
Bagian 41
Oleh Sept
"Apa yang Mama katakan?"
Masih sambil membopong tubuh istrinya. Dewa nampak terkejut mendengar ucapan sang mama. Ini karena Tika belum mengatakan kabar itu. Andai Dewa tahu, Tika juga tidak tahu kalau dirinya sedang hamil.
Tika baru telat beberapa hari, belum berani mengecek dengan alat kehamilan. Karena beberapa bulan lalu, telat hanya seminggu, buru-buru Tika cek. Ternyata telat datang bulan karena banyak pikiran. Tinggal di luar negri tanpa orang yang dikenal, budaya baru, orang baru dan tempat baru, mungkin Tika butuh penyesuaian lagi. Ditambah Dewa sudah sibuk bekerja. Tika mungkin jenuh, di apartment saja.
Ketika kemarin ia benar-benar telat, dikira mungkin faktor pikiran lagi. Ia pun tidak buru-buru seperti sebelumnya, takut kecewa. Tapi, tidak tahunya, ia malah hamil beneran.
Beberapa saat kemudian.
Terlihat Tika sudah terbaring di ranjang kamar apartemennya sendiri. Sedangkan di ruang tamu, mama dan Dewa nampak sedang serius membahas sesuatu.
"Lebih baik kamu pulang," ucap mama mengawali pembicaraan. Ya, mama ikut ke apartemen mereka. Mulanya Dewa menolak, tapi karena melihat wajah mamanya yang lama tidak berjumpa, akhirnya ia pun mengijinkan sang Mama ikut.
"Dewa sudah nyaman di sini."
__ADS_1
Jelas Dewa tidak mau, ia juga masih kecewa dengan semua yang mamanya lakukan selaman ini.
"Sampai kapan kamu begini?"
Wanita itu juga sama kecewanya dengan Dewa, hanya karena tidak direstui. Putranya malah kawin lari, mama merasa seperti ibu yang tidak dianggap.
"Sampai Mama menerima istri Dewa."
"Dia mantan pelayan di rumah kita, Wa!" sergah mama, tekanan darahnya sudah kelihatan mulai naik. Terdengar dari nada suara mama yang mulai tinggi melengking.
"Pelayan? ... Pelayan terus yang Mama ungkit. Pelayan juga manusia, Ma. Bahkan orang yang Mama sebut pelayan berkali-kali itu, kini sedang mengandung anak Dewa. Apa Mama juga akan malu ... punya cucu dari seorang pelayan?" tantang Dewa. Dewa masih geram, mengapa pemikiran sang mama kolot sekali.
"Itulah kenapa, Mama mau kamu menikah dengan wanita berpendidikan. Wanita yang jelas status sosialnya. Biar anak kamu nggak malu, punya ibu pembantu."
Dewa menatap nanar pada sang Mama. Sedangkan di dalam kamar, Tika yang sudah bangun, ia meraba perut kecilnya sambil menitihkan air mata. Suara keributan di luar sana, terdengar jelas di telinga Tika. Hinaan mama mertua, sedikit melukai hati wanita yang baru tahu bahwa ia hamil.
Sesekali Tika mengusap pipi, mau ia tahan tapi tetap saja bulir bening itu mengalir tanpa henti. Ia wanita yang kuat, sekeras apapun hinaan yang ia terima dulu, Tika sama sekali tidak peduli. Tapi, ah. Tika membenci dirinya. Dikatain begitu saja nangis.
Mama kan bicara apa adanya. Ia memang tidak berpendidikan. Seorang rendahan, rakyat jelata, masyarakat kalangan bawah.
__ADS_1
"Stop Tika! Apa yang kamu tangisi? Terlahir miskin bukan berarti musibah! Kamu harus kuat, demi anak ini!" batin Tika memarahi dirinya sendiri yang ia rasa jadi cengeng. Tangannya terus saja mengusap perutnya. Dalam lianangan air mata, ada senyum terselip bersama doa.
Semoga putra atau putri mereka kelak, tidak dipandang sebelah mata lagi. Apalagi dihina oleh keluarga sendiri. Hanya karena anak seorang pembantu. Ish, Tika tersenyum kecut.
Apapun dirinya, ia tidak menyesal. Tidak merutuk nasib. Asal tidak melakukan kejahatan yang memalukan dan merugikan, Tika tidak malu menjadi dirinya yang apa adanya.
Di luar kamar. Mama dan Dewa masih bersitegang. Mereka masih sama-sama saling menyerang lewat argument mereka. Tidak ada yang mau mengalah, keduanya mempertahankan ego masing-masing.
Mama menghela napas dalam-dalam. Kemudian kembali bicara lagi.
"Mengapa kamu marah? Mama bicara kenyataan, kan?" tanya mama tanpa rasa bersalah.
"Dewa nggak habis pikir dengan pemikiran Mama. Mama masih sama, jangan harap Dewa menginjakkan kaki di rumah Mama." Ancam Dewa yang kelewat marah karena mamanya terus saja memandang rendah istrinya. Sudah tahu Tika hamil cucunya sendiri. Mengapa sang mama belum luluh juga. Betapa kerasnya hati sang Mama. Membuat isi kepala Dewa seolah meletup-letup mau meletus.
"Kamu marah? Berarti kamu juga membenci kenyataan itu. Bahwa Tika memang pernah jadi pembantu di rumah kita." Mama tersenyum puas, melihat Dewa emosi karena ia merasa mengatakan kenyataan yang benar.
"Dewa marah karena Mama memandang rendah istri Dewa! Tidak peduli dia siapa, bagi Dewa, Tika segalanya!" Fix no debat. Dewa langsung berpaling, percuma bicara dengan sang mama. Ia memilih kembali ke kamar.
"Wa ... Dewa!!!!!" teriak mama prustasi karena Dewa meninggalkan dirinya yang masih ingin berbicara.
__ADS_1
Klek
Dewa membuka pelan pintu kamarnya, pria itu tertegun saat melihat Tika sudah duduk di tepi ranjang. Jelas istrinya sudah mendengar semuanya. Bersambung.