MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
102. SHOPPING WITH AYANG


__ADS_3

~AYU POV~


******


Aku tidak tahu apa yang salah atau kurang dari pakaianku atau apapun yang melekat padaku. Tapi mereka semua menatapku dengan sangat aneh. Ada apa? Apa aku semakin cantik dengan baju baru pilihan camer ini? hihihi.


Apa terlihat bling bling gitu, bersinar sampai-sampai yang melihatnya kesilauan?


Hahahah


Aku menunduk, memastikan aku sudah memakai pakaian dengan benar. Tidak ada yang salah. Lalu kenapa pandangan mereka begitu?


Tak lama Jansen juga turun dengan pakaian kasual miliknya. Saat aku sedang mengagumi kekasihku itu, aku tidak sadar bahwa mereka a.k.a penghuni rumah ini juga memandang Jansen dengan cara yang tidak jauh beda saat memandangku.


Ini ada apa sih?


Kalian pasti setuju, jika aku bilang itu menjengkelkan. For me, lebih baik di tegur langsung dari pada di kode-kodein seperti itu.


"Kenapa?"


Jansen bertanya pada orang tua dan kakaknya yang berada di ruang keluarga.


"Ada yang salah? Kok gitu amat liat Jan?" tanya Jansen lagi kemudian meneliti penampilannya sendiri.


"Aku nggak aneh kan, Yang?" tanyanya padaku. Aku menggeleng. 'Bukan cuma kamu, tapi aku juga jadi korban tatapan misterius,' batinku.


"Ma, kenapa sih?" ulangnya karena belum mendapat jawaban.


Aku juga tidak bergerak dari posisi semula. Tetap berdiri menghadap kumpulan keluarga itu. Aku menantikan jawaban mereka atas keanehan dari tatapan dan raut wajahnya.


"Next kalo mau mesra-mesraan sewa pool aja, jangan yang di pake umum!" Kak Jo berbicara. Dan jujur aku tidak mengerti maksudnya.


"Maksudnya?" tanya Jansen. Aku tidak berani bertanya, tapi aku sedang memutar memori otakku pada kejadian sebelumnya.


Oemji! Aku menepuk jidatku sendiri. Sumpah! malu bangat. Aku yakin, itu yang di maksud kak Jo.


"Kenapa, Yang?" tanya Jansen padaku. Duh, priaku udah semakin lancar panggil sayang di depan orang tuanya. Bikin meleleh deh kamu bang!


"Udah, gapapa." Aku menggeleng sambil memberi kode padanya untuk berhenti kepo.


Duh, di rumah gua waktu itu ke gap tidur bareng, disini malah lebih parah. Otak gue, gue taruh dimana sih, kok bisa ngulang kesalahan yang sama.

__ADS_1


Dengan raut menahan malu akhirnya aku duduk di salah satu sofa kemudian di ikuti Jansen di sampingku.


Walau sangat canggung, tapi aku memberanikan diri untuk terlibat dalam percakapan mereka. Terlibat disini bukan berarti aku kumat ya, sok akrab. Aku hanya menjawab jika di tanya dan melakukan sedikit improvisasi agar terlihat lebih intelektual, hahahaha.


Tidak ada pembahasan berat, hanya basa basi tentang kejadian-kejadian yang lagi viral. Mode fashion yang lagi hot.


"Ma, Pa, Jan sama Yuyu pergi dulu yah, kalo nggak kemaleman nanti, kami singgah disini dulu sebelum antar Yuyu, tapi kalo udah sore, aku langsung antar," ucap Jansen seraya berdiri. "Yang, tunggu bentar ya!" lanjututnya.kudian berlari ke arah tangga dan naik.


"Kalian mau kemana?" tanya tante Helena.


"Saya nggak tau, Tan. Dia nggak ada bilang apa-apa," jawabku.


Sumpah, walau tante Helena sudah melunak padaku sejak aku tiba di rumah ini, tapi tutur bahasanya, nadanya masih sedikit kesal.


Ini agak sulit, seandainya tante Helena tidak se jutek itu, aku pasti bisa menjadi partner in crime nya dengan cepat. Aku pasti bisa cari muka dan menjilat dengan menceritakan kebanggaan-kebanggaan aku dulu. Apa saja prestasiku dan sikap buruk apa yang ku lakukan.


"Ayo, Yang!" kata Jansen. Pakaiannya sama, hanya bedanya sekarang udah pake topi dan sepatu gaya. Juga pegang kunci mobil. Apa kami mau kencan di luar?


"Kami pamit Tante, Om. Mari ka Jo, Bang!" pamit ku setelah berdiri dan berjalan ke arah Jansen.


"Jangan kebablasan kayak tadi Jansen!" teriak om Hartawan.


Aduh, kalian ini kenapa sih, kok di ungkit-ungkit lagi. Macam nggak pernah pacaran aja.


Cukup bilang iya aja, udah beres dan bisa keluar.


"Maaf yah Tante, Om, Kak Jo!" Aku menunduk sambil minta maaf.


"Ini kenapa sih, benar-benar bikin aku kesel deh dari tadi sepotong-sepotong aja ngomongnya.


...*******...


"Duh, Beb. Malu asli!" ucapku kala sudah berada di mobil.


Kami sedang di perjalanan menuju kemana Jansen suka.


"Emang apaan?"


Cih, katanya pinter, direktur, baca situasi gini aja nggak ngerti.


"Keluarga kamu lihat kita cippokan di kolam!" Akhirnya aku keluarkan berita hot yang baru.

__ADS_1


Tak berselang lama, kami tiba di sebuah mal. Kami berkeliling dan memilih-milih apa yang mau di beli dan dari toko aja.


"Coba yang ini, Yang!" ucap Jansen untuk ke sekian kalinya.


Jika kalian berpikir Jansen akan duduk di sofa sambil menunggu aku pilih-pilih baju di bantu spg nya, salah! Salah total.


Dia malah kebalikan dari CEO yang selalu kalian dambakan di drama itu. Dia yang lebih Antusias memilih apa yang hendak kami beli.


"Nah, ini cocok nih! Mau yang ini mbak! ucapnya tanpa meminta pendapatku.


"Sekarang, kita cari baju couple, habis itu sepatu."


Hah? dia mau jadi pasangan alay kayak si Pian yang hobby pasangan dengan kekasihnya.


"Ih! Nggak ... Nggak ... Nggak. Norak bangat sih harus pake baju kembaran. Nggak mau!" lanjutku. Jujurly, aku berharap Jansen memaksaku untuk beli. Nanti aku bisa ekting sambil berkata, "Ya udah deh, kalo kamu maksa."


"Kok nggak mau? Waktu itu kamu merepet pengen aku beli."


"Ya itu kan, karena lagi kesel aja sama Pian," ucapku masih pura-pura nggak mau pake coupelan.


"Yang itu kayaknya bagus, Beb!" ucapku sambil menunjukkan patung couple yang memakai kemeja couple.


"Katanya nggak mau, norak, kok sekarang antusias banget!" ucap Jansen dan ku balas dengan muka tanpa dosa,"Kamu nggak mau?" tanyaku.


"Ayo!" ucapnya dan kami bergandengan tangan memasuki toko tersebut.


Yes, baju kopel. Bisa pamer, batinku.


"Mau yang lain?" tanya Jansen.


"Sepatu," jawabku dan di balas dengan kekehan.


Ih, anak orang, tolong jangan ketawa begitu, aku baper dan marah juga pada orang yang lihat dan jadi baper juga.


"Banyak Gaya! Dasar!"


Jansen mengejekku saat aku menarik tangannya untuk ke toko sepatu.


Aku mana peduli, yang penting dapat sepatu kopel.


"Jansen?"

__ADS_1


Seseorang memanggil.


__ADS_2