.
__ADS_1
Yang dia katakan benar, bahwa aku menyimpulkan sendiri. Aku bahkan tidak bertanya pada Jansen kenapa dia bisa bersama dengan Mira.
...****************...
Jansen P:
'Kamu sibuk?'
'P'
'P'
Ponsel yang silent suara dan getar membuatku tidak tau ad pesan masuk atau tidak kecuali jika aku sedang menggenggam ponsel atau meletakkannya tepat di depan mata di atas meja.
Me:
'Sedikit.'
Tring
Balasan pesan langsung masuk beberapa detik kemudian. Apa dia tidak sibuk?
Jansen P:
'Ayo makan malam bersama terus menonton, ada film baru.'
Ini ajakan yang biasa, tapi entah kenapa aku mulai merasa canggung.
Me:
'Sorry🙏'
Jansen P:
'Benarkah?'
'Aku sedikit kecewa karena tadinya sangat berharap bisa bareng kamu.'
Aku menjauhkan ponsel dari hadapanku.
Aku masih belum bisa menguasai pikiran walau tadi sudah mendapat pencerahan dari Pian.
Ada sesuatu dalam hati ku yang berbisik, bahwa sampai hari ini orang tua Jansen sebenarnya belum menerimaku bahkan persyaratan yang di ajukan adalah suatu senjata yang diam-diam memintaku untuk mundur. Entah kenapa aku merasa bahwa Mira masih pemenangnya di hati mereka semua.
Moodku yang tidak baik aku bawa sampai pulang. Terbukti saat kami makan malam di rumah.
"Kata orang, kalau masakan asin begini, bisa jadi orang yang masak itu udah mau kawin, bahkan kebelet."
Ibu bicara santai tapi menjauhkan sayur bening dari hadapannya.
"Untung belum ibu tuang kuahnya," ucapnya seraya menatap piring nasi yang masih kering.
"Kamu udah mau kawin, Yu?"
"Bu,, makan dulu, kalau keasinan nggak usah di makan," lerai Bapak sambil terus melanjutkan makan. Sayur yang asin kata ibu tetap di makan bapak tanpa protes.
Aku menyendokkan sayur dan mencicipinya.
__ADS_1
Oh dewa, berapa sendok garam yang ku masukkan tadi?
Aku melihat ibu mendelik ke arahku seolah berkata, 'tuh, han?'
Aku tersenyum konyol dan meminta maaf.
"Maaf, Yuyu nggak cicipin tadi."
Kami makan dalam diam seperti kebiasaan kami selama ini. No talking talking saat makan.
"Gimana kerjaan kamu, Yu?" tanya bapak saat aku sudah selesai membereskan sisa makan malam. Piring bekas sudah aku angkat ke wastafel.
"Aman, Pak. Yuyu suka!"
Aku melihat bapak mengangguk.
"Bapak dengar ada pembukaan lowongan cpns tahun ini, nggak coba?"
"Mau, Pak. Nanti kalau pengumuman resmi udah keluar aku cari yanga da jurusanku.
Pak, gimana kalau seandainya Yuyu menang tapi keluar pulau? Kalimantan misalnya?"
"Emang sanggup jauhan dari Ibu sama Bapak?"
Ada nada mengejek disana.
Aku mencebikkan bibir untuk membalas ucapan bapak.
Sanggup? yah Sanggup lah, batinku. Jiwa iblisku tersenyum kala mengingat aku nggak akan kena omelan ibu lagi.
"Kan udah pernah!" jawabku mengingatkan tahun lalu aku magang dan memilih kos dekat kantor magang.
"Itu masih satu kota, bukan beda pulau. Kalau ke kalimantan kamu harus kaya dulu baru bisa pulang jenguk bapak ibumu. Jauh!"
Sambar ibu tiba-tiba. Dari kalimatnya aku bisa menangkap kalau ibu nggak pengin aku jauh
darinya.
"Cari yang buka dekat sini aja, liat abang kamu tuh, pulau di seberang aja, tapi pulangnya cuma sekali setahun." Ibu mencibir abangku yang kemarin selalu di bangga-banggakan padaku.
Kami bertiga akhirnya mengobrol tentang pekerjaan terutama menjadi pns yang sangat di cintai ibuku.
"Jansen apa kabar?" tanya bapak tiba-tiba.
"Baik katanya," jawabku.
"Apa ad--"
"Pak, Bu maaf, kalau Yuyu ---" Aku memotong ucapan bapak tapi malah perkataanku tidak bisa tuntas. Bapak dan ibu diam saja menunggu apa yang ingin aku katalan selanjutnya.
"Yuyu, Yuyu, ... Sebaiknya kita jangan terlalu berharap. Yuyu tidak mau bapak sama ibu sakit hati nanti kalau terlalu berharap pada Jansen."
"Kalian bertengkar?"
"Tidak, hanya, ... Yuyu tidak percaya diri saja. Apalagi orang tuanya belum bisa menerima Yuyu."
"Apakah masih?"
__ADS_1
"Ya. Mungkin Yuyu yang akan menyerah."