MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
109. JALUR BELAKANG


__ADS_3

~AYU POV~


******


Masih ingatkan gimana aku bisa masuk di kantor ini?


Ya, benar, semua itu karena ada bekingan yang potensial di belakangan aku.


Sebenarnya sih, tanpa di bekingi, aku pasti masuk juga, karena kalian tahu kan gimana encernya otakku? Upssss


Tapi, untuk membuat jalan lebih mulus, ya ku terima saja lah tawaran dari ayang bebeb waktu itu.


Tiba-tiba saja ada yang bisikin, 'Ngapain susah-susah jika ada yang mudah.' Nah, karena suara bisikan angin itulah, makanya aku menyetujui di bekingi oleh Jansen.


Sebenarnya kata Jansen, temannya yang punya usaha ini belum berniat buka lowongan karena orang-orangnya masih bisa handle walau ada kursi yang sudah kosong. Tapi, karena Jansen, bertanya tentang lowongan, akhirnya di bukalah lowongan ini untuk dua divisi, marketing dan hrd.


Hari itu aku di tawari, mau di divisi mana?


Berhubung aku tidak punya bakat dalam jual menjual, akhirnya aku memilih di bagian hrd saja. Yang lulus hanya dua orang dan walau setinggi apapun nilai sainganku, yang terpanggil tetaplah aku karena seseorang sudah melobi dan namaku sudah tercacat sebagai pemenang.


Tidak banyak yang tahu jalur yang ku tempuh untuk bisa bekerja disini. Tapi semua itu menjadi rahasia dari beberapa di antara mereka. Selama enam bulan ini, aku menjadi anak bawang yang sedang di nilai apa layak atau tidaknya diriku.


Dan belum mencapai enam bulan aku sudah di angkat karena aku di anggap bisa menyesuaikan diri pada pekerjaanku. Kata bos ku waktu aku menghadap beliau ke kantornya, pengangkatan ini murni karena aku bisa, bukan karena Jansen yang membantu.


Makanya, karena aku dapat pujian dari bos, aku akhirnya lupa bahwa aku masuk lewat jalur orang dalam. Hingga pada siang ini, seseorang mengingatkanku akan hal itu.


Ya, mbak Dina yang selama ini jutek dan tidak peduli pada pribadi kami, siang ini memilih makan siang denganku. Ada apa gerangan? Apa arah angin berhembus sudah berbalik arah sekarang?


"Aku mengerti sekarang," katanya.


Walau tidak mengatakannya secara langsung, aku tahu bahwa mbak Dina menyinggung kenapa aku bisa bekerja disini setelah mengetahui siapa pacarku.

__ADS_1


Hadeh, itu aja di ungkit. Kayak dia nggak senang, iya nggak?


Apa sesembak punya niatan untuk curcol dengan yang lain dan menceritakan jalur yang ku tempuh? Haishhh, gara-gara pacar cemburuan tadi pagi makanya semua jadi runyam begini.


Memang ya, cemburu tidak ada obat, makin di tenangin malah makin panas.


*****


"Tumben mbak Dina makan bareng kamu tadi, aku sampe kaget dan akhirnya mundur, nggak jadi hampirin kamu, bukan cuma aku, ada beberapa orang juga." Lia berbisik di telingaku setelah menggeser kursinya untuk merapat di mejaku.


"Nggak tahu, aku juga bingung, sumpah aku kikuk bangat tadi." Aki bergidik seperti orang kedinginan.


"Ngomongin apa tadi?" Lia kepo.


"Rahasia!" jawabku sok misterius. Padahal apa salahnya jika aku jawab, kan?


Orang - orang yang baru saja pulang dari istirahat makan siang, mereka menatapku dengan tatapan sulit di mengerti.


Karena seseorang telah mengaktifkan tombol daya ingatku, aku akhirnya berbenah diri. Bekerja lebih baik, aku tidak ingin di cap anak emas karena jalur masuk ku.


*****


"Semua ini karena kami tahu nggak!"


Aku menatap Jansen garang dari ponselku.


"Aku kenapa emangnya?" tanyanya dengan wajah polos tanpa dosa.


Jika saja dekat, tangan kiriku bisa saja melayang tepat di pipinya yang sedang menggembung karena menahan tawa.


"Karena kamu pamerin diri sendiri, akhirnya aku ketahuan masuk kerja dari jalur belakang. Kamu tahu karena apa? Karena kamu sedikit popular di kantor kami." Aku berbicara dengan asap yang mengepul di kepalaku. Aku bahkan masih mengenakan kimono handuk.

__ADS_1


"hahahah, pamerin diri sendiri. Kapan aku begitu?" Aku tahu dia tidak lupa atau bahkan tidak sadar siapa yang aku maksud. Tapi, dia ingin bermain-main denganku, dia lupa bahwa aku masih lebih jago darinya dalam hal permainan.


"Sumpah, aku kesal bangat tadi pagi lihat tingkah kamu yang sok keren itu."


"Emang aku keren, kan? timpalnya sangat percaya diri.


Mau jawab tidak, takut Tuhan murka karena tidak mengakui mahakaryanya. Mau bilang iya, takut yang di puji jadi lupa diri.


"Iya, kalo nggak, aku nggak mungkin mau sama kamu, nggak mungkin mau jalanin hubungan yang sedikit rumit kemarin itu. Dan nggak mungkin juga mau balikan sama kamu setelah kamu bohong! Makanya, biar pun kamu keren aku lebih keren lagi." Aku memuji diriku panjang lebar yang di balas dengan anggukan.


"Memang, sejak awal, kamu yang lebih keren dari aku. Kamu yang hanya pegawai magang bisa memikat aku. Bisa bikin aku panas di dalam karena cemburu lihat kamu dekat sama Andrian, bisa marah karena kamu pergi makan malam dan kencan sama Andrian. Bisa senyum karena lihat kamu ngedumel. Pokoknya banyak lagi. Makanya aku nggak mau lepasin kamu, karena kamu keren," balasnya. Aku melipat bibirku ke dalam karena menahan senyum. Aku senang sekali di puji kali ini. Apa aku memang sekeren itu?


Takutnya, tiba-tiba Jansen ngomong 'tapi boong' pas aku lagi ngefly, kan?


"Aku sengaja pamer hari ini, ada beberapa tujuan, satu, supaya teman kamu yang bernama Dohar itu tidak ganggu kamu lagi. Bagus tadi dia ada disana, aku sempat lihat mulutnya nganga, kalo saja dekat, ihhh.. pengen aku masukin kecoak." Jansen menampilkan raut kesal. Apa jadinya kalau aku cerita Dohar pernah ajak aku kencan, walau dia sudah punya istri tapi katanya mau coba yang daun muda. Waktu itu, pak Dohar ngomongnya sambil tertawa, jadi aku kira dia bercanda. Tapi ternyata,... sepertinya dia serius, terlihat dari beberapa hari kemudian aku bertemu secara random dengannya dan dia sedang jalan berdua dengan seorang gadis muda, yang aku perkirakan masih kuliah.


"Pak Dohar itu udah punya bini dan kayaknya punya cem ceman juga di luar sana," jawabku. Aku tidak mau dia salah paham.


"Jelek begitu tapi playboy, nggak sadar diri!"


Astaga! Julidnya Jansen. Jelek apanya? Ganteng putih bersih. Tapi karena aku masih ingat perkara tadi pagi, jadi aku nggak berani puji pak Dohar di depan Jansen.


"Terus, tujuan kamu yang lain apa?" tanyaku penasaran.


"Yang kedua, biar teman kantor kamu nggak coba-coba jatuh hati sama kamu. Terus yang ketiga, biar teman-teman kamu nanya, itu siapa? kapan kondangan? ih gantengnya. Kamu beruntung Yu!"


Jansen tertawa memperagakan bagaimana perempuan yang sedang kepo bercampur iri.


" Narsis!" jawabku kesal, tapi sumpah aku pengen ketawa ngakak.


"Cuma itu aja tujuan kamu?" lanjutku. Siapa tau ada list tujuannya yang belum di ucapkan.

__ADS_1


"Tujuan utama, supaya kamu marry me!"


__ADS_2