MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
108. WHO IS THAT AYU?


__ADS_3

~POV AYU~


*****


Aku menyesali mulutku yang tiada rem ini, aku tidak belajar dari pengalaman bahwa memuji pria lain di hadapan pasangan kita adalah hal yang seharusnya tidak di lalukan.


Sepanjang jalan setelah aku menyinggung kegantengan Josh di hadapan Jansen, pria itu lebih banyak diam. Bahkan jika aku bertanya, ada yang tidak di jawabnya.


Sentimen bangat sih!


"Turunkan aku di halte sana yah, Beb!" pintaku tadi seraya menunjuk halte yang berjarak sekitar sepuluh meter dari depan kantor. Tidak ada jawaban. Setauku dan biasanya para pasangan, jika diam saja saat di minta dan di tanya, itu artinya oke.


Ternyata, untuk priaku yang mungkin sedang pms itu, diam artinya tidak selalu ya. Buktinya aku di turunkan tepat di depan kantor.


Awalnya aku enggan turun dan hendak protes. Tapi belum keluar kata dari mulutku, Jansen sudah turun. Aku buru-buru mengikutinya sebelum dia berjalan memutar ke arahku dan membukakan pintu untukku. Oh tidak, aku tidak pernah mengharapkan hal itu terjadi padaku di depan kantorku.


"Ya udah, aku masuk ya!" ujarku sembari merapikan tampilan yang sebenarnya sudah rapi.


Aku mengedarkan pandangan ku dengan sudut mata, dan melihat sekeliling yang sudah mulai ramai. Beberapa di antaranya adalah teman satu divisi dn bekerja di ruangan yang sama. Mereka menghentikan langkah dan menatap ke arahku.


Sialnya, Jansen seperti sengaja berlama-lama disana. Aku yakin dia sedang ingin pamer alias memamerkan diri sendiri. Cih, norak!


"Hmmm, kerja yang benar biar segera di angkat jadi karyawan tetap, biar berubah status dari anak bawang." Dia mengusap rambutku dan tersenyum sumringah sekali.


Dasar! tadi aja di mobil mukanya udah segi empat gitu hanya karena aku menyinggung Josh.


"Udah di angkat ini, bukan anak bawang lagi!" jawabku dengan muka kesal. Bukan kesal karena dia bilang anak bawang ya, aku kesal karena dia yang sengaja berlama-lama disini.


"Udah sana, ih! Sengaja bangat kayaknya!" omelku lagi dan dia respon dengan senyum manis. Semanis gula di rumah.


Aku memutar badan dan melangkah ke dalam kantor. Aku berpura-pura biasa saja saat aku mendapati teman-teman masih menatapku dengan raut penasaran. Jelas lah, Jansen dengan pakaian rapi dan juga menggunakan mobil mewah, di tambah lagi dengan tampangnya yang good looking.


"Hai Li," sapaku pada Lia yang juga berdiri bengong. Aku memutar kepala dan melihat mobil Jansen baru saja bergerak meninggalkan halaman depan kantor.


"Siapa, Yu? ... Pacar kamu?" Dia bertanya setelah melihatku sekilas dan lanjut melihat Ke arah depan, mungkin masih melihat bayangan mobil Jansen.


"Hmm? ... Oh, iya!" Sumpah, walau jawabanku santai, tapi tidak dengan hatiku. Sungguh, jika saja aku adalah seorang bos, aku bisa saja memilih terlambat hanya untuk menceramahi Jansen sekaligus memuntahkan kekesalanku padanya.


"Kereeeen banget nget nget nget. Kamu dapat dimana Yu? Cariin aku satu yang kayak gitu!" Bukannya senang karena dia bilang pacarku keren, justru aku ilfil karena dia yang bertingkah layaknya bocah SMP yang baru puber.


"Norak deh kamu, Li. Yuk akh, kita masuk!" Aku menggandeng tangannya dan memaksanya berjalan.


"Serius, Yu. Pacar kamu keren. Berarti kamu lebih keren, karena dapat pacar keren. Wuuu, pantas tiba-tiba kemarin itu kamu merubah tampilan kamu, kamu mekap terus."


Hmm, itu pasti saat aku belajar untuk memantaskan diri untuk Jansen. Udah lumayan lama ternyata, sekitar empat atau lima bulan gitu. Sekarang aku udah katam soal mekap, nggak pas rasanya kalau tidak menyapukan bedak di wajah dan memperbaiki lukisan alis, apalagi kalau mau keluar rumah. Bahkan sekarang, ke maret-maret aja aku selalu sapukan lip tint dulu.


"Hmm. Ya iya lah, nggak mungkin dong dia keren aku kayak kecemong gitu. Harus di sepadankan dong."


Biarlah, lupakan saja kekesalan, udah terjadi juga.

__ADS_1


"Tapi Yu, aku kayak pernah lihat tuh cowok deh!" ucapnya seraya berhenti melangkah.


God, jangan bilang Lia pernah lihat Jansen jalan dengan perempuan lain?


"Duh, kayak familiar gitu deh Yu, tapi lupa."


Lia seperti berusaha keras mengingat dimana pernah melihat Jansen.


Duh,, otak gue udah kemana-mana. Jangan-jangan Lia pernah ketemu Jansen lagi sama cewek atau lagi sama Mira.


"Jangan di paksain lah, orang ganteng emang selalu nampak familiar, hahahah." Tawaku di balas dengan cubitan di lengan oleh Lia.


"Dasar, pasti bangga bangat kamu karena punya cowok keren. Ih... Yu, cariin aku satu napa? Tanya cowokmu, dia punya kenalan atau nggak yang kira-kira cocok sama aku."


Ini cewek pasti lupa, masih baru beberapa minggu lalu cerita dia lagi galau, berantem sama cowoknya. Apa udah putus makanya minta di cariin cowok baru? Atau mau bikin cadangan? Astaga!


"Cie-cie ... ada yang go publik kayaknya." Seorang rekan meledek begitu aku masuk ruangan.


"Duh, Vito makin patah hati." Kata yang lain.


"Sainganmu berat Vit, mundur ajalah!" lanjutnya.


Pak Vito emang suka sama aku?


Kok aku nggak tau.


"Wah,,, Vit, anda lewat!" lanjutnya seraya mengibaskan tangan seperti mengusir. Pak Vito yang menjadi korban hanya bisa mengangguk dengan raut datar seperti biasanya.


"Jangan nangis ya, Vit!" ledek yang lain.


"Nggak lah, aku gentlemen soalnya."


Bah, beneran dia suka aku?


Wah, hebat, ternyata aku tidak usah cemas jika seandainya gak jalan sama Jansen. Ada yang available juga disini.


"Yu, kapan nih kita kondangan?"


"Yu, jangan cepat-cepat merid, ntar kita-kita yang senioran umur kamu gimana?"


"Yu, ada kenalan yang kayak gitu nggak?"


"Aku nggak usah yang kayak gitu, setengahnya pun gak papa."


Idih, rekan-rekan gua pada norak. Sok nggak pernah pacaran aja. Masa karena lihat aku pacaran langsung ghibah di depan batang hidung aku, sebagai tersangka.


"Hehehhe, semuanya doain aja ya, kalo merid pasti di undang dong, semua tanpa terkecuali. Tolong di sisihkan untuk amplopnya dari sekarang ya, semuanya!" Aku bicara dengan pelan dan lemah lembut yang sangat-sangat terlihat tidak natural.


"Huuuuuuu," semuanya berteriak. Mungkin langsung jleb saat aku singgung mengenai amplop. Ya harus kan? Masa kondangan nggak bawa amplop. Emangnya bapakku bapak Jokowi?

__ADS_1


"Karena calonku keren, isi amplopnya doble yah, semuanya!" tambahku lagi cari kesempatan. Walau ini mode bercanda, tapi aku mengatakannya dengan sesungguhnya.


Mereka makin bersorai dan mengataiku mata duitan.


"Ya jelas, seenggaknya aku bisa lah beli tiket hanimun."


"Cowokmu kan pasti kaya, Yu. Mobilnya aja nggak kaleng-kaleng."


"Ya harus dong ka, kalo kaleng-kaleng kan gampang penyet.


"Ih, kok kamu ngeselin?"


"Ih, nggak jadi deh aku muji-muji cowokmu!"


Oalah manusia, udah mendarah daging, bahwa gratis itu adalah hal paling menyenangkan.


Selagi kami meributkan 'pacar Ayu keren', ada seseorang yang hanya menyimak bahkan seperti tidak berminat. Ada apa dengannya?


*****


"Kamu bawa bekal tiap hari, Yu? Saya nggak pernah lihat kamu di kantin."


Mbak Dina HRD kami, bertanya seraya menarik kursi di depanku.


"Iya, Mbak."


"Rajin ya kamu, masak tiap hari."


"Kan cuma bantuin Ibu mbak, hehehheh. Karena ibu masak untuk bekal juga, ya sekalian aja di tambahkan secuil untukku."


"Ibumu pasti senang dan bangga sama kamu karena memilih bawa bekel."


Aku harus respon gimana ya? Belum jadi sahabat bahkan jadi nggak baik langsung curhat panjang lebar.


Hening sejenak,


"Yu!"


Aku mendongak karena suara bosku terdengar serius.


"Iya Mbak?"


"Pacar kamu teman dekatnya pak bos ya?"


"Iya Mbak."


"Hmmm, aku mengerti sekarang!"


Apa? Apa yang dia mengerti?

__ADS_1


__ADS_2